Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Catatan Seagames Jakarta-Palembang XXVI

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Jakarta – Pesta olahraga se-Asia Tenggara atau SEAGAMES akan dimulai dalam hitungan hari. Dan kali ini, Indonesia mendapat kesempatan menjadi tuan rumah. Namun seperti biasa, bukan Indonesia namanya kalau tidak menyimpan berbagai cerita. 

 

Kali ini, yang menjadi kisah di balik penyelenggaraan momen akbar itu berhasil memuat kita sebagai Warga Negara Indonesia harus menundukan kepala karena malu. Bagaimana tidak, di tengah sedikitnya waktu yang tersisa hingga berlangsungnya acara pembukaan yang tinggal menghitung hari, masih ada saja kekurangan yang mewarnai persiapan penyelenggaraan pesta olahraga tersebut.

 

Belum selesainya beberapa sarana dan prasarana yang mencakup arena pertandingan, sampai fasilitas yang terdapat di dalamnya, hingga kurang bahkan belum tersedianya peralatan yang memadai. Semua itu menjadi catatan yang tentunya tidak menggembirakan bagi kita sebagai bangsa Indonesia. 

 

Berbagai alasan dikeluarkan demi menjawab mengapa hal itu bisa terjadi. Belum turunnya dana dari pusat, serta kurangnya sarana transportasi, sepertinya menjadi kambing hitam yang empuk untuk melemparkan kesalahan dan membela diri. 

 

Maklum, jauh hari sebelum penyelenggaraan SEAGAMES, kita sempat di buat mengelus dada oleh terbongkarnya kasus suap pembangunan wisma atlet SEAGAMES di palembang. Pelakunya bahkan sempat meloloskan diri ke luar negri. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, Kasus suap itu ternyata membawa sejumlah nama politisi  petinggi negeri ini. 

 

Kita tidak sedang membicarakan kasus korupsi. Kita juga tidak sedang membicarakan aib orang lain yang sudah tercemar. Tetapi yang menjadi renungan kita bersama adalah Apakah Indonesia sebagai sebuah negara layak untuk mengemban amanah  besar ini? Sudah siapkah Dia?  Sementara mengatur urusan dalam negerinya saja masih kewalahan. 

 

Mungkinkah itu kebiasaan  dari orang Indonesia yang kurang baik?  Tidak profesional, Suka bertele-tele dan kurang menghargai waktu? 

 

Bukankah itu termasuk skeptis atau  tidak menghargai bangsa sendiri, tapi seandainya memang itu yang terjadi, maka apa yang bisa dikatakan untuk membela diri?  Jawaban apa yang nanti harus kita berikan bila segala ketidak profesionalan negara ini menjadi buah bibir di kalangan internasional? 

 

Tapi segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Dan apa yang kita saksikan menjelang pelaksanaan pesta olahraga negara-negara se-Asia Tenggara haruslah menjadi bahan berfikir bersama. Apakah kita ingin menjadi negara yang maju atau tidak? Apakah kita ingin di kenal sebagai bangsa yang terhormat atau tidak? Semua pilihan ada di tangan kita. 

 

Dan satu hal yang mesti kita ingat. Bahwa di setiap rintangan, hambatan, dan kesulitan yang menghadang, harapan akan selalu ada di depan.  Dukungan harus senantiasa kita berikan kepada para atlit “pejuang bangsa” yang akan berlaga di arena pertandingan. Semoga mereka bisa memberikan yang terbaik meskipun di tengah segala keterbatasan.(Satrio)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *