MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

setangkai cinta untuk anya

Bagikan ke teman dan sahabat

Hamparan hijau yang kosong. Dunia hanyalah seluasnya rumput yang sesekali mengombak tertiup angin ketika ia pergi.

Masih kuingat ketika kami berbaring di sepetak rumput yang tidak berbeda dari beribu-ribu petak lain di sini, memandangi bintang di langit tanpa awan, rambutnya yang harum panjang keemasan terjalin diantara jari-jariku, sekarang ketika berwindu-windu telah berlalu.

***
Kami bertemu di sebuah kafe di Jakarta dulu, ketika ia masih sunyi dan belum penuh debu seperti sekarang. Sudah lama memang kafe itu jadi tempatku membuang kesedihan yang membuncah ketika ibu menangis mengingat ayah.

“Saya minta secangkir kopi dengan sesendok ekstra kesedihan,” ucapku padanya yang menghampiriku. Ia hanya tersenyum sebelum berjalan pergi.
Ketika kembali dan menaruh minumanku di atas meja di pojok ruangan itu, ia duduk di hadapanku.
“Malam yang terlalu cerah untuk menikmati kopi dengan sesendok ekstra kesedihan,” Katanya. secarik cahaya lampu jatuh menyinari meja, memantulkan wajahnya yang rupawan.
“Kesedihan tak mengenal waktu, seperti halnya ia tak mengenal kemarahan ibuku yang membuatnya datang,” ucapku putus asa.

Kuhirup kopi itu seteguk. Rasanya yang pahit memenuhi lidahku, sesendok kesedihan yang ditambahkan padanya nampak berpusar, terasa menenangkan saat masuk ke perutku. Mengamati kesedihan yang berpusar dalam cangkir selalu bisa menenangkan hatiku, terlebih disaat-saat seperti ini.
“Jika kamu pesan kopi itu terus,” ucapnya menunjuk cangkir di hadapanku, “sebentar lagi saya tidak bisa menyediakannya lagi,” ia menghela nafas.
“Oh, mengapakah?”
“Karena kesedihan itu adalah kesedihan yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun. Setiap kamu pesan saya ambil satu sendok, dan sebentar lagi kesedihan saya habis.”
Memang waktu itu adalah ketika sering-seringnya aku ke sana. Aku yang semakin mirip ayah seiring aku beranjak dewasa sering membuat ibu menangis.
******

Baca:  Akhirnya Ku Menemukanmu

“Mama, apakah Seno punya ayah seperti teman-teman Seno yang lain, mama?”
“Tentu saja punya, nak. Ayahmu adalah seburuk-buruknya lelaki. Belajarlah untuk hidup tanpa ayah, dan janganlah kamu jadi ayah yang seperti dia ketika kamu besar nanti, sekarang tidurlah!”
Setelah berkata seperti itu, ibu akan keluar dari rumah, dan kembali pada tengah malam, terkadang dengan nafas berbau alkohol. Jika ia mendapati aku belum tidur, ia akan memarahiku habis-habisan.
“Anak jadah tak tahu diuntung! Sudah kukasih hidup, disuruh tidur saja tak mau! Apa kamu seperti bajingan itu, yang harus berhubungan denganku dulu baru bisa tidur nyenyak, huh? sekarang Tidur!”

Terlepas dari kata-katanya yang terkadang menyakitkan, aku tahu bahwa ibu mencintaiku. Setiap awal bulan, ibu selalu mengajakku untuk makan di restoran mahal yang saat itu belum banyak tersebar di Jakarta. Kemudian ia akan membelikanku pakaian dan mainan, senyumnya tak akan bisa kulupakan ketika ia melihatku tertawa bahagia bermain dengan mainan baruku.

Ketika ia sedang bahagia, ibu akan membacakan cerita dari salah satu bukunya yang banyak di rumah kami. Sambil memelukku, ibu akan mengelus rambutku penuh sayang dan berbisik.
“Seno … Jadilah lelaki baik ketika kau dewasa nanti … ”
“Lelaki baik itu yang seperti apa, mama?
“Lelaki baik itu yang tidak seperti ayahmu,”

Begitulah, aku tak pernah bertanya soal ayah lagi padanya. Ibu selalu sedih atau marah atau keduanya sekaligus jika mengingat ayah, dan ia sering berkata bahwa wajahku sangat mirip dengan ayahku, dan tangisan itu terdengar makin sering setiap malamnya.
***

“Tidakkah kamu sering sedih akhir-akhir ini? Oh, dan aku belum tahu namamu, Nona. Padahal sudah sering sekali aku ke sini,”
“Tidak, kalaupun sedih itu hanya sedikit saja, bahkan tidak sampai sesendok yang biasa saya tambahkan ke kopi kamu. Hmm … Namaku Anya, senang berkenalan denganmu, penikmat kesedihan.” Ia tersenyum. Matanya yang biru terpantul dari cangkir kopi di hadapanku.
“Namaku seno,” Ucapku. “kalau begitu, ambillah sesendok kesedihanku saja, aku punya banyak yang semakin menumpuk setiap hari,” lanjutku padanya.
Lalu ia mengambil sesendok kesedihanku untuk dicampurnya kopi, yang kemudian dibawanya untuk dinikmati bersamaku.
“Kesedihanmu terasa panas, Seno. Seperti amarah … Panas yang menghangatkanku,”
“Itu karena Amarah dan tangis ibukulah yang membuatnya. Kesedihanmu terasa damai dan menenangkan, Anya. Itu sebabnya aku selalu ke sini ketika hatiku sedih … ”
“Kalau begitu, aku akan menikmati kesedihanmu ketika kau kesini untuk menikmati kesedihanku, Seno. Kesedihan tidak akan terasa terlalu menyedihkan ketika dinikmati bersama … ”

Baca:  Sang Pangeran

Sejak malam itu, aku makin sering datang ke sana. Pertemuanku dengan Anya terjadi makin sering, dan tak lama kami tidak hanya bertemu di kafe, tetapi juga di taman-taman kota, di perpustakaan dan di jalan yang dihiasi rinai gerimis. Kesedihan menjadi pintu perasaan lain yang kami bagi bersama kemudian. Kesepian, kemarahan, kebencian yang akhirnya terasa tidak terlalu buruk seperti saat aku hanya punya itu untuk diriku sendiri.

Hingga suatu saat entah kapan, perasaan baru tumbuh bersemai begitu indah. Setangkai cinta tumbuh diantara kami, mekar setelah kami berhubungan di malam itu. Di antara rumpun mawar di depan rumah kami, dibasuh sinar matahari yang membuat pagi begitu hangat, setangkai cinta itu tampak begitu agung dalam pesonanya, puncak segala rasa yang membuatmu tak bisa berhenti memandangnya, setangkai cinta yang tumbuh dari kesedihan, sepi, dan kebencian yang disirami oleh kebersamaan.

Dari manapun ia berasal, cinta akan tetap terasa seperti cinta ketika ia telah menjadi cinta. Setangkai cinta yang tak akan pernah layu tergerus waktu. Bagaimana setangkai cinta kami bisa kering dan layu ketika cinta telah melalui ruang dan waktu sejak mereka diciptakan, dan masih terasa seindah sebelumnya sampai sekarang?

Demikianlah, setangkai cinta tumbuh bermekaran setiap hari. Kupetik ia sekali untuk kutanam di makam ibuku, dan ia tumbuh bermekaran di sana, dipupuk oleh kebencian ibuku pada ayah yang tak bisa menutupi cintanya. Sesekali kupetik ia untuk kusimpan di vas bunga di dalam kamar, agar harumnya membangunkanku setiap pagi. Kusirami ia oleh kesepian, kupupuki dengan kerinduan sehingga ia tumbuh semakin membesar dan semakin banyak.
Kutanami ia di setiap sudut kamar kenangan yang tak jarang membuatku menangis sendirian. Dan sekarang, untuk ke sekian kalinya dalam sekian tahun, kutebarkan tangkai-tangkai cinta itu di sini, di tempat kita membuat kenangan paling indah yang membuatnya bersemi, sayang.

Kartunet.com adalah media warga, seluruh konten berupa tulisan, foto, audio, atau video yang diterbikan melalui situs ini menjadi tanggung jawab penuh dari kontributor.

Ingin juga tulisanmu diterbitkan di Kartunet? Siapkan karyamu dan klik di Kirim Karya
2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat
error: Content is protected !!