MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS

The Sixth Sense

Terakhir diperbaharui 3 bulan oleh Dimas Prasetyo Muharam

Setelah mengurusi jenazah si Kakek, Frank memutuskan untuk kembali ke rumah dan merenungi semua peristiwa yang telah terjadi selama ini. “Pertama-tama, Aku membaca buku the sixth sense itu. Lalu aku bertemu dengan Kakek sialan itu yang telah menularkan kemampuan setan ini kepadaku. Lalu kejadian-kejadian mengerikan yang sama sekali tidak Aku inginkan tiba dan kini Aku terpuruk sendirian di sini.” Fikir Frank yang sedang berjalan menyusuri ruang tamu. Ketika memasuki ruang makan, Frank membayangkan bagaimana suasana ketika mereka sekeluarga sedang bercengkrama dan bercanda dalam keceriaan keluarga. “Ma, aku sepertinya tidak dapat makan masakan mu yang super enak itu, dan Pa, aku rindu akan nasihat-nasihatmu” kata Frank lirih yang sedang menaiki anak-anak tangga. Setelah mandi dan membersihkan diri, Frank menghempaskan tubuh lelahnya ke atas tempat tidur yang berantakan sekarang ini. Ia mencari-cari handphonenya berharap akan ada nama Chelsea yang sedang menelphone pada screen handphonenya. “Oh Chelsea, aku rindu ingin membelai rambutmu yang wangi, mendengar suaramu yang merdu, dan Chelsea…. Ah, Andai saja aku punya mesin waktu doraemon dan alat penembus antar dimensi, akan ku putar waktu dan takkan mengalami semua hal buruk ini. Sayangnya Aku hanya manusia biasa yang hidup dalam relita, bukannya dunia komik dan play station.”. Di dalam kegelisahannya, Frank terlelap di Bawah redupnya sinar lampu kamar tidur.

Baca juga:  Hidupku, Pilihanku

Entah Ia sudah tertidur atau belum, Ia merasakan seperti ada tarikan kuat yang membawa tubuhnya berputar-putar dalam lorong gelap yang sepertinya Ia rasakan sangat lama dan tiada berujung. Ia tidak dapat melihat apa sekelilingnya dan di mana Ia sekarang ini. Saat Ia sudah mulai dapat mengendalikan diri, Ia sudah berada di tempat yang terang benderang di sinari oleh cahya keemasan sinar mentari. Angin bertiup sepoy-sepoy menerpanya yang sedang duduk di bawah rimbunnya pohon di taman. Ia melihat ada seorang perempuan cantik sedang menyandarkan kepalanya di bahunya yang lebar. Ia mengenali wajah itu dan wangi rambutnya. Ia Chelsea, perempuan yang Ia kira sudah pergi jauh darinya. Ia mencoba mencubit lengannya, ternyata terasa sakit dan berarti ini bukan mimpi. Lalu Ia coba menengok ke arloji, di sana waktu menunjukan pukul 08:34 am dan tertulis tanggal 7 July 2006. Ia tidak menyangka apa yang sebenarnya telah terjadi dengan dirinya sebelum dan sekarang ini. Ia sangat bingung, mengapa Ia bisa berada di tempat dan waktu yang sudah pernah Ia alami sebelumnya. Di tengah kebuntuan pikirannya, tiba-tiba terdengar suara lembut Chelsea di telinganya. “Bagaimana ceritanya, aku pingin tahu dong!” kata Chelsea manja. Frank tersadar dan kemudian tanpa buang-buang waktu, Ia melemparkan buku The sixth sense yang ada di tangannya ke arah danau yang mengkilat memantulkan cahya mentari pagi saat itu. Chelsea terkejut dan segera menegakan kepalanya dari bahu Frank. “Ada apa, apa yang kamu lakukan Frank!” tanya Chelsea panik. “Sudahlah, lupakanlah buku dan cerita sampah itu. Sekarang aku hanya ingin hidup dalam realita dan tidak ingin berharap dan mengkhayal sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini” kata Frank tegas. Kemudian Frank segera mendekap Chelsea dalam pelukannya dan berbisik, “Aku tidak ingin kehilanganmu lagi!”….

Baca juga:  Ferdi Story (5-15)

T A M A T

Beri Pendapatmu di Sini

Pages: 1 2 3 4 5