Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Pasang Surut Dalam PSSI

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Jakarta, Kartunet.com – Munculnya berita PSSI kepermukaan saat ini karna kisruh yang tak kunjung berhenti merangsang keingin tahuan penikmat sepak bola tentang PSSI (induk organisasi sepak bola di negeri ini. Sedikit orang yang mengenal PSSI sebagai induk organisasi tertinggi sepak bola di Indonesia, kini muncul tandingannya yaitu KPSI (komite penyelamat sepak bola indonesia). Dengan munculnya induk organisasi saingan PSSI tersebut, kisruh pun tak kunjung surut. Berikut sekelumit mengenai PSSI yang akan memberikan gambaran bagaimana PSSI tumbuh dan berkembang hingga kahirnya mengalami konflik yang saat ini terjadi.


Sebahagian orang munkin sudah mengetahui bahkan mengenal PSSI. Ya, PSSI adalah induk organisasi sepak bola di indonesia yang dulu dikenal kekuatannya di asia tenggara  dan dunia internasional. Bukan itu saja, pada awal berdirinya organisasi ini di era pemerintahan Belanda, PSSI dianggap mengancam eksistensi induk sepak bola diera India Belanda  yakni NIVU (Nederlandsh indische voetbal unie). Permasalahnnya sepele saja, PSSI mampu mengimbangi Nan Hwa China dengan skor 2-2, pada pertandingan internasional pertamanya di gelora union Semarang 7 Agustus 1937. Padahal tim Nan Hwa China pernah menekuk kesebelasan Belanda dengan skor yang cukup telak yaitu 4-0. tim PSSI didirikan dengan hanya bermodalkan semangat yang tinggi Ndiatas  pennindasan rakyat Indonesia. Ir. Soeratin Sosrosoegondo seorang insinyur sipil menggagas pembentukan induk organisasi sepak bola indonesia (PSSI), bersamaan dengan sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Pada 19 April 1930, bersama tokoh-tokoh pergerakan pemuda dari Yogya, Solo  dan bandung, yaitu: Dahslam Hadiwasito, Amir Natapratomo, A. Hamid, dan Soekarno, maka terbentuklah induk organisasi sepak bola pertama yakni persatoen sepekraga seloeroeh Indonesia. akhirnya pada kongres di Solo tahun 1950 berubah menjadi persatuan sepak bola seluruh Indonesia (PSSI) dengan ketuanya Ir. Suratin Sosrosoegondo


Pembentukan PSSI bertujuan untuk menyatukan nasionalisme yang ada pada jiwa pemuda-pemuda indonesia waktu itu. Dengan terbentuknya induk organisasi tersebut, maka dimulailah kompetisi pertama kali di Indonesia untuk meningkatkan perjuangan pemuda melalui kompetisi perserikatan. Kemudian Prestasi pun mulai ditorehkan oleh PSSI diawali dengan berhasil tampilnya tim PSSI meski masih dalam bentuk gabungan dengan tim NIVU besutan India Belanda pada piala dunia tahun 1938 di Perancis. Pada era empat puluhan PSI pernah melahirkan pemain-pemain legendaris seperti: Ramang, Maulwi Saelan, Suardi Arland, dan tan Liong Houw. Prestasi Indonesia dengan PSSI-nya SELANJUTNYA yaitu ke semifinal ASIAN games di Manila 1954 meski  harus mengakui keunggulan Taiwan 4-2, dan kalah dalam perebutan perunggu dengan Burma. PSSI terus mengirimkan tim sepak bola Indonesia untuk bertarung di kejuaraan internasional misalnya di tahun 1956 pada Olimpiade di Melbourne. Pada kejuaraan itu tim sepak bola Indonesia menembus perempatfinal kemudian harus berhadapan dengan tim favorit pada waktu itu yaitu Uni Soviet. Sempat menahan keganasan Uni Soviet, namun harus takluk 4-0 pada pertandingan berikutnya. PSSI masih terus mengibarkan sayapnya untuk ikut serta dalam pertandingan berikutnya. Pada tahun 1958, Indonesia berhasil memperoleh medali perunggu. Namun rupanya tim sepak bola indonesia tak pernah lepas dari jerat masalah. Tepatnya pada kejuaraan sea games dijakarta 1962, Beberapa pemain tim sepak bola Indonesia terlibat skandal senayan, dimana beberapa pemain terlibat penyuapan oleh bandar judi, sehingga mengurangi kekuatan tim sepak bola Indonesia yang akhirnya tak menghasilkan apa-apa. Kekompakan dan kebersamaan dalam PSSI waktu itu menjadi kekuatan tim sepak bola indonesia. Setelah skandal senayan tim Indonesia tak mau mundur dari pertarungan internasional dan regional, Tak mau menyerah PSSI mengirimkan timnya untuk ikut serta dalam kejuarann-kejuaraan diantaranya asean games 1977 di seoul yang menempatkan tim Indonesia di peringkat keempat. Bahkan pada tahun 1986, Indonesia selangkah lagi masuk dalam piala dunia Meksiko jikalau waktu itu tim Indonesia berhasil menang atas tim kuat asia Korea Selatan. Prestasi mengagumkan baru datang di tahun 1991. Tim Indonesia meraih medali emas sea game di senayan jakarta.


Setelah era 1991, Indonesia dengan PSSI-nya, tak lagi melahirkan prestasi gemilang. Seringnya mengikuti pertandingan piala AFC yang dulu dikenal dengan piala tiger, Indonesia tak mampu berbuat banyak. Prestasi tertinggi tim Indonesia hanya pada posisi kedua membayangi juara-juara sejati yaitu di tahun 2000, 2002, dan 2005. Selepas itu prestasi PSSI terus memburuk dan puncaknya adalah tak mampu menembus semifinal piala AFC 2012 yang vbaru saja digelar di Malaesya bersama  Thailand. Buruknya prestasi yang dicapai oleh tim nas Indonesia rupanya tak mempengaruhi kisruh yang bergejolak. PSSI dan KPSI masih saja dengan egonya masing-masing hingga akhirnya induk organisasi sepak bola internasional FIFA,mengancam akan menjatuhkan hukuman apabila kedua belah pihak yakni PSSI dan KPSI tidak mampu menyelesaikan konflik diantara mereka. Akankah tim sepak bola tak lagi terlihat bersama juara-juara sejati asia tenggara seperti Singapura, Malaysia dan Thailand? Entahlah, hanya mereka para pejabat PSSI dan KPSI yang mampu menjawabnya dengan hati mereka, bukan dengan kepentingan politik atau bisnis semata, demi timnas yang pernah ditakuti di asia tenggara.(Irfan)

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *