Connecting the Dots: Perjalanan Saya Meraih Beasiswa Chevening dengan Keterbatasan Visual

Leeds – Seringkali kita merasa harus menunggu “siap” atau menjadi “sempurna” untuk mengejar mimpi besar. Namun, perjalanan saya membuktikan sebaliknya. Menjadi seorang penyandang disabilitas netra total (totally blind) sejak usia 12 tahun bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang yang membawa saya hingga ke titik ini: menjadi penerima beasiswa Chevening di University of Leeds [06:46].

Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman dan strategi “curhat” yang saya gunakan dalam menembus seleksi beasiswa global ini.

1. Connecting the Dots: Percaya pada Takdir dan Perjalanan Hidup

Steve Jobs pernah berkata, “You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards.” Hal ini sangat relevan dengan hidup saya. Kehilangan penglihatan pasca Cawu 2 saat kelas 6 SD [07:24] sempat membuat saya hampir putus sekolah. Namun, berkat advokasi sebuah yayasan, saya bisa kembali bersekolah di sekolah umum, lulus SMP, SMA, hingga S1 Sastra Inggris di Universitas Indonesia.

Siapa sangka, latar belakang pendidikan dan pengalaman hidup itulah yang menuntun saya. Dari aktif di komunitas online “Kartunet” (Karya Tunanetra), mengajar teknologi untuk sesama tunanetra, menjadi honorer di Kominfo, hingga akhirnya menjadi PNS peneliti di Kemendikbud dan kini di BRIN [09:59]. Semua titik-titik kecil itu terhubung membentuk sebuah narasi yang kuat: saya ingin berkontribusi lebih luas dalam kebijakan publik yang inklusif. Inilah “benang merah” yang saya tawarkan kepada Chevening.

2. Strategi Esai: Jujur, Personal, dan Mengubah Kelemahan Menjadi Kekuatan

Banyak pelamar merasa harus menjadi “Superman” atau memiliki jabatan tinggi untuk dianggap sebagai pemimpin. Padahal, kepemimpinan (Leadership) bukanlah tentang posisi, melainkan tentang tindakan dan dampak.

Baca:  Sumatra Barat Jadi Provinsi Pendidikan Inklusif Ke-8

Dalam esai saya, saya menggunakan pendekatan yang saya sebut sebagai “Curhat yang Terstruktur” [15:52].

  • Tuliskan apa adanya: Saya tidak melakukan rekayasa cerita (engineering). Saya menuliskan apa yang benar-benar saya lakukan, sekecil apapun itu, selama berdampak.

  • Kontradiksi yang Menguatkan: Saya mengawali dengan kelemahan saya (keterbatasan visual), namun langsung membalikkannya menjadi kekuatan (how to turn your weakness into your strength) [17:01]. Saya ceritakan bagaimana keterbatasan ini justru mendorong saya untuk mengajar teknologi kepada sesama disabilitas agar mereka bisa mandiri.

  • Dampak Nyata: Saya menekankan bahwa saya ingin memperluas dampak. Jika sebelumnya saya hanya mengajar di komunitas, dengan beasiswa ini dan posisi saya di sektor pemerintah, saya bisa berkontribusi pada kebijakan yang berdampak nasional [17:31].

3. Kepemimpinan Bukan “One Man Show”

Saat menulis tentang Leadership dan Networking, ingatlah bahwa kita bukan Superman. Poin penting kepemimpinan adalah kolaborasi. Dalam esai, gunakan kata “Saya” (I) untuk menunjukkan inisiatif, tapi jangan lupa mengakui peran tim (We) [30:45].

Pengalaman saya bekerja dengan komunitas disabilitas mengajarkan bahwa tidak semua orang ingin maju; ada yang butuh dorongan, ada yang skeptis. Di situlah seni kepemimpinan diuji: bagaimana kita fokus pada mereka yang ingin maju, bekerja sama, dan memecahkan masalah tanpa menghabiskan energi untuk hal yang kontraproduktif [32:46]. Ceritakan dinamika nyata seperti ini, bukan sekadar klaim keberhasilan yang mulus tanpa hambatan.

4. Jangan Menunggu Siap, Just Do It!

Banyak yang bertanya, kapan waktu yang tepat untuk mendaftar? Jawaban saya: Sekarang.

Kesiapan itu seringkali baru terbukti lewat hasil (result) [44:18]. Tugas kita hanyalah berikhtiar. Chevening adalah salah satu beasiswa yang paling “ramah” untuk dicoba—gratis, tidak butuh IELTS di awal, dan inklusif [41:10]. Kita nothing to lose.

Baca:  Konsep sains teknologi dan wirausaha dalam islam

Jika pun gagal, kita belajar. Jika berhasil, itu artinya momentum bertemu dengan takdir. Saya percaya, mendapatkan beasiswa adalah bagian dari takdir ketika Tuhan merasa kita pantas dan siap untuk amanah yang lebih besar [16:09].

Penutup: Jadilah Autentik

Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi penyemangat bagi teman-teman yang sedang berjuang. Good luck on your Chevening journey!


Sumber Referensi:

 

Dimas Prasetyo Muharam

Chevening Scholar 2025/2026, MA Social and Public Policy, University of Leeds

Bagikan artikel ini
Dimas Prasetyo Muharam
Dimas Prasetyo Muharam

Pemimpin redaksi Kartunet.com. Pria kelahiran Jakarta 30 tahun yang lalu ini hobi menulis dan betah berlama-lama di depan komputer. Lulus dari jurusan Sastra Inggris Universitas Indonesia 2012, dan pernah merasakan kuliah singkat 3 bulan di Flinders University, Australia pada musim semi 2013. Mengalami disabilitas penglihatan sejak usia 12 tahun, tapi tak merasa jadi tunanetra selama masih ada free wifi dan promo ojek online. Saat ini juga berstatus PNS Peneliti di Puspendik Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Kunjungi blog pribadinya di www.dimasmuharam.com.

Articles: 314

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *