Kartunet menuju usianya ke-12, nantikan program-program seru dari kami!
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Musuh berhati malaikat

Tak pernah terbayang dibenakku, sosok yang paling kubenci kini berada disampingku dengan tawanya dan keadaan tak sesempurna dulu.

Tak pernah terbayangkan dibenakku, sosok yang berkuasa, kini merangkul erat di sampingku..

Dan tak pernah terbayangkan dibenakku, bahwa seseorang yang kuanggap musuh ternyata berhati malaikat.

 

Namaku, Aqilah. Siswi yang tengah duduk di bangku kelas 3 SMA yang kini sibuk dengan UN. Aku tak tahu sejak kapan aku mulai dekat dengan Nurul, teman sewaktu TPA dulu. Dia lebih tua setahun dariku, dia sosok yang cerdas sebab riwayat prestasi di sekolahnya tak pernah menyimpang dari juara 3 besar sebelum dia mendapatkan cobaan dari Allah. Dan aku pun tak tahu sejak kapan aku mulai menyenanginya.

Aku bertemu Nurul kembali saat aku memutuskan untuk bergadung dalam sebuah organisasi Islam di dekat rumahku. Dan sejak itulah, aku mulai menjalani cerita hidup yang baru, termasuk berteman dengan para disabilitas termasuk Nurul.

UN SMA lebih dulu dilaksanakan dari UN SMP dan UN SD. Oleh karena itu, aku mempunyai cukup waktu untuk memenuhi permintaan Nurul didampingi mengisi lembaran jawaban UN, karena keterbatasannya kini.

Awalnya aku ragu, sebab ini pertama kalinya aku mendampingi seorang tuna netra. Selama perjalanan di sekolah, pikiranku tak hentinya memikirkan bagaimana caraku menyampaikan maksud soal dengan Nurul, padahal sebelumnya aku hanya membacakan soal untuk diriku sendiri jika ulangan.

“ Qila, mungkin nanti aku agak bawel yah, tapi kamu jangan khawatir, kamu cukup bacakan saja, nanti aku yang jawab.” Ujar Nurul membaca kegelisahanku. Meskipun begitu, tetap saja perasaanku tetap ragu, apa aku bisa atau tidak?

Tepat pukul 07.30 WITA, Ujian Nasional dengan Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di mulai. Aku sempat mengamati sekelilingku. Ada empat siswa termasuk Nurul yang tengah mengikuti ujian nasional beserta empat pendamping termasuk aku. Dan aku yang termuda di antara mereka, karena dua pendamping adalah anak kuliahan yang nampaknya sudah hampir selesai. Dan para guru  kebanyakan ibu-ibu, umur mereka sekitar 30an. Gurunya pun sangat memaklumi keadaan mereka. Seketika aku kagum dengan para guru SLB yang dengan sabar mengajari mereka hingga kelas 3 SMP. Tentu saja, mengajar tuna netra akan jauh lebih susah dibanding mengajar anak yang normal.

Aku masih disamping Nurul, beberapa soal aku biarkan Nurul yang mengerjakannya, dan sisanya, aku coba untuk menjawab tanpa sepengatahuannya. Aku beberapa kali melirik ke arah teman Nurul yang lain, hanya Nurul yang perempuan, sedangkan ketiga temannya laki-laki. Mereka serius dengan mencakar dengan tulisan yang sama sekali tak kumengerti, dan kadang berpikir keras untuk mencari jawabannya dengan pikiran mereka. Aku merasa malu sendiri, melihat semangat mereka untuk menerjakan soal UN, tanpa atau dengan bantuan, setidaknya mereka selalu berusaha semaksimal mereka. Jika aku melihat di sekolahku, dan beberapa anak SMA lain yang lebih beruntung dari mereka, yang selalu mengharapkan kunci jawaban entah dari mana, dan dengan cara apa mereka mendapatkannya, tanpa berusaha belajar dan memaksimalkan berusaha sendiri untuk menjawab soal padahal mereka mampu untuk itu.

Tuna netra atau penyandang disabilitas yang lain harus melakukan usaha dua-tiga-empat bahkan tak terhitung kalinya lebih keras dari mereka yang normal. Lantas mengapa kita yang normal menyia-yiakan kesempurnaan kita untuk melakukan hal yang sia-sia? Itu juga teguran keras bagi diriku karena sampai saat ini belum bisa menghasikan sesuatu yang berguna.

Tepat pukul 09.30 WITA. Lembar soal dan jawaban telah dikumpulkan. Aku pun menuntunnya untuk ke koridor sekolah dan duduk di salah satu sudutnya. Nurul tepat berada di samping kananku, sedang duduk dan bercanda-canda dengan temannya yang sama-sama telah menyelesaikan soal UN saat ini.

Melihat Nurul yang kini berada disamping kananku, ingatanku kembali pada masa saat di TPA dulu. Sikapnya yang begitu angkuh bersama teman-temannya, dengan kecerdasan dan ayah yang seorang Imam mesjid di TPA, membuat dirinya bak ratu yang bersinar, dan aku sangat menbencinya. Iri? Entahlah, yang jelas aku membencinya. Membencinya disaat dia menyuruh yang lebih muda darinya, membuat heboh suasana dan gayanya bersama teman-temannya yang menurutku terlalu berlebihan. Dan akhirnya aku pun memutuskan untuk berhenti.

“ Qila,..” Suara Nurul membuyarkan lamunanku. “ Aku senang banget karena kamu mau dampingi aku UN hari ini. Makasih yah.” Lanjut Nurul dengan senyum bahagia.

“ Ohh..iya.. sama-sama. Aku juga senang bertemu teman-teman kamu.” Ujarku asal, entah itu nyambung atau tidak.

“ Qil, kita pulangnya nanti aja yah. Aku lagi nunggu tukang bakso. Baksonya enak banget loh.” Ujar Nurul saat aku hendak mengajak Nurul pulang

“ Kamu kan dilarang mami makan bakso, Nurul?” Selidikku. Mami sebutan akrab dari mamanya Nurul yang sekaligus menjadi orang tua di Irmani (Organisasi Islam di dekat rumahku)

“ Mm.. aku Cuma makan mienya doank. Tapi katanya teman-temanku, baksonya enak. Kamu suka bakso,kan?”

“ Ooh.. Iya..” Hanya itu yang aku katakan. Aku masih agak canggung untuk berbicara akrab dengannya. Masih ada sisa masa lalu yang membuatnya terasa ganjil.

Aku masih sibuk mengamati sekeliling. Melihat orang yang sama-sama tuna netra saling berpegang bahu, dengan yang didepan membawa tongkat petunjuk arah. Mengamati keadaan lab komputer, terdapat enam unit dan semuanya bisa bicara, melihat ruang band, ada dram, gitar, keyboard, dan bas  seadanya, melihat ruang aula sekaligus tempat bermain tenis meja ala kaum tunanetra, melihat ruang kantor yang sederhana dan seadanya. Dan sayangnya, aku tak sempat menenggok asrama putri, sebab adzan dhuhur telah berkumandang dengan muazzim seorang tuna netra, namun suaranya sangatlah merdu.

“ Kamu tahu Qila, disini pertama kali aku tahu dan mencoba membuka tujuan hidupku yang baru.  Mungkin karena aku merasa tidak sendiri.” Ujar Nurul usai shalat. Aku yang masih memakai mukenah, hanya diam dan mencoba untuk memahami perasaan Nurul dengan keadaannya.

“ Mereka sama denganku, tapi mereka tak pernah menganggap diri mereka ada kekurangan. Memang, mereka mengakui keterbatasan tidak bisa melihat, tapi mereka selalu merasa diri normal. Berprinsip, dia bisa, mengapa aku tidak bisa. Aku banyak belajar dari mereka. Aku merasa menemukan keluarga baru di sini, bersama mereka. Dan sekarang, aku sudah sedikit mengerti dengan tanggapan mereka bahwa mereka normal, mereka bisa melakukan yang mereka cita-citakan. Kebutaan bukanlah alasan berputus asa, namun berusaha lebih keras lagi untuk mengapai cita-cita.Dan kini, aku pun memiliki semangat itu.”

Seketika hatiku serasa merasakan kobaran api yang membara dalam semangat Nurul, mungkin bukan saja Nurul, tapi teman-teman tuna netra yang lain yang mempunyai visi yang sama yaitu mewujudkan mimpi, seburuk apa pun kondisi mereka saat ini, seburuk apapun orang memandang mereka, itu bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk mewujudkan mimpi. Aku lagi-lagi malu dengan mereka. Semangat mereka yang sangat menginspirasi. Teringat video dalam semua acara motivasi sekolah yang menayangkan para disabilitas yang mampu mematahkan kemustahilan dengan keterbatasan mereka. “ Mengapa mereka yang disabilitas yang harus menyadarkan kita tentang kehidupan?” tanyaku dalam hati dengan perasaan yang sangat malu. Tak kusadari, dua tetes air mata keluar, aku segera mengusapnya.

Jujur, awal aku datang kesini, aku takut, aku sempat merasa ngeri dengan berbagai kondisi fisik mereka, ada juga perasaan ibah, kasian, namun semua itu berbalik ke padaku, ketika aku mulai mencoba berbincang dengan Nurul dan teman-temannya, mulai memahami mereka, mulai menjadi bagian mereka, bahkan aku sadar, aku lah yang harusnya malu pada mereka, aku harusnya yang kasian dengan diriku sendiri yang selalu menyerah, dan melakukan hal yang sia-sia, padahal mereka harus dua-tiga-empat atau tak terhitung kalinya lebih bekerja keras untuk meraih mimpi daripada aku yang masih diberi penglihatan meskipun menderita rabun jauh.

“ Tapi Qila, tak bisa dipungkiri, kadang aku mengeluhkan keadaan ini, dari lubuk hati yang paling dalam. Apalagi kadang aku merasa ada diskriminasi.” Ujar Nurul ragu. Aku pun tak tahu harus berkata apa padanya, aku tidak berada di posisi dia, bahkan jika itu terjadi padaku, mungkin aku tak mampu sekuat Nurul.

“ Yang ku tahu, Nurul, Kamu dan teman-teman kamu adalah orang yang kuat. Dan aku malu dengan semangat kalian. Percayalah,, takdir Allah lebih indah dari pada skenario manusia, Nurul. “ Ujarku mencoba ceria walaupun hatiku sedih ikut merasakannya.

“ Iya Qil, keluhan itu juga sendirinya buyar, saat aku bertekad untuk membahagiakan mami-papi, aku juga pengen menjadi seorang penulis. Sepertinya tak ada gunanya mengeluh kan, Qil?” Ujar Nurul kembali bersemangat. Aku hanya tersenyum dan mengangkat kedua jempolku untuknya meskipun dia tak dapat melihatnya.

“ Nurul, katanya mau makan bakso bareng Aqilah, tukang baksonya udah ada tuh..” ujar Firdaus, teman Nurul yang tuna netra. Aku segera melipat mukenah, dan bergegas menuntun Nurul keluar sekolah untuk menghampiri tukang bakso yang Nurul maksud tadi.

Tepat pukul 16.00 WITA, aku dan Nurul berpamitan dengan guru-guru serta teman-teman Nurul untuk pulang. Perjalanan dari sekolah Nurul dengan rumahku dan Nurul mungkin memakan waktu sekitar satu jam.

“ Dia buta?” tanya salah satu penumpang angkot saat aku baru saja menyandarkan pantatku di pojok mobil angkot dengan Nurul yang berada di samping kiriku.

Aku yang ditanya seketika bingung harus jawab apa. Aku takut kalau perkataanku nanti menyinggung Nurul. Aku mengerutu dalam hati, ‘ mengapa tante ini harus bertanya hal yang sensitif seperti itu,sih?’

“ Iya, saya buta.hehe..“ Ujar Nurul lantang. Aku agak terkejut dengan jawaban Nurul. Ketawa Nurul serasa mengisyaratkan ketidaksukaan namun harus berusaha untuk PD, yah itu anggapanku.

“ Buta kenapa temannya,de?” Ujar tante itu setengah berbisik. Aku lagi-lagi bingung harus menjawab apa. Dan sepertinya  pendengaran Nurul lebih tajam, hingga bisa mendengar jelas pertanyaan tante itu.

“ Saya buta karena sakit, tante. Lebih tepatnya, tumor otak.” Jawab Nurul, lagi-lagi dengan suara lantang tapi kali ini dengan nada yang lebih bersahabat.

Aku pun hanya melempar senyum pada tante itu, dan mengangkat sedikit telapak tangan kanan yang terbuka, berharap tante tersebut tidak menanyakan hal yang lebih sensitif lagi. Dan sepertinya tante itu memahami bahasa isyaratku, hingga ia pun terdiam, walaupun masih memandangi Nurul dengan tatapan selidik.

Sejam berlalu, kami pun telah sampai di rumah Nurul. Aku segera menuntut Nurul ke kamar Nurul. Aku segera membaringkan badan di tempat tidur nurul yang sebagiannya telah dipenuhi oleh boneka.

“ Qil, yang waktu di angkot, kamu ngga’ usah merasa bingung kayak gitu.” Ujar Nurul sambil bergantai pakaian.

“ Maksudnya,?” Tanyaku tak mengerti dan ngga’ mau mikirin soalnya mataku serasa mau tidur.

“  Yah.. kamu kan tadi di tanya, apa aku buta? tapi kamu malah diam, yah, aku ngerti sih, kamu mau jaga perasaan aku,kan?” Ujar Nurul menduga-duga.

“ Iya, aku takut salah ngomong, kan kamu tahu sendiri, kadang aku ceplas-ceplos ngga’ sadar ternyata orang terseinggung dengan omonganku, makanya aku bingung mau jawab apa tadi.” Jelasku membenarkan dugaan Nurul.

“ Itu udah pertanyaan biasa lagi,Qil. Aku sudah beberapa kali ditanya hal seperti itu, jadi kamu ngga’ perlu bingung untuk bilang iya. “ Ujar Nurul santai agak tertawa

“Kamu santai banget Nurul, padahal itu hal yang sensitif?” Tanyaku heran

“Emangnya orang buta itu orang hina kah, Qila? Emang kenapa kalau aku buta? Setidaknya orang buta masih lebih terhormat daripada orang yang koruptor atau orang kriminal. Lagian, buta bukan berarti tidak bisa melakukan apa yang orang normal lakukan kan,Qil. Terus kenapa harus malu mengakui diriku buta?” Jawab Nurul Aku pun mengengguk tanda sepakat dengan perkataan Nurul.

Nurul benar, buta bukan berarti hina, buta bukan berarti lemah, karena mereka pun mampu melakukan apa yang orang normal lakukan dengan cara mereka sendiri. Dan belajar dari Nurul beserta teman-temannya bagiku merupakan pendidikan hidup. Sebab, ketegaran dan semangat mereka untuk hidup, baik itu dalam menempuh pendidikan di SLB, dalam bergaul serta dalam mengapai cita-cita. Dan aku bersyukur, karena bisa mengenal dan menjadi bagian dari mereka.

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
7 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *