Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Panggung Sastra Ajang Eksistensi Disabilitas

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Jakarta, Kartunet.com – ”Puisi ini tentang bagaimana mengungkapkan perasaan kepada seorang ibu. ibu memang sangat luar biasa dalam kehidupan saya. tanpa ibu saya tidak akan menjadi seperti sekarang.” Demikian, Nisa menceritakan isi puisi berjudul “Puisi Cinta untuk sang Kekasih” yang dibawakannya pada sebuah pentas sastra disabilitas di At America, Pacific Place Mall (13/12).

 

Malam itu, berbagai jenis disabilitas berkumpul untuk mempersembahkan karya-karya puisi yang mereka buat sendiri. Pentas bertema “Hear Artist, Hear Ability: Pentas Berbeda Bahagia” telah sukses mengundang decak kagum setiap penonton, baik dari disabilitas maupun nondisabilitas. Khairani Barokka, seorang seniman dan performer, telah merealisasakan idenya yang luar biasa untuk mempersatukan setiap jenis disabilitas dalam sebuah panggung dan berekspresi dengan puisi. Okka- begitu ia biasa disapa, amat ceria dan bersemangat dalam membawakan acara, tidak tampak bahwa ia adalah seorang penyandang disabilitas. “Saya memiliki gangguan neurologis, jadi kalau kecapean, tubuh sebelah kanan saya jadi kaku,” jelasnya pada seluruh penonton saat membuka acara.

 

Nisa adalah salah satu performer yang tampil malam itu. Pemilik nama lengkap Chairunisa Eka itu datang mewakili Yayasan Tunarungu Sehjira. Meski aktif sebagai model dan pernah bermain sinetron sebagai figuran, Nisa mengaku gugup dalam membawakan puisinya. Bagaimana tidak, malam itu adalah pertama kalinya bagi Nisa dalam membacakan puisi di depan banyak orang, belum lagi acara tersebut disiarkan secara live melalui media internet. Gadis yang agaknya begitu mengagumi semangat dan kepawaian Okka dalam membacakan puisi pun menuturkan alasannya mengikuti acara tersebut. “Kegiatan ini bagus untuk menunjukkan kebolehanku. Selama ini yang orang lain ketahui, aku bisa membuat puisi saja tapi belum tahu seperti apa aku saat di panggung. Ini sangat positif buat aku, dan menunjukkan pada orang-orang, bahwa tunarungu pun mampu membuat puisi indah,” ujarnya.

 

Bagi Nisa, seharusnya acara semacam ini dapat terus berlanjut. Lewat Sastra, lanjut Nisa, kita dapat menggandeng masyarakat untuk peduli terhadap penyandang disabilitas dan menghargai disabilitas sebagai manusia. “Pada akhirnya, masyarakat menyadari eksistensi penyandang disabilitas, berpikir bahwa kita adalah manusia yang hebat dan berani mengeluarkan bakat-bakat luar biasa untuk menyadarkan masyarakat,” tambahnya.

 

Acara luar biasa itu dihadiri oleh banyak penonton. Salah satunya Muhammad Subhan dari Yayasan Wisma Cheshire. Subhan menyatakan, bahwa penampilan paling menarik baginya adalah pembacaan pantun berjudul “Panggung Kami” yang dibawakan oleh Bajuri dan Wiwin. Pantun tersebut dibawakan dengan jenaka oleh kedua tunadaksa penghuni Wisma Cheshire tersebut, mengundang gelak tawa dan tepuk tangan para penonton.

 

Keinginan untuk menyaksikan para disabilitas yang memiliki kemampuan dalam bidang seni, menjadi alasan Subhan menghadiri pentas yang berlangsung selama dua jam tersebut. Dengan digelarnya “Hear Artist, Hear Ability: Pentas Berbeda Bahagia”, Subhan pun menuturkan harapannya terhadap dunia disabilitas. “Biar semua orang di Indonesia, maupun di luar bisa melihat, bahwa disabilitas juga bisa menampilkan kesenian seperti orang-orang nondisabilitas. Jadi tidak lagi dipandang sebelah mata,” katanya. (RR)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *