Kartunet menuju usianya ke-12, nantikan program-program seru dari kami!
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Sepucuk Surat dari Mama Tersayang

Aku tak pernah lupa siang itu lima belas tahun yang lalu, hujan turun deras mengguyur kota Palembang dan aku yang baru saja pulang dari sekolah bersikeras untuk menerobosnya.

Di depan teras pertokoan, sekelompok anak laki-laki berlarian dan menabrakku. Aku jatuh tersungkur disana dengan lutut terluka. Sakit sekali. Lantas seseorang menyentuh bahuku dengan lembut. Aku mendongak. Ternyata dia adalah seorang ibu pedagang majalah kaki lima di depan pertokoan ini yang baru berjualan di sini. Dia berkata tak jelas—hanya terdengar huruf-huruf vokal a,i,u—sambil menggerak-gerakkan tangannya. Aku menggeleng, tak mengerti bahasa isyarat ibu itu. Ya, dia bisu.

Dia membimbingku duduk di bangku plastik di samping gerobak majalahnya dan mengobati lukaku. Pun dikeringkannya rambutku yang basah dengan handuk.

“Makasih ya bu. Ibu baik sekali. Nama ibu siapa? Ibu tinggal dimana dan, kalau boleh tahu, kenapa ibu sampai bisu?” tanyaku bertubi-tubi.

Ia memandangku sejenak sambil tersenyum. Dikeluarkannya sebuah buku dan pena dari dalam tasnya dan menuliskan sesuatu disana.

“Nama Ibu Maryam. Ibu baru pindah ke daerah ini. Ibu jadi bisu tuli karena kecelakaan hebat bertahun-tahun yang lalu.”

Aku membaca tulisan itu dan ber-oh panjang.

Ia menulis lagi,

” Namamu siapa, Nak? Kenapa tak dijemput orang tuamu?”

“Namaku Faila, Bu. Ayah bunda pindah ke Lampung, karena tugas ayah. Aku tak boleh ikut karena sayang dengan sekolah dasarku yang tinggal dua bulan lagi. Jadinya aku tinggal di rumah tante. Dan tante menyuruhku ke sekolah jalan kaki.”

Matanya seolah mengerjap tak percaya saat mendengar kata-kataku itu.

“Kalau kau mau, kau boleh mampir kesini sepulang sekolah. Ibu akan dengan senang hati berbagi makanan denganmu, dan mendengar ceritamu,” tulisnya lagi.

Aku melongo, kaget dengan jawabannya. Sekaligus juga haru, tiba-tiba ada seseorang yang mau memperhatikanku.

“Apa aku tidak menganggu ibu?” tanyaku nyaris berbisik.

Dia menatapku seksama saat aku bicara lalu menggeleng. Dan entah apa yang mendorongku saat itu untuk memeluknya erat, dan berucap terima kasih dengan tulus.

Hujan mulai reda. Aku pun pamit padanya. Seketika hatiku merasa hangat. Tak sabar untuk menemuinya besok hari.

******

Aku takkan pernah lupa:  Mama Maryam orang paling baik seumur hidupku. Ia selalu membawakanku nasi bungkus yang ia masak sendiri dengan lauk yang bervariasi.

Dan hari itu, aku menunjukkan padanya sebuah buku tulis yang berisi belasan cerita pendekku. Dan dengan kebaikan Mama Maryam yang memperbolehkanku untuk membaca-baca majalahnya, makin memberiku banyak ide untuk menulis.

Sejenak ia hanyut membaca cerita-ceritaku. Sebelum seluruh buku selesai ia baca, ia dongakkan kepala lalu menulis,

”Faila, kau tergolong hebat untuk anak seusiamu dalam menulis cerita. Coba cerita-ceritamu ini dikirimkan ke majalah anak-anak, ibu yakin pasti dimuat.”

“Wah, ide bagus, bu! Tapi aku tak tahu harus mengirim kemana tulisan-tulisanku”

“Tenanglah sayang. Ibu akan melakukannya buatmu.”

Aku tersenyum senang membaca tulisannya itu. Mendadak ia terpaku pada sebuah cerita di bagian akhir buku itu. Cerita yang kutulis berdasarkan kisah nyataku berjudul: Nyanyian Rindu Buat Mama.

Matanya berkaca-kaca setelah membaca tulisan itu. Tangannya agak gemetar saat menulis,” kau merindukan mamamu,sayang?”

Aku tertunduk sambil mengangguk lirih.Ya, sebulan sudah mama dan papa meninggalkanku. Aku merindukan mereka, terutama mama.

“Faila sayang, kalau kau tidak keberatan, ibu mau kau panggil mama. Anggap saja ibu adalah mama angkatmu. Jadi kau tidak usah sedih lagi, karena mamamu ada disini.” tulisnya.

“Mama?” tanyaku, agak kaget sekaligus senang. Dia mengangguk.

“Ya bu, aku mau! Aku mau! Aku punya mama! Aku punya mama! Mama Maryam!” teriakku girang di jalan itu. Segera aku merengkuhnya dan menciumi pipinya bergantian

Terdengarlah tawa geli orang-orang di sekitar emperan toko itu demi melihat tingkah kami. Aku dan Mama Maryam pun ikut-ikutan terkikik.

******

Aku takkan melupakan hari itu. Dua minggu sesudah ujian nasional berakhir, aku dan kedua temanku diutus sekolah untuk mengikuti lomba pidato bahasa Inggris di sebuah universitas swasta ternama di Palembang. Tante dan om tak mau menemaniku ke acara itu tapi Mama Maryam berjanji untuk datang walaupun agak terlambat.

Dan saat namaku diumumkan sebagai pemenang kedua, Mama Maryam muncul. Tapi mendadak aku melihat tanteku datang, menghampirinya sambil marah-marah. Mama Maryam pun pergi dengan tergesa.

Segera aku turun dari atas panggung, mendekati tanteku.

“Wah, kau juara rupanya. Tak kusangka.” Kata tante dengan nada mengejek seperti biasa. ”Ayo pulang, di rumah ada…”

“Mama Maryam, kemana dia?”potongku,tak sabar.

“Kau? Kau bertemu si cacat itu? Kau memanggilnya mama?” tanya tante, kaget.

Aku marah sekali mendengarnya mengejek Mama Maryam seperti itu. Jangan-jangan gara-gara ejekannya Mama Maryam pergi meninggalkanku.

“Aku benci tante!” teriakku.

Aku kabur dari sana tanpa menghiraukan panggilannya. Aku harus menemui Mama Maryam. Aku harus minta maaf atas kelakuan tanteku yang memang tak pernah baik padaku itu. Dan satu-satunya tempat yang terpikir olehku adalah rumahnya yang pernah sekali ditunjukkannya padaku. Dengan naik bis, aku pergi kesana.

Syukurnya Mama Maryam ada di rumah saat aku datang. Dia kaget melihatku sekaligus senang.

“Ma, kenapa mama tadi meninggalkanku?”rengekku.

“Mama minta maaf ya sayang.Tiba-tiba kepala mama pusing jadi mama buru-buru pulang. Selamat ya kau menang.” tulisnya di kertas.

“Pasti gara-gara tante mengejek Mama, kan? Tante memang begitu Ma, selalu jahat. Jangan diambil hati ya, Ma.”

Mama Maryam lantas menatapku tanpa berkedip. Lama sekali, hingga akhirnya ia menulis di kertasnya dengan tangan gemetar.

“Jadi, orang yang mama ajak bicara itu tantemu? Katakan siapa nama orang tuamu?”

“Papa Idris dan Mama Tere.” Jawabku. Seketika Mama Maryam terduduk di sofa dengan wajah pucat. Dan ia terisak. Kudekati ia dengan cemas. Jangan-jangan mama Maryam sakit. Kuangkat wajahnya dengan lembut dan bertanya,

“Mama, kenapa? Mama sakit?”

Ia tak menjawab, hanya tersedu menyayat. Dipeluknya diriku seolah tak mau melepasku. Kubiarkan ia menangis sepuasnya sampai suara perutku yang keroncongan menyela.

“Mama,aku lapar.” Kataku sambil menatapnya. Ia tertawa.

“Ayo,kita makan. Kebetulan mama masak masakan kesukaanmu.”tulisnya.

Begitu menyenangkan bersama mama Maryam. Kami makan lantas tidur bersama. Saat aku bangun, kudapati ia sedang menatapku dengan penuh kasih sayang. Dan dia habis menangis, lagi. Ya Tuhan, saat itu aku berandai Mama Maryam adalah mamaku yang sebenarnya bukannya Mama Tere.

Ia menyodorkan tulisannya, “Sayang, kau harus pulang. Tantemu pasti mencarimu.”

Aku menggeleng.”Tidak ah! Aku ingin di sini saja. Mama Maryam kan mamaku.”

Dibelainya rambutku dan menulis lagi. ”Ya, tapi kau tetap harus pulang. Rumahmu bukan disini, Nak.”

Entah mengapa Mama Maryam begitu kekeuh menyuruhku pulang. Setelah aku mandi dan berpakaian, ia menanyakan alamat rumahku dan mengantarku pulang. Sebelum memasuki lorong rumah tante, ia menyuruhku berhenti sejenak. Ia menulis di buku kecil yang selalu ia bawa,

“Pagi tadi, tetangga mama memberitahu kalau kemarin ia ditelpon seorang redaktur sebuah majalah anak-anak. Beliau bilang tulisanmu Nyanyian Rindu Buat Mama akan dimuat dua minggu lagi. Selamat ya!”

Aku sungguh kaget dan berteriak girang sekali. Mama Maryam tertawa senang.

“Sebagai ucapan terima kasih, aku akan bacakan puisi di cerita itu untuk Mama Maryam.”  kataku. Mama Maryam mengangguk. Lalu sambil bergandengan tangan menuju komplek perumahan tempat tante tinggal, kubacakan puisi itu.

Sebuah lagu rindu buat mama

Kulantunkan siang dan malam

Agar ia tahu dan Tuhan mendengar bahwa aku sayang ia

Dimana pun ia berada 

Sebuah lagu rindu buat mama

Kudendangkan agar hati ini tenang

Karena tahu doanya selalu menyertaiku 

di setiap langkahku 

Duhai mama

Aku mencintaimu

Bagai mentari yang tak pernah meninggalkan langitnya

selamanya

 

Di depan lorong masuk menuju rumah tante, kulihat banyak sekali orang berkerumun, dan diantara mereka, kulihat mama dan papa dengan wajah cemas. Kulepaskan genggaman tanganku dari Mama Maryam dan berteriak kencang memanggil orang tuaku. Mereka berdua lalu menghambur ke arahku. Dipeluknya aku dengan sedu sedan. Tapi saat melihat mama Maryam, reaksi mereka berubah drastis.

“Kau! Kenapa kau disini? Kau mau menculik anakku kan? Kau mau membawanya kan?”Tuding mamaku. Aku ingin membela tapi tante sudah menarik tanganku dari sana..

“Maaf Maryam, saya kira kita sudah saling paham janji itu.” balas papa.

“Jangan pernah kau dekati lagi anakku! Dia anakku!” Teriak mama.

Mama Maryam mencoba menjelaskan dengan bahasa isyaratnya. Namun papa dan mama yang mengerti maksud Mama Maryam, seolah tidak mau tahu. Mama dan papa terus meneriaki dan menuduh Mama Maryam yang bukan-bukan. Aku hendak berteriak tapi mulutku dibekap tante. Ya Tuhan saat itu aku berharap, andai Mama Maryam bisa bicara. Orang-orang di sekelilingnya pasti akan mengerti penjelasannya dan mungkin saja membelanya. Bukannya malah ikut menyalahkannya.

 Aku pun tak tahu lagi apa yang tengah terjadi disana karena aku telah diseret ke dalam rumah tanpa daya. Aku hanya bisa menangis sesunggukkan.

*****

Aku tak bisa melupakan hari itu.

Aku tetap tak mau berangkat ke Lampung sebelum Mama Maryam datang dan mengucapkan selamat tinggal padaku. Aku menunggu, yakin Mama Maryam akan datang. Tapi, ternyata tidak. Dia juga tak ada saat aku ditemeni kedua orang tuaku, mencoba menemuinya di tempat ia biasa berjualan pun di rumahnya. Ia menghilang.

Aku sedih sekali. Teringat ucapan mama kalau Mama Maryam hanya pura-pura baik dan hendak menculikku. Dia datang membawaku dengan tujuan untuk meminta uang tebusan dan sekarang ia pasti sudah kabur karena gentar dengan ancaman mama dan papa. Tapi aku tak mempercayainya sama sekali. Mereka pun menyuruhku untuk melupakan Mama Maryam. Entah kenapa mereka begitu membenci Mama Maryam padahal aku sudah menceritakan segala kebaikannya. Kalau ada yang orang yang patut disalahkan itu adalah tante dan om yang tak pernah mau memperhatikanku.

Dan akhirnya dengan hati yang tak rela, aku berangkat bersama kedua orang tuaku. Diam-diam, ada separuh hatiku yang hilang.  Perih. Dan itu berlangsung hingga bertahun-tahun lamanya.

*****

Ya, bagaimana aku bisa lupa walau semua peristiwa itu terjadi saat aku masih berusia sebelas tahun. Dan hari ini, di saat cuti tahunanku dan aku bisa pulang ke rumah, datanglah sebuah surat dari Mama Maryam yang diantarkan oleh seorang gadis, jauh-jauh dari Palembang.

Kutatap mata papa dan mamaku yang kini telah berumur senja. Sudah terlalu lama aku memendam rasa penasaranku ini hingga kini saat aku bekerja sebagai editor sebuah majalah remaja ternama di Jakarta, orang tuaku selalu melarangku mengungkit-ungkit nama Mama Maryam dengan berbagai alasan. Dan sekarang jadi amat mencurigakan, setelah melihat sikap papa yang menolak kedatangan gadis itu yang sudah susah payah mencari rumah ini. Aku jadi bertanya-tanya sebenarnya ada hubungan apa antara aku dengan Mama maryam?

 “Tolong katakan alasan kalian menghalangiku berhubungan dengan Mama Maryam. Aku sudah dewasa untuk tahu semuanya!” tegasku, emosi.

Aku menunggu dengan tak sabar. Papa dan mama saling berpandangan sejenak. Mama pun mengangguk pasrah pada papa.

“Baiklah.Sepertinya memang sudah saatnya kau tahu,” kata papa, lirih.

”Tapi sebelumnya papa dan mama mohon kau bisa memaklumi apa yang telah kami lakukan.”

Aku sama sekali tak menjawab permohonan mereka.

“Faila, Bu Maryam adalah mama kandungmu.”

Aku tercekat. Lama sekali. Tak percaya. Kupandangi papa dan mamaku dengan kesal. Bagaimana bisa? bagaimana bisa mereka menyembunyikan semua itu?

“Dulu sebelum kau lahir, kami dengan Maryam serta suaminya hidup bertetangga. Sampai suatu saat, saat kandungan Maryam menginjak 7 bulan, mereka bepergian dan terjadilah kecelakaan hebat. Suaminya koma. Kandungan Maryam selamat tapi sayangnya ia kehilangan pita suaranya dan pendengarannya.

Berbulan-bulan sang suami dirawat dengan biaya yang tidak sedikit hingga akhirnya meninggal dunia. Maryam kebingungan menghidupi dirinya dan bayinya yang saat itu masih berusia 2 bulan. Ia mencari pekerjaan tapi sayangnya tak ada yang mau menerimanya. Suatu hari ia datang pada kami, menawarkan bayinya itu dengan sejumlah uang. Kami yang sudah bertahun-tahun menikah tapi belum diberi keturunan tentu saja merasa sangat bahagia. Kesepakatan pun dibuat. Kami membeli bayi itu dengan syarat Maryam harus pindah dan tidak boleh menemui anak itu bahkan mengakuinya sebagai anak. Sejak saat itu Maryam menghilang.

Hingga tiba-tiba hari itu saat tantemu yang hendak menjemputmu, bertemu dengan Maryam. Dan kau ternyata mengenalnya dan menghilang mencarinya. Kami begitu panik, jangan-jangan Maryam ingin mengambilmu kembali dari kami. Kami juga takut kalau dia sudah menceritakan rahasia itu padamu.Tapi syukurnya rahasia itu masih tersimpan rapi. Kami pun bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kami menjauhkanmu dari tante dan om-mu yang sedari awal memang tak mengakui kalau kau keponakan mereka. Dan kami juga menjauhkanmu dari Maryam.”

“Kenapa kalian begitu tega menghalangi aku bertemu dengan Ibu Maryam?” teriakku putus asa.” Dia ibu kandungku!”

“Karena…” Mama mengambil alih,” Kami takut kau akan kembali padanya dan meninggalkan kami, Faila.”

Mama tersedu. Tapi tidak, aku tidak kasihan. Mereka egois!

“Sekarang, jangan halangi aku untuk bertemu ibu kandungku!”

“Ya, papa dan mama takkan menghalangimu,Nak. Maafkan kami yang sudah membohongimu.” Ujar papa, dengan rasa bersalah.

Ada yang menggores di hatiku tapi aku tak peduli. Aku hanya peduli pada Mama Maryam. Gadis itu kupersilahkan masuk.

“Apa Ibu Maryam masih di Palembang? Dia baik-baik saja kan? Hari ini juga kita ke sana.” kataku dengan semangat menggebu-gebu.

Gadis itu terdiam sesaat sambil menatapku dengan sayu. Ada apa?

“Maaf mba, saya sengaja kesini karena ini wasiat terakhir Bu Maryam. Kemarin beliau meninggal dunia karena sakit dan pagi ini telah dikuburkan.”

Apa? Apa yang barusan ia katakan? Aku terpaku, tak mampu bicara.

Gadis itu menyodorkan sepucuk surat dan tanganku gemetaran menerimanya.

“Kenapa? Kenapa dia pergi sebelum aku menemuinya, saat aku baru tahu kalau dia mamaku?”

Bibirku gemetar. Pandanganku kabur karena dipenuhi air mata lalu aku meraung sekuat-kuatnya. Aku marah hingga dada ini rasanya mau pecah.

Papa dan mama hanya diam. Aku berlari ke kamar, membanting pintu dan mengucinya. Di sudut kamar aku terduduk lunglai.

“Ma, kenapa mama tega meninggalkanku. Kenapa? Apa mama tak sayang lagi padaku?”

Bermenit –menit pertanyaan itu menyerang pikiranku. Aku marah, benci. Ini semua tak adil! Dalam kekalutan, surat dari Mama Maryam yang sudah kucel di tanganku itu menarik perhatian. Hatiku pun berbisik,” bacalah surat itu.”

Dengan tangan gemetar, kukeluarkan surat dari amplopnya, dan merapikan kertasnya. Kuseka air mata, sambil menarik nafas panjang untuk memulihkan konsentrasiku, sebelum akhirnya membaca kata demi katanya

 

                                                                        Palembang, 20 November 2009

                                                                        Teruntuk sayangku Faila Sufa

 

Apa kabar sayang?Apa kau masih ingat pada Mama Maryam-mu ini? Ah, sudah lama sekali kita tak bertemu. Mama rindu sekali padamu. Hingga tak tahan lagi mama menuangkannya dalam surat ini. Dan mungkin saat surat ini sampai di tanganmu, mama sudah tidak ada di dunia ini. Tapi ijinkanlah mama bercerita sayang tentang masa-masa terindah yang Allah berikan pada mama saat bersamamu.

Kau ingat hari itu saat hujan deras mengguyur kota Palembang. Kau dengan kaki kecilmu berlarian sepanjang trotoar. Saat itu hati mama berdetak. Seperti ada yang menggerakkan mama untuk mengajakmu mampir. Dan mama sungguh iba padamu saat kau bercerita tentang orang tuamu hingga mama pun dengan senang hati membawakanmu berbagai makanan enak, mendengar cerita-ceritamu. Tanpa alasan, mama melakukan semua itu. Entah kenapa mama hanya ingin membahagiakanmu.

Dan kau menunjukkan buku kumpulan cerpenmu pada mama. Kau tahu sayang, seketika mama teringat pada almarhum suami mama. Sebelum kandungan mama lahir, dia sempat berkata bahwa dia ingin sekali anaknya yang lahir kelak mewujudkan cita-citanya yang tak kesampaian yaitu menjadi seorang penulis terkenal. Hati mama haru sekali saat melihat tulisanmu itu. Lantas mama tergerak untuk mengirimkannya ke majalah.

Dan hari itu, mama bertemu kembali dengan wanita yang selalu memandang rendah mama. Mama tidak tahan dan pergi. Lalu kau pun datang,dan mengakui bila itu tantemu. Seketika perasaan mama jadi campur aduk setelah menyadari kau adalah putri kandungku. Ya Faila kau putri kandungku yang dengan teganya telah mama jual pada pasangan suami istri yang kini kau sebut sebagai kedua orang tuamu. Beribu rasa syukur mama panjatkan hari itu. Sudah lama mama memimpikan untuk bertemu dengan putri mama dan dia ada di hadapan mama.

Saat kau tidur, mama pandangi wajah mungilmu tanpa henti. Sungguh mama takut sekali kehilanganmu. Tapi batin mama berontak. Di satu sisi mama ingin selalu bersamamu, tapi di sisi lain, kau sudah punya keluarga sendiri, yang lebih menjamin kehidupanmu. Ya, akan jadi apa kau bila bersama mama. Akhirnya mama memilih kebaikanmu daripada perasaan mama sendiri. Kau harus pulang  pada orang tuamu.

Mama mengantarmu pulang dan memberitahumu tentang cerpenmu yang akan dimuat. Kau sangat senang sekali. Mama pandangi kau membacakan puisi itu. Mama merasa puisi untuk mama. Batin mama bergejolak lagi. Mama pandangi dirimu sebelum kau tiba di rumahmu. Saat itu mama ingin sekali Allah mengembalikan suara mama. Saat itu saja, mama ingin mengatakan, ”Faila,kau putri kandungku.”

Orang tuamu lalu datang dengan cemas. Kau berteriak senang melihat orang tuamu. Mendadak, hati mama pedih, merasa tersingkir. Apalagi, dari sikap kedua orang tuamu yang marah, takut sekali rahasia ini terbongkar, mama sadar mereka memang lebih baik buatmu Faila. Kau memang pantas dapatkan yang terbaik, putriku.

Dan ya, bila hari itu mama menuruti keegoisan mama, kau pasti takkan bisa menjadi editor terkenal seperti sekarang ini. Sungguh mama bangga padamu. Kau sudah mewujudkan mimpi ayahmu, Nak.

Maafkan mama yang baru sekarang memberitahu semua ini padamu. Mama tak mau membuatmu sedih bahkan marah pada orang tuamu yang mungkin saja menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Jangan marah pada mereka ya, anakku. Tolong pahami perasaan mereka yang tak mau kehilangan dirimu. Jangan marah sayang.

Ah, mama tak tahan lagi. Ayahmu pagi tadi datang menjemput mama. Maaf tak ada yang bisa mama berikan padamu selain surat ini. Jaga dirimu baik-baik ya. Maaf mama tak bisa menemuimu. Biarlah Tuhan yang menyampaikan betapa cinta dan rindu mama padamu. Dan semoga kita dipertemukan lagi pada saatnya nanti di surga-Nya.

 

                                                                                   Mama Maryam 

 

Sebuah momen melintas di pikiranku. Teringatku ketika tante menarikku dari Mama maryam dan ketika mama dan papa meneriakinya, di tengah keputusasanku dan ketidakmengertiaanku, Mama Maryam memberiku isyarat..

Tangan kanannya dengan kelingking yang tegak sementara keempat jari yang lain terlipat, menunjuk dada. Lantas kedua tangannya yang terkepal ia silangkan di bahu. Ditunjuknya aku dengan telapak tangan kanannya.

Aku ingat senyum itu terkembang, tulus….

Aku baru mengerti apa arti tanda itu: Aku sayang padamu, Faila.

*******

Editor: Putri Istiqomah priyatna

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
Tags:
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *