MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

PEMBUKA JENDELA DUNIAKU

Bagikan ke teman dan sahabat

Pagi ini awal hariku di asrama, asing rasanya karena memang sebelumnya aku biasa hidup dengan para keluarga, dan orangtuaku. Dari kecil sampai dengan usiaku 6 ttahun bukan mudah melupakan kehadiran mereka, dan sulit memulai suatu hidup yang baru diantara orang yang belum kukenal.

Bahasa pun menjadi suatu halangan yang saat itu menenggelamkanku dalam kesendirian. Bahasa Indonesia yang terdengar saat itu, tidaklah jadi bahasa di kampungku. Karena di sana aku memakai bahasa Bali. Aku tidak mengerti untuk apa aku di sini, apa artinya sekolah dan tujuanya apa.

Sebut saja dia Bli Gede, perannya saat itu adalah fital. Mulai dari ngajarinku mandi, memakai baju, pokoknya hidup mandiri. Aneh kan? Tapi itulah yang terjadi, aku hidup di rumah memang masih dilayani. Tunanetra itu adalah mahluk yang tidak bisa ngapain, mungkin itu yang terpikirkan oleh keluargaku saat itu. Dugaan itu baru muncul saatku sudah jauh meninggalkan masa kisah ini, saat ku sudah SMP.

Saat awalku di asrama Bli Gede merupakan saksi nyata, dan guru sejatiku. Beliau jugalah kakaku, dan pengganti orangtuaku. Tanpa kuceritakan kalian aku menebak apa saja yang bli gede ajarkan kepadaku, ingat kawan kata kuncinya adalah kemandirian. Itulah yang dia ajarkan kepadaku. Dia juga yang menjadi penerjemahku saat itu, karena temanku bercakap dengan bahasa Indonesia. Aku hanya mengerti bahasa Bali. Jadi bahasa Indonesia itu diterjemahkan oleh Bli Gede ke bahasa Bali, begitu juga sebaliknya bahasa Baliku diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

****

“Dek manjus malu, bli kel latihan malu to ajak timpale manjus.” Hatiku mulai kecut, karena ditinggal oleh bli gede. Tidak lama ada anak kecil yang datang mengajaku mandi. Saat mau memakai pakaian selesai mandi tiba-tiba celanaku terjatuh, biasalah tangisku pecah dan hatiku mulai ragu hidup jauh dari orangtua.

Baca:  Madu dan Zaitun

Pagi ini adalah hari Sabtu, hari yang kutunggu karena sebentar lagi akan ada orangtuaku yang ngajak aku pulang. Ku sudah ditelpon kemarin dari telpon asrama kalau aku sekarang akan dijemput. Sudah terbayang meme, dan mbok, dan adik, serta semua keluarga yang lain kan ketemu di rumah. Jam berganti, semua pelajaran di kelas sudah selesai hari itu. Dengan dentingan pianonya Bli Gede menghiburku yang galau karena belum dijemput. Nangis, itulah yang aku lakukan jika aku belum dijemput.

Jam4 bapak datang menjemput. Ternyata kami tidak pulang ke rumah karena bapak pulang setelah jam 10 malam, karena kerja siang di hotelnya. Dengan celana merah SD aku pulang, menunggu di hotel sampai jam 10 malam. Diam itulah aku di hotel saat menunggu. Dingin, untuk anak kelas 1 SD angin jam 10 malam dalam perjalanan dari Sanur ke Pejeng Pedapdapan sangat terasa. Tapi itu tak terasa, karena aku takut. Bayangku ada sosok hantu yang mengganggu perjalanan kami. Jam 23:00 kami sampai di rumah langsung dipeluk ibu yang sudah menunggu.

Dua tahun lewatlah sudah, bahasa Indonesiaku sudahlah mulai lancar saat ini. Aku sudah biasa bermain dengan teman satu asrama nama mereka mulai ku hapal. Ada Gusde, Gusdwi, Dede, Ayu, Lilik, Bli Gede Lembong, Bli Lenco, Mbok Winda, Mbok Sugi, dan masih banyak lagi. Tapi aku masih dihinggapi oleh kekonyolan. Ceritanya begini.

****

Saat makan di asrama, aku merasa lapar makanan di piring itu tidak mencukupi. Aku ketut piring sebagai pertanda aku tambah makan. Ibu asrma bertanya “Nambah apa lagi Dek?” jawabku adalah “Apa aja lagi” semuanya tertawa mendengarkan jawabku. Saat itu aku sih gak merasa aneh, tapi mulai usia bertambah aku menyadari kalau itu menunjukan aku itu rakus.

Baca:  Bulir Berharga Sang Disabilitas

Sendiri itulah kata kunci perasaanku. Bli Gede ke Bandung, itu artinya tidak ada lagi tempatku bergantung. Sekarang aku hanya bergantung kepada diriku sendiri, ku bangun pagi saat terdengar bell bangun pagi, dan seterusnya. Bli Gede tidak bisa membangunkanku seperti dulu lagi, bli Gede tidak bisa memeriksa bajuku dan memperbaikinya jika aku belu memakainya dengan benar, dan rapi. Karena dia ada di Bandung melanjutkan sekolah saat itu. Sunyi, hidupku di sini hanya tergantung denganku sendiri, tapi aku gak begitu memikirkankanya. Karena untuk itu, aku sudah belajar dari bli Gede. Aku sudah bisa mandi, memakai baju, berbahasa Indonesia, dan ketrampilan sehari-hari sudah cukup untuk aku tidak merepotkan orang lain lagi.

“Jadi Bli Gede yang membantu bli Dek di asrama dulu ya?” Begitulah istriku bertanya saat cerita itu selesai ku ceritakan sambil menghabiskan the digelas. “Ya tanpa dia mungkin kita tidak bertemu. Karena aku pasti akan malu di sana. Dan mana mungkin kita ketemu kalau seumpamanya aku gak bisa bicara bahasa Indonesia?”

END.

Kartunet.com adalah media warga, seluruh konten berupa tulisan, foto, audio, atau video yang diterbikan melalui situs ini menjadi tanggung jawab penuh dari kontributor.

Ingin juga tulisanmu diterbitkan di Kartunet? Siapkan karyamu dan klik di Kirim Karya
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat
error: Content is protected !!