Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Ferdi Story (9-15)

Anna segera menghubungi nomor yang diberikan oleh Susan. Tetapi, HP itu berdering  diatas meja tamu rumah Anna. Mungkin Ferdi kelupaan untuk membawanya ketika dia menjadi setan-setanan di rumahnya.
Anna pun keruang tamu dan dia terkejut ketika dia melihat rangkaian bunga diatas meja itu. Bukan itu saja, dia melihat sepucuk surat yang tergeletak diatas meja.
“Anna, sekali lagi aku ucapkan selamat ulang tahun, semoga kamu panjang umur dan selalu didalam lindungan Allah SWT. Ann, percayalah, ini semua aku lakukkan hanya untuk membuat hatimu bahagia. Karena, jika aku tidak lakukkan ini semua, aku hawatir nggak ada yang berkesan untukmu. Ann, maafkan aku sepenuh hatimu!
Dari ferdisetiadi sahabatmu.”
Anna pun meneteskan airmata yang membasahi kertas itu. Beberapa menit kemudian, telpon kembali berdering. Dari susan. Anna yang menjawab.
”Asalamualaikum.”
”Walaikum salam. An, Ferdi Ann!” Kata Susan sambil menangis tersedu-sedu.
”Kenapa dengan Ferdi?” Jawab Anna dengan nada cemas.
”Dia, dia kecelakaan. Ban mobilnya meledak lalu mobilnya oleng dan parahnya truk pasir menyalip dan menyenggol mobil Ferdi hingga terbalik ke parit. Mobil truk itu langsung kabur begitu saja. Namun untungnya masyarakat sekitar mengetahui kejadian itu. Sekarang keadaannya cukup kritis! Kakak, Mamah, dan Papah Kakak, sekarang mau kerumah sakit.”
”Kak, Anna ikut! Ini semua salah Anna Kak. Tolong kak!”Kata Anna yang juga mulai menangis.
”Bukan, ini bukan salah siapa-siapa. Ini Cuma musibah Ann. Yudah, Kakak kasih aja alamat rumah sakitnya.” Kata Susan menenangkan.
Anna mencatat alamat rumah sakit tersebut. Iya, nama rumah sakitnya adalah putra medikal. Rumah sakit yang cukup terkemuka saat itu dan memiliki pelayanan terbaik.
”Yaudah Ann, gitu aja. Wasalamualaikum.” Kata Susan yang menutup telponya dengan terburu-buru.
”Walaikumsalam.” Kata Anna sambil menahan air matanya.
Anna juga menutup telpon lalu berlari ke Tania. Dia menangis sekeras-kerasnya di pelukan Tania.
Tania dan temen yang lainnya mencoba untuk menenangkan Anna. ”Sudah Ann, yang penting kita berdo’ah saja semoga Ferdi nggak terlalu parah keadaannya.” Kata Alia yang membelai-belai rambut Anna.
”Tapi, semua ini salah gue. Gue yang menyebabkan ini semua terjadi.” Kata Anna sambil terisak-isak.
”Bukan Ann, ini udah takdir.  Ini bukan salah siapa-siapa dan juga ini bukan salah lo.”Kata Gustina menenangkan.
”Gimana kalau Ferdi kenapa-napa? Kepada siapa lagi gue curahkan perasaan ini?” Kata Anna yang tangisnya mulai reda.
”Yaudah berdoa aja semoga nggak kenapa-napa. Kalau lo mau kesanah sekarang, kami mau kok nemenin. Biar kami carikan taksi sekarang.” Kata Tania masih berusaha menenangkan Anna sambil perlahan melepaskan pelukkan mereka.
Anna setuju dengan tawaran Tania. Mereka segera berkemas-kemas untuk menuju ke sanah. Mereka menunggu taksi dipinggir jalan. Dan akhirnya taksi kosong pun berhasil mereka dapatkan.
Tania membuka pintu taksi itu dan berkata kepada sopir tersebut:”Pak, bisa antarkan kami ke rumah sakit putramedikal?”
”Oh tentu dong neng, dengan senang hati. Apa lagi neng semua cantik-cantik. Hehehehe… Silahkan masuk!” Perintah Sopir taksi dengan wajah genitnya.
Mereka pun memasuki mobil tersebut dan segera berangkat.
”Cepetan yah bang! Ini dalam keadaan gawat!” Kata Anna dengan panik.
”Emang kenapa neng? Siapa yang sakit di sanah?” Kata Pak sopir sambil mempercepat laju mobil itu.
”Teman kami, dia baru kecelakaan.” Kata Gustina menjelaskan.
”Oh… Baik neng.” Kata Pak sopir yang sekarang sepertinya serius.
Sopir itu pun kembali menambah kecepatannya. Dan akhirnya sampailah mereka dirumah sakit itu. Anna pun membayar taksi tersebut. Setelah itu mereka langsung masuk kedalam rumah sakit dan bertemu dengan resepsionis.
”Selamat malam Pak, kami ingin bertanya, dimana lokasi pasien Ferdi setiadi berada?” Tanya Tania kepada seorang resefsionis.
”Dia masih berada di UGD di sebelah sanah!” Resepsionis itu menunjuk ke arah di manah ruang itu berada.
Setelah mengucapkan terimakasih kepada resepsionis, mereka langsung menuju ke ruang itu. Di sanah sudah berada ibu, bapaknya Ferdi, dan Susan Kakaknya.
”Selamat malam. Apakah kalian temanya Ferdi?”Sapa Pak Tanto.
”Ya om, kami semua temannya Ferdi. Gimana om keadaannya Ferdi?” Kata Anna masih panik.
”Entahlah, dia masih sangat-sangat keritis dan sekarang masih dalam perawatan dokter yang cukup intensip. Kami semua hanya bisa berdo’ah untuknya.” Kata Pak Tanto menerangkan.
”Om, maafin saya om, saya yang bersalah! Seandainya saya nggak mengundang dia, mungkin dia nggak seperti ini.” Kata Anna sambil menimbulkan rasa penyesalannya.
”Nggak kok Ann, kami semua nggak menyalahkan kamu. Memang, mobil om bannya udah tipis, dan om lupa untuk menggantinya. Sekarang, kamu tenang yah! Yang kami pinta dari kalian, adalah doa kalian atas kesembuhan Ferdi.” Kata Pak Tanto yang masih tenang.
”Tentu, kami akan berdoa untuk kesembuhannya.” Jawab Gustina mewakili.
”Pasien sudah melewati masa kritisnya, dan hanya menunggu dia siuman saja. Kami memperbolehkan kalian untuk melihatnya namun dengan syarat, kalian harus masuk bergantian. Atau hanya satu orang saja yang masuk.” Jawab sang dokter yang keluar dari ruangan UGD.
”Baikdok, terimakasih atas informasinya. Anna, lo nggak mau kami salahkan bukan? Untuk itu, lo harus masuk sekarang!” Kata Susan sambil menunjuk Anna.
”Baiklah, kalau begitu. Om, tanteh, izinkan Anna untuk melihatnya!” Jawab Anna yang mulai melangkah ke ruang itu.
”oh Iya, silahkan nak!” Jawab Pak Tanto.
Anna memasuki ruangan itu. Dilihatnya tubuh Ferdi yang terbaring lemah dengan beberapa alat medis yang berada ditubuhnya. Hati Anna sangat sedih melihatnya. Rasanya dia ingin menjerit dan menangis melihat semua itu. Dia hampiri Ferdi lebih dekat dan berbisik di telingannya:”Ferdi, Maafin aku! Aku yang salah. Seandainya aku nggak ngebanting pintu dan ngediemin  kamu, mungkin kamu nggak cepat-cepat pulang dan nggak terjadi hal yang seperti ini. Fer, seandainya kau tau, aku juga punya…” Kata-kata Anna terhenti ketika mata Ferdi perlahan terbuka.
”Anna… Ann, Maafin aku! Anna, aku hanya ingin bikin kamu bahagia dihari ulang tahunmu. Aku terpaksa melakukkan itu semua hanya untuk kamu!” Kata Ferdi dengan lirih.
”Iya Fer, aku mengerti! Maafkan aku juga karena sudah salah faham denganmu. Sekarang, kamu istirahat yah Fer! Aku akan di sini sampai besok. ” Kata Anna yang kembali mencucurkan air mata.
”Nggak usah Ann, biar keluargaku aja yang menjagaku. Aku nggak mau kamu ikut sakit karena jagain aku.” Jawab Ferdi yang suaranya agak lebih kuat.
”Nggak apa-apa Fer, aku ikhlas melakukkannya.”
Dokter datang menghampiri mereka.
”Hmmm, rupanya anda sudah siuman? Kalau gitu, anda sudah dapat kami pindahkan ke kamar perawatan. Oh yah, maaf, nama nona siapa?” Kata sang dokter sambil memandang Ferdi lalu berganti memandang Anna.
”Saya siti nurhasanah.”
”Anda salah satu dari anggota keluarganya?” Tanya sang dokter.
”Bukan dok, saya temannya pasyen.”
”OK, kalau gitu tolong Bantu saya untuk memindahkan pasyen ke roda itu. Karena seluruh suster yang ada di rumah sakit ini sedang sibuk.”
”Baiklah dok.”
Mereka memindahkan Ferdi keruang perawatan. Keluarga Ferdi pun bersyukur karena Ferdi sudah melewati masa kritisnya dan telah siuman.  Mereka mengikuti Dokter serta Anna dari belakang. Maka, sampailah Ferdi di ruang perawatan.
Ferdi ditempatkan di ruang kelas1, dengan fasilitas-fasilitas lengkap, seperti tersedianya tempat tidur untuk yang menjaga, tempat air minum atau disebut disfanser, kulkas kecil dan fasilitas pendukung kamar perawatan lainnya.
Keluarga Ferdi memasuki kamar tersebut.
”Fer, maafin Papah yah! Papah kurang mengurus mobil Papah sehingga sampai terjadi seperti ini.” Kata Pak Tanto sambil mengusap kening Ferdi.
”Nggak apa-apa, memang ini sudah nasip Ferdi Pah. Nggak ada yang Ferdi salahkan untuk hal ini.” Kata Ferdi kembali lirih karena Pak Tanto memegang lukanya.
”OK deh, Mamah sama Papah besok ada meeting, nggak apa-apakan kalau kami tinggal Fer? Kan ada Siti Nurhasana Beserta temannya dan juga Susan Kakakmu yang akan menjagamu. Tolong jaga Ferdi yahsiti Nurhasanah! Tanteh percayakan kamu untuk menjaganya.” Kata sang Ibu kepada Anna sambil menjabat tangan Anna.
”Baiklah, Kalau tanteh dan om mempercayakan kepada saya. Saya akan menjaga Ferdi semampuh saya.”
”Om dan tanteh percaya kok. Oh yah, ini untuk kamu! Jika kamu ingin membeli sesuatu di rumah sakit ini. Tolong diterima yah!” Pak Tanto mengeluarkan sejumlah uang sebesar RP 200.000dan diberikan ke Anna.
”Nggak usah Om! Anna punya kok uang untuk keperluan Anna. Lebih baik uangnya buat membayar rumah sakit aja!” Kata Anna sambil menolak uang yang disodorkan.
”Sudahlah, urusan rumah sakit sudah menjadi tanggung jawab kami. Ini buat keperluan kamu doang kok. Mungkin kamu laper karena jagain Ferdi. Ini buat uang jajan kamu! Terima saja! Kalau tidak, om dan tanteh akan marah sama kamu.” Kata Ibu Ferdi sambil kembali menyodorkan uang itu ke Anna.
Akhirnya dengan terpaksa, Anna pun menerimanya.
”Sudah yah, om tinggal yah! Susan, awas kalau kamu pergi kemana-mana dan nggak nemenin Siti Nurhasanah menjaga adikmu Ferdi.” Kata Pak Tanto yang menjabat tangan teman Ferdi satu per satu lalu memandang Susan.
” Beres Pah! Susan mana Pah?” Kata Susan yang menengadahkan tangannya.
Pak tanto mengerti yang Susan maksud. Lalu Pak tanto pun memberikan sejumlah uang yang sama kepada Susan.
”Makacih pah! Papah emang baik deh.” Kata Susan dengan ekspresi senang.
Pak tanto hanya tersenyum mendengar pujian Annaknya. Ayah dan ibu Ferdi meninggalkan mereka semua dan pulang kerumah.
”Kak, kenapa Kakak minta uang lagi kepada Ayah Kakak? Uang yang diberikan sama Ayah Kakak ke Anna juga lebih dari cukup kok dan bisa kita gunakan bersama-sama. Kan jadi mubazir uangnya Kak kalau begini.” Kata Anna menasehati.
”Sudahlah Ann, tugas kamu hanya menjaga Ferdi di sini. Bukan nasehatin Kakak. Uang yang kamu pegang Itu udah rezeki kamu. Kalau uang yang dikasih ke kakak itu udah rezeki buat Kakak. Ngertikan kamu?” Kata Susan yang membantah nasehat Anna.
”Iya kak iya. Anna nurut aja deh.”
”nah itu baru anak manis.” Puji Susan kepada Anna. “Alia, Guestina, dan Tania ikut Kak susan sekarang!” ajak Susan kepada mereka.
”Kita mau kemana Kak?” Tanya Tania bingung.
”Pokoknya ikut aja deh! Ann, kamu di sini dulu yah! Kakak nggak lama kok perginya. Kakak nitip Ferdi yah!” Kata Susan yang mulai berjalan ke ambang pintu.
”Tapi Kak, kok seluruh teman saya diajak? Saya sama siapa?” Kata Anna yang menolak seluruh temannya diajak.
”Soalnya, Kakak butuh bantuan mereka untuk mengerjakan sesuatu. Sudahlah, kamu baik-baik aja di sini! Jagain Ferdi. Kalau Kakak ajak kamu juga, siapa yang jaga Ferdi? Sedangkan pekerjaan itu harus dilakukkan minimal 4 orang.” Anna menurut saja dengan perintah-perintah itu.
Akirnya mereka semua meninggalkan Anna di ruangan itu. Dan sekarang tinggal Anna dan Ferdi di ruangan tersebut. Anna hanya terduduk diam di korsi memandangi wajah Ferdi yang tertidur pulas. Sesekali mulutnya menguap karena mengantuk. Dan akhirnya karena tak kuat menahan ngantuk, Anna pun ikut tertidur di korsi tersebut. Anna terbangun ketika seorang suster pengontrol pasien membangunkannya dan menyuruh Anna tidur di tempat tidur yang telah disediakan.
”Oh tidak Sus, sebenarnya saya tidak niat untuk tidur. Namun saya ketiduran di korsi ini.” Kata Anna dengan nada lelah.
”Hmmm, tapi ini sudah larut malam. Kesehatan Anda juga harus diperhatikan! Jika anda tidak mau tidur, kepala anda akan pusing dan saya hawatir anda ikut sakit. Sayang loh, cantik-cantik gini ikut sakit. Hehehe…”. Anna hanya tersenyum mendengar canda dari suster. Akhirnya Anna menuruti saran suster dan dia pun tidur di tempat yang disediakan. Tapi kali ini mata Anna sulit terpejam. Matanya selalu mengarah ke wajah Ferdi yang masih tertidur lelap. Waktu sudah menunjukan pukul tiga dini hari, Tapi Anna tetap tak dapat memejamkan mata. Akhirnya Anna pergi kekamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dia melakukkan shalat malam. Setelah itu, dia membaca surat Yasin yang memang surat itu selalu di bawa kemana pun dia bepergian. Dia bacakan surat itu di samping Ferdi yang membuat dia terbangun dari tidurnya. Setelah Surat itu dibacakan dan Anna menyelesaikan semuanya, Terdengar kata:”Alhamdulillah!” Dari mulut Anna.
”Ann, tadi aku kenapa? Sehingga aku dibacakan surat yasin. Apakah terjadi sesuatu denganku?” Kata Ferdi bertanya-tanya kebingungan.
” Tidak Fer, dari tadi kamu normal-normal saja. Sebagai teman, aku meminta kepada Allah SWT, agar memberikan karomah dari surat ini, supaya kamu lekas sembuh dan kembali melakukkan aktifitas seperti biasa.” Air mata Ferdi bercucuran mendengar kata-kata tersebut.
”Mengapa kamu melakukkan hal-hal sampai sebegitunya terhadapku? Mengapa kamu nggak tidur saja? Ann, aku tahu, Kau sangat lelah!” Kata Ferdi yang masih lirih.
”Tidak Fer, lelahku menjadi hilang ketika melihat kamu agak baikan seperti ini. Aku sudah tidur tadi. Dan aku terbiasa bangun malam di rumahku untuk shalat serta mendo’ahkan seluruh orang-orang yang aku sayangi. Hal yang sama pun aku lakukkan di rumah sakit ini.”
”Ann ada air minum? Aku haus sekali.”. Anna pun mengambil air minum untuk Ferdi.
”Mari aku Bantu! Aku rasa tanganmu belum kuat untuk memegang gelas ini.” Anna memegangi gelas tersebut dan meminumkan air itu ke Ferdi.
”Makasih Ann, udah mau ngebantuin aku.”
”Sebagai teman, sudah tugasku untuk menolong temanku yang membutuhkan bantuan.” Setelah air itu habis terminum, Anna kembali meletakkan gelas tersebut di tempat semula.
Anna kembali duduk di samping
Ferdi.
”Fer, tadi Papahmu memberikan aku sejumlah uang. Aku nggak enak menerimanya karena uang itu sangat besar jumlahnya bagiku. Uang itu sebesar Rp200.000. Aku nggak mau menerimanya tapi mereka memaksa dan mereka akan marah jika aku nggak menerima uang ini.” Ditunjukanlah uang tersebut kepada Ferdi.
”Aku juga marah jika kamu tidak menerima uang itu. Kamu nggak usah  hawatir akan nilai dari uang itu. Karena bagi mereka uang yang mereka berikan ke kamu belum seberapa besar.”
”Tapi, aku tetap nggak enak menerimanya.”
”Sudahlah terima aja, anggap itu rezeki dari Allah SWT untuk kamu yang disampaikan melalui tangan Papahku.”
”Oh yah, HP-mu tertinggal di rumahku. Aku lupa membawanya Fer. Karena aku panik sekali. Insya Allah, besok aku bawa.”
“Yampun, HP-ku ketinggalan yah? Yaudah kalau gitu. Ann, aku masih ngantuk, aku ingin istirahat dulu.”
”Silahkan Fer, istirahatlah!” Anna meninggalkan Ferdi dan menuju ke kasur khusus penjaga. Di situ,dia  hanya sekedar merebahkan dirinya. Dia tetap memandang wajah Ferdi yang perlahan mulai terlelap. Sambil menunggu waktu subhu, Anna berzikir kepada Allah di tempat itu. Dan akhirnya waktu subhu pun tiba. Anna shalat subhu dan setelah itu dia kembali ke tempat tidur khusus penjaga. Kembali Anna merebahkan dirinya di sana. Mungkin karena Anna telah lelah, akhirnya Anna pun tertidur.
  
Sekitar pukul 7 pagi, Suster kontrol berkunjung ke kamar Ferdi.
”Mas, maaf, sudah pagi. Kami membawa sarapan pagi untuk Anda.” Kata Suster sambil membawa sarapan pagi.
”Ada apa sus?” Kata Ferdi dengan nada seperti orang baru bangun tidur.
”Sarapan pagi Mas.” Jawab suster singkat.
”oh… Makasih yah!”
Suster itu meletakkan sarapan pagi di meja dekat tempat tidur Ferdi. Suster melihat Anna yang sedang tertidur di kasur husus penjaga.
”Mas, apakah perlu saya bangunkan yang menjaga mas untuk  membantu mas makan?”
”Nggak usah sus, kelihatannya dia sangat lelah semalam. Biarkan dia tertidur. Saya samgup melakukkannya sendiri.”
”Tetapi, tangan mas belum mampuh untuk memegang sesuatu. Tulang-tulangnya masih lemah. OK kalau mas tidak mau membangunkan beliau, biar saya yang membantu.”. Suster itu menyuapi Ferdi. “Kenapa gue jadi kayak anak kecil gini yah?” Batin Ferdi.
 
Beberapa menit kemudian, Anna terbangun. Anna melihat Ferdi sedang disuapin oleh suster. Anna menghampiri suster itu.
”Selamat pagi nona! Gimana, tidurnya nyaman?” Sapa Suster.
”Pagi. Sus, mengapa suster tidak membangunkan saya untuk membantu pasien?”
”Aku yang melarangnya. Aku nggak mau mengganggu tidur kamu! Kamu lelah sekali. Aku rasa semalam kamu kurang tidur Ann.” Jawab Ferdi yang mewakili suster.
”Ferdi, ini sudah tugasku! Kamu nggak usah mempunyai rasa segan jika butuh bantuanku! Aku memang sudah ditugaskan untuk itu Fer! Marih sus, aku gantikkan.”
”Baiklah.” Suster menyerahkan makanan tersebut kepada Anna. Suster itu meninggalkan mereka berdua.
Dengan sabar, Anna menuapi Ferdi. Rasa malu terkadang muncul pada diri Ferdi, namun hal ini terpaksa dia terima karena dia belum mampuh untuk melakukannya sendiri. Makanan itu pun akhirnya habis juga. Anna mengambilkan minum untuk Ferdi, dan dengan lemah lembut, dia juga membantu Ferdi untuk minum.
Setelah semua selesai, Anna kembali duduk di samping Ferdi.
”Fer, Kak Susan udah balik ke sini belum?” Tanya Anna.
”Aku nggak tahu Ann, aku belum melihatnya lagi. Emang kenapa Ann?”
”Dia pergi sama Alia, Guestina, dan Tania . Katanya sih  cuma sebentar tapi kok sampai sekarang belum balik-balik juga. Kemana yah mereka? Aku hawatir!”
”Sudahlah, nggak usah hawatir, semoga mereka baik-baik saja.”
Dan benar saja, mereka semua pun menampakkan dirinya.
”Asalamualaikum!”
”Walaikumsalam. Kemana aja sih kalian? Katanya sebentar, kok sampai semalaman?”
”Kan gini Ann, Kakak main kerumah temen Kakak, kami ngerjain tugas kuliah. Tugasnya banyak banget, dan udah dateline hari ini! Tangan kakak masih keriting nih ngetiknya. Dan Tania, Alia, serta Guestina bergantian membacakan tugas tersebut yang akan diketik. Nih, kami bawain sarapan kok untuk kamu Ann.” Kata Susan dengan nada lelah sambil menunjuk Alia, Tania, Gustina, dan terakhir Anna secara bergantian, lalu memberikan sebungkus ketupat sayur kepada Anna.
Sebenernya sih, semalaman mereka tidak melakukkan itu, mereka tetap dirumah sakit. Rencana susan memang nggak terlalu penting, Cuma dia hanya ingin tahu saja seberapa besar perhatian Anna kepada Ferdi.
Atas bantuan kamera tersembunyi yang terletak di kamar Ferdi, mereka bisa mengontrol semua yang terjadi di kamar Ferdi, setelah mereka mendapat izin kepada petugas yang berwenang dalam hal tersebut.
”makan Ann!” Kata Tania mempersilahkan.
”Kalian udah belum?” Tanya Anna sambil mengacungkan makanan itu ke mereka.
”Udah kekenyangan kalih! Hehehe…” Kata Alia sambil mengusap-ngusap perutnya.
Anna pun memakannya. Setelah selesai makan, Anna pamitan untuk pulang kerumah.
Dia ingin mengganti bajunya yang telah kotor dan ingin membersihkan badanya. Tetapi, tak lama kemudian Aditia datang. Dia datang dengan temannya yang bernama Royani.
”Asalamualaikum!” Ucap Aditia dan Royani bersamaan.
”Walaikumsalam.” Jawab Mereka serempak.
”Eh Fer, gua baru tau beritannya! Emangnnya gimana ampe lo kecelakaan?” Kata Aditia dengan nada ingin tahu.
Susan menceritakan kejadian-kejadian yang menyebabkan Ferdi kecelakaan kepada Aditia dan Royani.
”Oh… Gitu. Yaudah gua harap, lo cepet sembuh deh.” Kata Aditia dengan nada simpatik.
”Amin. Aditia, mau nggak lo nganterin Anna pulang? ” Tanya Ferdi sambil berusaha menunjuk Anna.
”hmmm, lo mau pulang Ann? Yaudah, gua anterin lo deh. Tapi bentar yah, gua istirahat dulu.” Kada Aditia yang melepas jaketnya lalu duduk di kursi tamu.
Aditia pun ngobrol-ngobrol sebentar dengan Susan dan kawan-kawan. Setelah dia rasa cukup untuk beristirahat, barulah Aditia mengantarkan Anna pulang.
”Roy, gua anterin Anna dulu yah! Lo disini dulu. Yuk Ann pulang!” Kata Aditia sambil bangkit dari bangku, lalu kembali memakai jaketnya.
Roy mengangguk tanda setuju.
”Mafin yah dit, gue udah ngerepotin lo.” Kata Anna sambil memandang Aditia.
”Nyantai aja lagi! Gua seneng kok ngelakuinnya.” Kata Aditia sambil balas memandang.
 
Aditia dan Anna menuju ke halaman parkir tempat motor Aditia di parkirkan. Akhirnya, selang beberapa waktu  kemudian, sampailah mereka disanah. Aditia mengidupkan motornya dan setelah itu berangkatlah mereka. Di perjalanan terjadi percakapan.
”Loe dari semalem di situ?” Kata Aditia sambil fokus ke jalan raya.
”Yah Dit, gue ngerasa bertanggung jawab.”
”oh…” Jawab Aditia.
Tak terasa, mereka telah sampai tepat di depan rumah Anna. Anna turun dan mengucapkan terimakasih kepada Aditia. Anna menyodorkan sejumlah uang kepada Aditia sebesar RP20.000. Aditia menolaknya! Tapi terus dipaksa dengan Anna untuk menerima uang tersebut dan karena dipaksa akhirnya Aditia menerimannya.
”makasih yah ann, gua jadi nggak enak nih, karena guakan bukan tukang ojek.” Kata Aditia sambil membelai-belai uang itu.
”Gue yang harus berterimakasih kepada loe, karena udah mau nganterin gue.”
”Ya tapikan imbalannya nggak seimbang. Ini terlalu besar!” Kata Aditia yang ragu-ragu memasukan uang itu ke saku jaketnya.
”Sudah, karena semalam gue dapet rezeki, gue bagi untuk lo 10% dari rezeki itu. Itu udah rezeki lo dit.”
”Yaudah deh kalau gitu. Gua pamit Ann! Wasalamualaikum.” Salam Aditia yang langsung melajukan motornya.
”Iya dit, Walaikumsalam.”
Aditia kembali ke rumah sakit.
Ketika dia sedang berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, tiba-tiba sekitar dua wartawan dan satu foto grapher menyerbunya.
“Selamat pagi mas! Maaf boleh tahu namanya?” Sapa seorang wartawati yang berparas lumayan cantik.
“Yah…, selamat… pagi. Saya Aditia Prasetyo. Ada apa?” Kata Aditia dengan terkejut sambil memandangi para wartawan yang sekarang mengepungnya dengan seorang foto graffer.
“Maaf mas Aditia, Kami wartawan dari koran ‘yang penting berita’, ingin sedikit mewawan carai anda.” Kata wartawaan satunya lagi yang bertubuh agak jangkung kurus serta berkaca mata.
Foto graffer mulai memotret Aditia.
“yah…, si-silahkan.” Kata Aditia dengan gugup.
“Maaf, Mas masih sekolah apa udah kuliah?” Tanya Wartawati itu lagi yang sudah siap dengan alat tulisnya.
“Sekolah.” Jawab Aditia singkat.
“Di mana?” Tanya wartawati itu lagi sambil menulis.
“Pelita Harapan jaya.” Kata Aditia dengan jelas.
“Hmmm, kalau gitu… Anda kenal Ferdi Setiadi?” Tanya wartawati itu yang mulai semangat menulis.
“Yah… Saya teman dekatnya. Ada apa?” Kata Aditia yang kembali bingung.
“Bisa anda beritahu kami dia dimana?” Tanya seorang wartawan satunya dengan penuh ingin tahu.
“Dia di rumah sakit ini, sedang dirawat.” Kata Aditia sambil menunjuk arah jalan menuju kamar Ferdi.
“Bisa antar kami?” Tanya wartawati yang sekarang melipat kertas laporannya.
“I- bi-bisa. Marih!” Jawab Aditia setengah gugup lalu berjalan ke arah kamar itu.
Beberapa menit kemudian,
mereka pun sampai Di kamar Ferdi.
Para Wartawan itu pun menyapa Ferdi dan seluruh orang yang di ruangan itu sambil memperkenalkan diri.
“Maaf, Anda kenal orang yang bernama Adolf Malfoy?” Tanya Wartawati ke Ferdi dengan mengarahkan alat tulisnya ke kertas laporan.
“Yah, itu teman saya.” Jawab Ferdi dengan jelas.
“Menurut keterangan dia, anda terlibat dengannya dalam bertransaksi barang ilegal sonic recorder, milik salah satu anggota agen rahasia. Benar?” Tanya wartawati itu dengan tegas.
Baik Susan, Alia, Gustina, Tania, mau pun Aditia sangat terkejut mendengar pertanyaan itu.
“Maksud Anda…, Sensitif Recorder? Alat yang mampuh merekam sampai radius seratus meter dan akan berlipat ganda jika menggunakan microphone?” Tanya Ferdi kepada mereka.
“Benar.” Jawab Wartawati itu sambil menulis.
“Yah, saya hampir melakukkan transaksi itu, karena saya sangat tertarik dengan alat itu. Namun saya nggak tahu kalau itu milik seorang anggota agen rahasia. Dia hanya menerangkan bahwa itu adalah hadiah ulang tahunnya yang diberikan Kakeknya yang baru pulang dari jepang. Karena saya nggak punya cukup uang untuk harga yang ditawarkan, akhirnya saya membatalkan transaksi itu.” Kata Ferdi dengan sangat jelas ke pada para wartawan itu.
“Bagai mana pristiwa lengkapnya sehingga anda nyaris melakukkan transaksi tersebut?” Tanya Seorang wartawati yang alat tulisnya siap menempel di kertas laporan.
Ferdi pun menceritakan semua kronologisnya, dari pertemuannya dengan Adolf di perpustakaan, sampai masalah-masalah yang hampir bersifat pribadi. Seluruh orang yang mendengarkannya hanya dapat tersenyum.
“OK, kami rasa cukup, terimakasih atas waktunya dan selamat pagi!” Kata Wartawati itu mewakili semua.
“Yah… Sama-sama.” Jawab Susan juga mewakili.
Setelah seluruh wartawan berikut foto graffer meninggalkan ruangan, seluruh orang yang masih berada di ruangan itu mulai bertanya kepada Ferdi.
Ferdi pun menanggapi pertanyaan itu dengan santai.
“Untung lo nggak beli tuh alat, kalau lo beli, mungkin nggak tahu nasip lo sekarang gimana.” Kata Susan cemas.
Beberapa menit kemudian, Aditia berpamitan pulang kepada ferdi dan Susan. Setelah berpamitan, Aditia dan Royani meninggalkan ruangan tersebut.
” Gimana Fer semalaman dengananna? Hehehe…” Kata Susan yang sekarang benar-benar membelokan topik pembicaraan 180 º
”Bener, kalian semua tega! Anna semalaman kurang tidur. Walau pun Ferdi tidur, tapi Ferdi bisa melihat dari raut wajahnya bahwa dia kurang tidur. Kak, Ferdi kaget, kan Ferdi lagi tidur, eh tau-tau Ferdi diyasinin sama Anna, ya Ferdi ngira bahwa Ferdi abis kenapa-napa. Tapi kata Anna, Ferdi normal-normal aja Kak. Ferdi bingung deh.” Kata Ferdi dengan nada keluguannya.
Baik Susan, Alia, Tania, mau pun Gustina menahan tawanya walau pun kemudian meledak juga.
”Ferdi sayang, walau Kakak lo ini orang yang kurang ngerti agama, tapi kakak sedikit ngerti yang telah dia lakuin buat loh. Dia itu Cuma ingin mendo’ahkan lo, agar lo itu cepet sembuh. Itulah bukti kasih sayangnya sama lo!” Kata Susan sambil tertawa-tawa dan mengusap wajah Ferdi.
”Masa sih? Ferdi nggak ngerti deh.” Kata Ferdi yang nggak tahu apa maksud mereka semua malah tertawa.
”Yaudah, lama-lama juga lo ngerti kok.” Kata Susan yang masih tertawa.
Alia, Guestina, dan Tania berpamitan kepada Susan dan Ferdi lima menit kemudian.
”Kak, kami pulang dulu yah! Sama kayak Anna Kak, kami mau ganti baju dulu udah kotor nih! Udah bau kali yah gue? Hehehe…” Ferdi tersenyum saja mendengar canda Alia.
”Oh iya, makasih yah yang semalam! Kalian punya ongkos buat pulang?” Kata Ssusan yang mulai merogoh dompetnya.
”OH, punya Kak!” Jawab Gustina yang meraba-raba sakunya sendiri.
”Nih, Kakak tambain!” Susan mengambil uang sebesar 40.000 dari dompetnya.
”Nggak usah Kak! Uang kami cukup kok buat pulang.” Kata Tania yang menolak pemberian Susan.
”Udah, ini anggap aja gajih yang semalam OK!” Kata Susan yang menyodorkan uang itu ke gustina.
”Kami ikhlas kok yang semalam!” Kata Gustina yang menolak sodorannya.
”Sudahlah, terima aja!” Kata Susan yang kembali menyodorkan uang itu ke Alia.
Dengan berat hati, akhirnya mereka menerima uang itu. Mereka pun meninggalkan ruangan tersebut. Kini, hanya Susan dan Ferdi yang berada di ruang itu. Dokter memasuki ruang Ferdi untuk mengontrol perkembangan Ferdi.
”Selamat pagi Pasien ferdisetiadi. Maaf, saya akan memeriksa Anda sebentar.” Kata dokter yang memegang perban yang membalut tangan dan kakinya.
”Baik, silahkan  pak.”Jawab Ferdi mempersilahkan.  Dokter itu memeriksa bagian tubuh Ferdi yang terluka dan mengganti perban yang membalut luka tersebut. Dengan terkejut,
”Hmmmm, lukanya kok hampir kering yah? Seharusnya, luka itu kering sekitar 1 sampai 2 hari lagi. Ini sebua keajaiban untukmu.” Kata dokter itu yang memandang luka itu sambil berdecak kagum.
”Nggak tau deh Pak saya nggak ngerti. Seumur hidup, baru kali ini saya dirawat inap seperti ini.” Jawab Ferdi yang penuh keluguan.
”Oh yah, semalam, ketika saya bertugas, saya sempat melihat kamar Anda, saya nggak tahu itu sodara atau teman Anda. Dia sedang baca Al-qur’an di samping anda.” Kata dokter sambil membersihkan luka-luka itu dan kembali merekatkan perban baru ke luka Ferdi.
 
”Iya dok, semalam itu teman saya. Namanya Siti Nurhasanah.” Kata Ferdi sambil menahan sakitnya.
”oh… Teman Anda. Perhatian sekali dia. Mungkin dia yang berdo’ah kepada tuhan agar anda cepat sembuh. Inilah hasilnya! Luka anda hampir kering.” Kata Dokter yang sudah memasang perekat perban.
Ferdi hanya terdiam mendengar kata-kata dokter.
”Saya harap, jangan sakiti hatinya yah! Sesungguhnya anda sangat beruntung mempunyai teman seperti dia.” Kata sang Dokter sebagai penyeling obrolan.
”Saya akan berusaha dok semampuh saya.” Jawab Ferdi menanggapi.
”OK, anda saya tinggal dulu! Jangan banyak gerak dulu yah! Karena tulang-tulang anda masih lemah. Saya hawatir nanti malah menjadi fatal.” Kata Dokter yang sekarang menuliskan laporan di papan perkembangan di kaki tempat tidur Ferdi.
”Baik Pak.” Jawab Ferdi singkat.
Dokter meninggalkan ruangan Ferdi.
Mata Susan mulai memerah karena ngantuk. Berkali-kali mulutnya menguap.
”Fer, gue ngantuk berat Fer! Semalaman gue nggak tidur. Kalau mereka bertiga sih tidur secara bergantian.” Kata Susan yang berkali-kali menguap.
”Yaudah Kak, Kakak tidur aja di kasur husus untuk penjaga!” Kata Ferdi sambil memandang tempat itu.
Susan menuruti perintah Ferdi. Karena saking ngantuknya dia, dia pun langsung tertidur di situh.
 
Di rumah Anna, Anna sedang membereskan baju-bajunya. Dia menyetrika beberapa baju miliknya dan milik saudaranya. Memang, dia adalah anak yang sangat rajin di dalam keluarganya. Setelah semuanya rapih, Anna berniat untuk kembali ke rumah sakit untuk mengembalikan HP Ferdi. Setelah berdandan sepantasnya, Anna pun berangkat ke sanah dengan menggunakan taxi. Di perjalanan, dia membeli buah-buahan untuk Ferdi. Dan akhirnya, sampailah dia di sanah. Di koridor rumah sakit, dia bertemu Dokter yang tadi memeriksa Ferdi.
”Selamat pagi nohna! Anda yang menjaga Ferdi Setiadi semalam?” Sapa Dokter kepada Anna.
”Pagi dok. Iya, benar. Saya yang menjaganya semalam dok. Ada apa yah?”
”Saya benar-benar mengucapkan terimakasih kepada anda. Anda telah membantu proses kesembuhannya dengan memohon doa kepada tuhan.”
”Dok…, saya hanya manusia biasa yang bergelimangan dosa, mana mungkin doa saya terkabul.” Kata Anna dengan penuh kerendahan hati.
”Itu sudah urusan tuhan! Jangan sekali-kali anda berkata seperti itu! Terkabul atau tidaknya doa anda, sudah menjadi kehendaknya. Tetapi yang jelas, luka pasyen sudah hampir kering. Yang seharusnya keadaan tersebut baru terjadi sekitar 1 sampai 2 hari lagi.”
”Masa dok! Kalau gitu saya benar-benar bersyukur kepada Allah.”
”Tentu, sebagai seorang medis, saya mengagumi perhatian Anda kepadanya. OK, saya masih ada tugas, silahkan kalau anda ingin menemuinya. Anda anak soleha!” Dokter itu mengusap kepala Anna lalu pergi meninggalkan Anna. Anna melanjutkan langkahnya menuju kamar Ferdi. Dan beberapa menit kemudian, sampailah Anna di sana.
”Asalamualaikum!”
”Walaikumsalam. Masuk Ann!” Anna pun masuk ke ruangan itu.
”Fer, nih HP-mu. Dan ini, aku beliin buah-buahan untukmu. Dimakan yah! Biar kamu cepat pulih.” Anna meletakan HP dan buah-buahan itu di meja tamu.
”Yampun Ann, aku jadi ngerepotin kamu yah?” Kata Ferdi dengan penuh basa basi.
”Tidak Fer. Sama sekali tidak! Ini emang kemauanku sendiri.”
”maafin aku, kamu udah terlalu baik sama aku. Tapi aku belum bisa membalas apa-apa atas semua kebaikkanmu.”
”Tak ada yang harus di maafkan, sebagai sahabat, hatiku terketuk untuk menolong semua sahabatku yang sedang membutuhkan pertolongan. Maka dari itu, tolong dimakan buahnya yah! Mari aku Bantu!”
Anna membukakan sebuah apel. Dan setelah buah itu dalam keadaan tak berkulit, apel itu disuapkan ke mulut Ferdi.
Dengan sabar dan penuh kasih sayang Anna terus menyuapi Ferdi sampai buah apel itu habis.”Ann, tolong nyalahkan TV itu dong! Kayaknya sepi banget deh.”
”Bentar yah Fer! Anna cuci tangan dulu.”
Setelah dia mencuci tangannya, dia melakukkan yang Ferdi perintahkan tadi. Dan mereka pun menonton TV. Anna melirik ke kasur husus penjaga dan dilihatnya Susan sedang tertidur lelap sekali.
”Fer, Kakakmu dari kapan tidur di situ? Dan ketiga temanku kemana?”
” Tadi, Kakakku tidur setelah dokter memeriksaku. Kalau Mereka bertiga, pulang sekitar jam 9-an. Katanya mereka mau ganti baju sih.”
”Oh… Kayaknya kakakmu lelah sekalih yah!” Jawab Anna dengan simpatik.
”Iya Ann, katanya semalaman banget dia nggak tidur.”
Mereka masih asyik menonton TV. Sambil nonton TV, Anna bercerita tentang hal-hal yang lucu kepada Ferdi. Ini semua dia lakukkan hanya untuk menghibur Ferdi. Ferdi pun hanya tersenyum mendengar cerita-cerita Anna.
 Selama itu pun Seluruh keadaan berjalan seperti biasa, nggak ada kejadian-kejadian penting. Hingga akhirnya waktu telah menunjukan pukul 4 sore. Susan terbangun dari tidurnya.
”Dari kapan kamu di sini Ann?” Sapa Susan dengan nada orang baru bangun tidur.
”Tadi, sekitar jam setengah sebelas kak.”
”Sekarang, jam berapa Ann?” Anna melirik jam digital yang tertera di dinding.
”Jam… 4 sore kak.”
”Yaampun… Kalau gitu gue tidur lama banget! Kamu sudah makan Ann?”
”Udah Kak, kebetulan tadi Anna bawa makan dari rumah. Ini makanannya. Tadi Anna nggak abis. Kakak mau? Tapi jangan marah yah kalau nggak enak.” Anna memperlihatkan makanan yang dia bawa itu kepada Susan.
”Coba, Kakak cicipin!” Susan mencicipi makanan yang Anna bawa.
”Wah, enak kok! Siapa yang buat Ann?”
”Masa Kak enak? Kakak bohong kali sama Anna! Soalnya yang buat Anna Kak. Mustahil makanan itu enak.” Jawab Anna setengah tidak percaya sambil tersenyum.
”Bener kok!Cobain deh Fer!” Susan menyuapi makanan itu ke Ferdi.
”Iya beneran kok enak, percaya deh! Aku kalau bilang itu terus terang kok.”
”Yaudah deh terserah kalian.” Jawab Anna menyerah.
Susan menghabiskan makanan yang Anna bawa.
”Oh yah, Jam 5 nanti, Kakak ada kelas sore hari ini. Kebetulan kakak lagi test. Tolong do’ain yah biar Kakak bisa mengerjakan test dengan mudah.”
”Amin Kak.”
”Ann, seperti biasa, Kakak titip Ferdi lagi. Kasian belum ada orang yang jagain selain kamu. Oh yah, uang yang kemarin masih adakan?”
”Masih Kak, masih ada. Kakak butuh uang itu?”
”Oh nggak Ann, Kakak Cuma nanya doang. Sudah yah, Kakak tinggal. Nanti abis kuliah Kakak langsung kesini deh.”
Anna hanya mengangguk saja. Lalu susan pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Dokter kembali datang keruangan Ferdi.
”Selamat sore, Maaf, Nona bisa Bantu saya?”
”Maaf, Bantu apa dok?”
”Pasyen akan diberikan air kompres. Tolong wadah ini diberikan air hangat, lalu campurkan bubuk ini  ke air tersebut. Anda bisa?” Dokter pun memberikan sebua wadah dan bungkusan yang berisi obat bubuk kepada Anna.
”Insya Allah dok. “ Anna melakukkan hal yang diperintahkan dokter. Setelah semua perintah itu Dilakukkan, kembali Anna memberikan wadah itu yang telah berisi air kepada dokter.
Dokter mulai mengompres tubuh Ferdi. Sesekali Ferdi mengerang kesakitan ketika lukanya dibersihkan oleh dokter.
”Fer, sabar yah Fer! Ini semua dilakukkan agar kamu cepet sembuh. Kamu maukan, cepat keluar dari sini?”
”Tapikan sakit Ann!”
”Yah, sakit tapi untuk sembuh.” Kata Anna menasehati.
Ferdi hanya diam merasakan kesakitan itu. Dokter pun kembali mengganti perban pada luka Ferdi.
”Lukanya hampir kering kok. Insya Allah, besok pasien sudah tidak diperban lagi. Dan semoga, dalam 2 atau 3 hari lagi, tangan pasien sudah mampu untuk memegang sesuatu. Jadi kalau makan nggak disuapin lagi. Asalkan, pasien jangan terlalu banyak bergerak.”
 
”Iya dok, saya jadi malu.  Saya jadi kayak anak bayi lagi. Hehehe…” Kata Ferdi sambil menahan sakit.
”oh iya, nama nona siapa?”
”Saya Siti Nurhasanah dok. Tapi saya biasa dipanggil Anna.”
”Bagus kok nama anda. Apakah anda bercita-cita jadi perawat?”
”Wah kalau jadi perawat gimana yah? Saya nggak bisa dok! Lagian saya nggak sabaran kok orangnnya. Bisa-bisa pasien saya marahin terus dok. Hehehe…” Kata Anna dengan merendah.
”Ah anda ini. Dari raut wajah anda sudah tercermin kok! Anda mempunyai sifat sabar yang tinggi! Itu salah satu dari sarat untuk menjadi seorang perawat. Dan sisanya, anda dapat belajar di sekolah perawat.” Jawab Dokter sambil membereskan peralatannya.
”Sebenarnnya sih salah satu cita-cita saya itu adalah menjadi seorang penulis dok. Dan saya nggak ada minat untuk jadi seorang perawat.”
”Oh… Itu juga bagus kok. Yasudah yah, saya masih ada tugas lagi. Jagain pasien baik-baik yah!”
”Iya  dok, paling saya pukulin doang dia! Hehehe… Nggak-nggak Fer, becanda kok.”
Dokter pergi meninggalkan ruangan itu.
”Ann, katanya kamu mau mukulin aku, yaudah pukulan aja sekarang!”
”Ah, males ah, nanti aja, lagian juga tanganku lagi pegel-pegel nih. Kalau kamu sudah sembuh pasti udah aku bikin babak belur. Hehehe… “
”sayangnya, aku masih butuin kamu, kalau nggak, pasti aku pites kamu!”
”emang Anna kutu apa make dipites. Hehehe… Yaudah, kalau udah nggak butuin Anna, Anna pergi sekarang. Lagian banyak kerjaan yang lebih penting dari sekedar jagain kamu.” Anna pun pergi meninggalkan Ferdi. Ferdi berteriak-teriak memanggilnya tapi nggak dihiraukan Anna.
“yah, ngambek lagi dia.” Batin Ferdi.
Ferdi pun hanya bisa melamun Diatas tempat tidur memikirkan kepergian Anna. Di luar, Anna hanya berdiri di depan pintu kamar Ferdi. Dia memandangi orang-orang yang berlalulalang di sana. “Biar tau rasa dia! Enak aja ngomong sembarangan.” Batin Anna. Dia pun pergi ke kantin rumah sakit untuk mencari makanan. Di kantin, dia membeli aneka macam goreng-gorengan dan makanan lainnya. Setelah itu dia kembali kekamar Ferdi. Dari luar kamar, dia memandangi Ferdi yang sedang kebingungan. Rupanya dia haus dan ingin minum. Dengan perlahan, dan tanpa diketahui Ferdi, Anna masuk ke dalam kamar itu. Dia bersembunyi di kolong tempat tidur khusus penjaga.
 “Ann, Anna, balik dong Ann! Ambilin gue minum! Gue haus Ann!” Kata Ferdi dengan memelas.
”Anna nggak ada om! Dia pulang! Kalau mau minum ambil sendiri aja!” Ferdi terkejut dengan suara yang persis seperti anak kecil. Matanya mencari-cari suara tersebut Namun tidak diketemukannya suara itu. Akhirnya Anna muncul dari tempat tidur secara mengagetkan dan berkata:”Dor…! Pak, haus yah? Duh kacian deh. Istrinya emang kemana? Lagi berantem yah Pak?”
”Istri? Kapan nikahnya? Perasaan dari kemaren gue di rumah sakit aja deh.”
” Mangkanya Fer, kalau masih butuh orang, jangan sok nggak butuh deh. Tadinya sih emang beneran aku mau pulang, tapi nggak tega sama kamu. Ntar mokat nggak ketauan lagi. Hehehe…”
”Iya-Iya, maafin gue! Sekarang ambilin gue minum yah sayang!” Kata Ferdi merayu.
”Ambil aja ndiri! Buka tuh iketan tangan lo!” Kata Anna dengan nada jutek. Akhirnya, Anna pun mengambilkan minum untuk Ferdi.
”Bangun lo! Nih menumnya!” Kata Anna  masih dengan nada juteknya.
Ferdi meminum air yang diberikan oleh Anna.
”Ann, maafin gue Ann! Kok lo jadi gini sih? Kok berubah 180 derajat sih?”
Anna diam saja. Dia mengambil kueh yang dia beli dari kantin. Dia memakannya di depan Ferdi.
”Hmmm enak! Enak banget kueh ini. Sumpah enaknya kelewatan. Yang sakit mah nggak usah dikasih.” Kata Anna sambil memakan kueh-kueh itu.
Ferdi hanya memandangi Anna yang sedang makan kueh tersebut.
”Mau Nggak?”
”Kalau dikasih sih mau.”
”Enak aja. Orang ini kueh Anna.”
”Emang siapa bilang itu kueh Ferdi?”
”Barusankan kamu yang bilang. Tampang kamu melas amet. Yaudah aku kasih deh.”
Anna pun kembali ke sikap aslinya yaitu sebagai wanita yang penyabar. Dia suapi risol ke Ferdi sedikit demi sedikit, hingga akhirnya risol itu habis.
 
Sekitar pukul setengah delapan malam, Kelas sore telah berakhir. Para mahasiswa keluar dari ruang kelas. Susan juga keluar dari ruang kelas tersebut. Toni, teman cowok setia Susan, telah lama menunggu di gerbang kampus tersebut. Dia memang ingin menjemput Susan. Susan menemuinya.  ”Hai, dah lama yah nungguin aku? Sorry yah Ton! Abis tadi soalnya lumayan bikin otak aku hampir berantakan.” Kata Susan sambil berlari ke arah Toni.
”Nggak kok yang, nggak terlalu lama nunggunya. Baru aja nyampe, nggak lama kemudian kamu keluar. Udah makan belum yang?” Kata Toni sok perhatian sambil mencium kening Susan.
”Belom, aku laper banget! Kamu mau nggak nganterin aku nyari makanan?” Kata Susan dengan manja.
”Tentu dong yang, yuk cepetan deh.”
Susan dan Toni pun segera menaiki sepeda motor milik Toni dan pergi mencari makanan. Akhirnya mereka menemui tukang nasi goring di pinggir jalan. Mereka berhenti di situ. Mereka memesan nasi goring sebanyak tiga porsi. Yang dua untuk mereka, dan satu lagi untuk Anna. Setelah mereka selesai makan, Susan meminta Toni untuk mengantarnnya ke rumah sakit. Toni menuruti keinginan Susan. Selang beberapa menit kemudian, sampailah mereka di rumah sakit. Setelah Toni memarkirkan motornya, mereka langsung menuju ke kamar Ferdi. Sesampinya di kamar Ferdi, Susan melihat Anna dan Ferdi sedang bercanda. Susan sangat senang melihatnya.
”Asalamualaikum!” Kata Susan sambil mengetuk pintu.
”Walaikumsalam. Eh Kak Susan, silahkan masuk Kak!” Jawab Anna dengan ramah.
”Gimana kabar Ferdi Ann?”
”Alhamdulillah, dia agak baikkan kak.”
”Oh yah Ferdi, Anna, kenalin ini teman Kakak, namanya toni.” Anna menyalami Toni sambil menyebut  namanya. Karena tangan Ferdi belum mampu untuk digerakkan, jadi dia hanya menyebutkan namannya saja kepada Toni dan Toni pun memakluminnya.
”Oh yah Ann, nih Aku bawain makanan.” Susan memberikan satu porsi nasi goring kepada Anna.
”Kok repot-repot Kak! Seharusnya nggak usah. Tadi Anna udah beli makanan kok di kantin.”
”Udah, kalau itu nggak dimakan, nanti jadi mubajir.”
”Fer, mau yah makan bareng Anna! Takutnya Anna nggak bisa ngabisin.” Ferdi pun setuju atas ajakan Anna. Mereka pun menghabiskan nasi goring tersebut secara bersama-sama. Dan akhirnya, habislah nasi goreng itu.
Sekitar pukul 9 malam, Toni berpamitan kepada Ferdi, dan seluruh yang menjaga Ferdi. Dan setelah pamit, Toni pergi meninggalkan mereka semua.
”Ann, lo temenin gue nginep lagi di sini yah! Gue takut kalau nungguin Ferdi sendirian. Gue juga hawatir kalau lo harus pulang jam segini. Mau yah!” Dengan sedikit basa basi, akhirnya Anna pun menuruti keinginan Susan untuk menemani Susan menjaga Ferdi.

Wijaya Ferdi

Mengenal Wijaya Ferdi

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *