Warriors Gate, Pelepas Penat Saat Tanggap Darurat

Pagi tanggal 8 April 2020

ini adalah pagi yang kesekian dalam masa tanggap darurat Corona. Entah hari yang keberapa, Saya malas menghitungnya. Tidak bisa dibantah, dalam masa ini kejenuhan mudah sekali menyerang.

Kendati pun Saya jarang sekali pergi ke luar rumah, pembatasan sosial ini cukup berdampak pula. Berita-berita tentang virus Covid 19 yang sedang merajalela di mana-mana cukup membuat stres, apalagi ditambah dengan berkurangnya kemungkinan bagi saya untuk membuat rencana kegiatan.

Untunglah rangkaian film-film liburan yang ditayangkan di TV cukup dapat mengalihkan pikiran dari hal-hal yang mengkhawatirkan.

Salah satu film yang saya sukai berjudul Warriors Gate. Film yang mengisahkan petualangan seorang remaja di dunia Tiongkok kuno ini cukup mengobati kerinduan pada film-film berlatar Tiongkok klasik, dimana terdapat kerajaan-kerajaan, putri-putri cantik, dan pendekar-pendekar tangguh.

Awal kisahnya sendiri berlatar di sebuah tempat di Amerika Serikat yang tidak disebutkan secara spesifik.  Seorang remaja bernama Jack Bronson diberitahu oleh ibunya bahwa bisnis sang ibu sedang sepi. Sang ibu yang berbisnis dalam bidang jual beli properti itu menghendaki putranya yang gemar bermain video game lebih fokus pada pelajaran sekolah agar dapat memperoleh beasiswa.

Karena itulah, Jack bekerja sambilan pada seorang pria bernama Mr. Cheng. Dari Mr. Cheng inilah petualangannya bermula. Pada suatu hari sang majikan memberi Jack hadiah. Saya tidak tahu hadiah apa itu, karena dialog-dialog yang ada tidak menyebutkannya.

Semula Jack menolak karena sang majikan sudah memberinya upah, namun kemudian ia menerimanya.

Singkat cerita, pada suatu hari terjadilah sesuatu yang tidak terduga. Hadiah yang ternyata merupakan sebuah portal menuju ke dunia lain pun terbuka. Muncullah seorang putri dan seorang pendekar menemui Jack.

Sang pendekar yang bernama Pendekar Zao pun memberikan tugas kepada pemuda itu agar menjaga sang putri. Ia juga menyebut Jack sebagai Ksatria Hitam.  Jack pun kebingungan, karena sebagai remaja Amerika modern ia tidak tahu sama sekali cara menjadi seorang pengawal.

Singkat cerita, sang putri pun tinggal di rumah Jack, sehingga tidak dapat dihindari pemuda itu pun kalang kabut. Dengan berbagai cara ia berusaha menyembunyikan keberadaan sang putri dari ibunya. Di sinilah adegan-adegan yang cukup mengocok perut terjadi. Mau tidak mau Jack harus mengajari sang putri yang bernama Su Lin tersebut untuk beradaptasi dalam kehidupan modern, dari mulai tentang makanan, pakaian, hingga berbelanja ke mall.

Kehidupan Jack yang semula hanya dipenuhi oleh urusan sekolah, teman-teman, dan video game pun makin berantakan, apalagi ketika sang putri tiba-tiba menghilang. Pendekar Zao yang kemudian muncul  pun terkejut dan marah. Pria yang berasal dari Tiongkok kuno itu pun lalu menyalahkan Jack. Mereka pun sibuk mencari. Jack sempat kebingungan, namun Pendekar Zao punya dugaan kuat bahwa peristiwa menghilangnya sang putri ada hubungannya dengan Arun Yang Kejam, pria yang ingin menikahi Su Lin agar dapat menjadi kaisar.

Tidak ada jalan lain bagi Jack. Ia dan Pendekar Zao pun pergi ke dunia lain melalui gerbang pendekar untuk menyelamatkan Su Lin sekaligus merebut kembali tahta dari tangan Arun Yang Kejam.

Bagi saya, film ini cukup menarik. Kisahnya yang cukup mudah dipahami relatif dapat menjadi pelepas penat sekaligus selingan di antara berita-berita mengenai wabah yang sedang melanda seluruh dunia sekarang ini. Latar klasik yang disampaikan di sebagian cerita juga mampu melambungkan imajinasi tentang suasana Tiongkok kuno, seperti yang sering saya baca di novel-novel karya Kho Ping Hoo, Gu Long, Chin Yong, dan lain-lain.

Dan yang lebih membuat saya  senang adalah karena film ini didubbing atau disulih suara menggunakan bahasa Indonesia, sehingga audiens yang mengalami ketunanetraan seperti Saya relatif dapat mengikuti adegan-adegan dalam film secara mandiri. Sering Saya berpikir, mengapa hanya sedikit film asing yang didubbing dengan bahasa Indonesia? Padahal tidak sedikit orang, terutama mereka yang tunanetra dan juga kalangan yang sudah berumur, merasa lebih nyaman mendengarkan langsung dialog-dialog yang didubbing dengan bahasa Indonesia daripada harus membaca teks terjemahan yang seringkali melelahkan karena terlalu cepat.

Kembali ke alur cerita, bagian yang paling menarik bagi saya  adalah bagian yang menceritakan perjalanan Jack dan Pendekar Zao untuk menyelamatkan Su Lin. Berbagai hal kocak bertebaran di bagian ini. Persahabatan antara Pendekar Zao yang berkarakter kaku dan Jack yang santai dan fleksibel menjadi bumbu yang menyegarkan. Di sini pulalah Saya dapat memetik beberapa pesan moral, sekaligus filosofi Tiongkok kuno, terutama mengenai jalan hidup dan pola pikir seorang pendekar, yang terkadang terasa kaku dan “mengerikan”, namun mengandung nilai-nilai kebaikan dan kemuliaan.

Tidak hanya itu, karakter Pendekar Zao yang kaku ternyata tanpa diduga mampu menghadirkan kesegaran tersendiri. Berkali-kali ia beradu argumen dengan Jack. Jack tidak dapat memahami pendirian sang pendekar yang berlawanan dengan dirinya sendiri. Demikian pula sebaliknya. Kendati demikian, pada akhirnya persahabatan mereka ternyata mampu meluluhkan batu karang. , seperti yang ditunjukkan di salah satu adegan penutup yang cukup manis, dimana Jack dikejar-kejar oleh para prajurit kerajaan karena dianggap melanggar peraturan dengan menyentuh permaisuri.

Jack yang hendak melarikan diri ke gerbang pendekar berhasil disusul oleh Pendekar Zao. Dengan ketakutan dan tidak percaya pemuda itu kemudian bertanya apakah sang pendekar akan membunuhnya, padahal mereka telah melalui berbagai hal bersama. Zao pun berkata bahwa peraturan adalah peraturan, namun tanpa diduga ia malah melepaskan Jack dengan terlebih dahulu memberikan kenang-kenangan. Sekali lagi Saya tidak tahu apa yang ia berikan, karena tidak ada dialog yang menyebutkannya. Bagi saya, sosok Pendekar Zao adalah sosok yang cukup inspiratif. Salah satu kalimat yang sangat berkesan dari tokoh ini adalah “Saat satu pintu tertutup, pintu lainnya akan terbuka.”

Secara umum, karakter Pendekar Zao ini mengingatkan saya  pada tokoh Musashi pada novel yang ditulis oleh Ichi Yoshikawa. Latar belakang budaya dimana mereka hidup memang berbeda, namun terdapat beberapa nilai yang serupa. Salah satunya adalah konsistensi, dimana Pendekar Zao sangat setia dengan tugasnya. Ia tidak segan menempuh bahaya demi memenuhi tanggung jawabnya sebagai pengawal,  sedangkan Musashi rela menempuh berbagai cobaan, termasuk mengorbankan kehidupan pribadinya demi jalan yang dipilihnya.

Sedangkan mengenai karakter Jack Bronson, tidak ada yang aneh dari pemuda yang digambarkan masih bersekolah ini. Jack adalah anak muda yang periang, santai, dan menyukai video game, tipikal anak-anak sekolah biasa. Kelebihannya adalah bahwa ia berkarakter pemberani, seperti ditunjukkan pada upayanya menyelamatkan sang putri, dimana dalam prosesnya ia dan Pendekar Zao menghadapi banyak bahaya. Hanya satu adegan yang menunjukkan bahwa ia takut, yaitu ketika ia memprotes Pendekar Zao yang dengan tenangnya makan ketika nyawa mereka terancam.

Selain itu, dalam hubungannya dengan ibunya terlihat bahwa ia adalah anak yang baik dan berbakti. Kesan ini saya peroleh pada sebuah adegan dimana Jack memberikan cek senilai 25.000 dolar kepada ibunya.

Kepada sang ibu yang terheran-heran, pemuda itu pun menjelaskan bahwa ia menciptakan sebuah video game yang diberi judul Gerbang Pendekar. Dengan kemampuannya membuat video game itulah ia lantas mampu berbuat sesuatu untuk mengatasi permasalahan ekonomi mereka.

Adegan yang terkesan manis ini pun mengandung pesan positif, bahwa dengan kreativitas yang dimilikinya Jack dapat menolong dirinya dan ibunya dari permasalahan yang mereka hadapi.

Berdasarkan hal-hal positif yang saya temukan hampir di sepanjang film ini, bagi saya  Warriors Gate adalah film yang bagus. Tidak hanya menghibur, film ini juga memberikan banyak hal bagi saya. Sekian dulu tulisan saya  untuk kali ini, semoga di kesempatan lain Saya dapat kembali berbagi dengan teman-teman semua dengan tema yang menarik dan bermanfaat.

 

Last Updated on 12 bulan by Redaksi

Oleh Cchrysanova Dewi

Chrysanova Prashelly Dewi adalah alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Subang. Gadis yang mengalami ketunanetraan sejak berusia lima belas tahun ini gemar menulis, membaca, dan mendengarkan musik

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *