Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Prasangka pada Pemberian Tuhan

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Sahabat sering kali dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat realitas hidup yang kita anggap itu kurang adil atau tepat mengenai apa yang telah diberikan Allah kepada kita, sering kali kita melihat kehidupan orang-orang yang jauh dari agama seperti seorang koruptor justru kehidupan mereka jauh terlihat sejahtera dan makmur ketimbang kehidupan dari orang-orang yang selalu berusaha untuk selalu mendekatkan diri dengan Rob nya.

Realitas hidup yang demikian itu sering kali banyak membuat orang-orang yang ingin berusaha mendekatkan diri dengan Tuhannya dan menjalankan perintah agamanya menjadi bimbang bahkan banyak diantara mereka yang berpaling karna mereka menganggap bahwa Allah telah tidak adil dalam memperlakukan hambaNya antara orang yang beriman/orang yang berusaha untuk selalu mendekatkan diri kepada robNya dan yang tidak beriman/ orang yang jauh dari ajaran agama,. Sahabat tidaklah demikian, perasaan dan fikiran-fikiran itu merupakan tipu daya syaitan agar kita yang ingin berusaha untuk mendekatkan diri dengan kehidupan rohani dapat tergelincir dengan cara kita bersuuzon terhadap karunia dan pemberian yang telah diberikan Allah.

Sahabat, pada faktanya dalam Al-quran Allah menjelaskan bahwa apa yang selama ini kita angap kesenangan dan kenikmatan yang orang-orang dapat melalui cara menjauhi jalan Allah seperti para koruptor yang mencari harta dengan mengambil yang bukan merupakan haknya ternyata bukanlah merupakan wujud kasih sayang Allah tapi merupakan salah satu bentuk hukuman dari Nya.
Allah berfirman: “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah deberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” Qs: 6-44
Sahabat dari ayat tersebut diatas jelaslah bahwa apa yang selama ini kita sangkakan terhadap Allah merupakan kesalahan dan kebodohan kita. Namun dimikian kita pun tidak diperbolehkan menghakimi bahwa orang-orang yang terlihat dalam kehidupan mereka penuh kesenangan dan kenikmatan tergolong orang-orang yang jauh dari jalan Allah , dan sebaliknya orang-orang yang dalam kehidupannya penuh dengan penderitaan tergolong orang yang dekat dengan Allah. Karna beriman/tidahnya seseorang tidak dapat diukur dan dilihat dari kesenangan dan kemudahan hidup yang dimiliki oleh seseorang.
Maka dengan demikian mari kita bersama untuk bermuasabah diri dari apa yang telah kita lakukan dalam kehidupan kita selama ini sehingga kondisi kehidupan kita seperti saat ini.
Kebenaran datangnya dari Allah, kesalahan dari saya pribadi

5 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *