Kartunet menuju usianya ke-12, nantikan program-program seru dari kami!
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Di Bahumu Ku Sandarkan Cintaku

NNama gadis bertongkat itu Syakila. Belum genap 21 tahun usianya. Dia cukup menarik, walaupun keadaan fisiknya berbeda dari teman-teman sekampusnya. Saat usia 7 tahun, Kila terpaksa harus menerima kecacatan pada kedua matanya setelah melewati berkali-kali operasi. Dokter tak sanggup lagi menangani kerusakan pada syaraf mata gadis manis itu. Kila akhirnya dibawa orangtuanya pulang ke kampung halamannya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Empat bulan pasca operasi, tibalah tahun ajaran baru. Semua teman Kila berbondong-bondong memasuki bangku sekolah. Rupanya nasib gadis itupun tak sedramatis yang dikira. Sebuah surat pemberitahuan tentang lembaga khusus yang berorientasi pada masalah kecacatan sejenis yang dialami Kila mampu merubah suram di hati gadis itu. Setelah melewati tahap pertimbangan yang cukup lama, orang tua Kila melepaskan putri mereka untuk diserahkan pada tangan-tangan ahli.

Tak terasa, sudah lebih dari 13 tahun keberadaan Kila di kota besar itu. Sebuah kompleks asrama telah membesarkan dirinya, hatinya, juga harapan-harapannya. Dia bukan hanya tumbuh sebagai gadis yang cerdas dan menarik, tapi keberaniannya dalam mengambil sebuah sikap tegas dalam kehidupan itulah yang menjadikan gadis ini sedikit berbeda dari teman-teman sebayanya.

“Syakila Humaniara!” Kila segera mengangkat sebelah tangannya, saat dosen baru itu mengabsen namanya.

“Kamu? Mahasiswi yang beberapa hari lalu mengajukan protes pada bagian pemeliharaan kampus itu bukan?” Tanya dosen itu serius memandangi Kila.

“Ya pak! Saya bersama rekan-rekan mahasiswa tunanetra lain memang menginginkan adanya pembenahan pada jalan-jalan di kampus ini agar lebih tertib dan tidak mengancam keselamatan kami saat beraktifitas di lingkungan kampus.” Kila menerangkan dengan semangatnya.

Beberapa hari lalu, tepatnya 1 bulan pasca pembenahan lingkungan kampus, Kila dan para mahasiswa tunanetra lain beradu argumen dengan para pengurus kampus mengenai ketidaknyamanan yang mereka alami semenjak ditambahnya areal parkir kendaraan yang menyita sebagian jalan bagi para pejalan kaki. Bagaimana tidak, penyempitan jalan tersebut menjadikan para tunanetra lebih terancam keselamatannya saat sedang berjalan. Sering kali mereka pulang kuliah dengan sebelah kaki yang luka akibat tergilas ban sepeda motor, atau tangan yang tergores bagian-bagian kendaraan yang diparkir di sepanjang jalanan kampus.

“Lalu bagaimana? Apa perjuangan kamu berhasil?”

“Mereka bilang akan dibicarakan dulu dengan pihak rektorat dan jajarannya. Setelah itu, barulah lingkungan kampus ini akan dikondisikan seperti semula.”

“Kira-kira berapa lama kalian menunggu realisasi dari pihak kampus?”

“Kami beri mereka waktu sampai akhir bulan ini, Pak.”

Dosen itu tak melanjutkan lagi pertanyaannya. Dia hanya tersenyum penuh bangga pada Kila, mehasiswi yang baru diajarnya itu.

“Kila, kamu gak ke kantin?” Risma menepuk bahu Kila yang tertunduk di meja seperginya dosen dari ruang kelas.

“Kuliah selanjutnya masih setengah jam lagi, kamu gak laper gitu?”

“Aku lagi gak pingin makan apa-apa, Ris.” Risma duduk di samping Kila.

Risma memang salah satu teman yang paling dekat dengan gadis itu sejak smester 1. Dia adalah teman sekaligus sahabat yang setia. Dia selalu mendampingi kemanapun Kila pergi. Dan yang paling mengharukan, Risma selalu dipercaya Kila untuk menyimpan berbagai rahasia hidupnya.

“Kamu lagi punya masalah, Kil? Cerita dong sama aku!”

Kila tersenyum. Dia tahu betul sifat sahabatnya yang satu itu. Kalau tidak diikuti keinginannya, ngambeknya bisa sampai satu minggu.

“Ini soal Awan.” Dia menarik bahu saat mengucapkan nama itu.

“Kamu masih kepikiran terus sama dia, Kil? Aku bilang juga apa, semakin kamu mengejar, dia akan semakin jauh berlari.”

“Jadi, maksudmu aku harus berhenti, dan akhirnya membiarkan orang lain yang memilikinya?” Wajah Kila memerah, dia begitu berapi-api saat berkata pada Risma.

“Bukan itu maksudku. Alangkah lebih baik jika kamu berkonsenterasi pada naskah yang harus selesai 2 minggu lagi! Lagi pula sepertinya usaha kamu mengejar Awan sia-sia.”

“Kamu belum tahu dia, Ris! Kamu belum melihat dan bicara dengan dia.”

“Kalau gitu kenalin aku sama dia, Kil! Aku jadi kepingin tahu pangeran pujaan siang dan malam bagimu itu!”

Pukul 3 lewat 21 menit, Kila dan Risma menuruni anak-anak tangga di dalam kampus. Mata Kila sedikit merah dan wajahnya agak sedikit pucat. Sepanjang perkuliahan terakhir itu, dia habiskan untuk tidur dengan menelungkup di atas meja.

“Kamu mau langsung pulang, Kil? Kapan kamu nginap di kosan baru aku?” Risma membuka percakapan di anak tangga terakhir yang mereka turuni.

“Kapan-kapan aja ya, Ris! Sambil aku mau minta dibantuin edit naskah.”

Tiba-tiba HP Kila bergetar dalam tasnya. Buru-buru dia membuka tasnya dan mengangkat telepon itu.

“Siapa yang nelpon sih? Kok muka kamu pucat gitu?”

“Ini waktunya kamu kenalan sama dia, Ris!”

“Maksudmu Awan? Awan mau ketemu kamu?”

Sambil memasukan kembali HPnya, Kila mengangguk. Di halaman kantin, Kila mengajak Risma berhenti. Di sana telah ada dua mahasiswa yang duduk sambil mengobrol. Mahasiswa yang satu keadaannya sama seperti Kila, dia mahasiswa tunanetra yang punya wajah lembut dan tutur kata yang teratur.

“Ini pesanan kamu!” tanpa basa-basi lelaki itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya.

“Kamu kenapa belum pulang? Ada kuliah dadakan lagi?” Kila menerima benda itu dengan tangan kanannya.

“Sebenarnya gak ada. Aku main musik sama temen-temen dulu.”

“Oya! Kenalin ini temen aku satu jurusan, namanya Nino!” Lelaki yang sejak tadi diam itu mengulurkan tangan pada Killa selanjutnya pada Risma.

“Aku juga mau kenalin temenku.”

“Oya? Siapa?” Buru-buru Risma menyalami lelaki itu dan menyebutkan namanya.

“Aku Risma! Nama kamu Awan bukan?”

“Oh! Kamu udah tahu nama aku yah? Kila cerita apa aja sama kamu?”

“Oh, gak. Dia cuma cerita punya temen di jurusan musik namanya Awan.”

“Kalau gitu aku pulan dulu, takut kesorean!” Awan berpamitan pada Kila dan Risma. Setelah itu, dia menghilang bersama sepeda motor Nino.

“Awan memang pantas untuk kamu idolakan. Dia mengagumkan. Aku suka cara dia memperlakukan orang di sekitarnya.”

“Tapi sayang, harga dirinya setinggi namanya.” Kila menarik bahunya.

“Kamu tenang aja, aku pasti bantuin kamu.”

***

Malam belum begitu larut saat HP di samping kepala Risma bergetar dan mengeluarka bunyi keras sekali. Sedikit bernada kesal karena terkejut, Risma mengangkat telpon itu. “Asalamualaikum Kil! Ada apa nelpon aku jam segini?”

“Aku ganggu ya, Ris?” Terdengar suara Kila yang parau di seberang telepon.

“Gak sih, cuma heran aja kamu nelpon aku.”

“Aku bisa minta tolong gak Ris? Besok sore Awan dan aku diundang nonton konser musik di Nusantara House.”

“Siapa yang ngundang?”

“Sebenarnya dia temen aku. Dia juga kenal sama Awan.”

“Yaudah, jam berapa kalian pergi?”

“Jam 4 aja biar dapat tempat duduk strategis.”

Telepon ditutup Kila setelah mengucapkan terimakasi. Dengan terengah-engah, Risma sampai di hadapan Kila dan Awan yang sejak tadi menunggunya.

“Maaf, aku telat ya! Tadi di jalan macet banget!”

“Gak pa-pa kok. Lagian belum terlalu sore!” Awan menjawab sambil tersenyum ramah.

“Kil, kamu cantik banget!” Risma memandang Kila takjub.

Saat itu Kila memang terlihat berbeda. Dia menghias kaos lengan panjang putihnya dengan rompi biru muda.

“Wah, jilbab baru yah?” Risma meledek Kila sambil menyentuh jilbab berwaarna sama dengan rompi yang dikenakan gadis itu.

“Yuk berangkat! Takut gak dapet tempat duduk nih!”

“Kamu gak sabar banget sih! Mentang-mentang ini konser kesukaan kamu.” Kila ketus pada Awan.

***

Kini mereka telah duduk santai menanti dimulainya konser. Risma duduk di antara Kila dan Awan. Kila memang memintanya untuk duduk di sana. Itu akan mempermudah Awan untuk bisa bertanya tentang apa saja yang ditampilkan di atas panggung. Selama konser berlangsung, dengan semangat Risma mendeskripsikan situasi panggung pada Awan. Awanpun terlihat sangat antusias bertanya pada Risma. Sementara Kila yang memang kurang begitu suka musik dan mengerti akan dunia seni yang satu itu, hanya duduk menikmati konser sambil terkantuk-kantuk. Diam-diam dalam hati, ada sedikit perasaan terlintas yang mengganggu. Ya, mungkin itu yang dinamakan cemburu.

“Aku cemburu sama Risma? Selama aku dan Awan berteman dan mengobrol, dia belum pernah seceria itu. Diapun termasuk lelaki yang butuh waktu lama dalam berinteraksi dengan lawan jenis seperti padaku dulu.” Kila berbisik dalam hatinya.

Selesai konser, Risma membangunkan Kila yang tertidur pulas. “Kil! Ayo bangun! Kita pulang! Apa kamu mau tidur di sini?” Ejek Risma saat Kila menggisik-gisik matanya.

“Konsernya udahan yah?” Kila masih setengah sadar saat diajak Risma ke luar gedung.

Di pintu utama, seorang lelaki dengan suara ramah menyapa Kila. “Kila! Gimana? Asyik bukan nonton konser?”

“Ya, Kak Fir, Aku suka!” Setengah terkejut Kila menyahut.

“Gimana Wan? Kamu suka musiknya?” Lelaki yang biasa dipanggil Kila Kak Firji itu bertanya pada Awan.

“Aku suka musiknya, Kak! Ntar kalau ada konser lagi kasih tahu aku yah!”

Setelah mengucapkan terimakasi pada laki-laki itu, merekapun pulang dengan sebuah taksi. Selama perjalanan, Awan dan Risma kembali membahas pertunjukan musik itu. Awan sangat bersemangat mengutarakan pendapatnya tentang konser tadi pada Risma.

“Sepertinya pemain basnya masih begitu muda, terdengar dari petikannya yang semangat banget, bener kan Ris?”

“Ya, dia memang pemain yang paling muda sepertinya.”

Kila kembali terdiam. Kini perasaan itu makin hebat mengganggunya. Bahkan diapun mulai menyimpulkan kalau antara Risma dan Awan telah tumbuh sebuah akar. Ya, akar perasaan yang siap dipupuk dan tumbuh.

“Kila cantik, sudah sampai nih di pintu gerbang asrama kamu. Aku dan Awan langsung pulang yah?”

“Apa? Kamu mau pulang sama Awan?” Kila terkejut dan bertanya pada Risma.

“OK! Sampai ketemu nanti ya, Kil!” Awanpun berpamitan.

***

Di atas tempat tidur mungil inilah Kila membanting tubuhnya yang seakan remuk redam. Mau tak mau pecah juga bongkahan air matanya. Dalam hati dia menjerit menyesalkan arti hidupnya.

“Apalah artinya aku bila dibanding Risma yang cantik, menarik, punya segalanya, terutama kesempurnaan fisik. Sedang aku? Aku ini bukan siapa-siapa yang bisa bikin Awan tertarik padaku.”

“Hai Wan! Dah sampai rumah?” suara Kila hampir tak didengar Awan dalam telepon itu.

“Ya, aku baru aja sampai. Tadi begitu nganterin Risma ke kosan, taksinya langsung ke rumahku.”

Kila menarik nafas. Dia memang tak boleh marah karena memang kosan Risma dan rumah yang ditinggali Awan searah dan tak begitu jauh jaraknya dari kampus.

“Kalau gitu syukur deh dah sampai.”

“Oya, makasi ya Kil karena dah ngajak aku ke konser itu. Aku seneng banget loh!” suara Awan terdengar begitu riang.

“Makasi atas konsernya, atau pertemuan sama Risma?” Kila sedikit menyela.

“Yaaaa….. dua-duanya lah!”

Kila tak sanggup lagi meneruskan percakapannya dengan Awan. Dia tak sanggup lagi harus membayangkan betapa bahagianya Awan, laki-laki yang sudah 2 tahun ini dicintainya secara diam-diam, harus memuji-muji wanita lain yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.

***

“Hi, Kil!” Risma dengan riang menepuk bahu sahabatnya yang tengah bengong di kursinya.

“Tadi malam Awan nelpon. Dia banyak nanya sama aku.”

“Apa? Dia nelpon kamu?” Kila menengadahkan wajahnya.

“Ya, dia nelpon aku dan minta tolong dicariin informasi tentang konser musik yang akan diadakan lagi di Bandung ini.”

“Lalu, apa jawaban kamu?”

“Ya, aku jawab aja Insya Allah.” Jawab Risma simpel.

Sudah 2 minggu semenjak kejadian itu. Sore itu dengan hati gelisah namun sedikit riang, Kila bertemu Awan di perpustakaan.

“Ada apa, Wan?”

“Aku mau minta maaf sama kamu Kil.”

“Maaf? Kenapa?”

“Aku tahu kamu dan perasaan kamu sampai sekarang slalu mikirin aku, dan itu aku tahu dari Risma.”

“Risma? dia bilang apa sama kamu?”

“Dia cuma bilang kalau kamu selama ini selalu memikirkanku.”

“Lalu? Apa lagi yang mau kamu bilang?”

“Kil! Sudah ada seseorang yang istimewa di hati aku.”

“Aku tahu kok. Dia sahabat aku bukan? Aku tahu beberapa hari ini kamu suka pergi sama dia di belakang aku.”

“Ya, akhirnya tak usah panjang lebar aku cerita, ternyata kamu dah tahu itu.”

“Ya, aku memang sudah tahu hal itu, dan menurutku tak perlu ada yang dikhawatirkan tentang aku.” Tanpa disadari, satu-dua bulir bening telah menetes ke pipinya yang lembut.

“Tak usah khawatir Kil, dengan waktu yang kan berjalan mengikuti roda-roda hidup, di suatu sudut hidupmu pasti kebahagiaan mencintai dan dicintai akan bertemu.”

 Tak mampu Kila menjawab argumen klasik yang disampaikan Awan kepadanya. Kini, ia hanya duduk sendiri, masih di ruang perpustakaan kampus yang sudah mulai hening setelah 15 menit langkah kaki Awan meninggalkan ruangan itu dengan membawa keputusan besar bagi perasaan Kila. Kila menariknafasnya, dikeluarkannya sebuah gelang kayu berwarna merah marun dari dalam dompetnya. Gelang sederhana itu pemberian ibunya Awan sebagai oleh-oleh dari Bali. Waktu itu dia dan Awan baru saling kenal. Kila berkenalan dengan Awan di Jakarta, tempat tinggal Awan dan keluarganya.

Saat itu, Kila mewakili sekolahnya (SD SLB-A BANDUNG), mengikuti perlombaan bernyanyi antar SLB tingkat nasional saat dirinya duduk di bangku kelas 4. Saat itu Awanpun baru 1 tahun mengalami ketunanetraan setelah menjalani operasi di sebuah rumah sakit di Singapura. Awan dibawa ibunya dengan maksud membantu anak yang dicintainya itu untuk tetap bersemangat dan menunjukan pada Awan kalau bukan hanya dia yang mengalami ketunanetraan di dunia ini.

Sementara aku memanangkan juara pertama lomba menyanyi, Awan memenangkan juara pertama lomba bermain piano. Ya, Awan adalah anak yang sangat beruntung bila dibandingkan dengan anak-anak tunanetra pada umumnya yang rata-rata berasal dari keluarga kurang mampu atau menengah ke bawah. Awan seorang anak yang sehari-harinya tinggal di dalam rumah bagus dengan fasilitas yang memadai. Tak heran apabila sejak ketunanetraan itu dialaminya, kedua orangtua Awan berusaha memberikan apapun yang jadi kebutuhan anak lelakinya.

Berbagai cara dilakukan mereka, seperti mendatangkan guru les musik ke rumah, guru tambahan pelajaran dari sekolah, bahkan mengikutsertakan Awan pada berbagai kegiatan bagi anak-anak penyandang cacat di Jakarta. Tak heran pula jika Awan selalu mendapat juara dari berbagai lomba itu karena memang dia seorang anak yang cerdas. Mungkin itu turunan dari orangtuanya yang berlatar belakang pendidikan tinggi. Ayahnya seorang dokter jantung yang hebat dan bekerja di sebuah rumah sakit terkemuka di Jakarta. Sementara ibunya seorang lulusan perguruan tinggi di Bandung banyak dikenal masyarakat sebagai konselor handal.

Semenjak itu, dia dan Awan menjadi sering bertemu pada berbagai kegiatan sekolah di berbagai daerah termasuk di Bandung, tempat Kila tinggal. Tiga bulan lalu Awan dan keluarga besarnya menghabiskan libur seusai hari raya di Bali, dan sepulangnya dari sana, ibu Awan menitipkan gelang sederhana itu untuknya. Memang, semenjak Awan dan keluarganya pindah ke Bandung, hubungan Kila dan Awan semakin hari semakin dekat. Begitupun dengan ibunya Awan yang tak jarang mengantar atau menjemput Awan ke kampus. Otomatis Kila sering bertemu dengannya. Bahkan ibunya menitipkan Awan pada Kila sebelum anak lelaki yang disayanginya itu mendapatkan banyak teman.

“Ini gelang titipan Mama untuk kamu, Kil. Katanya harganya gak seberapa, tapi, Mama beli gelang ini buat ikatan persahabatan antara aku dan kamu. Aku juga punya gelang yang sama.” Awan menunjukan gelang yang sama persis dengan yang diberikannya pada Kila.

Sejak itu Kila menyimpan baik-baik gelang istimewa itu dan dia berjanji akan memakainya apabila Awan menyatakan cinta padanya. Ternyata, hari itu gelang istimewa yang ditunggu-tunggu saatnya untuk dikenakan pada pergelangan tangannya tak pernah bisa tercapai. Karena ternyata cinta Awan memang tak pernah ada untuknya.

“Asalamualaikum!” Ucapan salam itu begitu lirih seiring tepukan halus pada bahunya.

“Wa’alaikum salam, Pak Andi. Bikin Kila jantungan deh.”

“Ah, kamu, bikin jantungan gimana sih, sayakan menyapa kamu pelan, kamu aja yang terlalu dalam ngelamunnya. Mikirin apa sih?”

Kila terlihat mengerutkan alisnya. Di tangannya sebuah amplop coklat berisikan sepucuk surat. “Saya juga kurang tahu, Pak. Tadi ketua jurusan menyerahkan surat ini pada saya. Jadi saya bingung ini surat apa.”

“Kalau begitu kamu cari temen yang bisa kamu percaya untuk membacakan surat itu. Siapa tahu isi surat itu penting atau mungkin pribadi.” Pak Andi, seorang dosen muda yang menjadi dosen favorit Kila itu berlalu dari hadapan Kila yang masih tertegun dengan amplop rahasianya.

Dia pun kemudian berjalan menuju ruang kelas tempat kuliahnya, dicarinya suara Risma di antara gemuruh suara teman-temannya yang sedang asyik bercakap-cakap. “Ris, tolong bacakan surat ini dong!”

Tanpa banyak bicara, Risma mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam amplop itu sebelum membacakannya dekat dengan telinga Kila. Usai membaca, Risma merangkaul bahu sahabatnya itu dengan haru. Kila mendapat kesempatan untuk menghadiri seminar kesusastraan tingkat internasional di Jakarta yang diadakan oleh organisasi perkumpulan sastrawan Asia.

“Kamu hebat banget Kil. Kamu terpilih dalam seleksi seminar itu. Padahal dari kampus kita aja yang terlibat seleksi itu hampir mencapai 700 orang, belum lagi dari kampus lain. Tapi kamu bisa mengalahkan mereka. Selamat ya, Kil.” Kila tersenyum kecil menanggapi keharuan sahabatnya itu.

Sudah tiga bulan dia menguatkan hati untuk menerima kenyataan kalau Awan, lelaki yang dicintainya telah resmi menjadi pacar sahabatnya itu. Ya, mungkin boleh aku menang dalam soal kesuksesan. Bukan pertama kalinya dia menerima banyak kejutan hebat atas segala prestasi yang selama ini dikejar dan diperjuangkannya siang-malam, dalam keadaan sakit ataupun sehat, maupun dalam suka-duka. Tak heran, ini bukan pertama kali dia diundang untuk jadi peserta seminar sastra, atau bahkan jadi salah satu pembicara di berbagai acara yang berkaitan dengan tulis menulis. Sedangkan hal yang dia mengaku kalah besar adalah, ketika dia harus gigit jari saat dia tak memenangkan perjuangan besarnya dalam merebut hati pangeran pujaannya.

“Oya, seminar itu diadakan di kampus UI. Di sana kamu pasti banyak bertemu pujangga-pujangga muda yang sama hebatnya. Kamu mesti bisa ngalahin mereka ya, Kil!”

“Risma, dalam sejarah sastra tak ada pujangga yang bersaing. Yang ada pujangga saling membenarkan suatu yang benar, dan memperbaiki perkataan yang salah.”

“Ya udah. Berarti kamu harus kerja ekstra untuk menyelesaikan tugas kuliah agar nanti saat seminar kamu gak dibuat kurang konsenterasi karena mikirin utang tugas  Kil.” Kila tersenyum geli dengan tingkah Risma yang bersemangat saat memberikan dukungan padanya.

“Ntar kamu bantuin aku ya, Ris!”

“Beres deh. Pasti aku bantuin.”

Saat mereka tengah berjalan menuju pintu keluar, telepon Risma berdering. Saat Risma mengangkatnya, perasaan Kila berdebar tak enak.

“Ia nih, aku baru aja selesai kuliah. Kita makan siang yuk! Kebetulan aku sama Kila mau ngerayain sesuatu nih.” Telpon itu ditutup Risma sambil tersenyum pada Kila.

“Kil, kita makan siangnya bareng Awan yah.”

“Boleh aja. Lagian udah lama aku gak ketemu dia.” Sebenarnya tak ingin Kila mengucapkan kata-kata itu, tapi rasanya tak pantas juga kalau dia menolak niat baik Risma yang memang bermaksud menunjukan rasa bangganya atas keberhasilan dirinya.

Kila memang tidak salah memilih Risma jadi sahabatnya. Andai Risma itu orang lain dan bukan sahabatnya, mungkin sekarang ini dia sudah marah atau iri karena seleksi sastra ini diikuti juga olehnya. Dan bila dia itu orang lain, jangankan merayakan, mengucapkan selamat juga kecil sekali kemungkinanya.

“Hai Kil, apa kabar?” Awan menyapa Kila dengan ramah.

“Aku baik kok Wan. Gimana kabar Mama kamu? Udah lama aku gak ketemu.” Kila duduk di hadapan Awan yang tengah memainkan sebuah gitar.

“Mama juga baik. Dia juga sering nanyain kamu tuh. Kapan kamu main lagi ke rumah?”

Kila hanya tersenyum. Memang, setelah dia tahu Awan dan Risma menjalin hubungan, dia tak pernah lagi berkunjung ke rumah Awan. Lagi pula Awan tak pernah mengajaknya.

“Kil, gimana kalau ntar sore kita main ke rumah Awan? Ntar sore Mama Awan mau ngadain pengajian sebelum berangkat ke tanah suci, iya kan Wan?”

“Mama kamu mau pergi haji?” Kila tampak terkejut.

“Iya nih. Akhirnya setelah dibatalin beberapa kali mereka pergi juga.”

***

Sore itu, Kila dengan busana muslimahnya yang anggun berdiri di depan gerbang asrama, menunggu Risma yang berjanji menjemputnya.

“Asalamualaikum, sudah siap Non?” Risma menepuk bahunya sambil tersenyum.

“Ya, aku sudah dari tadi nunggu kamu Ris.”

“Maaf tadi jalannya macet banget.”

“Yaudah berangkat yuk! Takut kesorean nih!” Kila menarik tangan Risma ke dalam taksi yang sejak tadi terbuka pintunya.

Tak berapa lama mereka tiba di rumah Awan.

“Asalamualaikum, Kila? Apa kabar? Kenapa sekarang jarang sekali main ke sini? Kila sibuk yah?” Seorang wanita cantik dengan tangan lembutnya menyalami Kila sangat ramah.

“Alhamdulillah baik, Tante. Gimana sebaliknya?”

“Tante baik, Alhamdulillah. Sekarang terlaksanakan juga pergi haji.”

“Iya, Tan. Kila ikut seneng. Mudah-mudahan di sana Om dan Tante mendapat kelancaran.”

Selesai mengikuti acara, Kila memutuskan untuk pulang lebih dulu dari Risma. Dia sadar betul kalau sekarang ini Risma tengah memperkenalkan diri pada keluarga Awan dan tak seharusnya dia mengajak sahabatnya itu untuk buru-buru pulang.

“Ris, aku pulang duluan aja yah! Udah terlalu malam, aku gak enak sama pembimbing asrama.”

“Aku anterin Kil!”

“Gak usahlah! Aku bisa pulang naik taksi kok. Kamu di sini aja, mungkin mau bantuin beresin rumah atau mau ikut dulu acara keluarga kan?” Kila mencandai Risma sambil meledek.

“Ih, kamu apaan sih? Jadi menantu juga belum kok!”

***

Sepagi itu Kila sudah rapi dengan penampilannya sebagai seorang mahasiswi. Dia mengambil jurusan pendidikan, artinya dia harus berhati-hati betul dengan penampilannya agar tak mencoreng nama jurusan yang akan memberi dia predikat sebagai pendidik anak bangsa itu. SMS yang baru diterimanya dari Kang Rubi, salah satu pengurus aktif himpunan, menyuruhnya agar datang ke sekretariat himpunan pukul delapan pagi ini memaksa gadis itu mesti lebih pagi untuk keluar dari dalam selimut tebalnya.

“Pagi Kang Rubi! Ada apa yah sepagi ini memanggil saya?” Kila bertanya pada Rubi yang duduk di hadapannya.

“Syakila Humaniara! Tahukah kau? Naskah drama yang kau ikutsertakan dalam seleksi naskah terbaik karya mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia dua minggu lalu mendapat posisi nomor 2 dari 15 naskah hasil seleksi pertama dan kedua.”

Kila termangu, dia sama sekali tak pernah menduga kalau dia punya bakat yang sangat besar dalam penulisan naskah. Kila baru sekali itu ikut serta dalam pemilihan pembuatan naskah. Dia juga baru belajar dan mengontrak mata kuliah Kajian drama Indonesia di semester ini.

“Terimakasi Kang. Lalu sekarang saya mesti bagaimana?”

 “Kamu cukup datang setiap jam 4 sore ke aula kampus untuk meninjau dan mengarahkan anak-anak himpunan yang melatihkan naskah drama ini pada anak-anak jalanan.”

“Baik. Insya Allah, sore ini sepulang kuliah saya pergi ke sana.”

***

Sore itu sepulang kuliah, dengan ditemani Sarah, teman sekampusnya selain Risma, Kila datang ke aula kampus untuk menyaksikan bagaimana naskah drama yang ia buat dipentaskan oleh anak-anak jalanan yang memang diorientasikan dalam naskahnya itu. Bukan Risma yang menemaninya, karena Risma harus ikut mengantarkan orangtua Awan ke Jakarta.

Kila tak sanggup menitikkan airmatanya ketika dia duduk di deretan bangku di pinggir ruangan sambil memperhatikan anak-anak di bawah bimbingan teman-temannya dari himpunan mempraktekkan sebuah drama singkat 4 babak yang ia susun dalam waktu yang singkat. Dalam drama itu diceritakan tiga anak jalanan bersahabat terpaksa mencuri di sebuah toko mainan hanya untuk membantu membelikan obat bagi kesembuhan ayah salah satu di antara mereka. Tak mereka sangka-sangka, seorang satpam memergoki mereka dan membawa mereka ke sebuah gudang dan mengurung anak-anak itu selama hampir 5 hari. Akhirnya, berkat kecerdikan mereka, terbebaslah anak-anak itu dari gudang yang pengap dan kotor tersebut.

Pada babak ke-3, anak-anak jalanan itupun bertemu seorang mahasiswa yang kemudian mengajarkan berbagai pendidikan dasar seperti menulis, membaca, berkreasi, dan hal-hal lain dengan sangat sabar dan penuh ketulusan. Dibabak terakhir, tiga anak itu telah berubah menjadi anak-anak yang mandiri, berkelakuan santun, dan hal terpenting mereka sudah tak lagi memadati lampu merah untuk sekedar mengamen, atau menjarah uang anak-anak kecil yang lewat di hadapannya. Ketiga anak itu sudah tak menampakan lagi diri mereka di jalanan ataupun di pasar. Mereka sudah berada di tempat-tempat yang layak seperti percetakan, perusahaan fotografi milik kerabat mahasiswa itu, dan seorang lagi memilih menerima beasiswa demi melanjutkan pendidikan ke bangku SMP.

Hampir 2 minggu penuh, Kila meninjau dan menyaksikan sendiri upaya teman-teman himpunan untuk melatihkan naskah drama yang dia buat untuk dipertunjukan dalam rangka gebyar bahasa dan sastra Indonesia yang akan tiba akhir bulan mendatang. Hari itu Minggu pagi, Kila sudah tiba di aula untuk menghadiri pemantapan sekaligus persiapan drama yang akan berlangsung Senin besoknya.

“Kila, bagaimana menurut kamu? Apa drama ini sudah tepat dengan naskah yang kamu tulis?”

“Sempurna Kak. Saya aja gak menyangka kalau hasilnya akan sebagus ini.” Kila sangat berterimakasi pada Rubi dan teman-temannya yang sudah memberikan penghargaan bagi naskah yang telah ditulisnya.

Esok paginya, Kila dengan didampingi Sarah tanpak duduk di deretan kursi ke-2 dari deretan kursi yang dipersiapkan bagi para dosen dan tamu kehormatan.

“Kenapa mesti duduk di sini, Sar? Aku malu, di barisan ini hanya untuk para tamu, dan kita mahasiswa harusnya duduk lebih belakang tahu?”

“Tenang aja, Kil! Kak Rubi memang menyuruh kita duduk di sini. Lagi pula mereka gak memperhatikan kita kok.”

“Baiklah, para dosen yang kami hormati, rekan-rekan yang tercinta, untuk acara berikutnya, akan kita saksikan, sebuah pertunjukan drama singkat dengan judul Kelas Kami Trotoar dan Pasar, karya Syakila Humaniara dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia!”

Riuh tepuk tangan dari seluruh yang hadir memenuhi seisi ruangan pertunjukan. Saat pertunjukan usai, Rubi selaku ketua panitia menarik tangan Kila untuk tampil di atas podium. Dengan bangga, dia memperkenalkan gadis bermata sayu itu kepada para dosen dan mahasiswa yang juga mengagumi hasil karyanya.

“Bapak-bapak, ibu-ibu dosen, beserta rekan-rekan, inilah Sahabat saya, namanya Syakila Humaniara, yang mengikuti seleksi penyusunan naskah drama untuk dipertunjukan pada kesempatan ini. Dia telah berhasil memberikan yang terbaik berupa naskah sederhana namun sarat akan makna, hingga kita yang hadir dibuat terharu dan menyadari akan pentingnya memberi sebuah manfaat untuk orang-orang di sekitar.”

***

“Hai Kila, masih ingat saya?” Suara itu mengejutkan Kila yang kelelahan menerima ucapan selamat dari dosen dan teman-temannya.

“Pak Ardian kan?”

Ardian Putra Syahdana. Saat Kila masuk semester 3, salah satu dosen pengajar memperkenalkan seorang asisten bernama Ardian Putra Syahdana. Saat itu Kila pernah dibuat kaget karena Ardian dapat membaca dan menulis dalam huruf Braille. Lelaki muda itu meminta Kila menyerahkan tugas dengan tulisan Braille. Dia bilang, Kila harus bangga dengan tulisan sendiri, dan tak perlu repot-repot mencari orang yang bersedia menuliskan tugasnya ke dalam huruf biasa. Dari kejadian itu, Kila menjadi dekat dengan Ardian. Setiap dia punya permasalahan yang berhubungan dengan aktifitas akademik dalam kampus, Ardianlah yang menjadi tempat pertama untuk dimintai bantuan. Sejak Kila mendengar bahwa Ardian akan melanjutkan S2 ke Yogyakarta, 2 tahun terakhir ini Kila tak pernah lagi bertemu dengannya.

“Bapak masih bisa menulis dan membaca huruf Braille?” tanya Kila sambil tersipu.

“Kamu mau tes saya? Baik, kamu boleh tulis sepucuk surat dan saya akan membaca kemudian akan coba saya balas.”

Malam itu, dengan ditemani alunan musik lembut kesukaannya, Kila iseng saja menulis beberapa kalimat dalam tulisan penuh. “Untuk seorang dosen mengagumkan dan ada di hati, Pak Ardian. Yang pertama, saya akan ucapkan selamat atas keberhasilan Anda yang telah menjadi seorang dosen terbaik di kampus. Yang ke-2, saya ucapkan pula selamat datang di Bandung, kota dimana Anda tumbuh dalam keadaan sedih ataupun bahagia. Untuk yang terakhir, saya hanya ingin bertanya, sudahkah Anda menemukan seseorang yang bersedia mendampingi Anda dalam suka dan duka?”

***

Siang itu, Kila dengan riangnya keluar dari dalam gerbang kampus. Di tangannya ada sebuah bungkusan berisi selembar kertas terlipat. Ditemuinya sosok Awan yang berdiri bersandarkan sebuah mobil yang terparkir di bawah pohon belimbing yang berada tepat di belakang gedung perkuliahannya.

“Apa yang mau kamu sampaikan Wan?”

“Sebuah gelang.”

“Gelang yang mana?” Kila mengerutkan keningnya.

“Gelang pemberian Mama dimana kalau aku mengatakan perasaanku, kita akan menukarnya.”

“Maaf, sudah terlambat. Janjiku waktu itu, hanya ada sekali ungkapan cinta dan itu sudah kau ungkapkan pada Risma.”

“Baru aku sadari, bahwa cinta tulus itu hanya ada di hatimu.”

“Aku pulang dulu, sudah terlalu siang dan aku masih punya banyak pekerjaan.” Kila meninggalkan Awan yang termenung seraya mempermainkan gelang marun di tangannya.

***

Tak perlu banyak waktu bagi Kila dalam memahami balasan surat Ardian untuknya. Dalam waktu singkat tulisan dalam huruf Braille itu telah mampu dimaknainya.

“Terimakasi Kila, 2 tahun sudah kumantapkan untuk kembali dan menemui gadis penulis Braille untuk aku pintai kesediaanya menjadi sahabat sekaligus pelabuhan keletihanku.”

Senja yang teramat indah, Gadis manis Syakila Humaniara duduk anggun di antara batu hitam di tengah sebuah curug yang tenang. Kedua kakinya bermain dalam air dan kedua tangannya bersilang di dada. Sementara, Ardian yang sempurna, sibuk merangkai kuntum-kuntum mawar yang dipetiknya dengan sabar dan penuh sukacita.

“Nah, ini rangkaian mawar berbentuk susunan huruf yang membentuk namamu, sudah aku selesaikan. Ini yang kau mau bukan?”

“Terimakasi Ardi, aku terima dengan sukacita hadiah istimewa ini.”

***

“Wan! Asal kamu tahu, sejak dulu, aku tak pernah punya perasaan apapun untuk kamu, yang ada hanya rasa simpatik karena kamu begitu menarik, dan yang mencintai kamu dari dulu hingga sekarang itu adalah Syakila, yang telah kau hianati dan kecewakan.” Kata-kata pahit itulah yang terus-terusan menghantui perasaan pemuda angkuh itu. Sebuah biolapun rasanya tak cukup untuk mengusir suara Risma yang selalu terngiang dalam kepalanya.

Sudah 3 jam dia bersama biola tercinta itu mendiami taman kecil di belakang rumahnya. Saat pada lagu terakhir, lagu ciptaannya bersama Syakila dinyanyikannya, Sebuah sentuhan halus menyapa bahunya.

“Udah, jangan nyanyikan lagu itu! Tebak, siapa yang Mama bawa?”

Jantung Awan berdegup kencang, ketika ia menyadari sebuah tangan dengan gelang sederhana kini ada dalam genggamannya.

“Kau kembali?”

“Ya, aku kembali.”

“Kembalilah padaku! karena hanya di bahumulah tempat kusandarkan cintaku.”

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
Tags:
3 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *