Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Ferdi Story (1-15)

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Siang itu, Di sebua sekolah menengah atas, bel pulang sekolah telah berbunyi. Seluru siswa/siswi di sekolah itu pun bergegas keluar meninggalkan sekolah Mereka. Tetapi biasanya, beberapa siswa/siswi ada  yang tidak langsung pulang ke rumah, melainkan mereka   berkumpul dengan teman-teman mereka, seperti: Ngobrol di halaman sekolah, jalan-jalan ke mall serta hal-hal lainnya yang tentu saja dapat membuat mereka terhibur. Tampak dari kejauhan, seorang siswa yang memiliki fostur tubuh tinggi besar serta wajah yang cukup tampan, sedang berjalan menuruni tangga sekolah. Sepertinya Dia akan langsung pulang karena tampak dari raut wajahnya dia sudah cukup lelah. Siswa itu bernama Ferdi Setiadi. Dia kelas 1 SMU di sekolah tersebut.   Ketika dia sedang asyik berjalan di koridor lantai dasar, tiba-tiba dia merasa ada yang menabrak punggungnya dengan cukup keras. Dengan kondisi yang kurang Siap, dia pun terjatuh tertelungkup dan kening serta batang hidungnya membentur lantai berkeramik yang membuat sedikit benjolan pada keningnya dan hidungnya Pun terasa hampir patah. Ketika tertelungkup, dia merasakan ada seseorang yang menindih punggungnya lalu bergelincir jatuh ke lantai. Lalu orang tersebut Langsung buru-buru duduk di sisinya. “Brengsek…! Siapa yang nabrak gue? Buta kali yah tuh orang!” maki Ferdi yang sedang memegangi keningnya yang mulai berdenyut-denyut kesakitan sambil menggerakan Badannya untuk duduk. “so-so-ry, Gw yang nabrak loe! Gue I-In-dri.” Kata Seorang siswi yang berkata terbata-bata saking takutnya sambil mengusap-ngusap kepalanya yang ternyata Juga terbentur lantai ketika dia tergelincir dari punggung ferdi. Ferdi pun menoleh ke arah suara minta maaf itu dan ditemukanlah sosok wanita disamping kanannya. Dia memandang wajah wanita itu dengan penuh amarah. Akhirnya Mereka pun duduk bersimpuh berhadapan di lantai tersebut. “So-rry…,, gu-gu-gue tadi bu-bu-buru-buru. Gue nggak nge-ngeliat l-l-loe. Gu-gue lagi ngejar te-temen gue.” “Stop…! Gue nggak butuh alasan loe!” potong Ferdi sambil bangkit dari lantai lalu pergi meninggalkan siswi itu tanpa memperdulikan pembicaraannya serta teriakan wanita itu yang menyuruhnya untuk Berhenti. Siswi itu mencoba tuk bangkit dan mengejarnya. Namun sayang bagi siswi itu, Ferdi sudah masuk ke mobil jemputannya dan berangkat sebelum siswi itu sampai Ke halaman parkir sekolah. “Kenapa kepalanya dhen?” Tanya sang sopir. “Nggak-nggak, Cuma kecelakaan kecil. Oh yah Pak, kita ke kelinik dulu yah! Mau periksa takut-takut ada luka yang menghawatirkan.” Kata Ferdi lirih sambil Merasakan kepalanya serta hidungnya yang berdenyut-denyut. Pak sopir pun menyetujuinya. Singkatnya, ketika Ferdi selesai memeriksakan diri di klinik, keadaan Ferdi pun tidak ada yang terlalu dihawatirkan. Dia hanya mengalami memar-memar ringan Dan dokter hanya memberikan resep pengurang rasa sakit dan obat pengempes benjolan yang berada di keningnya. Dokter menyarankan, setibanya di rumah dia Harus beristirahat agar obatnya cepat bereaksi supaya cepat sembuh.   ***   Hari berikutnya. Pagi itu, di teras koridor sekolah. Indri, siswi yang waktu itu menabrak Ferdi sengaja duduk di teras tersebut untuk menjegat Ferdi. Dan, usahanya pun Tidak sia-sia. Lima menit setelah dia menungguinya, Ferdi pun datang. Ferdi berjalan makin lama makin dekat kearah Indri dan Ferdi menyadari bahwa siswi Yang menabraknya ada di sekitarnya. Indri yang merasa dirinya diketahui kehadirannya oleh Ferdi, tiba-tiba menjadi lemas dan tubuhnya merasa tidak bisa digerakan karena saking takutnya. Jantung Indri semakin berdeguk kencang dan keringat dinginya pun mulai bercucuran ketika Ferdi semakin dekat berjalan kearahnya. Dan, Ferdi pun telah berada Persis di depannya. “Asalamualaikum, selamat pagi! Akhirnya kita ketemu lagi.” Sapanya sambil bergerak lalu duduk di kanan Indri. Indri pun hanya duduk terpaku, mulutnya kaku, sama sekali sulit untuk digerakan walau pun hanya 0,1 mili. Kepalanya menunduk menolak memandang Ferdi. Dia pun hanya tersenyum melihat ekspresi Indri yang luar biasa ketakutan kepadanya. “Sudah…, nggak usah takut gitu dong! Aku udah maafin kok. Aku menganggap itu semua udah nasipku untuk ditabrak kamu.” Kata Ferdi dengan lemah lembut. Suasana hening sejenak, indri pun tidak menimbulkan perubahan ekspresi yang berarti. Namun tiba-tiba saja, rasa takut yang dialami Indri berubah menjadi tangisan. Air mata mulai keluar dari pelupuk matanya dan isak tangis pun mulai terdengar. Di dalam isak tangisnya Indri berkata:”Ampun! Jangan hajar gue…! Yah… gue tahu, gue salah! Gue nggak sengaja nabrak loe! Ampun… ampun… ampun… jangan!” “Siapa yang mau menghajarmu? Kan tadi aku udah bilang, kamu udah ku maafin kok. Malahan aku yang mau minta maaf karena waktu itu aku udah marah-marah sama Kamu. Jangan nangis gitu dong!” Kata Ferdi dengan ekspresi menenangkan. Tangisnya pun mulai redah dan dia mulai mengangkat kepalanya lalu dengan perlahan dia mulai memandang Ferdi. “Serius loe mau maafin gue?” Tanya Indri yang masih terisak. “Yah…, gue maafin!” Jawab Ferdi tegas. “Oh yah, ngomong-ngomong namamu siapa, dan kelas berapa?” Lanjut Ferdi. “Indriasari, 1-4.” Jawabnya sambil mengelap air matanya dengan sapu tangannya. “Aku Ferdi 1-2.” Jawab Ferdi sok penting. Tidak terasa, para siswa/siswi sudah mulai ramai berdatangan ke sekolah. Banyak dari mereka memperhatikan Ferdi serta Indri dan ledekan-ledekan seperti “Cieee…! PDKT nech!”, “Wah…, lagi nembak yach?”, “Dri…, terima aja…! Kapan lagi loe bisa dapetin cowok setajir dan setampan Ferdi.” Mulai terdengar Ketelinga mereka. Ada juga yang berdehem, bersuit dan bernyanyi-nyanyi didepan mereka sambil membawa gitar seperti pengamen metro mini. Dengan kondisi yang sedemikian, mereka Pun menjadi cukup risih lalu mereka pun segera mengakhiri pembicaraannya dan meninggalkan anak-anak yang berusaha meledek mereka. Riuh tepuk tangan pun terdengar. Ferdi dan Indri segera cepat-cepat naik ke lantai tiga tempat kelas mereka berada lalu berpisah diundakan tangga terakhir Yang membawa mereka ke lantai tiga.   ###Keterangan###   Sekolah itu terdiri dari tiga lantai, lantai dasar dipergunakan untuk kantor-kantor. Sedangkan lantai dua dan tiga digunakan untuk ruang kelas. ###Keterangan selesai###   Gosip tentang mereka pun cepat menyebar hari itu bagaikan jet koster yang sedang meluncur. Berbagai macam prasangka pun terlontar kepada Ferdi dari temen-temenya Tentang pertemuannya dengan Indri. Ferdi pun menjelaskan dengan sejelas-jelasnya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, walau pun mulutnya berbusah menjelaskan itu semua, gosip itu pun tetap Hangat sepanjang hari itu.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *