Tanggapan Masyarakat Umum Terhadap Disabilitas

Pada awalnya, saya berpikir untuk tidak menulis ini, sebab mungkin tak akan ada yang menanggapi tulisan saya. Tapi semakin lama, saya semakin terdesak oleh pikiran saya sendiri, ayo tulis, dan terus begitu. Hingga akhirnya saya mulai menggarap tulisan ini.

Mungkin bagi sebagian orang ini tidak penting, tapi beberapa mungkin ada yang perlu menanggapi perkataan saya dengan serius. Apa yang akan saya bincangkan? Kali ini, bukan karya fiksi seperti biasa, hanya sebuah opini tentang tanggapan masyarakat umum terhadap tuna netra.

Sejauh ini saya bertemu dengan banyak orang yang beragam. Lucunya, beberapa sangat memperlakukan saya dengan istimewa, beberapa lagi ada yang benar-benar abai. Seringkali saya menerima curhatan dari banyak tuna netra yang pertama kali terjun ke dunia masyarakat umum, dan kebanyakan dari mereka mengeluh pada saya.

Satu per satu kita bahas di bawah ini.

            1. Tanggapan istimewa.

Beberapa dari masyarakat umum ada yang memperlakukan disabilitas secara istimewa, kadang berlebihan. Sebagai contoh, ada pengalaman saya yang agak menggelikan juga.

Suatu hari, saya sedang bersiap untuk kuliah, saat itu hari Senin pagi, kira-kira pukul 08.30 AM. Ponsel saya habis bateray, demikian pula laptop saya.

Tentu saja hal yang harus dilakukan adalah mengisi bateray, bukan? Ya, saya melakukannya. Saya membuka tas, mengambil laptop, mengambil carger, karena prioritas saya laptop pada saat itu, khawatir kalau dengan ponsel sekali, nanti menghabiskan ruang stop contact. Anda paham maksud saya? Terminal listrik.

“Eh, di mana terminal ya?” tanya saya.

“Di deket meja dosen,” jawab kawan saya yang bernama Astri.

“Sini aku bantuin,” kata kawan saya yang bernama Nisrina.

“Gak usah, aku juga bisa kok,” kata saya.

Saya nekat, turun dari kursi, menyimpan laptop di samping meja dosen, di bawah, maksud saya, lalu saya mencoba memasangkan carger ke terminal listrik itu. Teman saya yang bernama Nisrina tadi ribut.

“Nurul jangan, biar sama aku aja,” katanya.

Tapi saya tetap mencoba. “Nggak apa-apa kok, aku bisa, nih lihat,” kata saya.

Waktu saya masukkan carger ke lubang terminal listrik, barulah Nisrina berkata: “Eh bener gening bisa.”

Baca:  Alat Bantu Penyeberangan di Adelaide

Itu satu pengalaman saja. Sebenarnya yang lain masih banyak. Terima kasih kepada kawan saya, Nisrina Kamelia Sobari, S.Pd, anda adalah teman terbaik saya. Harap anda membaca dan mengingat momen itu.

Saya tidak mengejek mereka yang memperlakukan disabilitas dengan istimewa, tapi saya sarankan agar disabilitas itu diarahkan, bukan dimanjakan atau dibantu total. Beberapa disabilitas mungkin ada yang perlu bantuan, tapi jika ada yang sudah berkata “Nggak apa-apa, aku bisa kok,” izinkan saja mereka bergerak sendiri. Izinkan mereka melakukan apa yang mereka bisa lakukan. Kecuali kalau memang mereka sudah tidak bisa, maka silahkan bantu.

Dan untuk para disabilitas, jangan takut untuk mengatakan aku bisa. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk membuktikan bahwa kita bukan orang-orang manja yang selalu segalanya dilakukan oleh orang lain. Jangan merasa mentang-mentang kita disabilitas, lantas kita ingin diperlakukan sebagai kaisar yang segalanya harus dilayani orang lain. Mandirilah! Sebab kemandirian akan membuat kalian lebih bisa bertahan hidup di masyarakat umum.

  1. Tanggapan biasa.

Beberapa ada yang menanggapi disabilitas dengan biasa saja. Tanpa pengecualian, tanpa pandangan rendah, tanpa memanjakan. Ada pengalaman saya yang lain yang membuat saya senang kala masa kuliah.

Hari itu, saya masih ingat, hati Jumat, pukul 12.30 siang. Saya baru selesai shalat dzuhur, dan sebagian besar kawan-kawan saya sedang pergi ke kantin untuk makan siang, sementara saya tetap di lab, karena saya tak membawa uang jajan untuk makan. Dosen saya, saat itu juga ada di sana. Nama beliau adalah Bapak Asep Firdaus, M.Hum. Dosen favorit saya, DPA saya, DPL saya saat PLP1, dan pembimbing saya saat masa penelitian proposal dan skripsi.

Kami mengobrol, tanpa ada jarak yang terlalu formal. Beliau berbicara pada saya selayaknya saya manusia. Maksud saya, beliau tak ragu bergurau dengan saya, bercerita tentang pelatihannya di Bandung tentang disabilitas, dan itu sebuah kehormatan bagi saya, sebab beliau mengikuti pelatihan itu dengan sungguh-sungguh.

Sebelumnya di hari kamis, beliau bertanya banyak hal pada saya. Saya bingung, sebab jarang sekali beliau bertanya tentang NVDA, huruf braille, tongkat, dll. Saya jawab sebenar-benarnya. Menjelaskan tentang NVDA, tentang huruf braille, apa saja alat tulisnya, dan cara penggunaan tongkat melalui WhatsApp, sebab beliau bertanya melalui WhatsApp saat itu.

Baca:  Fitra, Tunanetra Bisnis Mobil Omset Ratusan Juta

Di hari Jumat, beliau barulah bercerita. Katanya ternyata agak kesulitan juga, tapi dari situ, beliau mengerti tentang tuna netra. Beliau bercerita bagaimana rasanya mata ditutup, bagaimana rasanya berjalan dengan menggunakan tongkat, bagaimana rasanya menulis huruf braille, bagaimana rasanya mendengarkan NVDA yang lebih lambat, karena selama saya menggunakan laptop, kecepatan saya selalu seratus untuk Vocalizer, delapan puluh untuk IBM TTS.

Saya juga bercerita panjang lebar tentang kami, kaum tuna netra, sebenarnya kami hanya butuh dipahami, bukan dikecualikan. Saya meminta untuk tidak dikecualikan saat KKN, saya ingin ikut KKN, saya ingin PLP2 saya ditempatkan di sekolah umum, dan beliau menepati kata-katanya. Selalu saja “Insya Allah”, tak pernah janji mutlak, tapi kata-kata beliau selalu dibuktikan dengan tindakan. Tiba-tiba saya KKN ditempatkan di Desa Limbangan, kira-kira kalau dari Desa saya sekarang, itu ke arah atas, dan hanya melewati satu Desa, Desa Sukamekar, setelah itu barulah Desa Limbangan. Dalam KKN saya terlibat dalam kepanitiaan kegiatan besar, Mubaligh-Mubalighat Muda,saya menjadi divisi acara pada saat itu. Dan saat PLP2 saya ditempatkan di SMPN10 Kota Sukabumi, dan saya betul-betul menjalankan tugas itu dengan sebaik mungkin, meski beberapa saya dibantu oleh sahabat saya, Fadiyatunnisa.

Terima kasih kepada dosen saya, Bapak Asep Firdaus M.Hum, saya benar-benar merasa terhormat karena dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bersedia memahami kami yang dari kaum disabilitas. Maka dari itu, perlakuan seperti inilah yang kami harapkan dari setiap masyarakat umum, sebab kami tak butuh dikecualikan, kami hanya butuh dibantu dan dipahami saja.

  1. Perlakuan dipandang rendah.

Ini adalah hal yang complicated, difficult. Karena saya pikir, ada yang harus saya ungkapkan yang sedikit menyindir. Ini bukan bermaksud men-judge seseorang, tapi ya, ini kejujuran dalam opini terbuka.

Baca:  makna dan hikmah surat abasa

Saya pernah mendapat sebuah curhatan dari salah satu kawan saya, tak perlu disebutkan dia siapa, tapi yang pasti dia perempuan. Dia sedang berada di kampus, mengobrol dengan kawan-kawannya, dan dia mendengar kata-kata seorang temannya yang juga perempuan, dengan fisik normal tentu saja.

“Aku mah kalo lihat disabilitas the ah lihati aja we, nggak mau ngebantu.”

Itu katanya. Dan teman saya tentu merasa terganggu dengan statement ini. Ia ingin meralat, tapi tak berani. Dan di hari lain, ketika ia sedang berobserfasi bersama teman-temannya ke sekolah, ia bingung dengan transfortasi. Ada temannya yang lain, berbeda dari yang tadi walau sama-sama perempuan, katanya teman saya lebih baik dengan laki-laki.

Kata teman saya, laki-laki itu jarang masuk, agak pendiam, dan dia tidak terbiasa dengan seseorang yang seperti itu. Dia takut kalau bersama laki-laki yang baru dikenal. Teman saya itu wajar merasa begitu, tapi temannya yang lain hanya berkata: “Kan aku udah ngasih solusi.”

Itu sebuah cara yang buruk memperlakukan disabilitas. Buruk, karena kami tetaplah manusia, walau kami memiliki kekurangan secara fisik, tapi kami memiliki perasaan. Kami bukan batu, kami bukan kayu, kami adalah seseorang yang diberi perasaan yang sama, emosi yang sama. Kami normal, hanya fisik yang kekurangan.

Saran saya, bagi para masyarakat umum, angan membedakan disabilitas dengan cara seperti itu. Apalagi sampai memanfaatkan keluguan disabilitas. Beberapa dari disabilitas pun ada yang punya pikiran, tidak semuanya lugu. Kami bukan anak kecil polos yang bisa semaunya kalian arahkan ke manapun yang kalian suka.

Jadi, setelah kita bahas panjang lebar di atas, saya di sini hanya ingin menyampaikan pendapat. Daripada saya simpan, lalu mengganjal di hati, dan pada akhirnya itu menjadi sampah, lebih baik saya utarakan. Untuk masyarakat umum, tolong anggap serius tulisan ini. Dan untuk disabilitas, semangat, buktikan kalau kalian bisa. Kalian bisa hidup, kalian normal, jangan menjadikan keterbatasan fisik sebagai hambatan yang menghalangi kalian untuk melakukan apa yang bisa dilakukan oleh orang yang memiliki fisik yang sempurna.

Bagikan artikel ini
Nurul Rahmah
Nurul Rahmah

Penulis asal Cihaurbeuti, Ciamis, kelahiran 2003, tinggal di Sukaraja, Sukabumi. Alumni SLB-A Budi Nurani, lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Seseorang yang jatuh cinta habis dengan seni sunda dan sastra epik.
Follow Instagram: @nurul.rahmah14
Follow Twitter/X: @NRGaza
follow channel telegram: t.me/nrgaza

Articles: 23

2 Comments

  1. Betul, Kak. Setiap kali saya ketemu orang-orang umum itu pasti ada aja reaksi mereka yang kadang bikin gak enak hati, tapi juga nggak enak kita mau negurnya.

  2. tulisan pengalaman yang sangat menarik sekali ya. ya memang tanggapan masyarakat ke kita itu jarang yang di tengah-tengah. kalau tidak over expectation (menganggap kita ini suci, baik, dll), atau ya underestimate (menganggap remeh dan merepotkan). tapi semua itu pada akhirnya kalau menurut saya kembali ke bagaimana kita sendiri menanggapinya. Semoga makin banyak nih teman-teman disabilitas lain yang berbagi pengalaman otentik seperti ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *