MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS

Review singkat, Novel Bunga di Batu Karang

Terakhir diperbaharui 12 bulan oleh Redaksi

Review Singkat novel Bunga di Batu Karang
Ditulis : Akbar AP.

sejujurnya ini adalah tugas untuk kegiatan literasi madrasah saya, tapi saya ubah sedikit untuk bisa disajikan di depan umum. Semoga bermanfaat dan selamat membaca!

Kesan dan Gambaran Singkat :
Hal yang paling saya ingat ada pada halaman yang mengisahkan tentang perjuangan Raden Ayu Galih Warit dengan cara yang tidak sewajarnya. Dengan melacurkan diri pada perwira-perwira Belanda, putri Pangeran Sindu Rata dan istri Senapati Agung Surakarta Pangeran Rana Kusuma ini dapat mengetahui informasi penting seperti rencana penumpasan pasukan Pangeran Mangku Bhumi dan Raden Mas Said. Informasi penting ini disampaikannya pada Raden Juiring dan kedua saudara seperguruannya yang menjadi petugas sandi Pangeran Mangku Bhumi.

Perjuangan dengan cara yang kotor ini dilakukan Raden Ayu Galih Warit sebagai bentuk ppenyesalan terhadap ketamakannya di masa lalu karena benda-benda yang dihadiahkan oleh para perwira Belanda. Merasa terlanjur tercebur dalam pelacuran, akhirnya jalan itulah yang digunakan untuk mencari informasi penting dan rahasia yang selalu keluar dari mulut para perwira kulit putih ketika mabuk alkohol pada setiap malam. Selain itu, putri bangsawan Surakarta ini juga mendendam pada Belanda sebab anaknya Raden Rudira dan suaminya Pangeran Rana Kusuma terbunuh. Raden Rudira terbunuh oleh peluru dan Pangeran Rana Kusuma terbunuh oleh Keris Kiai Cangkring yang dimiliki salah satu antek Belanda dalam sebuah perang perjuangan yang dahsyat.

Baca juga:  Koyasan, Perjuangan Melawan Rasa Takut

Dengan demikian, perjuangan Raden Ayu Galih Warit di jalan yang berdosa itu tidak dapat disalahkan karena pada dasarnya perjuangan memerlukan besarnya pengorbanan. Suatu ketika putri Pangeran Sindu Rata ini ketahuan dan dihukum mati. Raden Juiring dan Rara Warih adiknya, juga Arum dan Buntal kedua saudara seperguruannya melanjutkan perjuangan ibundanya itu dengan cara bergabung dalam pasukan Pangeran Mangku Bhumi, hingga akhirnya ditutuplah cerita ini dengan perjanjian Gianti pada 1756M yang mengawali berdirinya Yogyakarta.

Komentar :
Buku ini saya rasa menarik untuk dibaca. Nuansa sejarah yang kental dan bahasa yang mengalir agaknya menjadi keunggulan tersendiri. Sayangnya buku karia SH. Mintarja terbitan Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada 1980 ini tidak begitu cocok untuk remaja milenial yang mudah bosan dan tidak bersabar untuk lebih dalam meresapi ajaran-ajaran kehidupan yang terkandung dalam buku ini.

Sebagai remaja milenial sudah barang tentu saya mudah bosan. Namun seiring bertambahnya usia, buku ini dapat menyegarkan hati dan membuka cakrawala berpikir saya. Setidak-tidaknya mengerti, bahwa kerasnya hidup bukan untuk diratapi, tapi untuk diperjuangkan dengan sebaik-baiknya sambil menyerahkan hasilnya pada kehendak Allah Ta’ala.
Saya pun beranggapan, kebanyakan karia tulis lama rata-rata bertele-tele karena deskripsi yang terlalu banyak sehingga sulit sekali untuk dilestarikan pada jaman sekarang. Satu-satunya jalan adalah memperbaharui tampilan buku supaya lebih kekinian dan alihmedia ke bentuk elektronik agar lebih terjaga keawetannya. Dengan catatan, atas seijin pihak keluarga penulis.

Beri Pendapatmu di Sini