Kartunet menuju usianya ke-12, nantikan program-program seru dari kami!
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Dahulukan Komunikasi Saat Membantu Penyandang Disabilitas

Jakarta – Pemandangan masyarakat yang membantu seorang tunanetra ketika sedang berjalan seorang diri di area publik sudah lumrah dilihat. Apalagi di bangsa komunal seperti Indonesia, saling tolong-menolong telah jadi karakter rakyatnya. Akan tetapi, niat baik tersebut terkadang salah sasaran atau tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh tunanetra. Kekeliruan ini biasanya disebabkan oleh kurang adanya komunikasi antara pihak yang ingin menolong dan yang ditolong mengenai bentuk dan cara bantuan yang dibutuhkan.

Sering kali ketika masyarakat melihat seorang tunanetra yang berjalan sendiri, mereka langsung membuat asumsi mengenai bentuk bantuan apa yang dibutuhkan oleh si tunanetra. Sebagai contoh, ketika ada seorang menggunakan tongkat putih berdiri di pinggir jalan dan menghadap ke jalan, masyarakat beranggapan bahwa ia ingin menyeberang jalan. Tanpa bertanya terlebih dahulu, lengan si tunanetra tersebut langsung digandeng, dan diajak berjalan menyeberang. Padahal belum tentu si tunanetra ingin menyeberang jalan, bisa jadi ia ingin mencegat angkot atau bus yang lewat.

Maka dari itu, penting bagi masyarakat untuk mengedepankan komunikasi sebelum akan membantu. Ketika ingin berbicara dengan tunanetra, dahulukan dengan menyentuh punggung tangannya, dan bertanya apa yang kira-kira dapat dibantu. Menyentuh punggung tangan ini berfungsi agar si tunanetra langsung tanggap bahwa pertanyaan Anda ditujukan padanya. Mungkin si tunanetra memang memerlukan bantuan, atau bisa jadi tidak. Inisiatif Anda untuk bertanya ini selain untuk tahu apa kebutuhannya, berguna pula membantu tunanetra yang mungkin memerlukan pertolongan. Misal saat ia ingin mencegat angkot, biasanya diperlukan seorang berpenglihatan untuk memberhentikan angkot yang lewat. Karena ia tak melihat atau ragu-ragu apakah di sekitarnya ada orang atau tidak, biasanya mereka hanya terdiam.

Selanjutnya, apabila ia memerlukan bantuan, tanyakan bentuk dan cara bantuan seperti apa yang diperlukan. Misal seorang tunanetra perlu bantuan untuk menyeberang, jangan langsung menarik tangannya dan diajak berjalan ke seberang jalan. Mungkin ia hanya diam dengan bentuk pertolongan Anda, tapi itu tidak menutup kemungkinan bahwa ia kurang nyaman dengan cara Anda membantu. Ada baiknya, tanyakan dulu cara yang menurut ia nyaman ketika dibantu. Misal bagaimana posisi tangan yang benar dan nyaman ketika menuntun tunanetra. Sering kali, karena didorong oleh niat baik untuk membantu, masyarakat langsung saja menarik tangan si tunanetra. Padahal cara yang tepat adalah dengan membiarkan tangan si tunanetra menggenggam lengan atas Anda. Itu merupakan standar yang aman dan nyaman karena si tunanetra dapat berpegangan dengan mantap dan ia tinggal mengikuti arah langkah Anda.

Sekali lagi, dahulukan komunikasi ketika akan membantu seorang tunanetra atau penyandang disabilitas lainnya. Mereka juga manusia yang perlu dihargai dengan diajak berkomunikasi meski Anda sebagai pihak yang memberi pertolongan. Sebetulnya, masih banyak contoh kasus yang menunjukkan cara menolong penyandang disabilitas yang kurang tepat. Aku akan share di tulisan berikutnya. Sekian dulu, apabila ada pertanyaan atau tanggapan, silakan disampaikan di kolom komentar.(DPM)

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
3 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *