Kartunet menuju usianya ke-12, nantikan program-program seru dari kami!
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Nenekku Pahlawanku

Malam ini sedikit panas dan begitu melelahkan. Malam ini menjadi saksi lahirnya seorang anak kembar mungil yang tak tahu apa-apa. Pikiran berguncang kesana kemari menambah beban hidup. Suara tangisan bayi kembar itu tak henti-hentinya berkumandang keras menyiratkan sesuatu.

 

“Bu, kami titip Bobby sama ibu. Kami akan kembali setelah Mas Fadil menerima Bobby apa adanya. Aku hanya akan membawa Kenny bersamaku.” Katanya kepada sang ibu.

 

Ia pergi meninggalkan gubuk rapuh itu. Hanya tinggal seorang wanita tua bersama dengan bayi yang tak berdaya itu.

 

***

 

“KRIPIK..KRIPIK..KUE BASAH..KRIPIK..KUE..KUE” Teriak nenek yang ada di sampingku.

 

Kami berjalan meninggalkan rumah ke keramaian kota. Kami berjualan beberapa kue basah dan juga
kripik yang kami buat sendiri. Aku memegang kantong plastik hitam berisi kripik-kripik dagangan kami. Sedangkan nenek menjunjung kue-kue basah di kepalanya dengan satu tangan. Dan tangan yang lain memegang diriku.

 

 

Aku hanya tinggal berdua dengan nenek. Kehidupan kami tampak sempurna. Nenek seorang yang penuh dengan canda dan tawa. Ia adalah semangat hidupku. Aku tak pernah mendengar sedikitpun kata-kata frustasi terucap dari mulutnya. Aku menganggapnya sebagai pahlawanku. Aku terinspirasi dari lagu Band Wali yang judulnya ‘NENEKKU PAHLAWANKU’. Itu adalah lagu kesukaan kami berdua. Itu bukan hanya sekadar julukan. Ia memang benar-benar pahlawan bagiku.

 

Aku tunanetra total, jadi tak dapat melihat apapun. Nenek pernah bercerita padaku bahwa orang tuaku telah meninggal dunia. Tapi hingga sekarang aku masih tidak percaya. Aku merasa bahwa orang tuaku telah membuangku. Aku pernah mendengar cerita dari tetangga yang mengatakan bahwa aku memiliki saudara kembar yang tinggal di kota.

 

Memang aku tak memiliki orang tua dan tak bersekolah. Bukan berarti aku tak memiliki pengetahuan mengenai kehidupan. Ia mengajariku untuk dapat melihat. Bukan dengan mata harfiah tapi melalui indra lain. Ia mengajarkanku untuk hidup mandiri dan tak tergantung orang lain. Ia juga mengajarkanku untuk membuat kripik singkong, membantunya memasak, mengupas bawang dan mengerjakan tugas rumah. Yang paling penting, ia mengajarkanku nilai-nilai moral dan tata krama. Nenek adalah segalanya bagiku.

 

Aku harus berfokus pada jualanku. Kantung plastikku masih terisi penuh. Membawa kantung ini membuat tanganku terasa keram dan kesemutan.

 

Hari juga semakin panas, membuat kami kehilangan energi dengan lebih cepat. Nenek masih berteriak keras. Aku bisa memahami perasaannya dari suara yang ia ucapkan. Suaranya masih terdengar bersemangat. Itulah yang aku salutkan dari nenek. Baginya hidup itu indah dan tak ada yang perlu disesalkan. Baginya bersyukur adalah prioritas utama. Dari dulu hingga sekarang itulah yang masih ku pegang. Tak perlu ia berkata banyak untuk menasehatiku. Aku bisa merasakan dari tingkahnya yang mencerminkan pelajaran berharga. Aku banyak belajar darinya. Jika tanpa dia aku tak akan mampu menghadapi ejekan menyakitkan dari orang-orang bahkan dari para tetangga kami. Apalagi menerima kenyataan atas kekuranganku ini.

 

“Bob, kita duduk di sini saja!” Kata nenek.

 

Sepertinya kami telah sampai di pasar kota. Tak ada yang membeli jualan kami sepanjang perjalanan tadi. Semoga ada banyak yang akan membeli di pasar rakyat ini.

 

Tak lama kami menunggu, orang-orang mulai mendekati kami. Aku dapat mendengar suara nenek yang sedang tawar menawar dengan para pembeli. Aku merasa sedikit lega mendengar itu. Aku berharap agar jualan ini laku semuanya sehingga kami dapat pulang lebih awal.

 

Aku mendengar suara rengekan seorang anak kecil yang meminta kue kepada ibunya. Ia menangis sejadi-jadinya karena kemauannya tidak dituruti. Aku merasa sedikit geli mendengarnya. Dengan terpaksa, sang ibu menuruti kemauan anaknya dan membeli kue serabi untuknya. Dalam hati ku berkata terima kasih padanya.

 

“Bob, kita makan siang kue saja ya!” Kata nenek.

 

“Nenek, masa kue lagi? semalam juga kue, sekarang masa kue juga? Bobby mau nasi!” Tangapku dengan kesal

 

“Ia, tapi uangnya kan sayang Bobby! Kan bisa kita pergunakan untuk yang lain yang lebih penting!” Jawab nenek halus

 

“Nenek…Bobby bosan!”

 

“Ya sudah, ini yang terakhir!” Kata nenek membujukku.

 

Ku tak menjawab lagi. Aku begitu kesal, aku hanya diam dan tak berkomentar apapun tentang itu. Ku memakan kue itu dengan kasarnya tanda perlawananku. Memang aku tak pernah membantah padanya seperti saat ini. Tapi kali ini aku ingin agar permintaan ku dituruti.

 

Sudah lama menunggu dan keripik jualan kami tak habis semua. Kripik kami tinggal setengah kantung lagi. Nenek memutuskan untuk pulang karena badannya terasa pegal dan begitu lelah. Kami berencana tuk menjual keripik yang sisa ke kedai-kedai kecil yang ada sepanjang perjalanan pulang.

 

“Ayo Bobby, nenek merasa begitu lemas!” Nenekpun beranjak dari tempat duduknya. Kami berkemas dan berjalan pulang ke arah rumah. Beberapa kedai telah kami lewati. Kami terpaksa menjualnya dengan harga miring agar cepat laku.

 

“Duduk sebentar Nek, capek!” Kataku. Kakiku terasa pegal dan tak sanggup jalan lagi.

 

Masih ada sisa sedikit keripik di kantung plastik ini. Mungkin sekitar 12 buah keripik lagi di dalamnya.

 

“Tunggu sebentar, kita duduk di situ saja!” Kata nenek.

 

Nenek perlahan-lahan membantuku untuk duduk. Aku merasa bahwa ini adalah tangga-tangga kecil. Nenek tak lupa akan kebiasaannya, ia bercanda halus mengurangi rasa sakitku. Canda tawanya adalah simbol bahwa ia tidak sedang dalam keadaan sedih. Situasi hening. Sepertinya nenek sedang menghitung hasil jualan yang kami dapatkan hari ini.

 

“Ada banyak nek?” Tanyaku

 

“Hari ini pendapatan kita lumayan. Nanti nenek akan belikan kamu nasi bungkus yang enak!” Kata nenek.

 

Mendengar perkataan tulusnya itu membuatku sedikit terharu. Ia ternyata begitu sayang padaku. 

 

“Ayo kita jalan lagi!” Kata nenek. Ia menuntunku untuk berdiri setelah lama beristirahat. Kami pun melanjutkan perjalanan kami dengan berjalan kaki.

 

Belum lama kami berjalan tiba-tiba suara gertakan terdengar. “Aw” Nenek menolakku keras hingga ku terjatuh jauh dari tempat ku berdiri tadi. Ia kemudian menjerit dengan kuatnya. Suara decitan rem terdengar kuat dari arah depanku.

 

“Dasar nenek tua!” Teriaknya.

 

Terdengar suara sangar membentak diselingi dengan suara berat sepeda motor yang berlari kencang.

 

“Nenek..” Teriakku, aku tak dapat mengetahui keberadaannya. Aku langsung berdiri dari tempat itu. Suara orang-orang di sekelilingku membuatku ketakutan.

 

“Nenek, apa yang terjadi?” Kataku lagi tetap tanpa jawaban. Aku mendengar suara orang-orang berlari dengan kencang. Beberapa ada yang menyenggolku dengan tidak sengaja.

 

“Apa yang terjadi?” Tanyaku lagi. Ku menggerakkan tangan kiriku seperti sedang meraba dan yang lain memegang tongkat. Ku mencoba berjalan kearah depan. Suara nenek tak terdengar lagi. Apakah nenek tabrakan? Aku ketakutan. Yang ada di otakku hanyalah kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi.

 

” Ada apa?”

 

“Apa yang terjadi?”

 

“Bagaimana nenek itu?”

 

“Siapa yang melakukannya?”

 

“Ayo bawa dia..Cepat!”

 

“Ada yang melihat nomor plat BK perampok itu?”

 

“Kasihan sekali nenek itu!”

 

Suara-suara orang sekitarku terdengar jelas dan menakutkan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan nenek?

 

“Apa yang terjadi pak?” Kataku merasakan genggaman tangan memelukku.

 

“Ayo dek, ikut bapak” Katanya.

 

“Ada apa pak? Kemana?” Tanyaku lagi.

 

“Nenek itu kecelakaan. Tadi dia mau nolong adik yang hampir ditabrak oleh dua orang preman jalanan yang mengambil uang nenek itu. Adik anaknya?” Tanyanya.

 

 

“Nenek!” Teriakku begitu histeris. Kakiku keram, jantungku berdetak kencang, aku tak bisa membayangkan kemungkinan buruk itu. Aku tak dapat menahan tangis. Nenek, mengapa bisa begini? Siapa yang akan menjagaku? Aku langsung berpikir mengenai kemungkinan terburuk.

 

Bapak itu menuntunku memasuki sebuah ruangan cukup kecil dan pengap. Mungkin ini sebuah mobil. Ku meraba dengan tangan untuk mengetahui apa yang ada di depanku. Ternyata nenek terlentang lemah dan tampak mengkhawatirkan. Jantungnya masih berdetak tetapi begitu lambat. Berkali-kali ku memeluk dan menangisi dirinya. Sepertinya dia tidak sadar. Cairan-cairan ketal melekat di tanganku membuatku risih. Mereka membawa kami ke rumah sakit terdekat. Dengan sigap, mereka menurunkan nenek dan membantu menuntunku. Ku dapat membayangkan sebuah roda berputar kencang ke arah sebuah ruangan. Mungkin nenek sekarang sedang dibawa untuk segera ditanganni. Semoga dia baik-baik saja.

 

Seseorang membantuku untuk berjalan. Kini ia menyuruhku untuk menunggu. Cukup lama aku duduk di kursi ini. Aku tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Andai saja aku dapat melihat, pasti semua kejadian ini tidak akan seperti ini. Ini semua salahku.

Aku merasa frustasi dan tak berguna. Apa aku ini sebuah kutukan? Hidupku dipenuhi dengan kesialan. Bagi diriku, orang yang kusayangi, ataupun orang yang sama sekali tak ku kenal. Mereka menganggapku seperti sebuah aib yang najis. Aku tak mengerti kejadian ini.

 

Lalu seseorang sepertinya keluar dari dalam ruangan yang ada di dekatku. Apa itu nenek? Ku mencoba mencari arah dari pendengaranku.

 

“Maaf, apakah anda anak nenek itu?” Kata seseorang dengan nada lembut. Ia memegang tanganku. Sepertinya suara perempuan. Tapi siapa?

 

“Bukan, saya cucunya. Anda siapa?”

 

“Saya dokter,” Belum selesai ia mengucapkannya, ku langsung memotong perkataan itu,

“Bagaimana nenek dokter? Apa sudah bisa pulang?” Tanyaku. Terdengar suara hembusan napas keras dari dirinya.

 

“Maaf, kami sudah berusaha, tapi..” Ia beberapa detik menghentikan ucapannya.

 

“Tapi, apa?” Kataku lagi memotong percakapannya.

 

“Nenek telah tiada!”

 

“Haaaa..” Aku tak dapat membendung kesedihanku lagi. Aku menyesal telah membantahnya siang tadi.

 

“Nenek..” Tangisanku tak akan berhenti.

 

 

Sang dokter itu sepertinya masih berada di dekatku.  Ia tiba-tiba berkata,

 

“Tunggu, kamu dapat dari mana kalung itu?” Ia sepertinya menunjuk pada kalung yang ku kenakan di leherku.

 

“Kalung? Ini pemberian almarhum ibuku..”

 

“Ibu?” Kata sang dokter perempuan ini memotong penjelasanku.

 

“Aku juga memiliki kalung yang mirip dengan milikmu. Namaku Kenny.”

 

Tangisan ku berhenti. Ku berpikir keras. Otakku seperti ingin mencari logika jawaban. Tapi apa? Apa ini penyelamatan nenek yang terakhir padaku? Apa ini pertolongan terakhirnya? Ku diam membisu. Yang ada di benakku hanyalah, ‘Siapa perempuan ini, yang memiliki kalung yang sama denganku?’

 

 

Editor: Putri Istiqomah Priyatna

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *