Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Ustadz Ainun (kiri), Pak Danang Sumiharta/Ketua Advokasi BNN JATIM, saya (kanan) dalam acara Pengkaderan BNN 2014
Saya ingin bercerita tentang pengalaman yang jarang sekali orang memilikinya. Ketika SMP saya adalah anak yang pemalu. Bahkan untuk berbicara di depan orang banyak pun tak berani. Kebetulan di sekolah saya ada jadwal kultum dan setiap siswa kebagian jatah untuk kultum. Karena saya orang yang lumayan “cerdik”, setiap giliran saya kultum, saya tidak akan masuk sekolah. Akhirnya, pada suatu saat saya terpaksa memberanikan diri untuk menyampaikan kultum karena waktu itu tinggal saya yang belum tampil.

Pertama kali saya kultum, saya masih ingat ketika itu saya menyampaikan hadits tentang “3 amalan yang tidak akan terputus saat kita meninggal dunia” dan hadits ini sudah saya hafal betul-betul saat kelas 4 SD. Alhamdulillah, ketika itu saya berhasil menyampaikannya walaupun masih terbata-bata karena grogi. Entah kenapa ketika saya sudah tampil lalu muncul keinginan untuk tampil lagi menyampaikan kultum atau menyampaikan pengumuman. Akhirnya, keinginan saya terwujud saat saya dipercaya oleh teman-teman untuk menjadi wakil ketua OSIS SMP.

Ketika saya menjabat sebagai wakil ketua OSIS, saya cenderung lebih sering tampil ke depan untuk memberi pengumuman. Namun saya belum mengetahui bahwa bakat saya ada di sana. Lulus SMP saya melanjutkan ke SMA. Masih mengikuti tradisi sebelumnya, SMA yang saya pilih merupakan boarding school. Jadinya saya sekolah plus mondok. Kedua lembaga tersebut di bawah satu yayasan yang sama. Karena termasuk sekolah yang baru 3 tahun berdiri, tentu saja kondisinya jauh berbeda dengan SMP saya dulu, terutama dari segi bangunan dan fasilitas. Karena kondisi itulah saya cenderung lebih sering mengeluh ketika awal-awal masuk SMA.

Entah keberuntungan atau memang takdir, tiba-tiba saya melihat seseorang yang bisa mengubah mindset hidup saya. Beliaulah yang sekarang menjadi mentor saya. Siapa beliau? Beliau adalah Ustadz Ainun Nazhif. Saya melihat semangat hidup beliau yang tak pernah menyerah ketika menghadapi suatu masalah. Bahkan ketika kondisi kritis pun beliau dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan penuh ketenangan dan kesabaran.

Beliau banyak sekali memberikan “DUKUNGAN” pada saya, mulai dari cara berorganisasi yang baik dan benar, cara menjadi “The Real Leader”, bagaimana cara menjalin sebuah networking (jaringan), dan lain sebagainya. Tidak hanya memberi ilmu, beliau juga senantiasa memberikan arahan dan nasihat ketika saya sedang “bengkok”. Ini yang menurut saya jarang dimiliki oleh guru pada zaman saat ini. Beliau benar-benar mendidik saya agar kelak menjadi seseorang yang berkarakter sehingga tidak hanya ilmu saja yang banyak tapi sikap (attitude) juga menjadi komponen penting yang harus tertanam dalam diri saya.

Setiap kali saya memiliki masalah yang menurut saya “sulit”, beliau tak segan-segan ikut membantu dan memberi dukungan penuh terhadap pencarian solusi dari masalah tersebut. Padahal beliau adalah orang yang paling sibuk.

Ustadz Ainun Nazhif saat ini merupakan Direktur Eksekutif yang membawahi SMP-SMA dan pondok pesantren di tempat saya menimba ilmu. Jika dilihat tentu saja tugas beliau tidak bisa dianggap enteng. Beliau harus bangun paling pagi dan tidur paling malam untuk memastikan bahwa kegiatan di sekolah dan pondok pesantren berjalan sesuai sistem yang berlaku.

Tidak hanya itu, beliau juga mendapat amanah sebagai guru FAI (Fikrul Al-Islam) di sekolah, mengajar membaca Al-Quran dengan metode “UMMI”, sekaligus menjadi wali kelas. Saya kadang berpikir bagaimana cara beliau melakukan itu semua. Tentu ini bukanlah hal ringan untuk dilakukan tapi nyatanya  beliau bisa. Yang tak kalah membuat saya heran adalah beliau masih menambah lagi “beban” amanah di pundaknya. Mau tahu?

Setahun lalu, Ustadz Ainun Nazhif juga menggagas berdirinya pondok tahfidz untuk jenjang SMP. Hal itu beliau lakukan di tengah kesibukannya seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Pondok tahfidz yang diberi nama Villa Quran tersebut saat ini sudah memiliki 16 santri yang berasal dari berbagai kota dan pulau di Indonesia.

Usut punya usut ternyata berdirinya pondok tahfidz yang diberi nama Villa Quran itu bermula dari keprihatinan beliau atas minimnya jumlah penghafal Al-Quran. Apalagi untuk kalangan remaja. Tak hanya itu, ternyata ada motivasi spiritual yang melatarbelakanginya. Menurut beliau banyak orang berlomba-lomba mencari sebanyak-banyaknya harta dunia, tapi sedikit orang yang ingat  untuk mencari bekal akhiratnya. Hmm, luar biasa, kan? Dengan mendirikan pondok tahfidz ini beliau berharap bisa menjadi jalan bagi datangnya pahala sebagai bekal di akhirat kelak. Beliau ingin mencetak generasi Islam yang memegang sumber dari segala ilmu, yaitu al-Quran. Motivasi inilah yang membuat saya makin kagum pada beliau. Di tengah aktivitasnya yang sudah padat dan hiruk pikuk dunia masih memikirkan bekal akhirat.

Masih tentang Ustadz Ainun. Orang lain mungkin tak akan menyangka bahwa beliau memiliki masa lalu yang “unik”. Meski dari keluarga yang sederhana, beliau mampu membiayai dirinya sendiri untuk kuliah di perguruan tinggi di tengah keraguan orang-orang di sekitarnya. Daya juang yang tinggi selama menempuh kuliah telah menjadikan beliau sebagai seorang entrepreneur muda di bidang jasa travelling.  Bidang usaha ini akhirnya berkembang menjadi Biro Umrah dan Haji Bayariq Khalifatama.

Tak hanya jasa travelling, bersama rekan-rekannya beliau semasa kuliah merintis berdirinya lembaga Quantum Spirit “Education and Training” dan duduk sebagai direktur hingga sekarang. Kemampuan public speaking beliau tak perlu diragukan lagi. Melalui lembaga ini beliau dan rekan-rekannya telah menginspirasi ribuan orang dari berbagai kalangan, seperti pelajar, mahasiswa, guru, dosen, karyawan perusahaan, dan sebagainya.

Berkecimpung dalam dunia training akhirnya menghantarkan beliau bekerja sama dengan BNN (Badan Narkotika Nasional) Jawa Timur tahun 2011 sebagai fasilitator guna melakukan upaya penyadaran atas bahaya narkoba di kalangan pelajar. Kerja sama ini berlanjut hingga sekarang. Karena saya termasuk salah satu “muridnya”, saya pun jadi ikut “terseret” menjadi kader BNN Jatim sejak November 2014 lalu.

Tak hanya dalam urusan public speaking, Ustadz Ainun juga menginspirasi saya dalam hal meng-organize, baik meng-organize acara/kegiatan maupun meng-organize orang lain. Saya banyak belajar dari beliau tentang hal tersebut karena ilmu meng-organize ini memang saya butuhkan dalam menjalankan OSIS di sekolah. Banyak konsep dan ide-ide segar saya dapatkan dari hasil ngobrol dengan beliau. Kecanggihan beliau tak lepas dari pengalaman beliau dalam event organizer untuk sejumlah event, baik skala kota hingga skala propinsi dengan massa puluhan ribu orang. Tentu saja ini menjadi amunisi semangat bagi saya dalam berorganiasi.

Banyak capaian yang saya raih dengan menjadikan beliau sebagai mentor saya. Salah satunya pada bulan April 2015 saya berhasil menerbitkan buku debut saya yang pertama berjudul SANTRI UNTOLD. Alhamdulillah, berkat dukungan dan arahan beliau buku saya bisa terbit di usia saya yang masih muda. Tak hanya itu, beliau telah menghantarkan saya dengan sukses menyalurkan hobi “ngomong” saya sebagai MC (Master of Ceremony) dalam acara MY MOVEMENT pada Februari 2015 kemarin untuk sebuah event remaja dengan peserta lebih dari 1.000 orang. Saya juga berkesempatan menjadi Host dalam acara Talk Show Bersama Felix Siauw pada Maret 2015 dengan peserta lebih dari 1.000 orang remaja.

Di tengah kesibukan beliau saat ini, beliau masih menyempatkan waktu untuk berbagi ilmu dan memberi nasihat kepada saya. Sikap inilah yang membuat hati saya tergugah. Boleh dibilang bahwa Ustadz Ainun Nazhif adalah orang tua kedua saya setelah bapak dan ibu saya di rumah. Beliau merupakan sosok pribadi yang ramah, menyenangkan, tegas, dan berprinsip.

Dari beliau saya banyak belajar sehingga menjadikan saya memiliki sifat PERCAYA DIRI yang sebelumnya saya adalah PENGECUT. Beliau yang menjadikan saya memiliki sifat PANTANG MENYERAH yang sebelumnya saya adalah orang yang mudah PUTUS ASA. Beliau juga yang menjadikan saya memiliki sifat BERANI MENGAMBIL RISIKO yang sebelumnya saya adalah orang yang PERHITUNGAN. Dari semua yang saya ceritakan di atas, Ustadz Ainun Nazhif adalah sosok pekerja keras dan cerdas dalam mengambil keputusan. Segala kerja kerasnya diniatkan untuk menggapai ridha Allah SWT. Inilah alasan saya menjadikan beliau sebagai sosok yang menginspirasi.

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *