MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS

The Sixth Sense

Terakhir diperbaharui 3 bulan oleh Dimas Prasetyo Muharam

Ia terus memacu motornya dengan kecepatan tinggi tanpa memperhatikan lagi rambu-rambu lalu lintas disekitarnya. Lampu merah Ia terjang bahkan persimpangan kereta api pun ia langgar. Ia terus menambah kecepatan berharap bisa menemukan Ayahnya sebelum kejadian itu terjadi. Setelah melewati tikungan dekat kantor Ayahnya, Ia melihat mobil BMW milik Ayahnya di ujung jalan yang agak jauh dari posisinya sekarang ini. Dari arah yang berlawanan, Ia melihat sebuah truk pasir yang sedang melaju secara ugal-ugalan. Tanpa bisa berbuat apa-apa, Frank hanya bisa menyaksikan kejadian itu dan berteriak sampai memekakan telinganya sendiri.

***
Frank duduk terkulai di kursi rumahnya setelah melakukan prosesi pemakaman Ayahnya. Dia di sana ditemani oleh seorang perempuan cantik yang sudah dikenalnya dengan dekat selama ini. “Terima kasih Chelsea, kamulah satu-satunya yang aku butuhkan pada saat seperti ini.” Kata Frank yang memandangi wajah Chelsea yang masih tetap cantik walaupun dalam keadaan berkabung. “Aku akan tetap menemanimu pada saat keadaan apa pun juga. Apalagi pada keadaan seperti sekarang ini, Aku akan selalu mensupportmu sampai kamu kembali tenang.” Kata-kata Chelsea membuat Frank sedikit memiliki semangat di keadaannya yang sekarang ini. “Aku cinta caramu mencintai aku Chelsea, terima kasih atas ketulusanmu. Ini membuatku semakin mencintai kamu”, “Aku Juga cinta kamu Frank, tapi sekarang lebih baik kamu beristirahat dulu. Lihat itu matamu sudah sangat merah. Kamu perlu sekali tidur” simpati chelsea sambil membelai kening Frank. “Tidak-tidak, aku tidak mau tidur. Aku takut akan bermimpi-mimpi tentang hal yang buruk lagi. Aku tidak ingin kehilangan semua orang yang Aku cintai lagi. Terutama kamu chelsea!”, “Percayalah, kamu tidak akan kehilangan aku. Aku akan tetap bersamamu sampai kapan pun!” kata chelsea menenangkan Frank.

Baca juga:  Ferdi Story (2-15)

Frank merasa sangat mengantuk. Sepertinya kelopak mata itu sudah sangat berat untuk terbuka. Mimpi-mimpi itu pasti sudah siap untuk menyerbu ke alam tidur Frank yang akan segera menjadi kenyataan. Tapi Frank tidak menyerah, Ia mencoba untuk menghilangkan rasa kantuknya itu dengan banyak mengobrol dan ngemil makanan kecil dengan Chelsea. Minum kopi dan memakan cabai agar tidak mengantuk. Tetapi hal tersebut sia-sia. Sudah bertumpuk-tumpuk cangkir kopi di meja tempat mereka duduk, tapi rasa kantuk itu tetap juga datang.

Malam mulai larut dan Chelsea minta izin pada Frank untuk pulang. Pada awalnya Frank agak keberatan untuk ditinggalkan, tetapi setelah sadar bahwa malam hampir larut, dan takut juga bila terjadi fitnah karena tidak enak kan kalau ada perempuan yang malam-malam begini ada di tempat laki-laki. apalagi perempuan yang sexy dari ujung kaki sampai ujung kepala seperti Chelsea, bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya bisa-bisa. Frank melepas kepergian Chelsea sampai pintu gerbang rumahnya. Kemudian Ia kembali lagi ke sova ruang tamu dan duduk menghempaskan diri di atasnya. Tanpa sadar, Ia akhirnya menyerah dengan rasa kantuk yang dari tadi menyerangnya. Dalam mimpi yang sangat singkat itu, Ia melihat Chelsea yang sedang berjalan untuk menyeberang jalan raya. Saat Chelsea sedang berada di tengah-tengah jalan, tiba-tiba meluncur sebuah mobil sedan dengan kecepatan cukup tinggi. Akibatnya mobil itu tidak kuasa untuk mengerem, dan terjadilah peristiwa yang sangat Frank takutkan.

Frank terbangun dari tidurnya yang singkat itu dan sadar bahwa Ia harus bertindak cepat kali ini. Ia berlari secepat yang dia bisa keluar dari rumahnya dan segera menuju jalan di mana mimpinya itu terjadi. Saat Ia tiba di daerah yang Ia maksud, Frank tidak melihat Chelsea atau kejadian yang ada dalam mimpinya itu. Ia seketika itu tersadar bahwa ada jalan satu lagi yang keadaannya sama persis dengan di sini. Ia langsung berlari lagi menuju tempat yang satu lagi dan melihat ada kerumunan orang-orang yang sepertinya telah terjadi sesuatu hal yang serius. Frank segera merasa sangat terpukul karena Ia sudah tahu apa yang terjadi di hadapannya sekarang. Sekali lagi Ia tidak dapat berbuat apa-apa pada peristiwa yang diketahuinya dan pada orang yang dicintainya pula. Seperti yang telah Ia duga, Ia melihat sesosok tubuh perempuan cantik yang Ia sangat cintai selama ini terbaring tidak bernyawa. Dan hanya keheningan dalam hati Frank yang mengalahkan teriakan kesedihan yang sudah hancur.

Baca juga:  Sebuah Esensi dan Aksesori

***
Frank merasa sangat terpukul sekali dengan serentetan peristiwa mengerikan yang Ia alami belakangan ini. Pertama Ibunya, lalu Ayahnya, dan sekarang Chelsea tempat terakhir Frank untuk melipur lara. Sekarang ini tidak ada lagi tempat untuk berteduh, tempat untuk bernaung, dan tempat untuk meluapkan semua kekesuan hati. Yang sangat Ia sesalkan adalah, Ia mengetahui semua peristiwa yang seharusnya dapat Ia cegah terjadinya. Tetapi Ia tidak dapat berbuat apa-apa dan semua peristiwa itu terjadi tepat di depan mata kepalanya sendiri. Rasanya Frank ingin bunuh diri saja, karena Ia merasa tidak dapat hidup dengan keadaannya sekarang ini. Tapi Ia berfikir, selain bunuh diri itu dosa yang besar, Chelsea dan keluarganya yang sudah tiada pasti akan sangat membenci perbuatannya ini. Oleh karena itu, Frank memilih untuk berjalan keluar rumah siapa tahu dapat pencerahan di sana.

Saat Frank berjalan tanpa tujuan di teriknya sinar mentari bulan Agustus, Ia teringat akan cerita yang ada di buku The Sixth sense yang Ia baca sebelum semua peristiwa itu terjadi. Lalu Ia juga teringat akan pertemuannya dengan si Kakek yang memiliki kemampuan indera keenam itu. “Ah ini semua pasti karena Kakek itu. Ia bilang Aku yang sangat ingin kemampuan itu akan bisa pula menjadi seperti dia. Mengetahui kejadian yang orang lain belum tahu kejadian tersebut dan mendapatkan firasat-firasat aneh tentang masa depan. Sekarang Aku sangat menyesal memiliki kemampuan aneh seperti ini yang hanya akan menyiksaku. Andaikan Aku tidak memiliki kemampuan ini, pasti peristiwa-peristiwa ini tidak akan terjadi”. Saat Frank masih berjalan dengan gontai tanpa tujuan, Ia melihat kerumunan orang-orang di trotoar jalan yang sepertinya ada kecelakaan lagi. لعبة الكازينو “Ah ada kecelakaan ya, tumben banget ya aku tidak dapat firasat sekarang ini!” kata Frank lirih dengan tawa putus asa. Walaupun Frank ingin mengabaikan hal itu, tetapi sepertinya kaki Frank menyuruhnya untuk berjalan ke arah kerumunan itu. Saat kepalanya menengok ke tubuh terlentang yang tidak berdaya itu, Ia merasa sepertinya pernah bertemu orang yang sudah tua itu sebelumnya. Ia langsung berlutut merendah dan berkata kepada Kakek yang memiliki kemampuan indera keenam itu dan sekarang sudah hampir diujung mautnya. “Kita bertemu lagi nak Frank…!” kata Kakek itu dengan terbatuk-batuk. “Kek, aku tidak mau memiliki kemampuan ini. Aku sangat menyesal!” kata Frank sedikit terburu-buru. “Tenanglah, semua yang terjadi, sudahlah terjadi. Dan semua akan berjalan tanpa sepengetahuanmu!”, “Tapi kek…, kek…,!” kata Frank yang bersamaan dengan hembusan terakhir dari nafas Kakek itu yang sudah satu-dua. Orang-orang yang berkerumun itu berbisik-bisik dan menganggap bahwa Frank sudah gila. Kemudian mereka pergi dan tidak ada yang menolong kakek itu mungkin karena mengira bahwa kami adalah gembel kota.

Beri Pendapatmu di Sini

Pages: 1 2 3 4 5