Sedih, marah, dan rasa tidak terima bergelora hebat di dalam dada saat saya menutup halaman terakhir novel Broken String karya Aurelie Moeremans. Ada gumpalan emosi yang sulit terurai, seolah saya baru saja ikut terseret dalam badai kehidupan yang dialami sang tokoh utama. Novel ini bukan sekadar bacaan ringan pengisi waktu luang; ia adalah sebuah kesaksian, sebuah jeritan dari masa lalu yang akhirnya menemukan suaranya.
Bagi saya, novel ini menceritakan sebuah kesalahan kolektif yang berdampak luar biasa destruktif. Sebuah narasi tentang bagaimana lingkungan terdekat—yang seharusnya menjadi benteng pertahanan—justru runtuh dan membiarkan satu jiwa hancur sendirian.
Mari kita bayangkan posisinya. Seorang gadis berumur 15 tahun. Usia yang masih sangat hijau, masa di mana seseorang seharusnya sedang sibuk mencari jati diri, bermain dengan kawan sebaya, dan merasakan indahnya masa remaja. Namun, tokoh utama dalam novel ini justru dihadapkan pada situasi yang mencekik. Ia tinggal bersama orang tuanya, namun keberadaan mereka terasa begitu jauh, seolah terpisah oleh dinding kaca yang tebal.
Ia berada di tempat asing, bukan tempat di mana ia dilahirkan. Keterasingan geografis ini memperparah keterasingan batinnya. Namun, mimpi buruk yang sebenarnya bukan hanya soal lokasi, melainkan tentang “siapa” yang membersamainya. Ia harus hidup berdampingan dengan seseorang yang memiliki “kelainan” dalam jiwanya. Sebuah dominasi toksik yang menghancurkan dia perlahan-lahan tapi pasti.
Penghancuran itu tidak terjadi dalam semalam. Ia berjalan lambat, menggerogoti rasa percaya diri, mematikan nalar, dan melumpuhkan keberanian. Bukan sekadar fisik yang diserang, namun jiwanya yang dikerdilkan. Ia dibuat merasa kecil, tak berharga, dan pantas menerima perlakuan buruk tersebut. Gadis itu terpenjara dalam ketakutan bertahun-tahun, hidup dalam kesuraman yang begitu berat untuk dihadapi oleh bahu yang masih begitu ringkih.
Di sinilah letak tragisnya: ia tidak memiliki sistem pendukung (support system). Tidak ada teman tempat berbagi tawa, tidak ada sahabat tempat menumpahkan air mata, dan yang paling menyakitkan, tidak ada orang tua sebagai tempat pulang.
Satu hal yang membuat dada saya sesak saat membaca kisah ini adalah peran orang tua yang tidak sesuai dengan semestinya. Kita semua sepakat bahwa orang tua memiliki mandat alamiah untuk melindungi anak-anaknya. Namun dalam kisah ini, fungsi itu hilang, tertutup oleh kabut ego dan ketidaktahuan.
Orang tua dalam cerita ini malah memilih meninggalkan sang anak karena kekecewaan semata. Mereka mengambil langkah mundur di saat sang anak justru membutuhkan uluran tangan paling kuat. Emosi sesaat dan ketidakmampuan mengelola ekspektasi membuat keadaan semakin buruk. Mereka tak menyadari—atau mungkin menutup mata—betapa anak yang katanya mereka cintai itu sedang hancur lebur sendirian.
Tak berteman, tak memiliki tempat untuk pulang, tak punya ruang untuk berkeluh kesah. Gadis itu terjerat dalam situasi yang semakin lama semakin menjerat lehernya, mencekik napas kebebasannya. Orang tuanya absen secara emosional. Kehadiran fisik mereka menjadi tak berarti ketika hati dan telinga mereka tertutup rapat dari jeritan diam sang anak.
Seolah-olah, narasi yang terbangun adalah: hanya dia yang salah. Dia yang menyebabkan segala permasalahan itu muncul. Hanya dia yang terjebak sendirian dalam lumpur hisap ini, sementara orang-orang dewasa di sekitarnya sibuk dengan urusan dan perasaan mereka sendiri. Ini adalah bentuk penelantaran emosional (emotional neglect) yang dampaknya bisa jauh lebih merusak daripada kekerasan fisik yang kasat mata.
Kartuneters, ada satu poin penting yang ingin saya garis bawahi dari pengalaman membaca novel ini. Selain daripada melukai seseorang secara fisikal, saat luka itu hadir dengan begitu jahatnya merusak mentalitas seseorang, ketahuilah luka itu akan amat sangat sulit untuk disembuhkan.
Kita sering kali meremehkan luka yang tak berdarah. Luka fisik, katakanlah memar atau goresan, mungkin hanya bertahan satu hingga dua bulan. Tubuh memiliki mekanisme penyembuhan diri yang terlihat. Kita bisa mengoleskan obat, menutupnya dengan perban, dan melihat progres kesembuhannya hari demi hari.
Tapi bagaimana dengan luka di hati? Bagaimana dengan trauma psikologis? Luka batin itu seperti hantu; ia tak terlihat tapi terus menghantui. Mungkin ia bisa sembuh, tapi mungkin juga tidak. Bekasnya bisa tertinggal selamanya dalam bentuk ketidakpercayaan (trust issue), kecemasan berlebih (anxiety), atau rasa rendah diri yang akut. Seseorang bisa saja terlihat tertawa di luar, namun hancur berantakan di dalam. Novel ini mengingatkan kita bahwa “sehat” bukan hanya berarti tidak sakit badan, tapi juga utuh secara jiwa.
Novel Broken String ini pada akhirnya bukan hanya sekedar kisah seseorang yang dilukai hatinya karena cinta monyet atau romansa remaja biasa. Sama sekali bukan tentang itu. Novel ini bercerita tentang ketahanan hidup (resilience). Ini adalah kronik bagaimana seorang manusia harus berusaha untuk sembuh sendirian.
Bayangkan betapa beratnya harus menarik diri sendiri keluar dari lubang yang gelap, tanpa ada tangan lain yang membantu. Dengan tekadnya sendiri, dengan usahanya sendiri, tanpa bantuan siapa pun, tokoh utama mencoba merajut kembali kepingan dirinya yang berserakan.
Proses penyembuhan mandiri (self-healing) yang digambarkan, meskipun menyakitkan, memberikan secercah harapan. Bahwa seburuk apa pun masa lalu, seseorang masih memiliki kendali untuk menentukan masa depannya. Bahwa “string” atau senar yang putus itu, mungkin tak bisa disambung seperti semula, tapi bisa diganti dengan yang baru untuk memainkan melodi kehidupan yang berbeda.
Tentu saja, sebagai pembaca yang kritis, saya menyadari bahwa masih banyak misteri yang tertinggal dalam novel ini. Bagaimanapun, kisah ini diceritakan secara subjektif dari sudut pandang sang penulis (Aurelie). Kita diajak melihat dunia lewat kacamatanya, merasakan sakit lewat hatinya.
Tak pernah kita tahu bagaimana sudut pandang antagonis. Apa yang ada di pikiran sosok yang memberikan luka itu? Apakah ia sadar ia melukai? Atau ia pun memiliki trauma masa lalu yang tak tuntas? Begitu juga dengan keluarganya. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di benak orang tuanya saat itu. Apakah mereka tidak tahu cara menolong? Apakah mereka juga korban dari keadaan? Sudut pandang mereka tetap menjadi misteri.
Namun, dalam konteks pemulihan trauma korban, validasi atas apa yang dirasakan korban adalah hal yang utama. Terlepas dari apa alasan pelaku atau orang-orang di sekitarnya, rasa sakit yang dialami Aurelie adalah nyata. Dan keberaniannya untuk menuliskannya adalah sebuah kebenaran bagi dirinya sendiri.
Di akhir novel ini, saya sangat tersentuh oleh pesan yang disampaikan penulis. Bagi saya, sangat benar jika kita punya media untuk bersuara. Di era digital ini, atau bahkan di era konvensional sekalipun, kemampuan untuk mengekspresikan apa yang dirasakan adalah bagian dari terapi.
Tak peduli itu akan didengar oleh jutaan orang atau tidak sama sekali. Bercerita, berkeluh kesah, mengungkapkan fakta meski hanya dari sudut pandang pribadi adalah cara kita melepaskan beban. Dengan menulis, membuat video, melukis, atau hanya sekedar bercerita pada seorang teman yang dipercaya, kita sedang mengeluarkan “racun” dari dalam tubuh.
Bagi teman-teman Kartuneters, yang mungkin juga kerap merasa terpinggirkan atau tak didengar, pesan ini menjadi sangat relevan. Jangan pendam lukamu sendiri. Temukan mediummu. Suarakan apa yang mengganjal di dada. Karena diam tidak akan menyelesaikan masalah; diam sering kali justru membunuh kita perlahan.
Satu renungan terakhir yang tertinggal di benak saya usai membaca buku ini adalah tentang kebiasaan manusia beradaptasi dengan rasa sakit. Kadang hanya perasaan kita yang menganggap diri kita baik-baik saja. Tapi nyatanya tidak.
Manusia memiliki kecenderungan menormalisasi segala sesuatu dan menganggapnya hal yang lumrah demi bertahan hidup (survival mode). Kita sering berkata, “Ah, ini biasa,” padahal batin kita sedang menjerit. Kita mentoleransi perlakuan buruk, kita memaklumi pengabaian, bukan karena kita ingin, tapi karena kita memang terbiasa dengan pola tersebut. Kita lupa bagaimana rasanya dihargai, kita lupa bagaimana rasanya dicintai dengan tulus.
Novel ini adalah tamparan keras untuk bangun dari tidur panjang itu. Jangan biarkan diri kita terbiasa disakiti. Jangan biarkan diri kita terbiasa diabaikan.
Maka, pesan saya bagi siapa pun yang membaca tulisan ini: Cintai diri sendiri. Itu adalah langkah pertama dan paling krusial. Berdirilah untuk dirimu sendiri ketika tidak ada orang lain yang melakukannya. Peluklah dirimu sendiri saat dunia terasa dingin. Lalu kemudian, barulah kita bisa belajar untuk kembali mencintai hidup, dengan segala kerumitan dan keindahannya.
Broken String mungkin bicara tentang senar yang putus, tapi ia juga mengajarkan kita bahwa musik kehidupan tidak harus berhenti di sana. Kita selalu punya kesempatan untuk memasang senar baru dan memetik nada yang lebih indah.
