Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Despha, Bersihkan Hati Raih Kebahagiaan Sejati

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Jakarta, Kartunet.com – Kehilangan penglihatan di usia remaja bukan berarti kehilangan masa depan. Lihat saja dia, usianya baru 23 tahun, tapi banyak hal yang telah dicapainya. Dia telah mampu menjadi tulang punggung keluarga, berkuliah dengan biaya sendiri, membeli sebuah mobil, bahkan pergi Umroh bersama sang Ayah. Semua adalah jerih payahnya, hasil kerja kerasnya sebagai trainer dan  terapis emosional. Dialah Despha Dendi Irawan, tunanetra muda pakar integrative, emotional dan sell healing.

“Sempat frustasi juga sih. Waktu itu saya pikir, mau dibawa ke mana hidup saya?” ungkap Despha, mengenang masa lalunya. Saat kelas 2 SMA, ia mengalami kecelakaan motor. Kepalanya mengalami benturan sangat keras, sehingga berakibat buruk pada syaraf-syaraf matanya. Perlahan namun pasti, pengelihatan dia mulai menurun. Dimulai dengan mata kanan yang semakin hari semakin gelap, kemudian dilanjutkan dengan mata kirinya. Despha mulai terganggu dengan keadaan itu. Saat kelas 3 SMA, ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan fokus untuk mengobati matanya.


 


Bersama kedua orang tuanya, Despha menjalani berbagai pengobatan. Sayangnya semua itu tak memberikan hasil yang diharapkan. Berbulan-bulan Despha terkurung dalam dunia barunya yang semakin hari semakin kehilangan cahaya. Marah, sedih, kecewa, tentu sempat dia rasakan. Namun Despha tahu, ia tidak boleh terus seperti ini, ia harus menemukan kembali jalan masa depannya.


 


“Saya  kan punya teman SMA yang tunanetra. Suatu hari saya dengar kabar bahwa dia berkuliah di UIN. Saat itu saya baru tahu bahwa ternyata tunanetra juga bisa kuliah. Nah, dari sana saya terpancing untuk mengetahui lebih jauh tentang dunia tunanetra,” cerita Despha.


 


Despha mulai melangkah lagi. Ia menemui temannya itu yang kemudian merekomendasikannya untuk mengunjungi Yayasan Mitra Netra, sebuah lembaga berlokasi di Jakarta Selatan yang mengurus berbagai kebutuhan tunanetra. Selanjutnya ia mulai mengenal lebih banyak tunanetra yang mana sebagian besar dari mereka menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Despha pun menginginkan hal yang sama. Ia tahu bahwa ia masih punya masa depan. Pemuda itu mulai mengambil langkah untuk menyelesaikan SMA-nya dengan paket C. Akan tetapi, jalan tak semudah yang ia harapkan. Lagi-lagi kesulitan menghadangnya.


 


“Waktu itu orang tua nggak ada biaya buat ikut paket C. Uangnya hampir habis untuk berobat.” Ujar anak ketiga dari empat bersaudara itu. Meski begitu, Despha belum mau menyerah. Ia berpikir bagaimana caranya agar bisa mengikuti Paket C yang memerlukan biaya satu juta lima ratus ribu rupiah itu.


 


Despha memiliki seorang teman yang menjalani jasa perbaikan radio. Lantas, Despha menawarkan pada teman-teman tunanetra untuk memperbaiki radio atau alat perekam yang rusak melalui teman Despha itu. “Harga servis biasanya sekitar 20 ribu, tapi saya minta bayaran 25 ribu. Saya bilang sama teman-teman bahwa itu untuk ongkos. Padahal saya nggak pakai ongkos, saya jalan kaki dari rumah sampai tempat reparasi radio itu supaya kelebihan uangnya bisa saya simpan.” Katanya.


 


Berbulan-bulan Despha menjalani pekerjaan sederhana itu. Keuntungan yang tak lebih dari 10 ribu per radio, terus ia kumpulkan hingga akhirnya ia memiliki cukup uang untuk modal usaha barunya. Dari reparasi radio, kemudian Despha berjualan ear phone dan head set komputer yang memberinya keuntungan lebih banyak. Akhirnya uang terkumpul dan ia berhasil melewati ujian Paket C.


 


Bingung. Itulah yang Despha rasakan setelah lulus SMA. Untuk kuliah, orang tuanya tak ada biaya. Sedangkan untuk bekerja, saat itu ia merasa tak punya keterampilan apapun. Jalan buntu seakan terbuka ketika tiba-tiba seorang konselor Yayasan Mitra Netra menawarinya untuk mengikuti sebuah seminar. Despha tidak tahu seminar apa itu dan apa yang harus ia lakukan di sana. Namun toh akhirnya ia pergi juga. Siapa sangka, seminar itulah yang kemudian membuka pintu rezeki dan karirnya begitu lebar hingga sekarang.


 


Quantum Touch adalah seni penyembuhan dengan sentuhan tangan, yang  dilakukan dengan hati yang penuh cinta, kasih sayang untuk sesama dan disertai dengan doa yang tulus, sehingga memungkinkan penyembuhan terjadi. Disanalah Despha mengenal Refa Syarif Benjamin, seorang trainer bersertifikat internasional yang kemudian mengajaknya bergabung dengan Quantum Touch Indonesia. Melalui seminar-seminar Refa, Despha belajar dengan cepat mengenai berbagai teknik penyembuhan. Dalam waktu singkat, Despha berkembang pesat. Awalnya, ia hanya mengisi sesi-sesi tertentu dalam seminar Refa, tapi kini ia telah menjadi rekan duet dalam seminar gurunya itu, bahkan menyelenggarakan seminar tunggal.


 


Kini, tak hanya menjadi trainer yang  mengisi seminar, Despha pun menjadi andalan Refa dalam mempromosikan seminar-seminar Quantum Touch melalui stasiun-stasiun radio. Ras FM, Smart FM, Dakta, dan Camajaya, merupakan radio-radio yang sudah menjadi langganan siarannya tiap bulan. Dengan didampingi penyiar dari tiap radio, Despha pun mengisi acara-acara talkshow pada radio-radio tersebut. “Awalnya saya hanya mendampingi Pak Refa untuk siaran, tapi lama kelamaan karena Pak Refa sibuk dengan pekerjaan lain, akhirnya saya dipercaya untuk siaran sendirian, mempromosikan seminar Quantum,” cerita pemuda bertubuh jangkung itu.


 


Aktivitas Despha tak hanya di ruang seminar maupun studio-studio radio. Sehari-hari ia merupakan terapis yang andal. Dengan teknik penyembuhan yang ia pelajari dari Quantum Touch, ia mampu menyembuhkan berbagai penyakit, mulai penyakit fisik maupun mental. Mulai dari penyakit jantung, lever, sampai luka batin dan depresi. Setiap hari lima sampai sepuluh orang pasien datang ke rumahnya. Jika rata-rata pasien memberikan bayaran dua ratus ribu rupiah, bayangkan, berapa penghasilan yang dapat ia peroleh setiap harinya. Belum lagi jika ada pasien yang merasa puas dengan kesembuhan yang ia peroleh, sering kali Despha memperoleh rezeki tambahan. Paket Umroh untuk dua orang yang didapatkannya di awal tahun 2012 merupakan salah satu contohnya. Paket Umroh tersebut ia peroleh dari salah seorang pasien yang penyakitnya berhasil disembuhkan oleh Despha. Berkat ketekunan menjalani profesinya sebagai terapis, serta kepandaiannya menjaga relasi, ia pun membawa sang Ayah terbang ke Mekkah untuk menjalani ibadah Umroh.


 


Rezeki yang Tuhan berikan pada Despha semakin hari semakin melimpah saja. Beberapa minggu sepulang Umroh, tepatnya bulan April lalu, Despha meraih pencapaiannya lagi. Sebuah mobil sedan berhasil ia beli dari penghasilannya yang semakin meningkat.


 


Kedua orang tua Despha tentu sangat bangga dengan anaknya itu. Bagaimana tidak, setelah bertahun-tahun sebelumnya Despha sempat “menghabiskan uang keluarga” untuk mengobati matanya, kini semua pengeluaran itu kembali berkali-kali lipat. Despha yang merupakan mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling Universitas Indraprasta (Unindra) angkatan 2011 itu telah membantu orang tuanya membiayai renovasi rumah, membelikan perhiasan untuk ibundanya, membeli dua motor untuk kakak dan adiknya, serta menjadi seorang yang dibutuhkan dan dikagumi oleh orang-orang di lingkungannya.


 


Menurut Despha, musuh terbesar kita sebenarnya adalah diri sendiri. Kunci dari kebahagiaan adalah kebersihan hati. Jika hati kita bersih, lanjut Despha, maka kita akan bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan. Karena itu, bersihkanlah segala pikiran negatif pada Tuhan, keluarga, teman, atau siapa saja, untuk melancarkan segala pencapaian. Selanjutnya, Konselor di beberapa perusahaan besar ini menutup pembicaraaan dengan menuturkan harapannya di masa mendatang. “Setelah ini saya masih akan terus menjadi trainer, terapis dan konselor. Selain itu, saya juga ingin suatu hari memiliki lembaga training sendiri,” tukasnya. (RR)


editor: Herisma Yanti

Kata Kunci:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *