Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Setetes Embun Di Batas Senja

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

“Embun pergi dulu, Ayah. Assalamu’alaikum.” kataku sambil mencium punggung tangan Ayah yang semakin kering dan kusam akibat setiap harinya selalu menjelajahi Kota Metropolis di tengah matahari yang bersinar terik.

 

“Hati-hati nak, jika sudah tidak ada urusan segeralah pulang. Mas-mu sendirian di rumah.” kata lelaki yang berumur kepala empat itu sambil tersenyum manis kepadaku.

 

Kulihat sosok lelaki lain selain Ayah sedang duduk di sudut ruang tamu, menatap langit-langit dengan tatapan kosong penuh arti. Sesekali ia tertawa dan tersenyum sendiri. Lelaki itu Mas Gilang, kakakku yang sedikit berbeda denganku. Mas Gilang menyandang keterbelakangan mental. Namun Almarhumah Ibu tak pernah mau menganggapnya berbeda apalagi menyebutnya retardasi mental seperti kebanyakan orang ketika melihat Mas Gilang.

 

“Embun berangkat ya, Mas. Jangan main di luar, tunggu sampai aku pulang ya!” kukecup kening Mas Gilang yang dibalas senyum manis dan anggukan perlahan seperti anak kecil ketika Sang Ibu sedang melarang anaknya bermain di luar.

 

Kulihat Zidan, sahabat terbaikku dari SMA yang sudah berkali-kali menyatakan cinta padaku, namun belum juga menyerah sampai sekarang, sudah menungguku di luar. Sesungguhnya aku pun menaruh hati padanya. Dia lelaki yang baik, pandai, sederhana dan rajin beribadah. Tetapi sudah berulang kali pula aku katakan padanya, aku takut tak bisa menjadi kekasihnya yang akan selalu ada untuknya seperti gadis lain pada umumnya, karena aku terlalu sibuk dengan kuliah, bekerja part time dan menjaga Mas Gilang di rumah.

 

***

 

“Kapan tugas kelompok ini kita kerjakan?”

 

“Ehhm.. Bagaimana kalau besok mengerjakan di rumah Embun?”

 

Teman-teman yang kebetulan satu kelompok denganku sedang sibuk berdiskusi tentang kapan dan dimana tugas kelompok itu akan dikerjakan. Aku yang sedang melamun, sontak kaget mendengar ada yang mengatakan bahwa akan mengerjakan tugas kelompok di rumahku.

 

“Hah? Apa? Engg.. Aku tidak bisa besok. Sepulang kuliah aku langsung ke tempat kerja dan baru sampai di rumah jam delapan malam.” jawabku.

 

Akhirnya telah disepakati bersama bahwa tugas kelompok itu akan dikerjakan bersama tiga orang teman di rumahku pada hari Sabtu.

 

***

 

Seperti biasa, setiap tamu yang berkunjung ke rumahku yang mungil dan sangat apa adanya ini selalu terpana dengan sebuah lemari kaca yang isinya penuh dengan berbagai plakat, piala, trofi, dan sejenisnya. Setelah dibuat kagum oleh lemari kaca sederhana yang penuh dengan penghargaan milik Mas Gilang, semua mata langsung tertuju pada sebuah pigura ukuran sedang berisi foto seorang lelaki yang menempel di dinding tepat bersebelahan dengan lemari itu.

 

“Subhanallah! Foto siapa itu? Ganteng euy…” kata Aisyah sumringah.

 

“Iya, ganteng banget. Lebih ganteng dari Zidan tuh. Hehehe.” lanjut Amira heboh. Yap! Memang selalu seperti ini jadinya setiap ada teman yang datang ke rumah dan mengungkapkan hal yang sama seperti teman-temanku yang mendadak genit ini.

 

“Itu kakakku. Mas Gilang.” jawabku singkat. Ketiga temanku, Aisyah, Amira dan Diba serempak kaget dan tidak percaya.

 

Mereka malah penasaran dan mengomeliku karena tidak pernah menceritakan pada mereka bahwa aku memiliki seorang kakak yang tampan dan bahkan mereka serentak minta dikenalkan dengan Mas Gilang yang kebetulan sedang tidur di kamarnya.

 

Sudah sekian lama dan berjuta-juta kali aku mengalami kejadian yang sama. Namun aku masih saja merasa tidak enak hati ketika banyak yang minta dikenalkan dengan kakakku. Tentu tidak mungkin jika aku harus berbohong dan mengatakan bahwa Mas Gilang sedang tidak ada di rumah. Karena jika satu kebohongan telah tercipta, maka kebohongan lainnya akan menanti di kemudian hari dan begitu seterusnya. Tetapi aku pun tak tega jika memang terpaksa memperkenalkan Mas Gilang pada teman-temanku.

 

Mas, ada sesak yang kurasakan dalam dada ini setiap aku mengingat bahwa kenyataan dari-Nya ini sungguh memilukanku sebagai adikmu. Kau lahir di 22 tahun yang lalu dengan selamat, sehat dan fisik yang sempurna. Kau tampan. Dan hal itu juga tidak bisa kupungkiri. Kau juga rajin beribadah sejak kecil, berbakti pada Ibu dan Ayah, murid yang pandai sehingga lemari kaca itu cukup menggambarkan betapa pandai dan berbakatnya dirimu yang selalu mendapatkan penghargaan dari berbagai lomba yang kau ikuti sejak duduk di bangku TK hingga SMP.

           

Sayang seribu sayang, sosok lelaki yang sangat kucinta di dunia ini selain Ayah, sempat mengalami demam sangat tinggi ketika hendak masuk SMA. Demam itu berlangsung beberapa bulan lamanya yang cukup membuat Ayah dan Almarhumah Ibu kelimpungan mencari uang untuk membiayaimu di Rumah Sakit. Namun, manusia hanya bisa sebatas berusaha. Selebihnya, kehendak-Nya lah yang berlaku. Dan kau menjadi seperti sekarang. Tetapi percayalah, aku, Ayah dan seandainya Ibu masih ada, kami akan selalu menyayangimu bagaimanapun keadaanmu.”

 

***

 

“Mas, sudah makan malam?” tanyaku pada Mas Gilang sambil menemaninya menonton televisi di ruang tamu. Dan dijawabnya pertanyaanku itu dengan anggukan mantap darinya.

 

Kubelai rambutnya perlahan sambil bergumam dalam hati. Andai kau tak sakit seperti ini, pasti kau sedang sibuk menulis skripsi untuk menjadi seorang wisudawan yang lulus dengan predikat cumlaude karena aku tahu bahwa kau adalah anak yang pandai dan rajin. Kau juga pasti sedang sibuk dijadikan incaran para gadis yang ada di Kota Metropolis ini akibat ketampanan dan kebaikan hatimu.

 

 

“Hari ini laris manis kah?” kataku kepada Ayah yang sedang sibuk menghitung uang hasil jualan koran dan susu kedelai.

 

Aku hidup dengan orang-orang yang sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian ekstra dariku. Selang dua tahun semenjak Mas Gilang menderita keterbelakangan mental, Ayah dan Ibu yang hendak ke rumah saudara di Bandung mengalami kecelakaan. Ibu menghembuskan nafas terakhirnya di tempat kejadian perkara (TKP) sedangkan Ayah mengalami patah tulang di kaki sebelah kirinya yang mau tidak mau harus diamputasi.

 

Setiap hari Sabtu dan Minggu, Ayah berkeliling menjual koran dan susu kedelai buatannya menggunakan sepeda motor yang didesain bagian belakangnya dengan menambahkan dua roda lagi seperti sepeda kayuh roda tiga milik para balita.

 

Selain hari libur, Ayah bekerja di bengkel seorang tetangga di kampung sebelah. Walau dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan yang keluargaku miliki, masih banyak yang dapat disyukuri dalam hidup ini. Aku percaya Ibu telah berada di tempat terpilih dan terindah di dekat Rabb-ku karena aku tahu Ibu adalah muslimah yang baik.

 

Aku masih memiliki tempat tinggal untuk berteduh dan dapat menikmati hidup ini bersama Ayah dan Mas Gilang, lelaki yang sangat aku sayangi. Demi merekalah aku memiliki kekuatan dan semangat untuk belajar dengan sungguh-sungguh sehingga menjadi seseorang yang nantinya akan dicari, dibutuhkan dan dibayar mahal oleh orang lain.

 

 Sebagai manusia biasa, terkadang aku merasa malu dengan kondisi Ayah dan Mas Gilang. Apalagi ketika beberapa teman yang mengatakan bahwa mereka sempat melihat Ayah sedang berusaha menaiki sepeda motor roda tiganya untuk berkeliling menjajakan koran dan susu kedelainya di tengah siang yang terik, juga ketika ada teman yang tiba-tiba berkunjung ke rumah dan kaget melihat kondisi Mas Gilang. Jika tidak segera kubuang jauh-jauh perasaan itu dan kembali memohon keikhlasan pada Sang Ilahi Rabbi, perasaan itu akan terus menghantui setiap langkahku.

 

***

 

“Aku belum pernah melihat saudara atau nenek dan kakekmu di rumah ini?” tanya Zidan yang sedang membantuku menemani Mas Gilang bermain sementara aku sedang sibuk menyetrika pakaian Ayah.

 

Zidan memang lelaki yang kukagumi setelah Ayah dan Mas Gilang. Dia begitu baik. Dia tidak malu atau menjauhiku ketika tahu aku memiliki Ayah dan kakak seperti itu. Zidan memang sudah sering bermain ke rumah untuk membantuku menyelesaikan pekerjaan rumah, membantu Ayah atau sekedar ingin menemani Mas Gilang bermain.

 

“Saudara Ibu dan Ayah rumahnya jauh sekali. Nenek dan kakek dari Ibu sudah tiada sejak dulu. Sedangkan kakek dari Ayah sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dulu, Mas Gilang sempat diasuh nenek dan kakek dari Ayah di Bandung. Namun, sejak kakek meninggal, Ayah menjemput Mas Gilang kembali karena tidak mungkin nenek di mintai tolong mengasuh Mas Gilang seorang diri.”

 

***

 

“Ayahmu sempat berkata padaku bahwa hari ini Beliau melihatmu tersenyum dan tertawa sangat bahagia, tidak seperti biasanya,” kata Zidan ketika duduk di sampingku.

 

“Tiada hari yang membahagiakanku selain hari ini, Dan.” jawabku singkat sambil tetap tersenyum. Sedetik kemudian kulirik wajah Zidan yang sedikit kecewa dan bibirnya manyun beberapa sentimeter.

 

“Ehm… Oke. Sepertinya ada yang sedang bahagia tetapi tak mau berbagi cerita pada orang lain tentang apa yang membuatnya begitu gembira.”

 

“Kau benar ingin tahu mengapa aku begitu bahagia hari ini?” pertanyaan singkat dan sedikit jahil dariku itu rupanya membuat Zidan penasaran. Zidan mengangguk mantap tanda ia begitu ingin tahu jawabnya.

 

“Aku bahagia karena hari ini adalah hari yang istimewa dan unforgettable moment bagiku. Pertama, kau lihat lelaki tampan yang sedang duduk bersanding dengan wanita cantik berjilbab itu?” kataku sambil mengarahkan telunjukku ke arah Mas Gilang yang sedang tertawa lepas.

 

Hari ini, Mas Gilang tepat berumur 25 tahun sementara aku baru saja diwisuda dan telah bekerja di salah satu perusahaan ternama di kota ini. Aku semakin sering melihat Mas Gilang tertawa bahagia begitu juga kondisi mentalnya yang perlahan sedikit membaik, sehingga aku dan Ayah tidak lagi melarangnya pergi ke luar rumah.

 

Hal itu disebabkan oleh perkenalan Mas Gilang dengan Mbak Asih, anak dari salah satu tetangga Zidan. Mbak Asih adalah seorang tuna wicara yang cantik parasnya namun juga baik hatinya. Ketika pertama kali aku diajak Zidan untuk berkunjung ke rumahnya, aku tidak percaya bahwa muslimah cantik di depanku saat itu seorang tuna wicara.

 

“Mbak Asih seorang tuna wicara yang berbakat. Dari kecil dia sudah terkenal anak yang baik di kampungku. Mbak Asih juga pandai melukis, merajut dan sekarang merupakan seorang penulis hebat. Lain kali kuajak ke Toko Buku, kutunjukkan karya-karya hebatnya padamu.” Begitulah sedikit penjelasan tentang Mbak Asih yang disampaikan Zidan padaku sepulang dari rumah Mbak Asih.

 

Ternyata benar, dia seorang muslimah yang luar biasa. Dibalik keterbatasannya, ia bisa menunjukkan pada dunia bahwa dirinya justru bisa lebih baik dari pemuda sempurna lainnya yang hanya bisa bermalas-malasan selama hidupnya. Mbak Asih begitu baik, sabar dan penuh kasih seperti namanya. Dan Mas Gilang senang sekali berkenalan dengannya sejak pertama kali bertemu.

 

Mbak Asih tak pernah malu menjalin hubungan yang kian dekat dengan seorang lelaki muda yang keterbelakangan mental dan tidak bisa berkarya sepertinya. Kedatangannya bagaikan sinar mentari yang mendatangkan pelangi setelah hujan pergi dalam hari-hari Mas Gilang. Sejak itu, kondisi mental Mas Gilang semakin membaik dan hari ini, aku melihat Mas Gilang begitu bahagia duduk di pelaminan bersama pujaan hatinya.

 

Aku rasa, Mbak Asih adalah bidadari yang Allah turunkan ke bumi khusus untuk Mas Gilang. Aku gembira melihatmu begitu bahagia di hari pernikahanmu yang suci dan indah ini, Mas.

 

 Rupanya kebahagiaanku tidak sekedar karena melihat kakakku tersayang menikah dan bahagia bersama pujaan hatinya. Zidan, lelaki terbaik yang aku kenal dan aku cinta selain Ayah dan Mas Gilang, melamarku tadi pagi. Ketika Ayah begitu mantap memberikanku restu, rasanya aku ingin terbang, merasakan tubuhku yang mendadak ringan dengan bunga-bunga kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan.

 

“Aku bahagia karena hari ini adalah hari pernikahan Mas Gilang, karena tak ada yang membahagiakanku selain melihatnya begitu gembira seperti hari ini. Selain itu, aku bahagia karena aku telah menemukan jodoh yang dikirimkan Allah padaku, yaitu kamu.” Zidan pun ikut tersenyum penuh arti mendengar penjelasanku akan bahagianya aku hari ini.

***

 

Mungkin inilah yang dinamakan kehidupan, penuh teka-teki. Tak ada manusia yang tahu akan apa yang telah, sedang dan akan terjadi pada cerita kehidupan kita, kini dan nanti. Hidupku sendiri tak seindah cerita di layar kaca televisi atau sesempurna dalam dongeng. Kadang kala hitam, putih, terkadang pula berwarna-warni bagai pelangi.

 

Terbukti jikalah tak ada yang abadi di dunia yang sementara ini. Karena hanya Sang Pencipta-lah yang akan abadi. Ketika badai cobaan menerpa, yang dirasa hanya lara dan penuh air mata, rupanya hal itu tak akan abadi. Karena gelap akan menjadi terang dengan cahaya warna-warni yang dikirimkan Sang Ilahi pada hamba-Nya. Begitu juga ketika kebahagiaan dibingkai indah, beraroma tawa dan senyum tanpa cela, hal itu pun akan lenyap juga.

 

Tinggal di dalam rumah mungil dan sederhana bersama Ibu, Ayah dan Mas Gilang di sekitar 20 tahun yang lalu adalah sebingkai kebahagiaan yang kupunya. Namun, sekejap tawa itu lenyap ketika Mas Gilang harus sakit sampai sekarang sementara Ibu harus meninggalkanku begitu cepat dan aku harus melihat perjuangan Ayah yang tanpa kenal lelah membiayaiku sekolah sampai ke perguruan tinggi walau hanya dengan satu kaki.

 

Namun, Sang Maha Memiliki Cinta dan Kasih telah menggantikan bingkai kebahagiaan yang sempat diminta-Nya kembali dengan bingkai cerita yang indah lagi, yaitu ketika Mas Gilang menemukan bidadarinya dan aku pun menemukan jodoh terbaik dari-Nya. Aku kembali diingatkan, bahwa bingkai cerita yang indah itu lagi-lagi tak abadi.

 

Selang tiga tahun setelah hari pernikahan Mas Gilang dan Mbak Asih, ada kebahagiaan yang sempat terselip di dalam kedukaan yang amat menyiksa. Gilang kecil, anak pertama dari Mas Gilang dan Mbak Asih telah lahir secara normal, sehat dan selamat. Dan Subhanallah, bayi itu terlahir dengan sempurna tanpa ada cacat sedikitpun. Ketika kulihat wajahnya, tampan seperti ayahnya, Mas Gilang.

 

Namun, takdir Tuhan tak akan pernah kita ketahui dan tak bisa kita hindari. Saat itu, Mas Gilang sedang pergi ke Apotek di seberang jalan raya hendak membelikan obat untuk Mbak Asih. Tak ada yang mengira bahwa hari itu adalah hari pertama lahirnya Gilang kecil namun sekaligus hari terakhir bagi Mas Gilang menghembuskan nafasnya, padahal ia belum sempat menggendong si kecil di pangkuannya.

 

Sore ini, raga Mas Gilang sebagai korban tabrak lari di semayamkan. Sekumpulan asa dan cerita-cerita baru yang indah dengan hadirnya Si Gilang kecil yang terbingkai sempurna, seketika itu juga harus pecah berkeping-keping menjadi serpihan memori dan serpihan asa yang dihempaskan Sang Bayu, tinggi sekali, sampai ke rumah para bidadari.

 

Sejenak kupejamkan mata ini, mengiringi terpejamnya Mas Gilang untuk selamanya sekaligus tanda bahwa aku sedang meresapi ketidak mengertianku akan hidup ini. Sempat terbersit dalam benakku akan penatnya jiwa atas cobaan yang tak pernah berhenti hingga ada sejuta teriakan pilu yang menggema dalam kalbu. Sampai detik ini, aku tak pernah mendengar kau mengeluh, Mas. Atau kau memang tak pernah mengeluh sepertiku? Semoga kau tetap bahagia disana, bertemu Ibu dan sampaikan betapa aku dan Ayah akan selalu merindu.

 

Mataku terbuka ketika dua tangan menyentuh pundakku, tangan Ayah dan Zidan yang masih ada di dekatku dan akan selalu menjagaku. Kulihat senja telah bersemu merah, perlahan ia pergi untuk kembali esok hari. Di penghujung senja ini, setetes air mata yang sempat mengering pun jatuh tak tertahan. Lihatlah tetesan air mataku ini, Duhai Senja. Ini pertanda aku begitu rapuh dan berharap esok hari, air mata ini dapat berubah menjadi embun pagi yang menyejukkan hati.

Tags:
2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *