Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Pengetahuan dan Ide teknologi untuk Disabilitas

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Keberadaan teknologi cukup membantu baik orang normal maupun yang disabilitas. Disabilitas disini mencakup fisik dan atau mental.

Pertama, kita akan membahas mengenai teknologi untuk disabilitas fisik yang akan diawali dengan dari tuna netra, disusul tuna rungu, dan tuna daksa.

Tuna netra cukup terbantu dengan adanya teknologi yang menciptakan : alat peraga untuk pelajaran sekolah seperti bangun ruang, huruf braille untuk buku-buku pelajaran dan Al-Qur’an, talking scanner untuk membaca kertas atau buku, JAWS untuk membaca, mengoreksi ejaan, menulis dengan menggunakan media seperti handphone dan laptop atau netbook atau ipad, jam braille, jam digital yang beraudio. Itulah teknologi yang saya ketahui sudah ada di Indonesia.

Selain itu, sebuah teknologi lahir dari ide dari kewarganegaraan Indonesia yang bernama Muchammad Adip bersama teman-temannya menciptakan Combo Cane, Combo Cane adalah sebuah tongkat yang dilengkapi dengan GPS dan navigasi yang berfungsi layaknya aplikasi yang digunakan pada mobil sehingga membantu tuna netra untuk mengingat jalan.

Sedangkan di negara lain seperti salah satunya di Jepang, teknologi sangat membantu karena setiap lokasi ada jalan braille yang berwarna kuning yang juga menjadi batasan untuk antri kereta bagi yang masih dapat melihat. Disana juga ada guilding block untuk menuntun tuna netra.

Namun, diantara sekian teknologi itu ada yang masih perlu dikembangkan yakni JAWS dan Combo Cane. Hal ini dikarenakan JAWS masih belum bisa membaca gambar dan Combo Cane yang masih belum bisa digunakan karena sturktur geografis Indonesia serta belum bisa menopang dengan baik khususnya bagi tuna netra yang berusia lanjut.

Terus, ada teknologi ABD yang membantu untuk mendengar bagi orang penyandang disabilitas yang dikenal dengan tuna rungu. Namun, alat ini perlu dikembangkan lagi. Hal ini dikarenakan masih sulit dan bingungnya pengasuh dalam berkomunikasi karena ucapannya masih belum diterima dengan baik.

Lalu, ada teknologi berbentuk baju robot yang bernama rewalk membantu berdiri, berjalan,naik tangga bagi penyandang disabilitas tuna daksa (pengguna kursi roda) yang bisa menggunakan tangan dimana teknologi ini sudah ada semenjak tahun 2006. Rewalk menopang kaki pengguna dan memiliki mesin penggerak di pinggul yang sudah teruji di Philadelphia pada 14 orang.

Kemudian, sebuah tayangan berita di televisi diketahui bahwa ada teknologi dimana sebuah kursi roda dibuat untuk berjalan ke beberapa daerah di Indonesia. Kursi roda ini merupakan modifikasi dari teknologi yang sudah ada dimana tangan bisa menggerakkan alat kendali yang ada di kursi roda tanpa harus mengayuh kursi roda dengan menggunakan kedua tangan.

Kedua, keberadaan teknologi juga membantu disabilitas mental karena dengan itu tercipta obat. Namun, disini masih perlu untuk dikembangkan lagi. Hal ini dikarenakan masih banyaknya keluhan mengenai obat dan gonta-ganti dokter. Dan untuk mengembangkannya dapat diadaptasi sesuai dengan hukum adat dan aturan yang berlaku sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.

Lalu, ada juga teknologi untuk mengatasi phobia yang diciptakan oleh Universitas Gunadarma dan orang di Jepang.

Terus, ada lagi teknologi untuk mengatasi kecanduan game dengan menggunakan game dan perpaduan ilmu psikoanalisa.

Terakhir, aku sebagai penulis memiliki sebuah ide mengenai game untuk disabilitas dengan mengombinasi dengan ilmu psikologi positif yang bisa banyak membantu, salah satunya adalah untuk menangani hode (istilah dalam game yakni seorang perempuan bermain menjadi karakter laki-laki dan seorang laki-laki yang bermain menjadi karakter perempuan).

Sumber :
Anonim
http://hadiantiramadhani.wordpress.com/2012/10/24/pelajaran-berharga-dari-negeri-sakura/
https://www.kartunet.com/tongkat-pintar-ini-bantu-tunanetra-mengingat-jalan-4306
http://www.kaskus.co.id/post/53125adc18cb1782058b4569
http://www.youtube.com/watch?v=H1ul0zYEeFI
Iakatan Psikologi Klinis (IPK)
Komunitas perduli Skizofrenia Indonesia (KPSI)
Tayangan Televisi

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *