Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Tunanetra Perlu Advokasi Diri

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Jakarta, Kartunet.com – 35 tunanetra dari berbagai elemen di provinsi DKI Jakarta mengikuti pelatihan atvokasi hak asasi manusia yang diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Daerah Persatuan Tunanetra Indonesia (DPD PERTUNI) DKI Jakarta dan P.T. Garuda Indonesia TBK.

 

Pelatihan yang diselenggarakan pada hari Sabtu-Minggu, 2-3 Juli 2011 di Wisma SLB-A Pembina Tingkat Nasional Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan ini juga mengundang seorang komisioner dari Komisi Nasional Hak asasi manusia (Komnas HAM) sebagai

Pembicara, Dr. Saharuddin Daming, yang juga seorang tunanetra. Dengan materi: apa itu HAM, apa itu atvokasi dan strategi dalam melakukan atvokasi.

 

Menurut Ade Ismail selaku ketua panitia diselenggarakannya acara ini bertujuan agar tunanetra mampu mengatvokasi diri bila terjadi hal-hal yang menyangkut diskriminasi dan dapat mengatvokasi dirinya sendiri secara terarah dan terkordinasi. Selain itu dapat pula membantu untuk melakukan atvokasi terhadap orang lain yang mengalami tindakan diskriminasi dan sejenisnya.

 

Tunanetra perantauan dari Kalimantan ini juga sedikit bercerita bahwa ide untuk diselenggarakannya acara ini sudah cukup lama, sekitar dua tahun yang lalu. Karena begitu banyak kendala dalam berbagai macam hal, maka acara ini baru dapat diselenggarakan sekarang dengan dukungan dari Bapak Dr. Saharuddin Daming dan P.T. Garuda Indonesia TBK.

 

Walaupun ini adalah pelatihan atvokasi yang pertama di Jakarta, antusias para peserta sangat terlihat. Apalagi ketika peserta ditugaskan untuk mempraktekkan langkah-langkah dalam strategi atvokasi. Para peserta dikelompokan menjadi lima kelompok dan harus memperagakan langkah-langkah atvokasi yang sudah diberikan sesuai dengan tema kasus yang mereka pilih.

 

Antusias para peserta semakin terasa bahkan sangat heboh ketika seluruh peserta ditugaskan untuk mempraktekan salah satu strategi atvokasi yaitu berdemonstrasi. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Bahkan ada dua orang peserta yang ditugaskan menjadi profokator.

 

Di sini peserta dituntut untuk menjalankan tugasnya sesuai dengan peran yang sudah diberikan oleh panitia. Demonstrasipun terjadi dan bentrokan tidak dapat dihindari. Walaupun begitu, hal tersebut tidak membuat antusias peserta menurun.

 

Ade Ismail berharap dengan diselenggarakannya pelatihan ini semoga dapat menumbuhkan kesadaran bagi setiap tunanetra terhadap hak-haknya sebagai penyandang disabilitas. Selain itu,  dia pun berharap agar kelak ada tim atvokasi dari kalangan tunanetra yang mampu memperjuangkan hak-hak kaumnya.(Rafik)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *