Kartunet menuju usianya ke-12, nantikan program-program seru dari kami!
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Hujan Tak Kunjung Reda

Sudah lima belas menit Aga berdiri di depan kelas, mengotak-ngatik soal trigonometri yang diberikan oleh Pak Anung─ Guru matematika yang selalu ditakuti siswa seperti Aga akan jurus matematikanya─ yang hanya berjumlah dua buah soal. Keringat yang membanjiri keningnya seakan-akan tak dapat surut.  

            “Aga, Aga” Nita berbisik, berusaha membantunya. Namun, Aga tetap tak bisa menolehkan kepalanya.

            Dua puluh menit pun telah berlalu. Namum, Aga tetap mengotak-ngatik soal itu dengan wajah pucat yang timbul karena mual yang mendera saat melihat kedua soal matematika itu. Suara bel pulang telah terdengar di kedua telinga Aga.

            “Thank’s God” ujarnya dengan memasang muka yang tak karuan lagi. Suara bel itu adalah satu-satunya pertolongan untuk Aga dari siksaan Pak Anung dengan soal matematikanya itu. Memang, Aga adalah salah seorang siswa yang sangat anti terhadap persoalan yang berhubungan dengan dunia matematika, terlebih soal trigonometri.

            “Karena kamu tidak bisa menyelesaikan contoh soal yang telah saya berikan, maka kamu harus mengerjakan semua latihan yang telah saya berikan tadi” ucap Pak Anung kepada Aga.

            “Yang mana Pak? Yang 50 soal itu?” Tanya Aga dengan tubuh yang semakin melemas.

            “Yang mana lagi, pokoknya kamu harus mengumpulkannya besok pagi” jawabnya dengan tegas. Belum sempat Aga angkat bicara, Pak Anung telah mendahuluinya,

“Tak ada alasan lain, atau saya tambah” seakan bisa membaca pikiran Aga.

            “Iya, Pak” Aga menjawabnya. Pasrah.

            “Sabar saja, Ga. Hidup itu memang tak pernah adil” Rudi berusaha mengejeknya.

            “Nikmati aja kencan dengan soal-soal matematikamu itu, Ga” ujar Doni sambil terpekik.

            “Alamat bunuh diri, nih” timpal Ridwan diikuti gelak tawa. Aga hanya bisa pasrah dan membalasnya dengan wajah lemas.

*****

Langit tak menampakkan wajah indahnya lagi, hanya awan mendung yang tampak dengan berusaha merebut posisi matahari. Aga berjalan tertatih-tatih dengan tubuh lemas, karena semua energinya telah habis termakan siksaan Pak Anung tadi.

            Jalan setapak yang biasa ia lalui pulang-pergi sekolah terasa sepi. Hanya ada dua ekor anak kucing yang saling mengejar satu sama lain dan diiringi embusan angin yang cukup kencang. Di tengah perjalanannya, dia dikejutkan oleh suara yang memanggil-manggil namanya di kejauhan. Saat dia membalikan badannya, dia melihat seorang gadis berpakaian baju SMA yang sedang barjalan tergopoh-gopoh menghampirinya. Setelah cukup dekat, dia mulai mengenali wajahnya. Ternyata wanita itu adalah Nita. Teman sekelasnya. Sekaligus teman yang tinggal tak jauh dari rumahnya.

            Terengah-engah Nita berusaha menyapa dan menghampiri Aga.

“Hai… Ga, pulang bareng, yuk!” ajaknya,

“Soalnya aku nggak ada teman, jemputanku lagi tak bisa datang” sambungnya.

“Oh… ayo cepat pulang, hujan akan segera turun” ujar Aga.

            “Ngomong-ngomomg, emang kamu sanggup mengerjakan soal sebanyak itu?” mulai mengajak ngobrol.

            “Sebaiknya kamu jangan membicarakan soal matematika itu jika kamu tidak ingim menggendongku sampai ke rumah” jawabnya ketus.

            Nita terpekik mendengarnya,

“Iya, iya, maaf, Ga. Bukan maksudku begitu, tapi tadinya aku ingin membantumu untuk menyelesaikannya. Itu pun kalau kamu mau”.

            Walaupun begitu, Aga tidak menjawab ataupun menerima tawaran dari Nita. Dia hanya bisa menjawab dengan memalingkan muka ketusnya. Mungkin itulah efek yang bereaksi sesaat setelah Aga mengerjakan soal matematika, pikir Nita.

            Di tengah ocehan Nita yang terus menawarkan jasanya untuk membantu menyelesaikan tugas milik Aga, tiba-tiba turun hujan yang cukup deras dengan diiringi suara petir dan angin yang kencang.

            Terpaksa Aga dan Nita pun berteduh di sebuah gubuk tua di pinggir jalan yang terdapat tepat di tengah-tengah perjalanan mereka.

“Ga, ini kan gubuk yang sering diceritakan itu?” Tanya Nita meringis ketakutan.

“Maksud mu apa, Nit?” Tanya balik Aga sambil mengernyitkan dahinya, bingung.

“Iya, gubuk ini katanya angker” jawabnya.

Hujan semakin deras, tidak ada tanda-tanda matahari akan menampakkan wajahnya lagi. Suasana sepi dan dingin menambah perasaan Nita semakin takut dan dia semakin mendekati Aga.

“Maaf, Ga. Bukan maksudku suka kepadamu saat aku mendekatimu, tapi aku takut” ujar Nita seolah-olah tidak ingin membuat Aga kegeeran .

Aga yang masih mual karena soal matematika tadi, kini merasa sedikit terobati saat Nita semakin mendekatinya. Suara gemuruh petir yang tak henti-hentinya membuat mereka semakin berlama-lama terdiam di gubuk sana.

Selang beberapa menit, mereka melihat seseorang yang berjalan pincang berpayungkan daun pisang dengan tergopoh-gopohnya menghampiri gubuk itu.

“Maaf, nek, bolehkah kami menumpang di sini?” tanya Aga kepada nenek tua itu.

“Ga, Ga sadar. Nenek itu bukan pemilik rumah ini” sambil mengernyitkan dahinya. Berbisik.

“Hus!, jangan ngomong sembarangan. Nenek ini adalah pemilik gubuk tempat kamu berteduh ini” jawabnya tegas.

“Memangnya ru….” Belum pun Nita selesai bicara, nenek tua itu memotong pembicaraanya.

“Silahkan masuk, mau berteduh di dalam?”

“Iya, nek, terimakasih” sambil memasuki gubuk itu.

“Eh… eh… ga… ga… tunggu” ujar Nita.

*****

“Kalau nenek boleh tahu, kalian tinggal dimana?”

            “Oh, kami tinggal di kampung dekat sini, kok” jawab Nita.

            “Maaf, nek, siapa nama nenek?” sambung Aga.

            “Nama nenek adalah Siti Maemunah, kalian boleh panggil nenek cukup dengan Mbok Siti aja” jawabnya.

            “Kenapa nenek tinggal di sini sendiri?” Tanya Nita penasaran.

            “Sebenarnya nenek bukan asli orang sini, nenek tinggal di sini karena terpaksa” jawabnya singkat.

            “Terpaksa? Maksudnya?”

            “Iya, dulu sewaktu nenek masih muda dan memiliki satu orang anak laki-laki, nenek ditinggal pergi oleh suami nenek dan dibiarkan begitu saja”

            “Mengapa suami nenek meninggalkan nenek begitu saja? Tidak punya rasa tanggung jawab!” emosi Nita mulai memuncak.

            “Iya, nek, kenapa?” sambung Aga. Penasaran.

            “Nenek nggak tahu kenapa, mungkin suami nenek merasa malu dengan fisik nenek yang cacat. Jadi, dia meniggalkan nenek. Nenek hanya bisa pasrah akan semua penderitaan yang datang kepada nenek. Dengan hidup yang serba kekurangan, nenek hanya bisa berdo’a dan menjalaninya tanpa putus asa” air matanya mulai mengalir.

“Suatu hari, pada saat anak nenek mulai menginjak usia dewasa, suami nenek dengan istri barunya datang ke rumah untuk mengambil surat tanah milik nenek, dan dia menjualnya”

            “Kurang ajar suami nenek! Orang macam apa yang telah membuat hidup nenek lebih menderita”  ujar Aga memotong pembicaraan nenek dengan suara lantang.

            “Sabar, Ga” sambil menarik bajunya. “terus bagaimana dengan anak nenek?” lanjut Nita. Antusias.

            “Anak nenek telah meninggal” suasana semakin haru.

            “Kenapa, nek?” Nita angkat bicara dengan air mata yang membasahi pipinya.

            “Dia mengidap penyakit SARS, karena nenek tidak mempunyai uang untuk mengobatinya. Ya, terpaksa dia hanya diam di rumah hingga ajal merenggut nyawanya”

            “Terus mengapa nenek bisa tinggal di sini?”

            “Nenek tinggal di sini karena nenek dikasihani oleh orang-orang desa sini”.

            “Sungguh tragis” sahut Aga.

            Aga dan Nita terus bertanya kepada Mbok Siti tentang masa lalunya hingga mereka larut dalam kesedihan cerita Mbok Siti. Dan mereka pun lupa akan waktu yang telah larut.

            Hujan masih belum reda, tapi mereka memutuskan untuk baranjak pulang.

            “Nek, kami pamit pulang” ujar Nita.

            “Terimakasih atas tumpangannya sambung Aga.

            “Kalian mau pulang? Ya, silahkan. Nenek takut Orang tua kalian sampi bingung mencari-cari kalian” jawab nenek.

            “Maaf, nek, kami tidak bisa berlama-lama di sini. Jaga diri nenek baik-baik, ya” lanjut Aga.

            “Iya, Den, Non”

            “Tidak, panggil kami Nita dan Aga saja” Nita memotong pembicaraan.

            “Oh iya, terimakasih telah berkunjung ke gubuk nenek”

            “Ya, sama-sama, nek” jawab mereka.

            Mereka pun mulai meninggalkan gubuk Mbok Siti.

*****

Waktu telah menunjukkan pukul 17.00 sore. Tapi, hujan belum kunjung reda. Di tengah perjalanan pulang, Nita terus memperhatikan Aga yang sedang melamun.

            “Hey, jangan melamun! Pasti kamu sedang membayangkan penderitaan nenek yang datang terus menerus bahkan sampai sekarang. Tetapi dia tetap bisa menjalani hidup ini tanpa kenal lelah” Nita menghela nafas dan melanjutkan.

“Soal tugas itu, kamu harus sangat bersyukur, kamu hanya diberi 50 soal matematika saja sudah kaya orang yang mau bunuh diri” ejek Nita kepada Aga.

            “Heh!, mulai. Tapi, soal matematikan tadi kamu sudah bilang akan membantu menyelesaikannya, benar ‘kan?” Aga mulai merayu Nita dan menagih janjinya.

            “Huh, waktu aku nawarin kamu diam aja. Sekarang, malah baru ngomong. Tapi,karena itu sudah terlanjur keluar dari bibir aku. Ya, aku bantu, deh” jawab Nita dengan senang hati.

            “Oke! Nanti malam aku datang ke rumah kamu” Mereka pun pulang sambil bercanda dan menghiraukan derasnya air hujan.

Garut, 17 Maret 2012

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *