Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Sudahkah BFT Bangkitkan Empati Publik?

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

“Saya masih normal, cuman mata saya nggak ngeliat.” Kata Jaka Ahmad atau yang akrab dipanggil Bang Jack, disela-sela sharing BFT (Barrier Free Tourism) Sabtu lalu. Ini merupakan kali ketiga BFT dilaksanakan. Kegiatan BFT sendiri rutin dilaksanakan tiap bulan dengan tempat tujuan fasilitas umum yang berbeda di tiap pelaksanaannya.


 


Sabtu, 26 Mei 2012 kemarin, Barrier Free Tourism (BFT) diadakan untuk mengkritisi aksesibilitas fasilitas serta sarana prasarana KAI dan UI. Peserta yang terdiri dari tunadaksa, tunanetra, tunagrahita,  dan tunarungu, melakukan perjalanan dari stasiun Cikini Jakarta Timur  dan berakhir di Stasiun UI Depok. Menurut Jaka, rute ini dipilih karena sering dilalui oleh penyandang disabilitas untuk bepergian. Selain itu, Cikini merupakan salah satu kawasan aktif Jakarta, sehingga diharapkan masyarakat akan berempati dan mendukung event ini.


 


Salah satu keunikan sekaligus upaya membangkitkan empati masyarakat, dalam BFT kali ini panitia mengajukan tantangan pada masyarakat non disabilitas untuk mengenakan blind fold pada mata. Mereka ditantang merasakan menjadi penyandang disabilitas netra. Beberapa juga ditantang menggunakan kursi roda, sehingga mereka merasakan ketika menjadi penyandang disabilitas daksa. Dapat dikatakan bahwa tantangan tersebut cukup efektif. Terlihat dari semangat para volunteer yang ingin mencoba menjalani keseharian sebagai penyandang disabilitas netra ataupun daksa. Para voulunteer yang terlibat, menggunakan alat masing-masing sejak berangkat dari stasiun Cikini sampai perpustakaan UI.


 


Dari kalimat Jaka diatas, ada satu makna tersembunyi yang selama ini seringkali tak disadari masyarakat. Terbukti, kesadaran semacam ini jarang ada pada masyarakat Jakarta. Ketika Lisfa, salah satu voulunteer yang mencoba menjadi penyandang disabilitas daksa naik bus menuju perpustakaan UI. ”Padahal di dalam mahasiswanya banyak, tapi gak ada satupun yang mau ngebantu naikin kursi roda saya.” Tutur mahasiswi PLB UNJ ini ketika berbincang dengan penulis. Apa penyandang disabilitas benar-benar tidak normal? Sampai-sampai mahasiswa yang konon berpendidikanpun sulit merasa empati. Apa penyandang disabilitas selalu memerlukan perlakuan khusus? Haruskah mereka mempunyai pendamping khusus? Sudah hilangkan tenggang rasa dan tolong menolong pada masyarakat modern saat ini?


 


Saat Jaka meminta peserta BFT untuk menyuarakan pendapatnya ketika berkumpul di halaman perpustakaan UI, hampir semua menyatakan perihal yang sama, yaitu kurangnya kepedulian penumpang kereta dan tanggapan orang-orang yang mereka temui. Lalu efektifkah kegiatan Barrier Free Tourism yang bertujuan mensosialisasikan cara menangani penyandang disabilitas? ”Secara penuh sih belum, kita belum mendapat perhatian yang cukup signifikan dari pemerintah. Cuman kalau dari antusiasme masyarakat udah cukup keliatan. Buktinya voulunteer yang datang dalam acara kali ini seimbang dengan jumlah peserta.” Jelas Jaka pada penulis.


 


Meskipun peserta dengan disabilitas yang mengikuti BFT kali ini sedikit, Jaka menyatakan kepuasannya akan animo masyarakat. Banyak voulunteer mengajukan saran-saran yang selama ini baru terpikir ketika mengalami langsung sebagai penyandang disabilitas. Ada  usulan betapa pentingnya audio sebagai petunjuk bagi penyandang disabilitas netra untuk menjelaskan stasiun yang dilewati ketika mereka naik kereta, sebagian berdebat jalan yang aksesibel bagi disabilitas daksa, dan sulitnya medan menuju UI baik bagi penyandang disabilitas netra maupun daksa. Tidak adanya pembatas trotoar dengan selokan, sempitnya jarak antara trotoar dengan jalan raya, reklame yang kebanyakan terletak di tengah jalan masuk perpustakaan, adalah segelintir keluhan yang mungkin bagi orang normal pada umumnya bukanlah masalah.


 


Persetujuan yang sama dikemukakan oleh voulunteer yang merasakan semua itu ketika mereka menjadi penyandang disabilitas. Kendala-kendala yang dianggap sepele oleh masyarakat non disabilitas, menjadi masalah yang cukup mengganggu bagi disabilitas. “Saya bener-bener ngerasain gimana jadi tunanetra. Berat banget, sering terjadi salah pengertian antara saya sama pendamping saya. Ya … gak jarang saya nabrak atau kesandung, walaupun pendamping saya berusaha ngarahin kemana saya harus jalan.” Kata Novi, mahasiswi arsitektur UI, menceritakan pengalamannya saat mengenakan blind fold.


 


Tujuan diadakannya Barrier Free Tourism ini, menurut Jaka, tidak lain untuk memperkenalkan kondisi dan bagaimana cara menangani penyandang disabilitas. Berangkat dari kunjungan-kunjungan penyandang disabilitas pada fasilitas dan sarana Jakarta, Jaka selaku salah satu pengagas gerakan ini mengharapkan minimal tumbuh empati masyarakat untuk mendukung kegiatan ini. Paling tidak, solidaritas antar penyandang disabilitas dan masyarakat non disabilitas harus terjaga agar semua orang dapat menggunakan fasilitas yang sama. Sudah saatnya non disabilitas mengurangi ke khususan bagi penyandang disabilitas, agar mengobarkan kepercayaan diri mereka untuk berinteraksi dengan masyarakat.


 


Tentu saja perhatian dan tindakan untuk mengevaluasi serta menyesuaikan fasilitas dan sarana prasarana bukan hanya dinikmati oleh penyandang disabilitas. Bukankah kritikan penyandang disabilitas akan kenyamanan dan aksesibel fasilitas kota secara umum sama dengan orang normal pada umumnya? Jadi, mengapa mereka tidak bekerjasama untuk memperbaiki?(Senna)


Editor: Herisma Yanti

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *