Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Everyone’s Special

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

“Dia Bukan Bayi Saya! Bayi Saya Pasti Tertukar Dengan Orang Lain! Tidak Mungkin! Tidak Mungkin Ini Bayi Saya!”, teriakan itu memecah kesunyian. Menyusuri liku-liku lorong. Menggema ke sudut-sudut rumah sakit.

 

“Ibu harus bisa menerima kenyataan bu..”, suara lain menenangkan. Adalah Pak Suryo, dokter rumah sakit itu. Suster yang lain mengangguk simpati, berusaha memperbaiki suasana. Tetapi wanita itu tetap menangis histeris, menarik-narik baju suaminya yang diam membisu.

 

Aku yang duduk di belakang bapak hanya termenung. Sungguh aku masih terlalu kecil untuk mengerti percakapan itu. Usiaku baru menginjak 7 tahun. Yang aku tahu, kemarin malam ibuku telah berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan adikku. Adik pertamaku. Yang aku tahu, malam itu suara tangis adikku terdengar nyaring sekali. Sama seperti ketika aku menunggui para sepupuku lahir. Normal.

 

Namun ternyata kenyataan berkata lain. Adikku berbeda. Ia terlahir dengan kedua kakinya yang hilang. Tak sempurna. Aku baru tahu ketika nenek mengganti popok adikku yang basah. Saat itu, yang terpikirkan olehku adalah kaki Rio masih dalam masa pertumbuhan, bukan tak ada

.

***

 

Malam terang. Langit gemerlap oleh butiran-butiran bintang, membentuk formasi tertentu. Angin berhembus lembut, menyapa siapa pun yang masih terjaga. Pukul delapan malam. Kami sedang berkumpul di ruang keluarga terkecuali Bapak. Ia sedang dinas ke luar kota. Aku sibuk dengan PR Matematikaku. Sedangkan Rio dan Ibu sibuk dengan bacaan masing-masing. Rio sudah berumur 3 tahun. Dan aku berumur 10 tahun.

 

Aku masih berlipat kening mengerjakan PR Matematika. Susah sekali. Aku sampai abai memperhatikan Rio yang tampak gelisah. Peluhnya terus menetes, walaupun malam itu cukup dingin. Dengan segala keberaniannya, malam itu, pertanyaan yang selama ini aku khawatirkan akhirnya keluar dari mulut Rio. Walau dengan suara yang agak dipelankan. Tampak raut wajahnya menggambarkan keragu-raguan.

 

“Bu, kenapa Rio tidak memiliki kaki? Apa Rio nakal jadi kaki Rio ibu ambil?”,Ibu terdiam, mengabaikan pertanyaan Rio dan berusaha sibuk dengan bacaannya.

 

Aku hanya menoleh sebentar. Pikiranku belum sampai betul dengan pertanyaan Rio. Aku masih berpikir serius dengan PR Matematika yang baru setengahnya terselesaikan.

 

“Bu, kenapa kaki Rio tidak ada bu?”, Rio kembali bertanya. Kali ini nadanya merajuk.

 

Namun Ibu tetap terdiam. Lima menit berlalu dari pertanyaan yang menguap, bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Rio, Ibu justru memberikan isyarat padaku untuk membawa Rio masuk ke kamar. Menggantungkan pertanyaan yang masih bersarang di otaknya.

 

***

 

Hari berganti hari. Waktu terus berputar. Aku berumur 20 tahun dan Rio 13 tahun. Matahari hampir tenggelam. Menyisakan cahaya-cahaya yang menyebar bagai lintasan pesawat jet. Berwarna kuning kemerah-merahan. Indah sekali. Apalagi jika kau melihatnya dari atas gundukan tanah berliku-liku, beralaskan rerumputan hijau yang membentang.

 

“Kau sendirian? Dan menghabiskan waktumu hanya untuk melamun?”, tanyaku pada Rio yang duduk melamun di atas batu. Pandangannya lurus mengaduk-aduk rona sore itu.

 

“Apalagi? Tidak ada yang bisa aku lakukan dengan keterbatasanku. Prestasikupun tidak sebagus yang Ibu harapkan. Tidak seperti kau, kebanggaan Ibu dan Bapak”, jawab Rio tanpa menoleh sedikitpun.

 

Tangannya asyik memainkan ujung-ujung rerumputan yang ada di hadapannya. Kepalanya menunduk, seperti tak mengharapkan kehadiranku.

 

Aku tersenyum, lalu berjalan menghampiri Rio dan duduk persis di sampingnya. Kepalaku mendongak, menatap gumpalan awan-awan yang berlarian tersapu angin.

 

“Tahu kah kau, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Begitu pula dengan kau. Hei, tidakkah kau sadar bahwa aku memiliki kekurangan pada pelajaran matematika? Sedangkan kau? Bukankah kau selalu mendapatkan nilai sempurna pada pelajaran matematika?”, sejenak aku menghela napas, menatap langit-langit yang mulai menghitam.

 

“Dan lihatlah, Albert Einstein dengan prestasi-prestasinya yang mendunia. Apa kau tidak tahu bahwa dulu ia adalah anak yang terlambat berbicara dan mengidap autisme?

 

Lalu Thomas Alva Edison, dulu juga ia bodoh dan agak tuli. Tapi ia bisa sukses dan pintar dengan penemuan-penemuannya? Kau tahu teman kakakmu ini yang bernama Muhammad itu? Ia juga menyandang autisme, tetapi ia bisa menulis sebuah buku dan berhasil diterbitkan.

 

Lalu Habibie Afsyah, yang sukses menjadi pebisnis online meskipun ia penyandang disabilitas. Mereka juga memiliki keterbatasan sepertimu. Tetapi mereka masih bisa melakukan sesuatu. Sesuatu yang bisa membuat Bapak dan Ibu mereka bangga. Bahkan orang lainpun merasa bangga dengan prestasi mereka. Tidak terkecuali kau Rio. Kau pun juga bisa melakukannya-“

 

“Walaupun tanpa kaki?”, tanyanya ragu.

 

“Kenapa tidak? Mereka pun memiliki keterbatasan sepertimu-“

 

***

 

Roda kehidupan terus berputar, membolak-balikkan siapa saja yang mengalaminya. Aku berusia 30 tahun, dan Rio 23 tahun. Aku sudah berkeluarga dan memiliki dua anak. Aku sudah berpisah rumah dengan Rio.

 

Kesibukanku untuk mengurus keluarga dan bekerja membuatku jarang mengunjungi rumah. Rio masih tinggal bersama ibu. Bapak sudah meninggal dua tahun yang lalu. Itulah terakhir kali aku berkunjung ke rumah. Aku tidak lagi memperhatikan kegiatan Rio. Namun yang aku tahu, Rio sudah tidak bergantung lagi dengan uang pemberian Ibu. Ia sudah bekerja sebagai guru les matematika. Dengan kedua kaki palsunya.

 

Hei lihatlah. Ketika aku dan keluargaku mengunjungi sebuah pameran lukisan, mataku tertuju pada sebuah lukisan di sudut ruangan. Seorang anak laki-laki tanpa kaki sedang bersama dengan seorang lagi yang lebih besar darinya. Suasana lukisan itu sama persis dengan suasana di desa, di rumah Ibuku. Bola mataku pun dengan cepat mencari siapa pelukis lukisan ini. Dan di situ pun tertulis jelas, Rio Dewantara.

 

Everyone’s special. Kalimat itulah yang selalu aku tanamkan di diriku. Begitu pula dengan Rio, adikku yang berbeda.

Editor: Putri Istiqomah Priyatna

Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *