Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Musik Mendorong Perkembangan Anak Autis

Jakarta, Kartunet.com – Bicara soal musik, seperti nya kita akan setuju dengan pernyataan bahwa musik yang kita dengar akan mempengaruhi suasana hati di kehidupan kita. Ketika sedang sedih, kita cenderung mendengarkan musik-musik yang mellow. Sebaliknya , saat kita sedang gembira maka kita juga akan mendengarkan musik yang ceria dan bertempo cepat . Secara otomatis musik  membuat hari-hari kita bertambah ceria. Taukah Anda bahwa musik juga dapat mendorong perkembangan positif bagi penyandang autisme? Menurut penelitian, musik berperan sebagai rangsangan luar yang membuat anak nyaman karena tidak terlibat kontak langsung dengan manusia. Untuk para orang tua yang memiliki anak penyandang autisme dapat melakukan teori sederhana ini melalui. Terapi musik akan dirancang, dijalankan, dan dievaluasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Selama terapi anak akan dilibatkan dalam beberapa aktivitas seperti: mendengarkan musik atau kreasi musik, memainkan alat musik dan bergerak mengikuti irama musik sert bernyanyi.


 


Selain itu, terapi musik bermanfaat untuk membantu komunikasi verbal dan nonverbal. Terapi musik juga bisa membantu kemampuan berkomunikasi anak dengan cara meningkatkan produksi vokal dan pembicaraan serta menstimulasi proses mental dalam hal memahami dan mengenali. Terapis akan berusaha menciptakan hubungan komunikasi antara perilaku anak dengan bunyi tertentu.  Anak autisme biasanya lebih mudah mengenali dan lebih terbuka terhadap bunyi dibandingkan pendekatan verbal. Kesadaran musik dan hubungan antara tindakan anak dengan musik, berpotensi mendorong terjadinya komunikasi dan pemenuhan emosi.


 


Sebagian besar anak autisme kurang mampu merespon rangsangan yang seharusnya bisa membantu mereka merasakan emosi yang tepat. Karena anak autisme merespon musik dengan baik, maka terapi musik bisa membantu anak dengan menyediakan lingkungan yang bebas dari rasa takut. Dalam melakukan terapi ini, akan lebih baik melibatkan guru musik yang otomatis akan lebih mengerti prihal music.  Keterlibatan psikolog juga penting untuk mengukur tingkat kemajuan selama mengikuti terapi musik ini.


 


Ada dua tahapan pembelajaran musik anak autis, yakni tahap dasar dan lanjutan. Pada tahap dasar, anak autis cukup diberikan pengenalan nada saja. Misalnya: suara ketukan maupun bunyi-bunyian alat musik seperti drum. Setelah mengenal nada dasar, mereka akan masuk tahap lanjutan dengan diberikan musik yang lebih beralur seperti piano. Untuk sampai pada tahap lanjutan, tergantung keseriusan serta daya tangkap masing-masing anak autis. Agar usaha membangkitkan konsentrasi anak lebih cepat, sebaiknya mendatangkan psikolog untuk membantu pola berpikir. Oleh karena itu, tiap minggu ada pelayanan konsultasi psikologi yang dilakukan bagi anak autis.


 


Dalam pelaksanaan, kita akan menemui berbagai kesulitan, seperti anak autism  sering bertingkah aneh. Pasalnya, antara tindakan serta pikirannya sering tidak bisa menyambung. Saat pertaman kali  bermain musik, mereka akan marah-marah tanpa sebab, bahkan hingga menangis histeris. Semua itu respons dari anak autis melawan kesadaran mereka. Selama proses terapi sebaiknya ada dua guru yang menangani seorang anak autisme. Satu guru bertugas mengajar cara bermain musik, sedangkan satu guru lainnya memegang tubuh anak autis. Kalau tidak dilakukan dengan dua guru, bisa kerepotan. “Kalau tidak dua guru yang menangani, si anak autis bisa melompat-lompat dan main pukul. Jadi, mereka harus diarahkan dengan tindakan ekstra,” pungkasnya.


 


Selain itu, peranan orangtua juga menjadi faktor penentu keberhasilan anak autis menjalani hidup, baik dari pola kehidupan sehari-hari maupun ritme belajar yang dilakukan pada mereka. Jam tidur mereka harus dijaga. Perhatian orangtua dituntut bisa mengendalikan pola hidup anaknya. Kalau tidak, konsentrasinya bisa bubar. Dengan belajar musik, anak autis bisa menemukan konsentrasinya. Nada dan ketukan musik yang keluar dari piano dan drum mampu menembus arah pikirannya.


 


            Ingatlaah, proses terapi musik ini tidak instan seperti membalikan kedua telapak tangan. Diperlukan waktu yang cukup lama sampai menemui perubahan positif yang signifikan. Oleh karenanya, seperti yang sudah dijelaskan di atas, peran orangtua, keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh besar bagi perubahan positif anak autism memalui terapi musik ini.(Nir)


Editor:Risma

Mengenal Fatinah Munir

Fatinah Munir adalah wanita kelahiran Jakarta 21 Februari 1992 dengan nama asli Lisfatul Fatinah. Calon guru yang senang dipanggil Fatinah ini sedang menyelesaikan kuliahnya di Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta. Keinginannya untuk bisa bermanfaat dan mengispirasi bagi banyak orang membuat Fatinah mendirikan Komunitas Peduli Anak Jalanan (KOPAJA) dan aktif mengajar anak-anak pemulung dan dhuafa di Kebayoran Lama dan Rawamangun. Wanita pemimpi yang gemar backpacking ini menseriusi ketertarikannya pada dunia literasi sejak 2010 dengan menjadi bagian dari keluarga besar Forum Lingkar Pena untuk cabang Ciputat dan saat ini bergabung di Forum Lingkar Pena Wilayah Jakarta Raya sebagai Sekretaris Jenderal (2013-2015). Fatinah pernah bekerja sebagai reporter di Majalah Muzakki dan Media Hikmah. Sampai saat ini menjadi kontributor di kartunet.com. Bagi yang ingin bersilaturahim dengan Fatinah bisa melalui www.fatinahmunir.blogspot.com, surat elektronik [email protected], Facebook Lisfatul Fatinah Munir, dan twitter @fatinahmunir.

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *