Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Ferdi Story (3-15)

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

SEBUA KEJUJURAN.
 
Di suatu jam istirahat sekolah, sebagian besar siswa/siswi menuju kantin. Ada yang membeli makanan, dan ada pula yang hanya ngobrol-ngobrol di sekitarnya.
 
Tetapi, Lain dengan Ferdi. Kali ini dia keluar kelas hanya untuk mencari Indri dan ingin Mengembalikan buku catatan yang dia pinjam darinya.
Dia berdiri di depan toilet wanita dekat 1-4. Sambil menunggu Indri, ternyata dia membuka halaman belakang buku catatan Indri.
Halaman itu ternyata masih kosong. Tanpa fikir panjang, dia menulis sebua pesan kurang lebih isinya:” In, nih no telepon gw. 081318xxx. Kalau butuh gue,
Silahkan hubungin gue!”
Setelah dia menulis pesan tersebut, Yang di tunggu pun datang. “hai Fer…, sedang ngapain disini?” Sapa Indri .
“nggak kok, Cuma ingin bersantai saja di sini. Sekalian gue mau mengembalikan ini.” Ferdi memberikan buku itu ke Indri dengan keadaan buku itu masih terbuka
Pada halaman pesan yang dia tulis.
Spontan, mata Indri langsung membaca pesan tersebut dan senyuman pun berkembang dari bibirnya.
“Fer…, ini nomor telepon loe?” Tanya Indri basa-basi.
“Yah.” Jawabnya singkat.
“oh…, OK deh, nanti gue save di hp gue. Thanks yah!” Jawabnya sekedar menghargai.
“Sama-sama.” Jawabnya dengan tersenyum.
“Oh yah…, Sorry, gue tinggalin loe dulu yah! Gue mau ngetik di ruang komputer.” Kata Indri dengan nada penting.
“ngetik apa In?” Tanya Ferdi penasaran.
” Ngetik buat majalah sekolah, kita akan membuat sebuah majalah sekolah yang akan dikirim ke sekolah lain. Do’ahkan yah! Agar majalah kita diterima.” Jawabnya
Dengan lembut.
“oh pasti dong. Kita akan berdo’ah bersama-sama untuk itu semua.” Balas Ferdi dengan semangat.
Setelah berpamitan dengan Ferdi, indri pun bergegas pergi meninggalkan Ferdi. Ferdi pun pergi dari tempat itu.
***
 
Setibanya Ferdi di kelas, lima menit kemudian Bel masuk berbunyi. Anak-anak sibuk menyembunyikan jajanan yang belum mereka habiskan ke laci meja mereka,
Ketika Bu Mila, guru PPKN, memasuki kelas ferdi.
“anak-anak, dalam kesempatan ini kita akan memeriksa bersama hasil ulangan yang telah kita lakukkan pada pertemuan kita sebelumnya.” Katanya sambil meletakkan
Buku-bukunya di atas meja.
“Baik bu.” Jawab Siswa serempak. Hasil pekerjaan mereka pun dibagikan secara acak, dimana pekerjaan seseorang akan diperiksa oleh orang lain. Kunci jawaban
Pun telah muncul di papan tulis, dan seluruh siswa/siswi menghitung kesalahan dari pekerjaan teman mereka. Setelah selesai, guru pun meminta hasil yang
Diperoleh dari pemeriksaan itu dengan memanggil nama setiap siswa satu persatu dan cukup menyebutkan nilainya yang diperoleh. Setelah semua selesai, hasil
Pekerjaan pun dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. “Baiklah, setelah kita periksa bersama, yang patut untuk diremedial, yaitu: Ferdi, Shanti,
Dan Sony. Ada yang mau mengajukan protes?” Kata Bu Mila sambil mengecek kembali buku nilainya. Anna bangkit dari kursinya berjalan kemeja guru. “Bu, seharusnya
Saya tidak mendapatkan nilai delapan puluh. Saya salah dua. Seharusnya saya mendapatkan nilai empat puluh. Mengapa saya tidak diremedial?” Tanya Anna sambil
Menyodorkan kertas ulangannya ke Bu Mila. Dia langsung memeriksa pekerjaan Anna dan benar, terdapat kekeliruan dalam memberikan nilai. “Anak-anak, siapa
Tadi yang memeriksa pekerjaan Anna?” Tanyanya sambil menebarkan pandangan ke seluruh kelas.
Seorang siswa mengacungkan tangannya lalu berjalan menghampiri Bu Mila dan Anna. “maaf bu, mungkin saya salah hitung.” Jawabnya singkat. “iya, ibu maafkan.
Lain kali yang telitih yah!” Nasehatnya kepada siswa itu. “baik bu.” Kata siswa itu sambil berjalan meninggalkan bu Mila dan kembali ke mejanya. “nah anak-anak,
Kita dapat mencontoh sikap dari Anna. Karena kejujuran itu, harus kita miliki. Karena sikap tersebut, dapat membawa kita ke jalan kesuksesan.” Kata Bu
Mila seperti guru yang sedang menerangkan materi penting. “Baiklah Anna, kamu langsung diremedial.” Lanjutnya sambil menatap Anna dengan lembut.
“huh, bodoh sekalih Anna, sudah dapat nilai 80, eh malah minta 40. Gimana sih ni anak.” Batin Ferdi mengerutu.
“yang mau remedial, maju kedepan! Ibu akan memberikan tes lisan!” Perintahnya, membuat seluruh siswa yang remedial kalang kabut. Hati Ferdi juga berdebar-debar,
Dia berfikir, bisa atau tidak menjawab pertanyaan lisan yang akan diajukan kepadannya. Setelah Anna duduk di kursinya, Ferdi menghampirinya.
“ann, loe kok bisa sebegitunya! Sudah bagus dapat 80, eh loe malah minta 40. Waduh-waduh… Kenapa sejujur itu?” Kata Ferdi dengan nada menyesal.
“Aku takut dosa, karena itu bukan hakku. Toh akhirnya aku dapet lebih dari itu.” Jawabnya dengan bangga.
“Wah, hari gini masih mikirin dosa, hebat banget loe! Gue tak akan sebegitunya.”
“Setiap orang yang beriman, pasti takut akan dosa. Aku nggak mau mendapatkan dosa-dosa itu.” Ceramah Anna.
“Yeh… Nih anak, malah berceramah. Sekarang masalahnya, gue takut untuk remedial, kalau-kalau gue tidak bisa menjawabnya. Gimana, tadi apa aja yang ditanyain,
Trus, jawabannya apa? Tolong kasih tahu!” Kata Ferdi sambil memohon.
Dengan tersenyum, Anna berkata:”sudahlah, maju saja, oktimis dengan perasaanmu. Pasti kamu bisa menjawabnya.”
Setelah mendengar kata-kata itu, Ferdi pun tetap menimbang-nimbang untuk maju atau tidak dalam mengikuti remedial. Setelah berfikir keras,
Akhirnnya Ferdi mengambil keputusan untuk maju saja. “Apa salahnya kalau gue turuti saran nih anak.” Batin Ferdi.
Dengan oktimis, Ferdi maju menghampiri Bu Mila dan menjawab pertanyaan yang diajukan. Sesekali dia salah menjawab, tetapi akhirnya dia selesai juga dan
Mendapatkan nilai yang cukup memuaskan.
Setelah selesai remedial, dia kembali menemui Anna sambil berkata:”terimakasih yah, kamu telah membangkitkan rasa oktimisku untuk melakukkan itu semua.”
 
Anna tersenyum dan berkata:”yah sama-sama Fer, setiap manusia wajib hukumnya untuk saling memberikan dorongan baik mental maupun spiritual.”
Ferdi kembali ke tempat duduknya.
Beberapa menit kemudian, Mata pelajaran itu pun selesai. Para siswa cukup senang menyambutnya. Sambil menunggu guru berikutnya, para siswa pun keluar-masuk
Kelas.
Kesenangan itu semakin bertambah, ketika petugas piket, masuk ke kelas mereka dan memberikan tugas karena guru yang bersangkutan berhalangan hadir.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *