Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Jangan Berkarya Kalau Tak Punya Biaya?

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Kau pernah menelan butiran-butiran kopi tiwus?

Atau kau pernah memakan banyak-banyak bubuk wasabi?

Aku belum.

 

Kau pernah selama empat hari hanya ada dua-ribu-perak setia memenuhi dompetmu?

Atau kau pernah seharian hanya makan sebatang lolipop dan sebotol air mineral?

Atau kau pernah menambal sepatumu berulang kali dengan lem korea karena belum mampu membeli?

Atau kau pernah mengisi botol sabun mandimu dengan air berharap masih ada sisa-sisa yang menempel?

Atau kau pernah tak makan karena uangmu dipakai sebagai ongkos dalam membantu sebuah sosial project?

Atau-atau-atau yang lainnya lagi?

Aku pernah.

 

Masih ribuan orang yang tak makan lebih lama di luar sana,

Masih jutaan orang harus melewati hidupnya tanpa alas kaki,

Masih banyak, masih.

 

Dan ini, tentang besyukur tanpa henti kepada Tuhan, berbagi di saat kekurangan, dan yang terpenting adalah semangatmu tak boleh kecil, kawan!

 

Tubuh mungil ini bernama Ratna Susiyanti, seorang mahasiswa tingkat akhir universitas ternama negeri ini terlahir dari keluarga sederhana di suatu pelosok desa di Jawa Tengah. Kandang gajahlah, (julukan SMA-ku) yang selalu mengajarkanku untuk terus bermimpi lebih tinggi dan tanpa lelah. Meskipun terkadang guncangan jiwa, ekonomi, air mata, organisasi, pelajaran dan sebagainya tak hentinya menempaku menjadi jiwa yang lebih tangguh. Ragaku memang kecil, materi yang kupunya juga kecil, tapi mimpiku tak akan pernah kecil. Seorang dosen idolaku pernah berkata “tak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada usaha dan doa yang lebih tinggi”. Dan menjadi bagian dari kampus perjuangan ini, adalah awal dari mimpi-mimpiku. Terjatuh? Sudah sering sekali hingga aku lupa bagaimana cara menghitungnya. Tapi percayalah, Tuhan bahkan menyertakan dua jalan kemudahan bersama kesulitan seperti yang ada dalam Q.S. As-Syarh (94): 5-6.

 

Merasakan bahagia menjadi bagian dari universitas paling diimpikan anak bangsa tak akan bisa dibayar dengan pena mewah sekalipun, Tuhan memberikan cara yang indah untuk menunjukkan kepada hambaNya. Tapi, bahagia ini lagi-lagi harus tersandung oleh biaya yang tak sedikit untuk melangkah setelah gerbang perjuangan terbuka. Hampir putus asa setelah berusaha mengumpulkan rupiah demi rupiah sementara Ayah sedang sakit dengan diagnosa stroke ringan, dan sekali lagi Allah menunjukkan jalanNya dengan penganugerahan sebuah beasiswa kepadaku. Mimpi yang sempat digulung, terbuka kembali. Aku masih ingat sekali ketika pertama menuliskan rentetan mimpi hingga angka ke-100 hingga satu-per-satu mimpi itu tercoret beserta segala peristiwa di dalamnya. Seperti menikmati rooler coaster, nanonano, dan penuh kejutan.

Pun menjalani kehidupan di kota dengan mobilitas tinggi ini, bukanlah semanis gula pasir yang menemani seteguk teh. Esensi pendidikan yang kujalani membuatku tidak hanya cukup memikirkan diriku sendiri, tapi juga keluargaku di kampung halaman sana. Aku menyadari telah berjuta peluh dan darah yang orang tuaku teteskan sehingga aku dapat berdiri di tempat megah ini. Kehidupan kuliah yang lebih keras daripada masalah SD yang hanya sebatas PR matematika, membuatku lebih mengurangi waktu tidur, atau sekadar menghabiskan waktu tanpa kegiatan yang jelas. Membagi waktu untuk kuliah, kegiatan kampus, organisasi dan belum lagi mencari tambahan sana-sini untuk memenuhi kebutuhan bukan hal yang kecil yang membuatku tertarik mengikuti berbagai kompetisi. Awalnya mencoba, akhirnya ketagihan. Iseng-iseng yang membuatku menemukan passion dan terbang ke kota-kota besar di Indonesia sebagai pemenang kompetisi-kompetisi nasional yang tak pernah kusangka sebelumnya. Hingga baru-baru ini gelar mahasiswa berprestasi menghampiriku. Yang istimewa bukan itu semua, bukan gelar atau prestasi tetapi tetaplah diri kita. Lebih dari itu aku menemukan bahwa proses jauh lebih menyenangkan dan menegangkan dalam sebuah kompetisi. Sementara juara atau kemenangan adalah bonus yang disematkan Tuhan sebagai bayarannya. Biayanya? Mahal sekali, dengan usaha, air mata saat berbicara pada Tuhan, dan yang paling penting doa orang tua.

Semua ini tentunya tidak akan aku dapatkan dengan usaha yang kecil. Terima kasih atas berbagai dukungan dari orang tua tercinta, kawan-kawan yang luar biasa, orang-orang hebat yang selalu menginspirasi, hingga pemberi beasiswa yang membuatku dapat berdiri di sini dengan tegar. Terima kasih kepada Tuhan yang selalu menunjukkan jalan indah, sungguh aku sangat bersyukur bertemu dengan dunia keperawatan hingga aku jatuh cinta kepada kegawatdaruratan. Meskipun prestasi-prestasi ini tak secemerlang mentari pagi, tapi aku yakin bahwa aku mampu berprestasi dengan caraku sendiri. Tuhan, apabila kesuksesan ini belumlah tercapai maka panjangkan usia orang tua hamba. Tetapi apabila telah Engkau gariskan usia orang tua hamba lebih cepat, maka percepatkan kesuksesan ini agar mereka dapat tersenyum melihat bayaran dari segala peluh dan perih meskipun tidak akan pernah cukup untuk membayarnya, amin.

So, jangan takut berkarya kalau tak punya biaya. Yang terpenting seberapa keras usaha kita untuk mencari jalannya. Dan berbagilah, karena kau akan mendapatkan sebanyak yang kauberikan. Gagal barangkali niscaya, tetapi putus asa adalah pilihan. Dan kita-lah pemegang kendali penuh atas pilihan-pilihan yang disajikan Tuhan. Selamat berkarya, menginspirasi dan bermanfaat lebih luas!

Depok, 24 Mei 2015

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *