Kartunet menuju usianya ke-12, nantikan program-program seru dari kami!
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Hafiza, Pemberdaya para Mantan Penderita Kusta

sitanala-14.jpg
Hafiza, tengah memberikan penyuluhan kesehatan

Melalui sebuah artikel di sebuah media offline, saya mengenal sosoknya Perempuan cantik berhijab itu biasa disapa dengan– Hafiza. Membaca artikel seorang dengan nama lengkap Hafiza Elvira Novitariani, menggugah jiwa sosial saya sebagai manusia untuk berani berbuat lebih. Hafiza tidak hanya bertutur dengan apa yang diperbuatnya tapi juga memberanikan diri terjun langsung dengan para OYPMK. Paragraf demi paragraf saya baca, sampai akhirnya saya mengetahui apa dan siapa OYPMK itu. Ya, ternyata OYPMK itu adalah singkatan dari Orang Yang Pernah Menderita Kusta. Darah saya berdesir mendengar kata โ€œKustaโ€ itu berarti Hafiza membaur dengan mantan penderita kusta, yang nota bene orang dengan penyakit menular. Masya Allah, sungguh Hafiza memiliki hati yang terbuat dari berlian, dengan segala predikat yang disandangnya, cantik, berprestasi dan berjiwa sosial tinggi. Saya bukan hanya kagum tapi juga malu dengan apa yang dimiliki oleh Hafiza.

Berangkat dari artikel itulah, akhirnya saya mencari tahu tentang sosok Hafiza. Akhirnya saya menemukan Hafiza lewat media twitternya. Saya pun langsung meluncur ke timelinenya, dan saat itu juga saya membaca bahwa Hafiza rutin mengisi kegiatan di sebuah tempat. Status yang saya baca di timelinenya itu mengundang para volunteer untuk ikut serta dalam kegiatan yang akan dilakukannya. Setelah meninggalkan pesan singkat, sayapun mengatakan ingin bergabung dalam kegiatan tersebut. Hafiza membalas pesan saya itu dengan rasa suka cita yang dalam.

Waktu dan tempat yang sudah ditentukan saya catat dengan seksama, agar saya tidak datang terlambat dan tidak nyasar tentunya. Tempat yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Jakarta itu memang bukan sebuah tempat seperti yang saya bayangkan. Jauh dari kesan mewah apalagi udara sejuk, bahkan sebaliknya gersang dan panas. Setelah tiba di tempat yang dijanjikan, saya akhirnya tahu bahwa tempat itu bernama Kampung Kusta Sitanala โ€“ Tangerang. Tak lama setelah saya datang, Hafiza datang dan diikuti oleh beberapa orang ibu-ibu. Kamipun berkenalan dengan saling berjabat tangan. Duh, hati saya dipenuhi rasa was-was, apalagi kalau bukan takut tertular. Namun melihat wajah dan semangat Hafiza, saya langsung mengusir rasa was-was tersebut, berganti pada rasa peduli.

Selanjutnya Hafiza langsung membuka acara dan memberikan penyuluhan tentang penyakit TBC. Saya menyaksikan sendiri betapa para OYPMK yang kesemuanya ibu-ibu itu sangat antusias sekali mendengarkan penjelasan Hafiza. Kegiatan selanjutnya, Hafiza memberikan kuis interaktif yang berisi pertanyaan tentang harapan, kemampuan yang dimiliki, hambatan dan kebutuhan para OYPMK. Saya sempat tergugu, melihat mereka menuliskan kuis interaktif dengan jari tidak utuh. Butuh waktu lama untuk mengukir satu huruf, tapi semua itu tetap mereka lakukan. Saya yang masih terus mengikuti kegiatan tersebut melihat betapa mereka juga ingin disejajarkan dengan lainnya. Mereka lupa dengan keterbatasan yang mereka miliki, ada canda, ada tawa.

Sungguh, apa yang dilakukan oleh Hafiza membuat saya tertunduk malu sekaligus kagum. Hafiza berusaha untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat buat OYPMK. Melihat dari segi usia yang masih produktif, Hafiza berpikir untuk memberdayakan OYPMK dengan berlatih keterampilan. Setelah melalui beberapa pemikiran akhirnya Hafiza memberikan pelatihan membuat jilbab manik-manik. Pelatihan yang diberikan oleh Hafiza ini bukan tanpa sebab, semua ini dilakukannya demi mengangkat taraf hidup kaum OYPMK.

Selama ini kaum OYPMK selalu mendapat perlakuan kurang adil dari masyarakat, yaitu pengucilan. Banyak masyarakat yang memandang bahwa kaum OYPMK dianggap sebagai masyarakat terbelakang. Perlakuan seperti ini membuat kaum OYPMK tidak memiliki kesempatan hidup lebih layak, baik secara materi maupun bathin. Mereka bukan hanya dikucilkan oleh masyarakat tapi juga oleh keluarganya sendiri. Mereka juga tidak bisa bekerja seperti orang lain pada umumnya, padahal mereka bisa melakukannya. Kondisi inilah yang mendorong kaum OYPMK memilih untuk menjadi pengemis, tukang becak dan pemulung sampah.

sitanala-4.jpg
Kaum OYPMK tengah diskusi kuis interaktif

Beruntunglah, Hafiza tampil di tengah-tengah mereka untuk menyelamatkan banyak hal, terutama derajat. Hidup dalam kungkungan kemiskinan dan predikat OYPMK bukanlah sesuatu yang membahagiakan. Dengan modal dari sebuah lembaga pendidikan, Hafiza dan beberapa temanya mendirikan Nalacity Foundation pada tahun 2011. Nalacity Foundation merupakan sebuah proyek sosial yang fokus pada program pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan skill/keterampilan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Nalacity Foundation tidak hanya fokus pada pemberdayaan semata. Hampir seluruh masalah yang dihadapi oleh OYPMK ditangani oleh Nalacity.

sitanala-11.jpg
Hafiza ( kanan ) bersama kaum OYPMK

Saya juga melihat, bahwa tidak ada batas sama sekali antara Hafiza dan ibu-ibu itu. Wajah Hafiza yang sudah berpeluh terus menebarkan senyum dan semangat, sama sekali tidak ada guratan takut tertular. Semua dilakoni dengan penuh rasa tanggung jawab disertai dengan solusi. Bagi Hafiza proyek sosial ini sudah merupakan amanah untuk mengangkat derajat kaum OYPMK. Derajat yang selama ini hilang karena sikap diskriminasi masyarakat.
Hafiza berharap bahwa pelatihan yang telah dilakukannya ini membawa dampak positif bagi OYPMK. Kaum OYPMK ini juga ingin merasakan kembali hidup normal layaknya masyarakat yang lain. Kehidupan yang mereka jalani sudah cukup sulit, ditambah lagi dengan status yang disandangnya sebagai OYPMK. Mereka sudah sangat lama merasakan tidak dihargai atas jerih payahnya dan dianggap sebagai manusia pembawa malapetaka.

sitanala.jpg
Saya (kanan) bersama kaum OYPMK

Saya bukan cuma kagum pada Hafiza, tapi juga iri. Aura Cantik Indonesia dimiliki oleh Hafiza seutuhnya; muda, cantik, berprestasi dan jiwa sosialnya semua melebur menjadi satu dalam dirinya. Tidak takut pada opini masyarakat yang telah mendiskriminasikan OYPMK, juga jauh dari patah semangat. Setiap hari Minggu Hafiza hadir merangkul, mengayomi, mendidik, mengajarkan, menebarkan semangat dan memecahkan masalah yang dihadapi oleh OYPMK.
Sosok Hafiza telah menjadi inspirasi tanpa batas bagi saya, sosok yang memiliki kepedulian terhadap mantan penderita kusta. Yang mau dan mampu mengangkat derajat mantan penderita kusta dengan pemberdayaan diri. Mereka juga tidak mau terus menerus hidup dari uluran tangan para donatur. Mereka ingin mandiri secara utuh, baik mental maupun ekonomi. Hafiza bukan sekedar perempuan inspirasi tapi juga pejuang yang tangguh. Harapannya perjuangan tanpa lelah Hafiza dan teman-temannya bisa membawa kaum OYPMK terangkat derajatnya.

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *