Berapa banyak lagi belati yang menghujam?
Sampai kapan padik sayati relung jiwa?
Bulir putih ini terlalu banyak yang terjatuh,
Kadang membuat raga tak sanggup lagi untuk melaju.
Tanpa disadari, napas kehidupan terus berjalan,
Namun rasanya seperti melangkah menuju gerbang pintu larung yang dalam dan tiada akhir kedalamannya.
Ya Allah.
Tatkala pelangi terukir di bibirku,
Sesungguhnya itu adalah kegetiran yang tersembunyi.
Keindahan yang tampak justru menyimpan sejuta pahit di dalamnya.
Jauh
Tak terjangkau pandangan,
Tak teraba dalam terang dan gelap.
Ratusan purnama berlalu,
Ribuan jam telah menjadi saksi
Atas jatuhnya miliaran tetesan darah.
Aku tak pernah tahu kapan akhirnya akan tiba.
Ya Rabb, sudahi bilur ini.
