MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

TauRiadatta

“Jangan ambil kue dari gerombolang! Mereka itu jahat! Jahat!” suara mamak terdengar sampai ke ruang luar.

Mamak marah lagi, sebabnya apalagi kalau bukan daengku. Ali namanya, putra sulung mamak dan bapak. Kami hanya dua bersaudara, aku adik dan Ali anak pertama. Saya biasa memanggil dia dengan sebutan Daeng, dalam bahasa Indonesia berarti kakak.

Hari ini Daeng Ali lagi-lagi mengulang kesalahan yang sama, menerima kue dari gerombolang. Dia sudah tahu kalau mamak sangat benci orang-orang bermata sipit, kulit putih, dan sepatu tebal itu. Tapi, kenapa dia masih dekat-dekat ke sana? Ke gedung kecil dekat sungai, posko gerombolang biasa kami menyebutnya.

Saya tidak tahu kenapa mamak sangat benci gerombolang, padahal bisa dibbbilang gerombolang itu baik. Sering kasih Daeng Ali kue, sering senyum, biasa juga kasih uang ke anak-anak kampung.

“Mereka pernah bakar desa kita, Tenri, bakar sampai tidak ada yang tinggal. Rumah, ladang, pabrik, sepeda, semua terbakar. Bagaimana mamak tidak benci?” itu kata mamak di satu malam.

Saya mengangguk saja, malas harus berdebat.

Lima belas tahun umur saya, dan Daeng Ali sudah tujuh belas tahun. Kami tinggal di rumah kayu yang tidak jauh dari posko gerombolang. Di samping kiri rumah ada sawah yang tertata luas sekali, dan di samping kanan ada jalan besar. Di sebelah jalan besar itu, agak jauh ke kanan, baru rumah-rumah orang desa lain berjajar. Kata bapak, rumah kami berdiri jauh sendirian karena bapak tidak punya tanah yang lain dari ini. Tidak masalah menurut kami, toh masih ada rumah, itu sudah cukup.
***

“Kamu belum lahir, Ali, waktu gerombolang bakar kampung kita. Tidak ada yang sisah, semua rata dengan abu. Kau tahu, Nak, sakit hati mamak dibuat gerombolang. Dulu kita punya rumah besar, sepeda bapakmu ada dua, pabrik kita berdiri paling tegak. Kau lahir saat kami masih punya banyak uang, Ali, masih bisa bapakmu gaji bidan desa untuk bantu mamak melahirkan. Dua bulan setelah kau lahir, gerombolang berulah. Mereka buat posko, bawa anak-anak muda kampung entah ke mana. Katanya mau dipekerjakan, tapi berbulan-bulan tidak nampak lagi batang hidung anak-anak yang dibawa pergi itu. Gerombolang sok berkuasa, mereka ambil beras dan jagung di sawah tanpa minta dulu. Orang-orang kampung marah, tidak mau lagi hormat dengan gerombolang yang katanya utusan dari ibu kota. Yang terjadi kemudian adalah mereka sengaja bakar kampung kita, Ali, malam-malam. Kau … kalau Wak Liong tidak teriak-teriak kasih bangun mamak, kau sudah mati termakan api. Sekarang … kau malah berteman sama orang-orang jahat itu? Di mana otakmu, Ali?” malam ini mamak kembali menceramahi Daeng Ali.

Baca:  Romantika Cinta di Hari Merdeka

Saya duduk merapat di tembok, menghidupkan lampu minyak, berpura-pura tidak memerhatikan. Kalau sampai ketahuan, Deang Ali akan ikut-ikutan marah ke saya juga. Daeng Ali memang begitu, sok pemberani.

“Tapi gerombolang ajar saya membaca, Mak, mereka ajar saya menghitung. Sepuluh tambah lima sama dengan lima belas, lima puluh kali dua sama dengan seratus,” Daeng Ali menjelaskan pelan-pelan.

“Ais, tidak ada alasan. Sekali jahat, mereka sudah jahat,” mamak mengjatuhkan fonis.

Saya senyum sembunyi-sembunyi, meletakkan lampu minyak di dekat jarik, la berbaring di sana.

Benci dan cinta memang beda-beda tipis. Saya percaya tidak semua tentara Jepang, biasa kami sebut gerombolang itu jahat. Ada yang baik, pasti ada. Dan satu yang baik itu adalah Yuki Takamori.
***

“Tenri!” bapak memanggil dari arah kiri rumah, dari pematang sawah.

Saya yang lagi duduk di dego-dego, balkon rumah kayu menoleh agak malas. Bapak melambaikan tangan, saya menarik napas ogah, dan mulai turun dari rumah.

“Kenapa, Pak?”

“Kau lihat itu?” bapak menunjuk posko tentara Jepang yang terlihat dari tempat kami berdiri.

“Kenapa, Pak?” saya mengulang tanya.

“Siapa yang ada di sana?” tanya bapak.

“Kayaknya kosong, Pak.”

Saya memandang bapak, beliau sudah mulai kelihatan tua. Rambutnya yang hitam legam setengah termakan uban, mata hitamnya berubah menjadi agak abu-abu. Bapak tidak bisa melihat objek yang jauh lagi.

“Daengmu di mana?” bapak mengeluarkan kotak korek kayu dari saku.

“Di rumah, Pak, tidur siang.”

Saya menghapus peluh, terik sekali siang ini.

“Kalau begitu kembali mko pale ke rumah.”

“Eh, Pak! Bapak mau ke mana?” tanya saya saat bapak mulai melangkah.

“Ke posko tentara,” ujar bapak.

Saya mengerutkan kening, bingung. Tapi sudahlah, saya buru-buru meninggalkan pematang sawah itu.

Di rumah, rupanya Daeng Ali sudah bangun, mamak berkacak pinggang di depannya.

“Kau mau ke mana lagi?”

“Main, Mak,” Daeng Ali mengerucutkan bibir.

“Tidak boleh! Pasti kau mau main ke posko gerombolang,” mamak mendengus.

“Tidak ada gerombolang, Mak, posko mereka kosong,” saya yang baru naik menimpali percakapan.

“Tidak ada gerombolang? Kenapa kau tahu?” Daeng Ali kelihatan bingung.

“Karena saya barusan disuruh bapak lihat dari jauh, dan posko itu kosong.”
Saya duduk di samping mamak.

“Kemarin saya lihat Tenri mandi di sungai sama tentara, Mak,” kata Daeng Ali..

Saya terkejut, tapi berusaha untuk tidak berekspresi.

“Hah?” mamak melotot.

“Tidak, Mak, kebetulan itu. Tenri mandi, kan, terus ada satu tentara yang mau tangkap ikan. Itu saja, tidak lebih,” saya mengangkat alis, meyakinkan mamak.

Baca:  Ferdi Story (9-15)

Berhubung wanita lima puluh tahun itu sayang saya, maka dia tidak mudah marah. Mamak tarik napas, la duduk nyaman kembali.

“Andringnu tidak sengaja, Ali,” ujar mamak.

Daeng Ali mengangguk-angguk.

“Saya kira mereka pacaran,” kata Daeng Ali.

“Tidak mungkin Tenri mau sama gerombolang,” timpal mamak.
***

Keluarga saya dan gerombolang memang ditakdirkan bermusuhan. Bapak, selain rumah dan harta lainnya pernah dibakar gerombolang, juga memiliki dendam lain. Adik bapak yang perawan tua pernah diculik, diperkosa, kemudian dikubur hidup-hidup oleh tentara Jepang. Bapak lalu bergabung bersama perkumpulan tidak bernama yang terdiri dari orang-orang dewasa yang membenci gerombolang, yang biasa kumpul di rumah kami untuk membahas banyak hal. Ya pemberontakan, ya penculikan, ya apa saja yang sekiranya bisa mengusir gerombolang dari kampung kami. Seolah-olah tentara-tentara bermata sipit akan mengusik kehidupan mereka. Saya juga dulunya mau tentara Jepang enyah dari kampung kami, mau mereka ditendang bapak keluar dari daerah ini.

Tapi, setelah kenal Yuki, pemuda gagah berani yang baik hati itu, saya tidak lagi membenci gerombolang. Apa salahnya mereka tinggal di sini? Toh, mereka kadang juga baik sama anak-anak kampung. Masalah pemerkosaan atau penggelapan anak-anak muda itu, mungkin saja mereka khilaf.

Kata mamak, kami sedang dijajah gerombolan, kami menderita dibawah jajahan Jepang, dan maka itulah kami harus memberontak seperti apa yang dilakukan orang-orang kota sana. Aduh, bagaimanalah ini? Kami orang kampung, jangankan meniru pemberontakan di ibu kota. Tengok ibu kota saja kami belum pernah, cconto pun tidak ada, apalagi mau tiru-tiru orang kota?
Umur saya lima belas, hampir enam belas, dan saya memandang hidup begitu sederhana. Kalau ada orang baik, ya berarti dia baik. Kalau ada orang jahat, berarti mereka khilaf. Tidak ada yang lebih ataupun kurang. Mamak baik, bapak baik, Daeng Ali baik, gerombolang baik, apalagi Yuki yang suka kasih gula-gula dan buku. Saya jatuh cinta, pada kaum yang sangat-sangat dibenci bapak dan mamak.
***

Siang terik, tanah sawah pecah-pecah, dan tenggorokan kering sekali. Saya mau mandi, tapi air sungai hangatnya minta ampun. Maka saya hanya duduk-duduk di pinggir sungai, memperhatikan ikan-ikan di bawah sana.

Lima menit, ada yang menepuk bahu. Saya berbalik, melihat Yuki Takamori di sana. Tersenyum, agak terbatah-batah saya bertanya dia mau apa di sini.

“Aku lihat kamu, dan aku ke sini untuk menghampiri kamu,” dia bicara agak kesulitan.

Saya mengangguk-angguk, lalu dia pamit untuk pergi lagi.

“Tidak ada yang jaga posko,” katanya.

Mengiyakan, mempersilahkan dia untuk pergi. Saya memandangi bahunya sampai tertelan posko tentara Jepang. Dia masuk ke sana, menghilang. Saya lantas berdiri dari duduk, hendak pulang. Di bawah rumah saya bertemu bapak.

Baca:  Seulas Senyum Untukku

“Di posko jepang ada siapa?” tanya bapak.

Mata bapak kabur, tidak bisa dia melihat jjauh sampai ke posko sana, itulah mengapa bapak sering minta tolong pada saya untuk dilihatkan sesuatu yang jauh.

“Tidak ada orang, sepi.”

“Siapa bilang?” bapak mengambil cergen dari bawah tangga kayu.

“Saya lihat, tapi ada satu orang.”

“Siapa?” tanya bapak lagi.

“Tidak tahu, yang masih muda itu,” saya berlaga tidak kenal Yuki.

“Oh, kalau begitu naiklah, bilang ke mamak, jangan biarkan Ali pergi-pergi.”

“Apapun yang terjadi?” saya bertanya.

“Ya, apapun yang terjadi,” bapak menenteng ceregen, la melangkah pergi.

Saya cepat-cepat naik dan menginfokan berita itu pada mamak.

“Bapak mau ke mana, Mak?” tanya saya setelah mengambil minum di dapur.

Gerah juga, saya menenggak air.

“Kau jangan ribut, bapak mau bakar posko Jepang,” bisik mamak.

Botol yang saya pegang jatuh, untuk beberapa detik saya kaku, tidak bisa bicara.

“Di sana ada orang, Mak, ada orang!” teriak saya akhirnya.

Besar sekali teriakan itu. Daeng Ali yang tertidur di dekat kami sampai menggeliat, la lanjut terpejam lagi.

“Tidak apa, biar tahu rasa,” kata mamak.

“Tapi, Mak …” saya lemas.

“Kalau tidak begitu, sampai kapan kita ditindas, Tenri? Beras diambil, jagung diambil, anak-anak muda kampung disesatkan. Selama ada mereka, kita tidak bisa merdeka.”

Saya tidak mendengarkan lagi petua mamak, langsung berlari turun tangga, dan terus memacu langkah menuju posko Jepang.

“Bapaaak!” panggil saya dari jauh.

Tidak ada bapak di sana, mungkin di sisi bangunan yang lain. Saya kencang sekali berlari, panik. Ada Yuki di sana ….

Saat saya sampai, api sudah merambat dari belakang bangunan. Saya memangil-manggil bapak, berteriak minta tolong, tapi tak ada yang muncul.

“Yukiiiiii!”

Suara saya serak, bagaimana dengan orang Jepang yang baik itu? Yang memberikan saya buku, yang mengajar saya membaca, yang kasih saya gula-gula, yang ajar saya bilang cinta dalam bahasa Jepang? Apa karena teman-temannya jahat, dia juga harus dicap jahat?

Saya menerobos masuk, Yuki tertidur di salah satu ruangan, panggilan bapak samar-samar terdengar. Saya membangunkan Yuki, dia tidak bergerak, dia kenapa? Saya mengguncang, tidak ada gerakan.

Napas saya mulai sesak, dada seperti ditindih asap, dan bayangan-bayangan mulai terlihat di pelupuk. Daeng Ali yang suka sama Jepang, bapak yang bakar posko, mamak yang di matanya bersemayam banyak sekali benci, saya yang menemukan cinta pada orang Jepang, tante yang diperkosa lalu dibunuh.

Kartunet.com adalah media warga, seluruh konten berupa tulisan, foto, audio, atau video yang diterbikan melalui situs ini menjadi tanggung jawab penuh dari kontributor.

Ingin juga tulisanmu diterbitkan di Kartunet? Siapkan karyamu dan klik di Kirim Karya
54 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Developer