Ini Dia Para Penyandang Disabilitas di Balik Peradaban Dunia

Jakarta – Masih ada stigma di masyarakat bahwa penyandang disabilitas itu adalah makhluk lemah yang hanya patut dikasihani. Padahal mereka juga manusia yang memiliki potensi dan apabila mendapat kesempatan, dapat memanfaatkan kemampuannya itu untuk mengembangkan diri dan juga lingkungannya. Buktinya, banyak tokoh dunia yang memiliki peranan sangat penting bagi peradaban manusia yang ternyata memiliki disabilitas. Apabila Anda terkejut dengan fakta ini, berikut daftar tokoh yang tak asing di telinga kita yang juga seorang penyandang disabilitas

  1. Thomas Alva Edison.
    Siapa yang sangka bahwa dunia kita saat ini dapat tetap terang benderang di kala malam adalah jasa dari seorang tunarungu? Thomas Alva Edison, pria berkebangsaan Amerika Serikat ini adalah tokoh dunia yang terkenal dengan penemuannya yaitu bola lampu listrik. Selain itu, dia juga yang memperbaiki sistem pada telegraf dan menemukan gramofon, alat putar lagu. Fakta yang jarang dikemukakan adalah Edison sudah mengalami gangguan pendengar saat usia kanak-kanak, dan secara teknis menjadi tunarungu ketika usia remaja.
  2. Beethoven
    Kita begitu takjub dengan harmoni musik klasik Ludwig Van Beethoven, seorang tunarungu. Komponis asal Jerman yang menciptakan Fur Elise ini memang baru menjadi tuli ketika usia dewasa. Akan tetapi yang membuatnya luar biasa adalah sebagian besar lagu-lagunya yang melegenda malah diciptakan setelah menjadi tunarungu.
  3. Stephen Hawkins
    Stephen Hawkins yang dinobatkan sebagai manusia tercerdas dalam ilmu geofisika di abad ini, sesungguhnya juga adalah seorang paraplegia. Kondisinya tersebut tidak menghalangi dirinya sebagai seorang ilmuwan dan mengungkap sejarah fenomena alam semesta dalam teori Big Bang meski hanya duduk di atas kursi roda.
  4. Albert Einstain
    Pria asal Amerika Serikat yang disebut maestro fisika modern semula adalah seorang Tunagrahita. Karena kegigihan orang tuanya dalam memberikan supervisi dan dukungan, Einstein perlahan-lahan bangkit hingga akhirnya tampil sebagai ilmuwan terpenting dunia modern melampaui prestasi Isaac Newton.
  5. Helen Keller
    Wanita bernama lengkap Helen Adams Keller ini lahir dalam keadaan bisu. tuli dan buta tumbuh menjadi anak yang cerdas juga berkat dukungan penuh orang tua dan guru pembimbingnya yang luar biasa bernama Anne Sullifan. Ia adalah seorang penulis, aktivis politik, dan juga dosen.
  6. David Blunkett
    Masyarakat Inggris sebagai salah satu bangsa termaju di dunia sangat bangga dan tidak malu mempunyai David Blunkett sebagai Menteri Pendidikan dan Tenaga Kerja bahkan sempat menjadi Mendagri dalam pemerintahan perdana menteri Tony Blair, meski Blunkitt adalah seorang penyandang tunanetra sejak lahir dan dari keluarga miskin.
  7. Franklin Delano Roosevelt
    Amerika Serikat sangat bangga dan mengelu-elukan kehebatan Franklin Delano Roosevelt atas prestasinya yang begitu spektakuler menjadi pemimpin sekutu Barat yang sukses menaklukan NAZI Jerman dan Jepang. Presiden ke-32 Amerika Serikat ini mengendalikan para panglima militernya di medan tempur di atas kursi roda akibat polio yang dialami jauh sebelum menjadi Presiden. Selain itu, presiden yang terkenal dengan inisial FDR ini juga sukses menangani masalah ekonomi Amerika Serikat akibat The Great Depression dan menjadi satu-satunya presiden Amerika Serikat yang menjabat lebih dari 8 tahun.

Dari tujuh orang di atas, tentu sangat ironis apabila penyandang disabilitas masih dilihat sebelah mata. Bayangkan apabila karena keterbatasan yang mereka miliki lantas masyarakat mendiskriminasi dan mencegah mereka untuk berkarya. Mungkin dunia hingga saat ini tak pernah mengenal bola lampu listrik ciptaan Thomas Alva Edison, atau perang dunia II yang akan dimenangkan oleh Jerman dan Jepang yang dengan kata lain Indonesia akan tetap terjajah. Ada baiknya masyarakat segera intropeksi diri dan membuka mata telinga dan hati bahwa tiap manusia diciptakan unik, dan berhak untuk mengembangkan diri serta berkontribusi bagi lingkungannya. Bagi keluarga yang memiliki anggota penyandang disabilitas juga tak perlu malu. Dukung mereka agar dapat berdaya dan bukan mustahil kelak memberikan sumbangsih luar biasa bagi masyarakat.(DPM)

Last Updated on 5 tahun by Redaksi

Oleh Dimas Prasetyo Muharam

Pemimpin redaksi Kartunet.com. Pria kelahiran Jakarta 30 tahun yang lalu ini hobi menulis dan betah berlama-lama di depan komputer. Lulus dari jurusan Sastra Inggris Universitas Indonesia 2012, dan pernah merasakan kuliah singkat 3 bulan di Flinders University, Australia pada musim semi 2013. Mengalami disabilitas penglihatan sejak usia 12 tahun, tapi tak merasa jadi tunanetra selama masih ada free wifi dan promo ojek online. Saat ini juga berstatus PNS Peneliti di Puspendik Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Kunjungi blog pribadinya di www.dimasmuharam.com.

6 komentar

  1. Koreksi sedikit untuk riwayat Hellen Keller dr wikipedia di tuliskan jg jika Helen di lahirkan normal alias sehat dan pd usia 1thn dia terkena demam tinggi..Sejak saat itu Hellen menjadi buta dan tuli bukan bisu. Bisu krn Hellen tdk terbiasa berbicara krn kondisi emosionalnya yg tdk terkendali dan belom d tangani seorang guru pendamping..Anne Sullivan…seorang guru yg luar biasa hingga mengantarkan Hellen menjadi seorang sarjana dan menguasai 4 bahasa…selengkapnya bisa di lihat d wikipedia…thanks n gbu

  2. aku baru tau ternyata salah 1 tokoh itu terkena disleksia (baca loncat2), yang merupakan disabilitas mental

  3. kesuksesan mereka karena adanya kesempatan dan ketegaran si tokoh dalam menggapai cita2nya untuk kemaslahatan manusia lainnya. Semoga Indonesia menjadi negara penghasil tokoh besar dari penyandang disable. Namun sebelumnya mari kita putuskan dulu rantai stigma yang sudah lama membelenggu penyandang disabilitas.

  4. Yup, saatnya menghapus stigma negatif, karena setiap manusia memiliki potensi yang sama, juga keunikan masing-masing. Contoh orang-orang besar di atas, itu pun mereka belum didukung teknologi, dan, bila dikolaborasikan dengan teknologi, tentu akan lebih dasyat lagi! Ke depan bukan hanya penyandang disabilitas sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai pencipta! Salam Akselerasi!

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *