Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Ade Kurniawan, Karunia Terindah dari Tuhan

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

aksi Ade di Peparnas 2012
Saya mengenalnya ketika semester awal kuliah di Universitas Riau, sekitar bulan Juli tahun 2000. Dia terdaftar sebagai mahasiswa hasil PBUD (Penelusuran Bibit Unggul Daerah). Mungkin beberapa tahun sebelumnya lebih dikenal dengan sebutan Mahasiswa Undangan. Ya, prestasi akademisnya yang selalu menanjak naik, membuat dia berhak mendapatkan satu kursi gratis di universitas negeri ternama di propinsi kami.

Awal-awal perkenalan dulu saya betul-betul tidak menyadari kalau dia sedikit ‘berbeda’ dengan kami. Karena memang jika tidak diperhatikan dengan seksama, kita tidak akan menyadari sedikitpun bahwa dia istimewa. Percayakah anda jika saya bilang, “saya baru tahu Ade itu ‘berbeda’ pada tahun 2005 ?” Ya, itu adalah sebenarnya. Saya baru sadar dia itu ‘istimewa’ ketika menonton pertandingan bola di Pekanbaru. Ketika mereka turun minum ke pinggir lapangan, saat itulah saya ‘baru’ tahu, bahwa dia ‘berbeda’. Sampai-sampai teman menyoraki saya “kemana aju luuu ?” Ya, gimana ya ? Habisnya sehari-hari dia itu menjalankan aktifitas seperti mahasiswa lain pada umumnya. Bahkan dia mengendarai sepeda motor dengan sangat baik. Jadi bukan salah saya donk kalau ga tahu ? *pledoi*

Kejutan yang tidak diharapkan

Rabu, 10-Jun-1981, suara nyaring bayi laki-laki memecah kesunyian subuh. Dibantu oleh seorang bidan desa, Ade kecil dimandikan lalu diserahkan kepada sang ibu untuk disusui. Demi menjaga kesehatan ibu, kondisi Ade kecil yang ‘istimewa’ itu di ‘sembunyikan’ terlebih dahulu. Nenek dan anggota keluarga lainnya sepakat untuk merahasiakan keistimewaannya hingga ibu dianggap ‘kuat’. Jadi setiap harinya, nenek memandikan dan menggantikan popok Ade kecil dengan telaten. Ditiap malam ba’da Isya Papa selalu mengundang alim ulama untuk memberi tausyiah seputar Qada dan Qadar Allah. Berusaha memberi masukan positif kepada semua pihak, bahwa kekurangan fisik yang di miliki Ade adalah kehendak Allah yang harus diterima dengan lapang dada. Lima belas hari berlalu, ibu ternyata telah tak sabar untuk mengurus bayinya sendiri. Dia keberatan dengan kondisinya yang telah kuat namun masih bergantung kepada nenek. Saat-saat yang menegangkan pun datang. Sebelum memberikan Ade kecil kepada ibu, nenek berbicara dengan lembut didampingi Papa dan keluarga lainnya.

“Ti, kau jangan berkecil hati. Tuhan Allah sedang menguji kito semua, anak kau diberi keistimewaan, bukan karena benci atau pun menghukum. Tapi karena Dio percayo, kita mampu menjago amanahNYO dengan baik”

Ibu bergeming. Tidak mengerti. Namun hatinya berfirasat, ada sesuatu yang tidak biasa tengah terjadi. Ditatapnya mata bening Ade kecil yang memandangnya polos, diiringi kicauan lucu yang meluncur dari mulut mungilnya. Sorot kecerdasan terpancar dari kedua bola mata itu. Ibu membaringkan Ade kecil ke pembaringan, dan perlahan membuka kain bedong. Dia terperangah, menahan nafas, berusaha keras agar riak yang mengambang tidak luruh di pipinya. Putra bungsunya terlahir dengan tangan buntung sebatas siku.

Dunia terasa jungkir balik, dia menangisi nasip anaknya berkali-kali. Menyesali diri yang – mungkin – pernah salah langkah terhadap orang lain. Namun semua itu sumir, tiada yang pasti selain takdir Allah yang menggariskan dia harus membesarkan seorang anak yang ‘istimewa’.

Istimewa, tapi tidak diistimewakan

Lahir dengan keistimewaan, tidak lantas membuat Ade kecil tumbuh dengan keistimewaan. Oleh Mama dan Papa dia dididik dan diperlakukan sama dengan dua saudaranya yang lain. Bahkan kalau boleh dibilang, mereka bisa dikategorikan ekstrim kala itu. Ade kecil tidak pernah dilarang melakukan apaupun, seperti memainkan palu, memaku kayu, memotong dengan pisau dan benda-benda tajam lainnya. Dia dibebaskan menggunakan semua peralatan yang ada di bengkel Papa, namun didalam pengawasan penuh oleh Papa dan anggotanya. Bahkan, dibandingkan abangnya yang selisih 5 tahun diatasnya, Ade kecil lebih cepat bisa mengendarai sepeda dan juga sepeda motor. Kepercayaan dan kesempatan. Itulah kunci utama bagaimana Ade bisa melakukan itu semua.

Fisik Minim, Prestasi Maksi

Dibandingkan dengan kakak dan abangnya, Ade berhasil tumbuh dengan banyak prestasi. Bahkan dengan bangganya Papa bercerita bahwa dia beberapa kali terpanggil kesekolah untuk menerima piagam penghargaan atas prestasinya di sekolah. Dari sekian banyak kegiatan sekolah yang ada, sepakbola adalah yang paling dia suka. Ini jugalah yang berhasil mengantarkannya mengunjungi beberapa propinsi di tanah air guna mengikuti beberapa ajang tingkat nasional. Tercatat sekitar lima piagam sebagai pemain terbaik telah di raihnya.

Setelah menikah, dia mundur dari dunia pesepakbolaan, dan memilih untuk fokus pada pekerjaan guna menafkahi istri dan anaknya. Saat ini dia dipercaya sebagai Mechanical Electrical di PT.Green Planet Indonesia. Meskipun dia berkata mundur dari dunia persepakbolaan, namun tawaran untuk main itu selalu ada. Yang teranyar adalah ketika dia mengikuti ajang pertandingan futsal di Peparnas IV di Pekanbaru, Riau tahun 2012 lalu. Bertindak sebagai kapten, Ade berhasil menyarangkan beberapa gol ke gawang lawan.

“Walaupun cabang yang baru dipertandingkan, namun jajaran pelatih mengharapkan hasil yang maksimal dari timnya Adapun pemain futsal Riau diantaranya Tengku Zamhur, Almaizar Aria, Kurniadi, Edi, Mario, Rinto dan Frengky (kiper), Ipong, Kurniawan, Herianto dan Ade Kurniawan.”- baca di sini.

“Namun, jelang babak akhir di menit ke-30, Kapten Riau Ade, yang menggiring bola dari tengah lapangan, langsung membobol gawang Papua, 3-2. Gol tergolong mengejutkan ini menjadi pemicu semangat anak-anak Riau. Hanya selang 4 menit kemudian, lagi-lagi Ade membobol gawang Papua. Gol penyeimbang ini hasil kemelut di mulut gawang Papua, yang dimanfaatkan maksimal oleh anak-anak Riau. Hasil imbang 3-3 ini berakhir hingga babak kedua selesai” – baca di sini.

Medali Emas di Hati

Meskipun saat itu Ade tidak berhasil membawa tim futsal Riau meraih medali emas dalam Peparnas 2012, namun selamanya dia akan meraih medali emas di hati kami. Khususnya saya, yang telah 6 tahun menjadi istrinya. Dan insya Allah hingga akhir hayat nanti hingga maut memisahkan kami berdua. Karena saya yakin, berbekal kesempatan dan kepercayaan yang diberikan kepadanya, Ade akan selalu menjadi karunia terindah dari Tuhan bagi kami sekeluarga.

Aksi Ade di Peparnas 2012Medali Emas di hatiku

9 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *