Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Dua Ibu

Tuhan memberiku dunia yang hening

Dan ternyata keheningan adalah pilihan terbaik Tuhan bagiku

Dalam hening aku belajar untuk tidak merasa sepi

Kerena hening bukan berarti sendiri

 

Aku mencintai kesendirian. Kesunyian. Sepi adalah teman terbaik. Karena disanalah aku menemukan kedamaian. Sepi dalam keheningan bukan berarti sendiri. Ada yang setia bersamaku dalam keheningan, dia adalah Tuhan, yang setia mendengar jeritan hatiku.

 

Tuhan menciptakan manusia dengan keunikan tersendiri. Lalu apa yang salah pada diriku? Ibu, mengapa kau menjauhiku? Aku kesepian karenamu.  Apakah aku tidak istimewa di matamu? Aku ingin diperlakukan lembut olehmu. Jangan hujani aku dengan kebencian. Aku tak sanggup membalas tatapan sinismu padaku.

 

Setiap pagi Ibu tidak pernah menyiapkan sarapan dan seragam sekolahku. Peran Ibu digantikan oleh Ayah, dia yang mengantarku ke sekolah, menemaniku ke toko buku, dia yang selalu membacakan dongeng setiap menjelang tidur, juga sosok yang pertama kupeluk ketika petir menggelegar.

 

“Ayah, kenapa Ibu tidak pernah bicara padaku? Apa Dinda pernah berbuat salah? atau Ibu tidak menyayangi Dinda lagi?”

 

Ayah menatapku cukup lama. Ada sesuatu di balik kelopak matanya, hujan. 

 

“Tidak, Nak. Dari kedalaman hati Ibumu, dia sangat menyayangimu. Dia hanya butuh waktu untuk tahu bagaimana caranya menyayangimu.” Tuturnya sembari mengikat rambutku.

 

“Ayah, Dinda sangat menyayangi Ibu, Dinda ingin sekali Ibu yang mengikat rambutku setiap hari.” aku menangis di pangkuannya.

 

***

 

Dimana pun Dinda berada ingatlah Tuhan, karena dia yang akan menjaga Dinda dari orang jahat dan selalu ada di samping Dinda kapanpun Dinda butuhkan.

 

Pesan dari Ayah ketika dia memutuskan untuk melepaskanku ke pangkuan Paman dan Bibi yang tinggal di kota. Ayah terpaksa melakukan ini karena dia takut aku tidak bisa hidup normal, merasakan  kasih sayang Ibu. Hingga sekarang pun Ibu tidak pernah menanyakan keadaanku di sini.

 

“Ayah, Dinda Lulus.” Ucapku lewat telepon genggam.

 

Ibu tidak mau menerima telepon dariku, bahkan di hari kelulusanku, tak ada yang istimewa di hari itu. Entahlah, hingga detik ini aku belum mengetahui alasan mengapa Ibu begitu membenciku.

 

Ya Allah, Engkau Maha Penggenggam hati, luluhkan hati ibuku. Maafkan segala dosanya. Jangan biarkan dia menjadi Ibu yang gagal mendidik anaknya. Ya Allah, kembalikan dia ke pelukanku.

 

Aku duduk di bibir pantai, menyaksikan senja berlabu di cakrawala. Ombak yang menggulung begitu riang menyambut kedatangan senja. Pasir putih hilir mudik diterjang ombak. Hampir setiap sore aku menunggu senja. Karena di sana kulihat wajah Ibu yang tersenyum menatapku meski akhirnya dia pergi memunggungiku. Aku selalu berharap pada senja untuk menghadirkan Ibu di hadapanku.

 

Seperti anak normal lainnya, aku ingin kasih sayang darinya. Doa dan dukungan seorang Ibu adalah kekuatan terbesar bagi anak. Aku pernah bertanya pada Tuhan, apakah aku tidak akan meraih cita-citaku tanpa restu dari Ibu? Karena dia adalah tangan Tuhan. Tapi aku percaya tidak ada Ibu yang tidak mendoakan anaknya. Setiap mereka memiliki cara sendiri mengungkapkan kasih sayangnya, dan mungkin seperti inilah Ibuku menyayangiku, dalam diam dia mencintaiku, dari kejauhan dia mendoakan kesuksesanku.

 

***

 

“Ayah, Dinda lulus sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran di Padang.” Aku berteriak agar Ibu bisa mendengar betapa bahagia puterinya yang berhasil mewujudkan mimpinya.

 

Paman pernah menceritakan tentang cita-cita Ibu ingin menjadi dokter. Dan sekarang aku yang akan melanjutkan perjuangan Ibu. Aku tahu Ibu sangat bahagia di sana.

Ya Allah. Tuntun hatiku menuju masa depan yang Kau ridhoi.

 

Sebagai mahasiswa kedokteran aku memiliki jadwal yang sangat padat, sehingga  kesulitan menghubungi Ayah. Di setiap langkah aku selalu mengingat pesan Ayah. Hingga akhirnya aku menyelesaikan studi dengan baik, aku mengabarkan Ayah untuk datang ke acara wisudaku, pada akhir desember.

 

“Ayah, sekarang nama Dinda menjadi, Adinda Raihani Zahra, S.Ked”

 

“Alhamdulillah, Ayah bangga memilikimu, tapi ingat Dinda masih harus berjuang lagi untuk bisa menjadi dokter spesialis, biar nanti ada yang ngerawat Ayah dan Ibu kalau sakit.”

 

“Dinda akan berjuang untuk Ayah dan Ibu.”

 

“Jangan lupa dengan kewajiban Dinda, berdoa dan berbagi kebahagiaan dengan mereka yang kurang beruntung.”

 

Begitulah Ayah, dia selalu memberiku semangat untuk berjuang dan nasehatnya selalu kujalani dengan penuh keikhlasan, mungkin ini yang membuat Tuhan begitu menyayangiku, karena aku memiliki Ayah yang sangat menyayangi-Nya dan mengajarkanku untuk menyayangi seseorang tanpa syarat. Tuhan memang Adil, meskipun Ibu bungkam seribu bahasa, tapi Ayah selalu mengisi kekosongan yang ada, dia menjadi sosok Ayah juga Ibu bagiku.

 

“Maaf, Nak. Ayah dan Ibu tidak bisa datang di hari bahagiamu, karena ada hal penting yang harus kami selesaikan disini.” Pesan singkat dari Ayah kubuka setelah menunaikan sholat malam.

 

Sedih. Di hari bahagiaku seharusnya mereka ada di sini bersamaku. Tapi aku mencoba mengerti kondisi mereka. Lagipula dengan kehadiran keluarga paman dan sahabatku sudah cukup meyakinkan hatiku bahwa aku ada dihati mereka. Setelah selesai wisuda, Paman dan Bibi mengajakku ke suatu tempat. Sebuah pemakaman yang tak jauh dari rumah.

 

“Ini nisan siapa, Bi?”

 

Wajah Bibi berubah menjadi merah, matanya lekat menatapku. Perlahan tangannya meraih bahuku dan menyuruhku duduk di samping nisan yang berwarna putih itu. Aku tidak bisa menangkap tatapannya, dia mengalihkan wajahnya ke arah tulisan dibalik kaca nisan.

 

“Dia adalah wanita yang melahirkanmu.”

 

Hening.

 

Hanya air mata yang berbicara.

 

Aku kembali. Melangkah untuk mencari jawaban dari seribu tanya yang bersarang di benakku. Selama  22 tahun mereka menyembunyikan Ibu dariku. Aku tidak akan sedih jika dari awal aku mengetahui hal ini, tapi aku sangat terpukul setelah sekian lama baru mengetahui  kondisi Ibu.

 

Dia disana. Kedinginan tanpa selimut.  Sendiri tanpa aku di sampingnya.  Perasaan ini lebih sakit dari luka yang ditetesi cuka. Bukan aku tidak mengikhlaskan kepergian Ibu, yang aku sesalkan mengapa harus sekarang aku mengetahuinya? Aku terlambat menyadari bahwa aku telah lama kehilangan Ibu.

 

Mereka berdiri di depan pagar menunggu kedatanganku. Ayah begitu bahagia. Melihat wanita yang bersama Ayah, entah bagaimana hatiku menafsirkannya, bahagia dan kecewa. Dia adalah wanita yang mirip dengan Ibu, lebih tepatnya mereka kembar bersaudara.

 

“Dinda, maafkan Ibu karena selama ini selalu diam terhadapmu, tapi sesungguhnya Ibu sangat menyayangimu,” tutur lembut wanita berjilbab yang selama ini menjadi Ibuku.

Aku dan dia saling bertatapan. Hatiku bergetar. Pandangannya luruh menyolok bola mataku. Sangat dalam, seperti pandangan Ibu yang sesungguhnya.

 

“Meski aku terlahir bukan dari rahimmu?” ada yang meleleh dari kelopak mataku.

 

Kurasakan tangan Ayah menyentuh bahuku.

 

Wajah Ibu sangat gelap, tampak begitu lelah menanggung siksaan batin selama ini. Cahayanya mulai redup. Tiba-tiba Ibu memeluk tubuhku. Hangat.

 

Tak kusangka jika ini pelukan pertama sekaligus terakhir.

 

***

 

Aku duduk di antara dua wanita yang sangat kusayangi dan menyayangiku. Kini mereka bersama bahagia di Surga Ilahi. Aku akan tegar. Setegar Ibu yang memperjuangkan hidupnya demi aku, juga Ibu yang berjuang menjadi Ibuku, juga isteri untuk Ayah. Aku bersyukur karena Allah telah mengirimkan dua malaikat untukku.

 

 

 

Editor: Putri Istiqomah Priyatna

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga
Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *