Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Ferdi Story (10-15)

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Seminggu sudah Ferdi berada di rumah sakit. Dia sudah terlihat pulih dan pihak rumah sakit sudah memperbolehkan Ferdi untuk check out dari rumah sakit itu. Setelah keluarga Ferdi membereskan urusan administrasi rumah sakit, mereka pun segera meninggalkan rumah sakit itu untuk pulang ke rumah mereka.
Anna pun masih hadir di tengah-tengah mereka.
”Makasih yah nak, kamu sudah mau menemani Ferdi di sini. Kami tidak bisa membalas apa-apa untuk jasamu.” Kata Pak Tanto dengan penuh ungkapan rasa terimakasih setibanya mereka di halaman parkir.
 ”Oh iya Pak, nggak apa-apa kok. Saya senang melakukkannya! Karena Ferdi juga sahabat saya. Dan setiap orang yang menjadi sahabat saya, saya pasti akan membantunya semampuh tenaga yang saya miliki. Nggak usah memikirkan balas jasa untuk saya Pak! Karena saya tak mengharapkannya sama sekali. Saya sudah sangat bahagia kok, kalau Ferdi bisa pulih lagi seperti saat ini.” Kata Anna dengan perasaan senang.
Akhirnya Ferdi dan keluarganya menyalami Anna sebagai ucapan terimakasih.,
Tiba-tiba, Anna mendapatkan sebuah amplop ketika dia sedang bersalaman dengan Bu Tanto. “Apa ini Tante?” Kata Anna sambil memperhatikan amplop yang di pegangnya. “Uang itu sebagai…,” “Sebagai balas jasa?” Anna memotong pembicaraan Bu Tanto.
“Dengan uang segini?” Tiba-tiba Anna menyebar semua uang itu sebanyak 5 lembar ratusan ribu.
”Kalau begini, saya tak akan mau membantu bahkan menjumpai Ferdi lagi!” Anna merasa sangat tersinggung. Mereka pun terdiam sejenak.
”Oh yasudah kalau gitu!” Pak Tanto mengambil uang-uang itu. “Berapa yang kamu mau, sebutkan aja nilainya!” Lanjut Bu Tanto sambil membuka dompetnya.
 “Maaf, saya tidak membutuhkan uang Anda sama sekalih! Karena, jasa saya tidak bisa dibalas dengan sebua materi! Karena materi itu, bagi saya hanyalah bersifat sementara saja. Saya hanya ingin mendapat balasan pahala dari Allah saja. Karena bagi saya, pahala lebih berharga dibandingkan apa pun, selamat siang!” Dia pun berlari meninggalkan mereka. Mereka hanya termenung memikirkan kata-kata yang diucapkan Anna. “Aneh…, baru kali ini ada orang yang menolak mentah-mentah balas jasa saya. Apa mungkin dia orang stres yang nggak kenal dengan uang?” Batin Pak Tanto dengan perasaan heran sambil membereskan uang-uang itu.
Akhirnya, sebuah klakson mobil yang dibunyikan oleh Pak Topo sopir mereka sebagai tanda mobil sudah siap, mennyadarkan mereka dari semua lamunan mereka.
Mereka pun akhirnya memasuki mobil mereka untuk meninggalkan rumah sakit itu.
Di perjalanan, mereka melihat Anna. Dia sedang berdiri dipinggir jalan. Matanya terlihat basah karena menangis. Mereka pun menyuruh Susan untuk turun dari mobil dan menemui Anna. “Sebaiknya kalian pulang duluan!” Kata Susan sambil keluar dari mobil itu untuk menemui Anna. Mereka pun meninggalkan Susan.
”Ann, kamu kenapa? Maafkan kami kalau kami bersalah sama kamu!” Kata Susan sambil memandang wajah Anna. Anna hanya terdiam mendengar apa yang Susan katakan.
Mereka pun terdiam untuk beberapa saat.
”Anna Cuma nggak suka sama sikap keluarga Kakak. Yang seolah-olah segala sesuatu dapat dibayar dengan materi. Aku nggak suka Kak!” Kata Anna dengan nada sedih yang memecah kehiningan itu.
”Anna sayang, keluarga Kakak itu Cuma ingin mengucapkan terimakasih sama kamu. Dan mereka ingin membalaskan jasa-jasamu kepada Ferdi selama ini. Akhirnya, materilah yang menjadi alat balas jasa itu untukmu Ann.” Kata Susan dengan polosnya sambil tersenyum.
 ”Tapi Kak, saya tidak mau balas jasa dalam bentuk materi untuk hal ini! Perbuatan keluarga Kakak sama sekali tidak mendidik Anna agar dapat berbuat ikhlas untuk menolong sesama. Dengan pemberian balas jasa dalam bentuk materi seperti tadi, Anna hawatir Kak, hati Anna tidak dapat berbuat ikhlas lagi kepada sesama. Anna tidak mau ini terjadi!”
”Yasudah kalau begitu Ann, Kakak mewakili keluarga Kakak benar-benar minta maaf sama kamu. Kami sadar, bahwa materi yang kami miliki tidak selalu dapat membalas semua jasa-jasamu. Kamu maukan memaafkan kami Ann?” Kata Susan dengan penuh permohonan sambil memegang tangan Anna.
 ”Iya kak, dan saya mohon, jangan terulang lagi kepada saya hal seperti tadi.”
 ”Baik Ann. Kami mengerti.” Setelah mereka menyelesaikan pembicaraan, Susan menyetop taxi. Dia menawarkan Anna untuk mengantarkan Anna kerumahnya.
Anna menolaknya, namun dengan sebua kata-kata lembut dan bujukan-bujukan manis dari Susan, Anna pun akhirnya menerima tawaran itu.
Setelah selesai mengantarkan Anna, Susan pun pulang kerumahnya.
***
Di rumah Ferdi, Ferdi sedang terbaring di kamarnya sambil ditemani oleh alunan lagu “Asoy” yang berasal dari ipot-nya dan memandangi semua foto-foto yang berada di dinding kamarnya. “akhirnya, gue bisa menikmati dunia luar lagi. Setelah gue mendekam di rumah sakit yang cukup membosankan! Untung aja, Anna mau nemenin gue dan menghibur gue. Coba kalau nggak ada dia, gimana jadinya gue? Ann, maafin gue, udah bikin lo bener-bener repot.” Batin Ferdi.
”Fer, buka pintunya dong! Kakak mau ngomong sama lo!” Kata Susan sambil mengetuk pintu kamar Ferdi. Ferdi membukannya lalu Susan masuk ke kamar Ferdi.
“Yampun Ferdi-Ferdi, sampai kapan sih lo tobatnya…?” Susan mengganti lagu di ipot itu dengan lagu yang lebih bermutu.
“Yah…, kan belom selesai Kak lagunya!” Kata Ferdi dengan nada protes. Susan tidak menghiraukannya.
 ”Fer, Kakak salut deh ama dia!” Kata Susan sambil merangkul Adik kesayangannya di tempat tidur.
 ”Siapa kak?”
 ”itu, Anna Fer. Jarang hlo ada orang yang sampai sebegitunnya. Kakak ampe malu mendengar kata-katanya.” Susan pun melepaskan rangkulannya.
 ”Emangnya dia bilang apa?” Diceritakanlah semua percakapan yang terjadi waktu itu. “Yaampun Ann, gue nggak nyangka bisa temenan dengan orang sebaik lo.” Batin Ferdi.
Ferdi pun mengambil telpon genggamnya yang terletak di atas meja komputer di kamarnya. Dia pun menghubungi rumah Anna.”Halo, asalamualaikum!” Ana berkata seperti orang baru bangun tidur.
 ”Walaikumsalam. Anna, ini Ferdi! Aku juga mau minta maaf atas yang tadi. Kami nggak tahu lagi, balas jasa apa yang seharusnya kami berikan untukmu. Dan didalam kebingungan kami, akhirnya kami pun memberikan balas jasa yang kurang kamu suka sehingga kamu pun marah kepada kami. Maafin yah!”
”oh…, itu yah, nggak apa-apa kok. Anna udah nggak marah sama kalian. Oh iya, jangan lupa obatnya diminum yah! Biar kamu benar-benar pulih.” Sekarang nada bicaranya sudah agak membaik.
“Makasih yah, atas perhatiannya. Oh yah, kayaknya kamu abis tidur yah?” Ferdi membalas dengan nada penuh romantis.
“Ah…, biasa aja kok.” Anna masih melanjutkan, “yah…, gitu deh. Pas tadi telponku berdering, aku lagi tidur. Tapi nggak apa-apa kok, aku malah seneng kamu mau telpon.” Kata Anna dengan nada ceriah.
 ”oh… Yaudah Ann, gitu aja yah! Sekalih lagi kami minta maaf atas semuanya.”
 ”Oh, iya. Istirahat yang cukup yah!”
 ”Makasih Ann. Kamu juga, kalau masih ngantuk, abis ini lanjutin yah tidurnya! Wasalamualaikum.”
 ”Sama-sama Fer. Walaikumsalam.” Ferdi menutup telponnya.
”Cieee adik Kakak, ceritannya PDKT nih? Indri gimana dong?” Susan berkata dengan senyuman manisnya.
”Kakak apa-apaan sih! Ferdi Cuma minta maaf doang kok. Gosip itu Kak!” Jawab Ferdi dengan nada malu-malu.
”Itu, pake sok perhatian segala, , apa itu bukan namannya PDKT Fer? Jangan lupa lo, PJJ buat Kakak kalau berhasil!” Ledek Susan.
”Ah Kakak ni, ngaco deh! Mana mau Anna sama tipe cowok kayak Ferdi.” Kata Ferdi merendah.
”Kalau lonya mau sungguh-sungguh ngedapetinnya, bisa aja Fer! Udah ah, Kakak mau keluar sebentar. Tidur yang manis yah di sinih sayang!” Susan meninggalkan Ferdi. Ferdi menyambungkan I-Pot-nya ke sound system di kamarnya. Dia pun kembali memutar lagu “Asoy” dengan volume yang cukup keras.
***
“Benar-benar emang…, Anak itu susah dibilanginnya!” Kata Pak Tanto dengan jengkel kepada Istrinya ketika lagu itu terdengar sampai ke telinga mereka. “Yah kita berharap ajah, ada seseorang yang mampuh merubah sikap Anak kita menjadi lebih baik.” Kata Bu Tanto kepada Pak Tanto dengan nada berharap. Saking risihnya, Pak Tanto pun mendatangi kamar ferdi. “Fer…, fer…! Kecilin lagunya!” Kata Pak Tanto sambil menggedor pintu kamar Ferdi. “Apa Pah? Nggak denger!” Kata Ferdi dengan nada keras dari dalam kamarnya. Lagu itu masih bergema di kamar Ferdi dengan kerasnya. Ferdi membuka pintu itu. Dia melihat Papahnya cukup kesel dengannya. “Kamu ini punya etika nggak hah? Kecilin lagunya, kalau perlu pake headphone aja dengerinnya!” Kata Pak Tanto dengan jengkel.
 
“Iya-iya Pah! Kirain ada apaan teriak-teriak.” Ferdi langsung menutup pintu kamarnya. “Dasar orang tua, nggak bisa ngelihat Anaknya seneng!” Gerutu Ferdi sambil mmenyambungkan I-Potnya ke headphone miliknya.
 
***
 
Beberapa hari kemudian.
Libur sekolah telah berakhir, siswa/siswi kembali masuk ke sekolah. Begitu pun dengan Ferdi, dia juga sudah siap untuk kembali masuk ke sekolah.
Pagi itu, Ferdi sedang menaiki tangga sekolah untuk menuju ke kelasnya yang  berada di lantai tiga.
“Hai Fer…! Gimana, udah agak baikkan? Sorry yah, Gue nggak bisa jenguk lo. Gue dan Adolf harus berurusan sama polisi. Gara-gara alat terkutuk itu.” Seru Indri ketika mereka bertemu di tangga.
“Terus nasip kalian gimana?” Tanya Ferdi penuh minat.
“Kami tidak terbukti bersalah. Atas keterangan opahnya Adolf, Polisi telah menemukan pelaku utama yang mencuri alat tersebut yang menjualnya ke Opahnya Adolf. Dan alat itu sudah dikembalikan ke pemiliknya. Tapi tahu nggak Fer?”
“Kenapa?” Lanjut Ferdi.
“Opahnyah Adolf itu, mendapatkan uang ganti dari seorang pemilik sonic recorder tiga kali lipat dari uang yang dia berikan untuk membeli alat itu. Alasannya, Opahnya Adolf secara tidak langsung telah menolong pemiliknya sehingga alat itu kembali ke tangannya.” Jelas Indri secara gamblang.
“Oh…, bagus dong, lo dapet cipratannya?” Indri hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ferdi.
“Cuma Rp. 100.000 doang, itu juga udah abis gue jajanin.” Jawab Indri yang mukanya mulai menjadi bete.
 
Akhirnya, bel sekolah pun berdering, mereka pun mengakhiri pembicaraannya. Ferdi memasuki ruang kelasnya. Dia berbicara  dengan beberapa temannya dan menannyakan kabar mereka.
”Hai Fer, lo kalau kecelakaan ngajak-ngajak gua dong! Masa, lo kecelakaan dirasain sendiri aja. Hehehe…” Kata Kananto dengan nada penuh humoris.
Ferdi hanya tersenyum mendengarnya.
”Fer, sorry, gua nggak bisa jenguk lo kemaren, karena pas denger lo kecelakaan gua udah di surabaya.” Lanjut Fikri dengan nada minta maaf.
 ”Oh, nggak apa-apa kok, yang penting lo udah do’ain gue agar gue cepet sembuh. Sehingga gue bisa kumpul lagi sama kalian semua.” Kata Ferdi kepada mereka semua.
”Siapa yang do’ain lo? Kita nggak ngerasa kirim doa ke lo deh. Hehehe…” Celetuk Rendi. Ferdi pun hanya tersenyum menanggapinya. Karena, dia memaklumi mereka memang seperti itu. Kalau bercanda suka bikin sakit hati.
Tak beberapa lama kemudian, Guru bahasa Indonesia memasuki ruang kelas. Guru itu bernama Ibu Asiah. Dia sangat disenangi oleh sebagian besar siswa/siswi di sekolah itu. Selain penyabar, dia juga seorang guru yang cukup bijak sana didalam mengajar mau pun memberikan tugas-tugas kepada siswa/siswi.
”Selamat pagi anak-anak! Baiklah, kalian telah menikmati liburan yang cukup panjang. Nah, sebagai pemanasan, tolong sekarang kalian buat sebua rangkaian puisi dalam bentuk bebas! Ungkapkan saja seluruh perasaan kalian terhadap puisi yang akan kalian buat. Mengerti?” Kata Bu Asiah sambil siap-siap menuliskan daftar kehadiran siswa/siswi pada buku jurnal kelas.
”Mengerti bu!” Jawab mereka semua.
Setelah diperintahkan, mereka pun membuatnya. Beberapa menit berlalu, dan selama itu juga  suasana kelas pun hening.
”Sudah selesai?” Tanya Bu Asiah kepada mereka.
”Saya sudah bu!” Jawab Ferdi.
”Baiklah, silahkan maju ke depan nak!” Dia menyuruh Ferdi untuk membacakan hasil puisinya di depan kelas. Dengan malu-malu, akhirnya dia membacannya.
Dengan bergaya mirip seorang penyair, dia membaca puisi itu dengan penuh percaya diri.
Isinya begini:
” Sebuah perasaan yang tak kan pernah terjawab.
 
Hai seseorang yang berada nan jauh di sanah, apakah kau tak mendengar kata hatiku yang selalu memanggil namamu? Atau mungkin kau pura-pura tuli terhadap panggilan hatiku. Dan, apakah kau tak melihat, betapa aku selalu memperhatikan kau dan ku tunjukkan betapa aku menyayangi kau. Atau mungkin kau pura-pura buta sehingga kau tidak menghiraukan semua ini. Sungguh, mungkin kau tak memiliki perasaan. Ku berikan cinta, kau tak membalas. Ku berikan kasih sayang, kau membuangnya. Ku berikan amarah, kau pun menjauh dariku. Mungkin jika Ku tanamkan kebencian, kau pun tak peduli. Sebenarnya, apa sih maumu? Apa yang harus aku lakukkan, agar kau mengerti?
Aku bingung, biarlah waktu yang menjawab ini semua. Atau mungkin biarlah ini takkan pernah terjawab hingga aku merelahkan kau bersamanya.”
Tepukan tangan dari siswa pun meramaikan suasana kelas.
Setelah membacakan puisinya, Ferdi pun duduk kembali di korsinya.
”Puisi tadi cukup menarik, saran Ibu untuk Ferdi, agar puisi itu lebih dikembangkan lagi yah!” Komentar Ibu Asiah.
 ”Baik bu.” Kata Ferdi.
”Yang lain gimana? Ada yang sudah selesai lagi?” Tanya Bu Asiah kepada seluruh murid-muridnya.
”Belom bu…!” Jawab mereka serentak.
”Baik, ibu tunggu sampai selesai.” Kata Bu Asiah dengan bijak.
Di meja sebelah kiri Ferdi, terlihat Anna yang sedang duduk dan terdapat 1 korsi kosong di sampingnya. Ferdi pun pindah ke korsi kosong itu.
 ”Ann, maaf, aku duduk di sinih yah!”
”Oh iya, silahkan!” Jawab Anna sambil menulis puisi.
 ”Ann, gimana komentarmu dengan puisiku?”
 ”Yah, puisimu cukup bagus. Sepertinya aku tahu, buat siapa puisi itu ditujukan. Memang, tidak setiap orang itu dapat menyerahkan cintanya secara tulus, terkadang mereka mempermainkan sebuah perasaan. Aku pun tahu, kau benar-benar menaruh perasaan itu untuknya. Aku juga sering kok begitu Fer. Saranku, kau tetap sabar yah menjalaninya. Pasti kau akan mendapatkan yang terbaik. Ingat, cinta itu tidak harus memiliki.” Kata Anna yang bener-bener memperhatikan pembicaraan Ferdi.
 
”Makasih yah atas saranmu. Kau emang teman cewekku yang terbaik. Ann,  aku ingin katakan sesuatu.”
“Apa itu Fer?” Kata Anna yang sudah tidak menghiraukan puisinya lagi.
“dari lubuk hatiku yang paling dalam. Sebagai teman, aku juga sangat menyayangimu! Rasanya, aku ingin membuat hatimu senang. Tetapi, aku tidak tau, bagaimana caranya. Maaf, kalau kata-kataku sudah membuat kamu marah.” Kata Ferdi yang meluncur begitu saja.
 
Anna pun tersentak mendengarnya. Dia hanya tersenyum.
” itu wajar kok. Aku nggak marah mendengarnnya. Sudah jadi kodrat manusia untuk saling menyayangi. Fer, kalau bener begitu, aku seneng deh! Soalnya, aku juga sayang kok sama kamu. Nah, kalau Kamu ingin bikin hatiku senang, kamu harus punya duit yang banyak untuk jajanin aku dan sering ngasih aku hadiah. Hehehe… Becanda Fer! Masa aku sampai sebegitunya. Kamu cukup do’ain aku aja, agar aku menjadi orang yang berguna di dunia mau pun di akhirat.” Kata Anna dengan nada gembira, karena menurutnya, Ferdi sudah menembak dia.
Namun sayangnya, Ferdi nggak menyadari, kalau dia sudah menembak Anna.
 ”Tentu Ann.” Sambil Anna membuat puisi, mereka pun ngobrol-ngobrol tentang hal yang lain yang tidak perlu di ceritakkan.
 
Dua jam pelajaran telah berlalu, bel pergantian pelajaran pun telah terdengar. Namun, hanya Ferdi yang baru membacakan puisinya di depan kelas.
”Baiklah, mungkin yang lain sedang mencari infirasi yang baik. OK, itu nggak apa-apa, kita dapat melanjutkan  pada pertemuan berikutnya. Baiklah nak, selamat pagi, selamat mengikuti pelajaran yang lain!”Kata Bu Asiah sambil membereskan buku-bukunya, lalu dia pun meninggalkan kelas.
Sampai pulang sekolah, Ferdi duduk disamping Anna dan tak ada hal-hal yang cukup menarik untuk diceritakan selama itu. Dan akhirnya, Bel pulang sekolah telah berbunyi. Siswa/siswi sangat senang menyambutnya.
 ”Fer, aku pulang duluan yah!”
 ”Oh iya Ann, be careful on the way OK!”
 ”Baik, sama-sama  Fer. Asalamualaikum!”
 ”Walaikumsalam.”
Setelah membereskan tasnya, Ferdi pun juga meninggalkan kelas itu. Dia langsung pulang ke rumahnya.
***
Esoknya, Ferdi datang lebih awal. Sekitar pukul 6:00. Dia pun tidak mengerti, mengapa dia ingin  berada di sekolah sepagi itu. Karena jam belajar dimulai pada pukul 7:00, akhirnya dia hanya duduk-duduk di depan kelas 1-4 sambil menunggu jam pelajaran dimulai. Dia  mengeluarkan selembar kertas. Rupanya dia ingin membuat sebua puisi. 1-4 adalah lokasi yang paling cocok menurutnya. Karena, pagi itu, angin yang cukup sejuk berhembus sangat lembut. Membuat Ferdi betah berlama-lama di sanah. Pagi itu, suasana  masih sepi, suasana  tersebut sangat mendukung pembuatan puisinya. Dia mulai menulis.
Ada pun isinya adalah:”
Kerinduan kepada angin yang berhembus.
 
Aku sengaja datang ke sini, hanya ingin merasakan hembusan darimu.
Aku pun sengaja berada di sini, hanya ingin merasakan sejuknya suasana karena dirimu.
Wahai angin yang berhembus, mampu kah kau menyejukan diriku yang sedang berkeringat karena kepanasan?
 Yah, aku yakin kau bisa! Karena, hanya engkaulah yang mampuh melakukkannya!
Kau lah penyejuk diriku! Kaulah pula penyejuk hatiku!
Namun, masih sudikah kau menyejukanku? Aku pun tak mengerti.
Ketahuilah wahai angin, tanpa kau, aku akan kepanasan!
Dan tanpa kau pula, tak ada daun yang bergerak, tak ada gelombang di lautan, dan tak ada pula perahu layar yang berjalan.
Kaulah pahlawanku di saat kepanasan.
Aku sangat membutuhkanmu.
Hai angin, sampaikanlah salamku kepadanya! Katakanlah, bahwa aku  sangat rindu padanya. Karena, aku  sangat menyayanginya. Aku ingin dia menjadi miliku!”
Maka, selesailah puisi tersebut. Tak beberapa lama Ferdi selesai menulis, dari kejauhan, Indri berjalan menuju Ferdi.
”Hai Fer!” Kata Indri dengan khas ceriahnya sambil setengah berlari.
”Hai In, tumben dateng pagi.” Sapa Ferdi dengan ceriah.
Tak terasa, Indri telah berada di hadapan Ferdi.
“Ngapain lo di depan kelas gue Fer?” Tanya Indri penuh perasaan heran.
“Hehehe, Nggak…, Cuma mau ngadem. Ngerasain angin pagi.” Indri pun melihat kertas yang dipegang Ferdi.
“Apa itu Fer, boleh gue baca?”
“Yey…, enak aja, rahasia tau!”
“Kok gitu sih? Sama temen tuh, nggak usah rahasia-rahasiaan!”
Indri mencoba merebut kertas itu, namun Ferdi berusaha untuk mencegahnya. Tapi sayangnya, kertas itu berhasil diambil oleh Indri lalu dibacanya.
“Ini puisi buat siapa Fer?”
“Ya buat anginlah!” Kata Ferdi yang menyembunyikan sesuatu.
“Ah, masa…? Guekan pencinta puisi. Gue ngerti bait demi bait dari puisi ini!”
“Kalau ngerti, coba apa maksud dari puisi itu?”
“Puisi ini tuh…, artinya kalau lo itu sedang mengharapkan cinta seseorang buat lo. Tapi…, cintanya itu belum kunjung datang juga, dan munculah perasaan pesimis dari loe, buat ngedapetin cinta itu.” Kata Indri dengan nada keimut-imutannya.
“Trus siapa, orang yang gue cinta?”
 “Yah nggak taulah, emangnya gue dukun. Mungkin aja Gue, yang lo cinta! Hehehehe…” Kata Indri dengan nada narsisnya.
“Indri ada benernya juga. Memang, gue cinta banget sama dia. Ah…, tapi gue nggak boleh nunjukin perasaan itu!” Batin Ferdi.
“ih…, kamu kok gemesin banget sih!” Kata Ferdi sambil mencubit tangan Indri.
“Auch, Ferdi jahat! Kan sakit.” Kata Indri dengan nada manjanya. Merekapun saling bercanda layaknya seperti orang pacaran yang sedang mengalami saat-saat romantis.
Nggak tahu siapa yang duluan, mereka pun saling berpelukan. Dan tanpa disadari, Ferdi mengecup kening Indri.
“Ya ampun, sorry banget In, gue nggak sengaja nyium lo!” Kata Ferdi.
“Nggak apa-apa Fer, semua itu gue anggap Cuma ciuman persahabatan antara lo dan gue.” Jawab Indri dengan santainya.
Setelah itu, Ferdi pun bersalaman dengan Indri sebagai permohonan maaf, dan kembali kekelas.
 
Ternyata, Anna dari tadi berdiri di depan pintu kelas. Dia mengamati apa yang Ferdi dan Indri lakukkan dan mendengar semua pembicaraan mereka. Ferdi melihatnya, tetapi Ferdi tidak tahu kalau Anna mengamati dia dengan Indri.
”Asalamualaikum! Tumben Ann, jam segini udah dateng.” Sapa Ferdi dengan santainya tanpa adanya perasaan bersalah.
Anna hanya terdiam dan tidak menjawab salam yang diucapkan Ferdi. Malah, dia mengexpresikan rasa kesalnya terhadap Ferdi dan langsung menuju mejanya meninggalkan Ferdi. Ferdi binggung atas perbuatan Anna terhadapnya. Ferdi pun mengikuti Anna kemejanya.
”Ann, kamu kenapa? Kok kamu tiba-tiba begitu sama aku? Apa salahku Ann?”  Tanya Ferdi dengan perasaan bingung.
Anna tetap  diam tak menjawab. Anna mengeluarkan buku paket MTK, beserta buku latihannya dari tasnya. Dia banting kedua buku itu diatas mejanya.
”Ann, jangan begitu dong, nanti bukunya rusak.” Anna tetap tidak menghiraukan kata-kata Ferdi. Dia malah menulis di atas buku tulis miliknya.
 ”Ngomong dong Ann! Kalau kamu diem begini, gimana aku tahu?  Emangnnya kamu lagi kesal sama siapa? Bilang aja deh! Biar aku bantuin nyelesaiinnya.”
”Berisik banget sih lo!” Kata Anna dengan nada membentak, “Lo  buta apa? Liat! Gue lagi ngapain? Gue lagi belajar tau! Sekarang lo pergi deh, karena lo Cuma ngganggu konsentrasi gue doang di sini.” Ferdi  menjadi sangat kaget mendengar bentakan Anna.
“Kok lo jadi marah-marah sama gue sih? Make bentak-bentak gue segala lagi. Seumur hidup, gue baru dibentak sama cewek. Kalau lagi kesel sama orang, jangan gue yang jadi sasaran dong! Egois banget tau nggak!” Kata Ferdi yang mulai emosi.
“Kenapa lo marah-marah sama dia?” Kata Gustina yang baru saja dateng ke kelas.
“Nggak tahu tuh, nggak ada hujan, nggak ada angin, eh…, gue malah dibentak-bentak.” Kata Ferdi yang langsung pergi ke mejanya.
Gustina, adalah teman curhat Anna yang paling sering menerima masalah-masalah Anna. Gustina pun membawa Anna jauh dari jangkauan Ferdi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Satu per satu siswa berdatangan ke kelas hingga akhirnya kelas itu telah ramai dengan ributnya siswa/ssiswi. Dan beberapa menit kemudian, bel masuk telah berbunyi. KBM pun dimulai. Dan selama KBM itu berlangsung, fikiran Ferdi tidak menentu. Sangat kacau sekali. Yang dia fikirkan hanya pertannyaan itu. Mengapa Anna bisa marah-marah kepadanya? 
***
“Fer…,  ikut gue!” Kata Gustina dengan nada garang ketika waktu istirahat tiba. Tangan Ferdi pun ditarik menuju suatu tempat.
“Eh…, jangan kasar gitu dong! Loekan bisa ngajak gue pelan-pelan.” Kata Ferdi yang nggak terima perlakuan Gustina. Gustina hanya terdiam, dan terus menarik tangan Ferdi layaknya seorang tunet yang sedang dituntun oleh orang awas. Dan akhirnya mereka pun sampai di sebuah ruangan yang jarang terpakai di sekolah itu. Dulunya, ruangan itu bekas ruang kelas. Karena pada tahun angkatan Ferdi jumlah muridnya lebih dikit, maka ruangan tersebut untuk sementara kurang terpakai. Paling-paling hanya dibuat sebagai ruang Bimbel.
“Duduk…!” Bentak Gustina yang memerintahkan Ferdi untuk duduk disalah satu kursi di ruang itu.
“Kok lo ikut-ikutan bentak gue gitu sih? Sebenarnya mau kalian tuh apa?Tadi Anna, sekarang lo. Guekan bisa diajak ngomong baik-baik.” Kata Ferdi yang emosihnya kembali naik.
“Orang kayak loe, buat apa diajak ngomong baik-baik. Lo itu emang sepantesnya kalau diomelin tau!” Kata Gustina yang giginya mulai mengancing karena saking marahnya.
“OK…” Ferdi pun berdiri sambil menggebrak meja. “Tapi kalau caranya kayak gini, sama aja kalian egois tau! Jelas gue nggak terima dong.” Kata Ferdi yang akan meninggalkan Gustina. Namun dengan segera, Gustina ikut bangkit lalu menampar pipi Ferdi.
“Hmmmm…, bagus, ternyata cewek itu begini yah!” Emosi Ferdi kembali menaik.
“Duduk! Gue belom selesai ngomong sama lo.” Gustina kembali membentak Ferdi.
“Oh…, malangnya nasipku.” Kata Ferdi menyerah sambil kembali duduk.
“Loe tau…, kenapa gue bentak-bentak lo?” Kata Gustina yang emosinya mulai mereda.
“Nggak tuh. Dan gue nggak terlalu berniat untuk tau. Biarin aja, mungkin sekarang lo lagi dateng bulan dan nggak bisa nahan emosi lo.” Kata Ferdi dengan nada jutek.
“Sayangnya perkiraan lo kali ini salah…, karena datang bulan gue baru aja selesai hari ini. Gue begini sama lo karena lo nggak lebih adalah cowok murahan. Lebih Rendah dari play boy!”
“Apa-apaan nih? Jadi, lo ngajak gue kesini, hanya untuk menghina gue?Terserah…, tapi gue nggak pernah merasa seperti itu!” Ferdi sangat tersinggung.
“Eh…, asal lo tahu aja yah, lo udah nyakitin perasaan cewek yang bener-bener tulus menyinta lo.” Ferdi mulai bingung atas perkataan Gustina.
“Jadi cowok tuh, jangan jahat-jahat banget apa! Paling bisa emang yah loe, ngancurin perasaan orang, setelah dia banyak mengorbankan waktunya buat lo.” Wajah Ferdi berubah menjadi merah.
“Dan dengan teganya, lo nyatakan cinta ke diah, lalu lo berselingkuh bukan didepannya lagi bahkan dibiji matanya! Puas lo nyakitin temen terbaik gue!” Gustina langsung pergi meninggalkan Ferdi dan membanting pintu ruangan itu sekeras-kerasnya.
“Apa-apaan ini?” Batin Ferdi yang belum mengerti maksud dari itu semua.
Dia kembali termenung dan terus menganalisis semua yang dikatakan Gustina. Dan berusaha membuka fikirannya untuk mengkilas balik apa saja yang telah dia lakukkan sehingga adanya tuduhan semacam ini.
 “Kamu telah menimbaknya. Kamu memang egois, dia melihatmu sedang bersama Indri tadi pagi.” Tiba-tiba hati kecilnya berkata seperti itu.
“Puas lo udah ngancurin temen terbaik gue!” Kata-kata itu terus terngiang di telinga Ferdi.
“Tidak….!” Ferdi berteriak historis ketika dia berhasil mengingat semua penyebabnya.
“Gue harus cepet minta maaf, karena gue udah nyakitin dia. Ini nggak bisa dibiarkan berlarut-larut!” Batin Ferdi. Dia langsung keluar dari ruangan itu dan kembali kekelas.
“gimana, lo dah nyadar maksud gue?” Tanya Gustina setibanya Ferdi di kelas.
“Yah…, sekarang mana Anna, gue mau minta maaf!” Kata Ferdi sambil tersengah-sengah.
“Hehehehe…, sayang sekalih, baru aja Anna pulang karena fikirannya bener-bener nggak tenang. Lo kalau mau minta maaf, silahkan cari dia di rumahnya!” Kata Gustina yang langsung meninggalkan Ferdi. Sebenernya, Anna nggak pulang. Dia ada di mushalah. Dia sedang berdo’ah di sanah.
“Ya Allah, dia adalah orang yang sangat aku cinta. Tapi kenapa ya Rob, dia sangat jahat! Apakah aku salah jikaa aku menyintanya?” Doa Anna diiringi isak tangisnya.
***
Ferdi kembali keluar kelas. Dia segera turun ke lantai dasar untuk menyusul Anna ke rumahnya.
“Hai Fer…! Mau kemana? Bentar lagi kan masuk.” Kata Indri sambil memegang jajanan kantin, ketika Ferdi baru sampai di tangga lantai dua.
“Nggak, gue lagi nyari Anna. Dia salah faham atas apa yang kita lakuin tadi pagi.” Kata Ferdi dengan nada datar.
“Maksudnya berpelukan?”
“Yah, maybe, yaudah gue turun dulu yah!” Kata Ferdi yang langsung meninggalkan Indri.
“Oh…, lo dah jadian toh sama dia, selamat yah! Pokoknya PJJ buat gue nggak mahal kok. Cuma coklat OK! Hloh.” Tiba-tiba Indri terkejut, karena dia nggak menyadari bahwa Ferdi udah pergi.
“Fer…, lo dimana? Kok ninggalin gue nggak bilang-bilang.” Lanjutnya sambil mengerutu lalu kembali naik ke lantai tiga.
***
Di lantai dasar, Ferdi kebingungan, bagai mana caranya untuk ke rumah Anna dan minta maaf sama dia. Sedangkan, dia nggak bawa kendaraan. Kalau bisa pergi pun, pasti izin untuk keluarnya cukup sulit dan harus ada alasan yang jelas. Sambil mencari alasan, dia terus berjalan ke arah pintu gerbang sekolah.
“Kunci mobil siapa itu?” Batin Ferdi ketika dia melihat sebuah konci mobil yang tergeletak di koridor dekat lapangan olah raga. Dia mengambil kunci itu dan membuka surat STNK-nya. Kemudian terlihatlah pemilik serta nomor kendaraannya. Entah ide dari mana, dia langsung mencari mobil itu dan ternyata mobil itu tidak jauh dari lokasi konci itu ditemukan. Dibukalah pintu mobil itu lalu dia pun masuk ke ruang kemudi. Posisi mobil sangat menguntungkan, Ferdi hanya cukup menjalankan mobil itu lurus dan dia bisa langsung keluar gerbang. Tak ada orang yang terlalu menghiraukan mobil itu, sampai-sampai satpam pun mengira yang membawa mobil itu adalah pemiliknya, ketika Ferdi mulai menjalankannya hingga dia berhasil keluar gerbang sekolah dengan aman.
***
“Terimakasih Anda telah datang kesini. Kami harap, anda sebagai orang tua murid dari Aldo bisa membantu kami dalam mendidik dia.” Kata seorang guru konseling di ruang BK kepada kedua orang tua Aldo.
“Yah Bu, kami akan mengusahakannya.” Kata Bapaknya Aldo.
“Kami pamit dulu yah!Karena  kami masih ada urusan.” Sambung ibunya Aldo.
“Oh yah silahkan!” Kata guru konseling lagi.
Di luar ruangan. “Hloh, kunci mobil mana yah?” Kata Bapaknya Aldo membatin sambil meraba saku celananya yang ternyata bolong.
“Mah…, megang kunci mobil nggak?” Tanya Bapaknya Aldo dengan panik.
Ketika itu bel masuk telah berbunyi, para siswa sudah masuk ke kelasnya.
“Hlo, kan tadi papah yang megang. Coba cari lagi!”
Papahnya Aldo kembali meraba saku celana dan jasnya. Tapi konci itu belum diketemukan juga.
“Tenang Pah, jangan panik! Mungkin koncinya jatuh.” Kata Mamahnya Aldo menenangkan.
“Ada apa bu?” Tanya seorang petugas piket yang melihat kepanikan sepasang suami istri itu.
“Ini hlo, suami saya baru kehilangan konci mobilnya, kira-kira Ibu lihat nggak konci itu?” Tanya Mamahnya Aldo.
“Oh… Nggak tahu tuh bu. Sebelumnya, Bapak dan Ibu berada di mana ketika anda menyadari bahwa konci itu nggak ada?” Tanya petugas piket dengan ramah.
“Kami berada di ruang BK.” Jawab Papahnya Aldo.
“Coba anda cari lagi di sana, barang kali ketinggalan.” Kata petugas piket dengan nada memberikan saran.
“Mungkin aja Mah, mungkin aja ada di sana. OK, Mamah cari diluar dan Papah mencari diruang itu!” Jelas Papahnya Aldo kepada istrinya. Mereka pun berpisah.
“Selamat pagi Bu!” Kata Papahnya Aldo.
“Yah…, ada apa lagi?” Tanya guru konseler dengan heran.
“maaf, anda lihat kunci mobil saya?”
“Konci mobil anda? Kayaknya tidak deh, dan selama kita ngobrol, saya nggak lihat anda megang-megang konci itu.” Papahnya Aldo menebarkan pandangan keseluruh ruangan, tapi konci itu sama sekali tidak terlihat. Beliau mulai stres dan bingung. Beliau tidak tahu apa lagi yang harus dilakukkan.
“Bagai mana Mah, ketemu nggak?” Tanya Papahnya Aldo ketika istrinya masuk keruangan itu.
Mamahnya Aldo nggak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa menangis, “Ada apa Mah, bilang aja!” Kata Papahnya Aldo yang melihat istrinya menangis.
“Mobil kita Pah.” “Kenapa mobil kita mah?” “Nggak ada juga. Mamah sudah mencarinya tapi mobil itu nggak ada!”
“Mamah sudah tanya satpam belum?”
“Sudah, dan anehnya mereka terkejut, karena mereka melihat ciri-ciri mobil yang sama, keluar dari sekolah ini dengan kecepatan yang cukup tinggi. Mereka mengira bahwa kita yang membawanya!” Kata Mamahnya aldo yang waktu itu mulai terisak-isak.
“Astagfirullah al-azim, apa dosa kami ya Tuhan!” Kata Papahnya Aldo membatin.
***
Ferdi sudah sampai di rumah Anna.
“Asalamualaikum!” Kata Ferdi sambil mengetuk pintu rumah Anna.
“Walaikum salam, siapa yah?” Jawab seorang wanita yang berlari ke arah sumber suara lalu membuka pintu itu.
“Saya Ferdi, temenn sekolahnya Anna. Apakah Anna ada di rumah Bu?”
“Hlo, kamu ini gimana sih! Bukannya Anna disekolah? Atau mungkin kamu nggak sekolah hari ini?” Sang Ibu mulai panik.
“Kata Gustina dia pulang Bu!” Kata Ferdi tambah terkejut.
Sang Ibu langsung menelepon Gustina, karena Anna sendiri belum mempunyai HP.
“Halo Gustina, ini Ibunya Hasanah. Ada Hasanah nggak Nak?” Kata sang Ibu dengan nada panik.
“Oh…, Anna ada kok di kelas, ada apa yah tante?”
“Temanmu Ferdi, nyari-nyari Hasanah ke rumah Ibu. Kata dia Hasanah pulang. Ya jelas, Ibu panik dong.”
“Oh…, gitu, yaudah bilang aja Bu Hasanah di sini.”
“Yaudah, kalau gitu. Maaf, sudah ganggu belajar kalian!”
“Oh…, Nggak apa-apa.”
Ibunya menutup telpon itu.
“Hasanah masih di sekolah kok, kamu ini bikin orang panik aja! Yaudah, Ibu masih ada kerjaan di dapur.” Kata Sang Ibu dengan nada jengkel.
“Yaudah, makasih ya Bu, maafin saya udah ganggu. Asalamualaikum!”
“Walaikum salam.” Jawab sang Ibu dengan jutek yang langsung menutup pintu rumahnya.
“Brengsek, kalau gitu Gustina udah ngerjain gue.” Gerutu Ferdi. Dia langsung masuk ke mobil lalu tancap gas meninggalkan rumah Anna.
“Ya ampun, gue harus cepet-cepet balikin nih mobil, sebelum pemiliknya sadar mobilnya nggak ada. Duh…, bisa gawat ini!” Batin Ferdi. Ketika dia asyik menyetir mobil untuk kembali ke sekolah, tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi dibelakangnya. Tampaknya mobil itu mengejar Ferdi. Sehingga Ferdi kembali menambah kecepatannya. Mobil polisi semakin dekat, dan jalanan menjadi macet. “Duh…, mampus dah gue. Brengsek, kenapa tadi gue harus bawa mobil ini, bodoh sekali gue!”
Pintu mobil pun diketuk oleh salah satu tim kepolisian
“Maaf, tolong buka pintunya!” Kata seorang polisi yang memakai seragam lengkap dan berfostur tinggi kekar. Pintu pun dibuka dan Ferdi pun turun.
“Anda tertangkap, karena anda membawa kabur mobil ini.”
“Pak…, ini salah paham! Saya hanya meminjamnya sebentar untuk ke rumah temen saya. Ini saya mau balikan!”
“Anda bisa menjelaskannya dikantor.”. Maka Ferdi pun dibawa ke kantor polisi dan mobil itu pun diamankan.
***
“Bapak dan Ibu tenang dulu! Kasus ini sedang ditangani oleh polisi. Kita berdo’ah saja, semoga mobilnya bisa kembali lagi.” Kata seorang kepala sekolah dengan nada menenangkan.
Suara telpon berdering.
“Halo!” Kata Pak kepala sekolah menjawab telpon itu.
“Ini dari kantor kepolisian.”
“Yah, ada perkembangan Pak?”
“Benar! Mobil itu berhasil ditemukan. Pelaku pun berhasil kami tangkap. Kami harap, anda kekantor kami secepatnya!”
“Baik Pak!”
***
Di kantor polisi, kaki dan tangan Ferdi terborgol. “Yaampun Pak, nggak diborgol juga saya nggak bakalan kabur!”
“Siapa yang bisa menjamin anda kalau anda tidak kabur?”
“Tuhan yang menjaminnya Pak!”
“Jangan bawa-bawa nama Tuhan dalam masalah ini!” Bentak polisi itu.
“Baiklah Pak, tapi yang jelas saya nggak ada niat sama sekali buat mencuri mobil itu.”
“Diam…!” Tamparan pun mendarat dipipi Ferdi.
“Yaampun Pak, kok jahat amet sech? Baru aja, saya abis ditampar orang, eh… Bapak nampar saya lagi. Duh…, kejamnya dunia ini!” Kata Ferdi dengan nada culun. Dengan kesal, polisi itu pun menendang badan Ferdi hingga jatuh kelantai. “Hei Pak…, jangan curang gini dong! Masa mau ngajak berantem, sayanya masih diborgol. Lepasin dulu dong! Baru kita satu lawan satu.” Kata Ferdi sambil menahan sakitnya.
“Diam kamu…!!!” Teriak polisi itu membahana.
Akhirnya, serombongan yang terdiri dari kepala sekolah, guru konseler, dan kedua korban pencurian, tiba dikantor polisi.
“Selamat siang, terimakasih anda sudah mau datang ke kantor kami.”
“Siang, hlo…, kamu ngapain di sini Fer?” Kata kepala sekolah dengan terkejut, ketika melihat Ferdi terborgol dikorsi.
“Dialah pelakunya Pak.” Tegas polisi itu.
“Apa…? Ini nggak mungkin Pak! Setahu saya…, dia nggak pernah ada catatan buruk disekolah ini.” Jelas guru konseling.
“Om…, Tante, Ibu, Bapak, Maafin Ferdi! Ferdi terpaksa ngelakuin ini. Ferdi nggak ada pilihan lain! Tapi demi Allah, saya nggak ada niatan mencuri mobil Om dan Tante.” Kata Ferdi dengan nada sedih. Dia pun bercerita tentang peristiwa yang sebenarnya.
“Tetap saja kamu tidak benar…! Kamu telah mencemarkan nama baik sekolah.” Bentak Bapak kepala sekolah kepada Ferdi.
“Pak…, kenapa anak saya, Bisa sampai begini?” Potong Ibunya Ferdi yang baru saja datang ke kantor itu sambil berlari dan hampir memeluk anaknya. Mereka mengetahui hal itu karena pihak kepolisian langsung menelpon mereka ketika Ferdi baru saja tertangkap.
“Ferdi…, kamukan nggak pernah kekurangan uang, kamu kok tega ngelakuin ini!” Lanjut Ibunya Ferdi yang kurang tahu masalah sebenarnya.
“Mah, Pah, sekali lagi, Ferdi tidak ada niat untuk melakukkannya! Ferdi terpaksa, karena Ferdi mau minta maaf sama Anna! Terpaksa Ferdi pake mobil itu, karena Ferdi bingung harus pake kendaraan apa lagi.” Kata Ferdi yang nadanya agak keras dan matanya sambil melotot keseluruh orang.
“Dasar anak nggak tahu diuntung! Begitu caranya ngomong sama orang tua? Papah nggak pernah ngajarin kamu seperti itu!” Kata Papahnya Ferdi sambil tangannya menampar pipi Ferdi.
“Auch, tiga aja. Pada seneng banget sech namparin gue.” Batin Ferdi.
“Sekarang sudah jelaskan, Ferdi bersalah atas kasus ini.” Jelas polisi itu.
“Baiklah Pak, saya serahkan Ferdi kepada hukum.” Jawab Papahnya Ferdi dengan nada sedih.
“Maafkan Bapak Fer, Bapak nggak bisa bantu kamu.” Kata kepala sekolah yang siap-siap meninggalkan kantor polisi berikut rombongannya.
“Oh yah, untuk Ibu dan Bapaknya Ferdi, saya tunggu dikantor saya siang ini juga!” Lanjut kepala sekolah itu sambil bersalaman kepada Bapak dan Ibunya Ferdi. Beliau pun meninggalkan kantor polisi.
“Tidak…, jangan penjarahkan dia…! Jangan Pak, jangan!” Teriak Mamahnya Ferdi sambil menangis tersedu-sedu.
“Sudahlah Mah, kita serahkan saja pada tuhan, nanti secepatnya kita urus kasus ini, kita pulang aja yah!” Papahnya Ferdi berusaha menenangkan Istrinya. Mereka pun ikut pergi meninggalkan Ferdi.
“Kalian semua egois…! Dasar mobil brengsek…!” Teriak Ferdi yang sedang diseret ke sel tahanan.
“Kalau kamu nggak bawa, dia juga nggak bakalan brengsek tau!” Celetuk seorang polisi yang sedang menyeretnya ke sel tahanan. Ferdi pun akhirnya terkurung di penjarah.
***
“Selamat siang…!” Sapa Bu Siska pada siswa/siswi 1-4.
“Meja luruskan, dan Silahkan keluarkan buku sosiologi kalian! Kita akan mempelajari materi dinamika kebudayaan.” Perintah Bu Siska yang sepertinya sudah biasa buat seluruh siswa/siswi di sekolah itu. Niatnya sih, Bu Siska mau sok galak, tapi malah menjadi sebua lelucon sama anak-anak. “Anto, simpen handphone-nya! Kalau nggak, Ibu akan beri kartu tilang!” Perintah Bu Siska kepada Anto yang sengaja memainkan game di HP-nya.
“Kayak polisi aja bu.” Celetuk Anto.
Bu Siska pun akhirnya tidak menghirukannya. “Baiklah, apa saja unsur-unsur yang mempengaruhi dinamika kebudayaan!”
“Akulturasi, asimilasi, inopasi, dan difusi Bu!” Jawab Indri penuh semangat. Satu persatu siswa pun mendapatkan giliran untuk menjelaskan pengertian unsur-unsur tersebut. Setelah itu, mereka langsung diberi tugas untuk mencari lima contoh kasus dari masing-masing unsur tersebut.
“Ferdi kasian ya Dri!” Kata Bu Siska yang berbicara kepada Indri dengan nada pelan ketika para siswa/siswi sedang mengerjakan tugas itu dengan suasana sangat gaduh.
“Kenapa dia Bu?”
“Sekarang dia dipenjara, karena dituduh nyolong mobil orang tua murid. Tapi Ibu nggak terlalu yakin sih, kalau dia bener-bener berniat untuk nyolong mobil itu.”
“Yaampun Bu, baru tadi pagi saya ngobrol dan bercanda sama dia. Ini semua nggak mungkin! Pasti ada kekeliruan. Karena saya yakin betul siapa Ferdi.”
“Ibu juga ngak tau In, soalnya bukti-buktinya lengkap. Dia ketangkep pas dia bawa mobil itu.” Kata Bu Siska yang menunjukan perasaan ke Ibuanya.
“Yang jelas, ketika terakhir saya ketemu, dia lagi nyari-nyari Anna. Karena dia abis salah faham sama Anna, dan Anna menuduh Ferdi selingkuh sama saya!” Bu Siska hanya tersenyum mendengar penjelasan Indri.
“Pas tadi Ibu ngajar dikelasnya, Ferdi itu udah nggak ada In. Dan Ibu sempet liat, Gustina angkat telpon dari seseorang sambil senyum-senyum gitu. Terus setelah itu ibu denger Gustina ngomong ‘syukurin, biar tahu rasa Ferdi’, seenaknya ngancurin perasaan orang. Terus Ibu denger lagi Anna bilang…, ‘Loe kok tega banget sih Gust sama dia, lo make bilang gue izin pulang. Gue yakin pasti dia lagi nyari-nyari gue dirumah, sehingga tadi Ibu gue telpon.’” Jelas Bu Siska dengan nada menggosip.
 “Katanya sih, Ferdi nemuin konci mobil yang jatuh dikoridor, tapi salahnya konci itu bukan dikasih kepetugas pikett, malah mobilnya dia bawa.” Lanjut Bu siska.
“Jangan-jangan…, dia make mobil itu untuk nyari Anna!” Indri membatin.
***
“Selamat datang di penjarah ini. Seneng rasanya gua bisa ketemu lo lagi!” Kata Aryanto kepada Ferdi dengan nada penuh kemenangan.
Ferdi hanya terdiam dan termenung. Dia tidak terkejut sama sekali tentang pertemuannya dengan Aryanto. “Hahaha…, gua denger-denger lo masuk ke sini gara-gara dituduh nyolong mobil ortunya Aldo yah? Kacian banget sech!” Ejek Aryanto. Ferdi tetap menahan emosinya karena dia nggak mau membuat kesalahan yang lebih.
“Heh, asal lo tahu aja yah, gara-gara loe, gue harus berurusan sama Mak Erot, untuk ngebenerin barang gua. Untungnya semua itu kembali normal. Tapi Fer, Gua nyadar, gua nggak bakalan bales dendam sama lo. Soalnya kalau gua bales dendam, cerita ini nggak bakalan abis-abis, kasiankan yang nulis ni cerita.”
“Bagus dong kalau gitu!” Kata Ferdi yang baru membuka mulutnya lagi.
“Tapi…, jangan senang dulu sobat! Gua mau sedikit bermain-main sama lo. Mumpung kita sama-sama dipenjarah, gua pengen tes kemampuan lo.” Aryanto kembali petantang-petenteng di depan Ferdi. Satu pukulan mulai mendarat di tubuh Ferdi.
“OK-OK, gua sebenernya nggak mau berantem lagi sama lo. Tapi, ayo, kalau gitu gua tantangin!” Kata Ferdi yang emosinya mulai terpancing.
Mereka pun bertarung satu lawan satu, kebetulan nggak ada pengawas penjarah karena ada urusan mendadak sama komandannya. Tapi sepertinya Aryanto bertindak curang, di penjarah tersebut dia telah banyak memiliki pengikut. Nggak terima bosnya dihajar Ferdi, Anak buahnya pun mulai mengeroyok Ferdi. Hingga akhirnya Ferdi kualahan menghadapi mereka hingga seluruh tubuhnya Babak belur. Dia jatuh terkulai di lantai penjarah. Terdengar gelak tawa yang cukup keras, dari Aryanto dan pengikut-pengikutnya.
  
“Apa-apaan ini?” Kata Seorang penjaga penjarah, yang tergopo-gopo masuk ke penjarah mereka.
“Yaampun, kenapa kamu?” Lanjut penjaga itu yang melihat Ferdi terkulai di lantai penjarah dengan seluruh tubuh yang babak belur.
“Siapa yang melakukkan ini?” Bentak penjaga itu sambil mengangkat pistol. Aryanto dan Gengnya hanya terdiam. “Pak, Aryanto yang melakukkan ini semua. Dia nantangin anak itu untuk bertarung!” Kata seorang Napi yang bersikap netral.
“Oh…, jadi kamu pelakunya? Mari ikut saya ke sel tikus!”
“Pak… Jangan Pak! Jangan masukin saya ke sel itu! Saya takut tikus!” Kata Aryanto dengan nada memohon. Sayangnya, penjaga itu tidak menhiraukan teriakan Aryanto dan akhirnya dia pun dimasukin ke sel yang penuh dengan tikus. Di situ, Aryanto terpaksa berperang dengan tikus.
***
“Bapak dan Ibu Ferdi, saya bener-bener mohon maaf! Karena anak anda harus kami kembalikan kepada Anda!” Kata kepala sekolah yang berbicara kepada orang tua Ferdi di ruang kepsek.
“Pak, apa nggak dikasi dispensasi, mungkin di-skorsing dulu?” Lanjut Ibunya Ferdi.
“Maaf, ini sudah keputusan sekolah. Kami harus mengembalikan anak Ibu!” Tegas kepala sekolah.
“Baiklah Pak, kalau begitu. Terimakasi atas bimbingan sekolah ini kepada anak saya.” Kata Bapaknya Ferdi dengan nada pasrah.
“kami rasa cukup, surat pengeluaran Ferdi kami akan urus secepatnya. Selamat siang!” Kata Kepala sekolah.
Maka kedua orang tua Ferdi pun meninggalkan ruangan itu dengan perasaan sangat sedih.
Waktu itu bel sekolah telah berbunyi dan KBM telah berakhir sepuluh menit yang lalu.
“Kenapa Tante menangis?” Tanya Indri ketika kedua orang tua Ferdi sedang menaiki tangga menuju kelas Ferdi untuk mengambil tasnya.
“Nak…, kamu temannya Ferdi yah? Maafin kesalahan dia selama dia bertemen sama kamu. Tante bener-bener ngucapin terimakasih karena kamu sudah berteman sama dia!” Kata Ibunya Ferdi yang nadanya semakin sedih.
“Maksud tante apa?” Indri mulai bingung atas kata-kata Ibunya Ferdi.
“Ferdi sudah nggak sekolah di sini lagi. Hari ini dia resmi dikeluarkan.” Jelas Bapaknya Ferdi kepada Indri. Kedua orang tuanya Ferdi langsung meneruskan langkahnya.
“Yampun…, ini bener-bener nggak adil!”Kata Indri berapi-api.” Hlo, Om, Tante? Ah…, nggak anak nggak orang tua, sama edannya, ninggalin gue gitu aja.” Gerutu Indri yang lagi-lagi terlihat ngomong sendiri.
“Gue harus segera mengakhiri masalah ini! Kasian penulisnya, mungkin udah kehabisan ide.” Batin Indri.
“Hai Dit!” Sapa Indri kepada Aditia yang sedang menghidupkan motor kesayangannya di halaman parkir.
“Eh…, ada apa In, tumben lo nemuin gue, kangen yah sama gue?” Kata Aditia dengan penuh rasa percaya diri.
“Loe dah denger belom sih?”
“Denger apaan?”
“Ferdi masuk penjarah!”
“Apa, masuk penjarah?” Hampir saja Aditia melepas motornya ketika kabar itu didengarnya.
“mana mungkin dia masuk penjarah? Gue kenal banget siapa dia. Kok bisa hilap sih?”. Indri pun menceritakan peristiwa penyebab Ferdi masuk penjarah. Pihak sekolah memang tidak menyebarkan berita itu kepada para siswa, sehingga siswa-siswa yang aktif saja yang tahu dan kebetulaan dekat sama Bu Siska seperti Indri.
“Terus, sekarang apa yang harus kita lakuin?” Tanya Aditia kepada Indri.
“Anterin gue nyari Anna. Gue harus jelasin ini semuanya ke dia! Lo bisakan? Dit, demi temen loe, dan demi masalah ini yang secepatnya harus berakhir!” Kata Indri dengan nada memohon.
“OK-OK, yuk kita cari dia!” Kata Aditia yang langsung menghidupkan motornya lalu mengajak Indri mencari Anna.
***
Di kamar Anna.
“Gust, kenapa Ferdi tadi nggak balik ke kelas yah?” Tanya Anna yang sepertinya hawatir.
“Maybe, abis nyari lo dia langsung pulang kali! Udahlah, ngapain mikirin dia! Belum tentu dia mikirin lo kan.” Kata Gustina sambil menulis sesuatu di buku catatanya.
“Tapi perasaan gue jadi nggak enak, semenjak dia pergi. Gue ngerasa telah terjadi sesuatu sama dia!”
“Udahlah Ann, gue bilangkan nggak usah mikirin dia! Inget, hal apa yang udah dia lakuin ke lo!”
“Entahlah Gust, Gue tuh sayang banget sama dia, gue nggak mau kehilangan dia! Gue yakin, asalkan gue nggak terlalu egois, pasti masalah ini akan cepat selesai. Gue dah siap ngedengerin semua alasannya, ketika nanti kita udah ketemu. Dan gue coba untuk mempercayainya!” Kata Anna sambil mencucurkan air matanya.
“Hasanah, ada temenmu Aditia!” Teriak Sang Ibu dari arah ruang tamu.
“Ada apa lo datang kesini, setelah lo dan Ferdi ngancurin perasaan teman terbaik Gue?” Bentak Gustina kepada Indri di ruang tamu.
“Lalu…, kenapa lo rebut Adolf dari tangan gue?” Balas Indri yang semakin memanas.
“Maksudnya apa?” Gustina menjadi emosi dan sedikit bingung.
“Jangan blaga nggak tau deh! Malem minggu kemarin, nggapain lo ama Adolf di phood center hah?” Bentak Indri kepada Gustina.
“Adolf…, di-dia Cu-Cuma nga-ngajak gue jalan doang kok, ka-kami ma-mau ngerayain hari jadi kami. Emang kenapa?” Kata Gustina yang mukanya memerah.
“Kapan tepatnya lo berdua jadian?” Tanya Indri yang darahnya mulai mendidih.
“Eh…, sebenernya kita mau cari Anna apa mau berantem si In?” Potong Aditia kepada mereka berdua.
“Maaf Dit, masalah gue juga penting!” Jawab Indri yang nggak terima dipotong pembicaraannya.
“Tepatnya…, dua hari sebelum kami ke phood center. Adolf cowok yang romantis serta baik, dan gue merasa kasian, setiap punya cewek selalu disakitin. Gue merasa simpatik sama dia! Gue janji, nggak bakal nyakitin hatinya seperti cewek-cewek sebelumnya.” Tegas Gustina dengan lugu.
“Apa? Gue nyakitin dia, apa-apaan ini?” Kata Indri dengan nada terkejut.
“Dolf, lo kok tega amet sih?” Air mata Indri keluar lalu dia pun mulai terisak-isak. Dengan spontan dia pun menarik tangan Aditia keluar rumah Anna. “Kita mau kemana In?”
“Anterin gue pulang!” Kata Indri yang terus terisak-isak.
Aditia pun setuju dan dia pun menyalahkan motornya.
“Tunggu-tunggu! Kalian tau Ferdi di mana sekarang?” Sambung Anna yang mengikuti mereka keluar halaman ketika Aditia mau melajukan motornya.
“Dia di penjarah. Dia ketangkep gara-gara bawa mobil orang tua murid buat nyari lo! Oh yah satu lagi, lo salah kalau lo dah ngganggap Ferdi selingkuh sama gue. Karena sejauh ini, gue hanya menganggap Ferdi sebagai Kakak gue!” Kata Indri dengan datar yang langsung menyuruh Aditia menjalankan motornya. Anna hanya terdiam menyaksikan kepergian Aditia dan Indri.
“Gust, anterin gue ke penjarah!” Kata Anna ketika dia sudah di ruang tamu.
 “Ann…, semua ini memang salah gue. Gue nggak tau kalau sampai begini! Gue itu Cuma sayang sama loe, gue nggak tega kalau lo disakitin sama Ferdi!” Kata Gustina dengan nada menyesal.
“Makasi, lo udah sayang sama gue. Tenang aja, ini bukan seluruhnya mutlak keasalahan lo. Sekarang yuk, anterin gue ke sana!” Kata Anna dengan nada menenangkan. Gustina pun setuju untuk mengantar Anna ke penjarah.
 
“Maaf, anda berdua ada apa datang ke sini?” Tanya seorang polisi di kantor tersebut.
“Pak, kami mau menjenguk Ferdi Setiadi, napi baru di penjarah ini!” Kata Gustina kepada polisi itu.
“Baiklah, kami akan panggilkan!” Polisi itu menyuruh anggotanya memanggil Ferdi dari sel tahanan untuk menemui Anna dan Gustina. Dengan tangan terborgol, Ferdi pun dibawa ke hadapan mereka.
“Yaampun Fer… Kenapa bisa begini…?” Kata Anna yang melihat seluruh tubuh Ferdi babak belur.
“Ceritanya panjang…, kalau mau tahu penyebabnya, baca aja kalimat di halaman sebelumnya! Tapi yang jelas, semua ini terjadi karena gue sangat menyayangi lo. ” Jelas Ferdi dengan nada datar. Anna sangat sedih waktu itu. Hampir saja, dia memeluk Ferdi. “Fer…, gue juga sayang banget sama lo! Maafin, kalau gue udah salah faham sama lo.” Kata Anna yang meluncur begitu saja sambil menangis.
“Anna, lo nggak perlu minta maaf, gue…, gue yang emang kurang ajar, seenaknya ngancurin perasaan lo. Gue hilap Ann, gue hilap!” Kata Ferdi sambil mencucurkan air matanya.
“Yah…, gue mencoba buat ngertiin lo.” Kata Anna yang tangisnya mulai meredah. Anna mengelap air matanya sendiri dengan sapu tangan miliknya.
“Maaf…, waktu anda sudah habis!” Kata petugas penjarah kepada Anna dan Gustina.
“Bentar Pak!” Gustina melanjutkan, “Fer, maafin gue juga yah! Gue nggak tau kalau lo sampai senekat itu buat nyelesain masalah ini.” Kata Gustina dengan nada menyesal.
“Nggak apa-apa Gust, ini mungkin hukuman buat gue.” Kata Ferdi dengan nada memberikan maaf.
Akhirnya, Mereka pun pamit pulang kepada Ferdi. Ferdi pun kembali ke sel tahanannya.
“Fer…, maafin gue yah! Gue nggak lagi-lagi mukulin lo. Gue sekarang sadar, selama ini guelah yang salah.” Kata Aryanto dengan nada memohon maaf ketika Ferdi sudah di dalam sel. Tampaknya Aryanto sudah dibebaskan dari tikus-tikus yang menjadi musuh besarnya.
“Yah… Sama-sama.”
“Fer…, gue denger, sekarang Anna sama lo yah? Tolong titip dia yah! Gue nyesel udah ngianatin dia, padahal dia adalah cewek yang baik.” Kata Aryanto dengan nada menyesal.
“Yah…, gue akan jaga dia semampuh gue.” Kata Ferdi sambil menahan sakitnya.
Sebagai permintaan maaf, Ferdi pun dikompres oleh Aryanto dengan air hangat. Bukan saja Aryanto, pengikut-pengikutnya pun ikut meminta maaf ke Ferdi. Sepanjang hari itu pun penuh dengan canda dan tawa oleh sesama napi.
***
Malam hari di rumah Ferdi.
“Udah dong Mah…, nggak usah difikiran terus! Lebih baik mamah makan, nanti sakit!” Jelas Bapaknya Ferdi kepada Istrinya ketika mereka sedang makan malam.
“Gimana Mamah mau makan, sedangkan mamah nggak tau bagai mana keadaan anak kita sekarang.“ Kata Ibunya Ferdi sambil menangis.
“Yakinlah Mah…, Ferdi akan baik-baik saja di sana. Sekarang makan yah!” Lanjut Bapaknya Ferdi sambil menenangkan Istrinya.
“Kriiiiiiiing…” Terdengar suara telpon berdering dari seberang ruangan.
“Halo, siapa ini?” Tanya Bapaknya Ferdi kepada si penelepon.
“Eh…, Om Tanto, ini Rina!”
“Oh…, Rina Toh, apa kabar? Sombong nih udah lama nggak pernah main kerumah Om.”
“Bukannya gitu Om, Rina lagi sibuk sama skripsi Rina. Bentar lagikan Rina mau wisuda.”
“Oh…, udah mau wisuda toh. Susan masih beberapa smester lagi. Yaudah, kalau gitu selamet yah!”
“Makasih om. Oh yah, kan gini, lusakan Rina mau tunangan, om bisa dateng nggak ke Bandung? Lagian juga Rina udah kangen sama Ferdi dan Susan.” Kata Rina dengan nada manjanya.
Sejanak Bapaknya Ferdi berfikir. “Apa, kamu mau tunangan?”
“Iya Om, Aku dan Reski ingin serius.”
“Oh…, kalau gitu selamat deh, semoga kalian bisa cepat-cepat menikah.”
“Amin. Oh yah, gimana Om, bisa nggak?”
“Hmmmm…, nanti deh, om fikirin dulu.”
“Ayo dong Om, bikin aku seneng! Kan kalau seluruh keluarga kumpul semua, acaranya bisa lebih ramai. Ini juga Rina disuruh Mamah untuk telpon Om dan keluarga.” Kata Rina dengan nada merengek.
“Iya-iya, nanti pasti om telpon kamu Oke!”
“Oh Yah, jangan lupa bawa Ferdi yah Om!”
“I-Iya, om akan usahain untuk bawa dia.”
Akhirnya pembicaraan pun selesai.
“Kenapa Rina Pah?” Kata Ibunya Ferdi.
“Dia mau tunangan, dia mengundang kita untuk dateng ke Bandung.” Pak tanto sejenak menarik nafas dan kembali berkata, “Masalahnya, kita harus ngajak Ferdi!”
“Yaudah, bilang aja kita nggak bisa dateng, kita lagi ada masalah.”
“SST, nggak bisa gitu dong Mah…, kita nggak mau seluruh keluarga besar kita tau kalau Ferdi di penjarah!”
“Biarin aja, Toh lambat laun mereka tau, dari mulut orang-orang. Dari pada begitu, mendingan kita sendirikan yang ngasi tau.”
***
Di rumah Aldo.
Sepasang Orang tua Aldo sedang menonton televisi. Malam itu Ibunya Aldo tampak gelisa.
“Mamah ngapain sih, mundar-mandir-mundar-mandir. Papah pusing liatnya tau!”.
“Nggak tau nih Pah, perasaan Mamah kok Nggak enak. Jam segini kok Anak kita belum pulang yah?” Kata Ibunya Aldo dengan nada gelisah.
“Ah…, ini baru jam 9 malam. Lagi pula, biasanya Aldo juga pulang lebih malam dari Jam seginikan!” Kata Bapaknya Aldo dengan santai setelah melirik jam dinding di ruangan itu.
Kemudian, terdengar suara bel pintu. Sang Ibu segera membuka pintu itu.
“Aldo…, kenapa kamu Nak?” Tanya Ibunya Aldo ketika melihat Aldo pulang dalam keadaan mabuk berat.
“Lagi-lagi mabuk. Mau kamu apa sih?” Kata bapaknya Aldo dengan nada emosi.
“Mah… Hiks…, Pah… Hiks…, kalian…hiks…, nggak ngerti apa yang Aldo rasain…hiks…. Asal mamah dan Papah tau… Hiks…, Aldo abis diputusin sama Fera…. Hiks….” Kata Aldo sambil sempoyongan lalu menggabrukan dirinya dibangku sofa.
“Mamah dan Papah nggak nyuruh kamu Pacaran Do, Mamah dan Papah hanya menyuruh kamu belajar! Jadi ginikan hasilnya!” Tegas sang Ibu dengan nada sedih.
“Aldo tau Mah…hiks…, tapi Fera adalah cewek yang paling Aldo cinta…hiks….”
“Fera, cewek yang pakaiannya nggak semenggah itu? Aldo-Aldo…, Papah nggak melarang kamu pacaran…, asalkan kamu bisa mengatur waktu dengan benar. Lagian, cewek kayak Fera itu buat apa kamu pacarin! Dia itu jablay Do… Ingat…, jablay!”
“Kok Papah tau sih kalau dia jablay? OH…, berarti selama ini Papah pulang malam jangan-jangan pacaran sama Fera! Mamah nggak nyangka.” Sang Ibu langsung lari menuju kamarnya.
“Mah…, bukan gitu Mah…! Dengerin penjelasanku dulu!” Aldo pun ditinggalkan sejenak.
Bapaknya Aldo berusaha mengetuk pintu kamar yang di dalamnya ada Istrinya, sambil memberikan penjelasan-penjelasan dan rayuan.
“Mah…, bukan gitu…! Aku pulang malem karena memang aku sering lembur! Cintaku hanya untukmu.” Kata Bapaknya Aldo dengan nada merayu sambil terus mengetuk pintu.
“Bohong…, Papah mulai selingkuh! Mamah nggak terima…!” Kata Ibunya Aldo yang nadanya mulai meninggi dari dalam kamar.
“Mamah…, kalau kamu nggak percaya, Papah akan bunuh diri! Percuma Papah hidup! Aldo…! Cariin Papah pisau!” Yang disuruh pun berjalan sempoyongan dan mendcari-cari pisau di dapur. Karena mabuk, dia pun asal ngambil saja. Yang diambilnya hanya pisau kueh yang terbuat dari pelastik.
“Nih Pah… Paisaunya…hiks…,” lalu Aldo langsung terbaring dilantai.
“Satu…, Dua…, Ti…”. “Gedebruk.” Bapaknya Aldo pun menusuk dadanya dengan pisau pelastik itu dan jatuh dilantai. Kebetulan setengah meter dari Bapaknya Aldo, ada meja. Terlihat seekor kucing peliharaan sedang berlari-lari di atas meja itu. Lalu kucing itu pun menumpahkan gelas yang berisikan sirup berwarna merah dari meja itu hingga gelasnya ikut pecah dan cairan itu muncrat sampai ke tubuh Bapaknya Aldo. Sepontan mamahnya Aldo langsung membuka pintu lalu menubruk suaminya yang terkapar dilantai.
“Pah…, jangan mati pah…! Maafin Mamah…! Bangun Pah…, mamah percaya sama Papah.” Kata Mamahnya Aldo yang menangis tersedu-sedu di atas tubuh suaminya yang berlumuran cairan sirup.
“Ba… Hehehehehe…” Tiba-tiba Papahnya Aldo membuka mata dan langsung memeluk erat istrinya.
“Mana mungkin sih…, aku meninggalkan istriku yang pualingku cinta.”
“Nggak lucu tau!” Mamahnya Aldo nggak terima kalau dia dikerjain.
“Eh…, jangan ngambek gitu dong, kan Papah hidup demi Mamah.” Kata Papahnya Aldo dengan nada berpuitis. Akhirnya sang istri pun berhasil ditahlukan dan mereka pun kekamar bersama-sama.  Sementara itu, Aldo mulai mendengkur keras di lantai.
Sambil… Di kamar, Papahnya Aldo melanjutkan penjelasannya tentang Fera.
“Gini lo Mah…, Fera itu sempat terlibat kasus sama Aryanto. Ferdi yang ngeliat sendiri kasusnya seperti apa.” Kata Bapaknya Aldo dengan nada romantis.
“maksud Papah, kasus apaan sih?” Tanya sang Istri penasaran.
“Itu-tu Mah…, Mamah taukan kenapa Aryanto itu dipenjarah?”
“Oh…, maksud Papah, dia yang begituan sama Aryanto?” Kata Sang Istri dengan perasaan puas.
“Yaps benar Sekali, untungnya nggak ampe hamil. Fera pun akhirnya dikeluarin dari sekolah, dan Papah nggak tau kenapa Aldo bisa suka sama dia.” Jelas Papahnya Aldo dengan nada dibuat seromantis mungkin.
“Mah…, kayaknya kasus Ferdi harus cepat-cepat diselesain deh. Soalnya Papah nggak yakin kalau Ferdi emang bener-bener bersalah.”
“Papah yakin…, kalau Ferdi nggak bersalah?”
“Yaps…, karena kalau bener dia bersalah, nggak mungkin wajahnya setenang itu ketika diintrogasi.”
“Yah…, mungkin dia pinter ekting kali!” Jawab sang Istri.
“Sepinter-pinter orang ekting Mah…, nggak mungkin sampai sebegitunya. Papah percaya kok, kalau dia itu Cuma hilap bawa mobil kita. Sekarang gini, Mamah inget nggak, pada saat kita masih pacaran? Peristiwa itu akan terkenang terus di otak Papah.”
“Peristiwa yang mana yah Pah?” Tanya sang Istri yang benar-benar lupa akan kenangan mereka berdua.
“Itu hlo, ketika Mamah ngeliat Adik sepupu Papah, yang Papah peluk. Sedangkan Mamah belum kenal siapa yang Papah peluk, karena memang sepupu Papah baru muncul sekali selama kita pacaran yaitu pada saat Papah meluk dia. Akhirnya Mamah nuduh Papah selingkuh dan langsung berlari ninggalin Papah.” Bapaknya Aldo bercerita dengan semangatnya. Ibunya Aldo terus mencoba mengingat-ingat akan kenangan tersebut.
“Terus Papah liat Mamah nangis, dan Papah kejarlah Mamah. Namun sayangnya Mamah udah keburu naik mobil angkot. Saking bingungnya, akhirnya Papah ngeliat motor yang parkir di depan rumah tetangga, dan koncinya nggak dicabut. Papah pun tuancap gas kejar mamah. Tapi sialnya, Papah juga dikejar-kejar sama orang-orang kampung dan Papah pun digebukin deh. Pada hal, Papah nggak niat nyolong tuh motor.” Bapaknya Aldo pun menyelesaikan ceritanya.  Barulah Ibunya Aldo mengingat sepenuhnya. Ibunya Aldo pun tertawa sambil guling-gulingan di kasur hingga akhirnya dia pun terjatuh dari kasur.
“Gedebruk Auch… Sakit! Pah… Sakit Pah!” Kata Ibunya Aldo dengan nada manjanya.
“Adu Say, makanya kalau mau guling-gulingan itu liat-liat dong!” Kata Bapaknya Aldo menasehati.
Akhirnya, Bapaknya Aldo mengusap-ngusap bagian tubuh Istrinya yang terbentur lantai dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, Istrinya kembali dibimbing ke atas tempat tidur dan mereka pun langsung tertidur dalam keadaan….

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *