Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Ketika Mereka Murka

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Angin bergerak cepat mengitari hutan, gunung dan laut. Hawa dingin yang dibawanya membuat beberapa hewan hutan semakin merapatkan tubuhnya. Beberapa lembar daun jatuh berguguran. Uap putih membumbung ke langit, butiran-butiran kecil menghiasi permukaan laut. Derak-derak pohon bersahutan menyelingi teriakan binatang malam. Malam yang tenang itu pun berubah seketika menjadi penuh gejolak seiring kedatangan angin yang seolah hendak meluapkan amarahnya.

“Wahai kawan-kawan, mengapa kalian masih tenang-tenang saja sementara kerusakan semakin hari semakin menjadi?” Nada-nada tinggi menggelegar ketika angin  nmengucapkan kalimat itu.

“Tenanglah, hai Pengelana! Apa yang membuatmu jadi tak tenang seperti ini?” Gunung mengirimkan kehangatan dengan uap putih kawahnya, bermaksud hendak menenangkan angin. Tapi Si Lincah itu malah semakin cepat bergerak dan berputar. Menghamburkan butiran-butiran putih itu ke segala arah. Seketika langit pun berubah menjadi keruh. Buih di laut pun semakin banyak dan bergerak pasrah dipermainkan angin.

“Bagaimana aku bisa tenang sementara setiap hari aku menyaksikan berbagai kebiadaban terjadi di bumi ini. Bagaimana aku bisa diam sementara makhluk-makhluk bengis semakin merajarela sesuka hati? Dan mengapa kalian hanya bisa termangu sementara semua itu terjadi di atas punggung kalian sendiri?” Angin bergerak semakin cepat mengangkat butiran-butiran di permukaan laut yang telah berubah menjadi ombak pasang bergulung-gulung.

“Memangnya apa yang telah kau lihat?” Gunung masih berusaha mengendalikan sahabatnya itu. Sementara bongkahan batu kapur mulai menyublim menjadi debu-debu halus.

“Buka mata kalian! Pandanglah ke arah gurun. Dan lihat apa yang dilakukan makhluk-makhluk tak tahu terima kasih itu disana! Tak ada yang menyahut. Suasana menjadi hening. Hanya gemuruh laut pasang yang menyambut seruan itu. Setelah beberapa detik berlalu angin pun melanjutkan dengan nada yang sama sekali tak berubah.

“Lihatlah bagaimana bangsa-bangsa barbar menindas dan menjajah sesamanya yang lemah. Saksikan bagaimana kejamnya mereka menembak dan meluncurkan rudal-rudal pembunuh. Merampas tanah suci yang mereka klaim sebagai milik mereka! Dengarlah pilunya jerit tangis anak-anak dan wanita yang kehilangan orang tercinta, Juga deru pesawat pengebom serta tank-tank berat menghancurkan rumah serta fasilitas penting lainnya. Membuat puluhan nyawa tak berdosa jadi korban. Tak ada air susu yang tersisa untuk bayi-bayi mereka, apalagi makanan untuk sekedar menyambung nyawa. Sementara di tempat lain, saksikan bagaimana megahnya orang-orang berpesta. Dengan baju-baju mewah dan makanan melimpah dibawah sorotan lampu-lampu dansa.”

Penat, gerah dan panas merebak ke udara menjawab kata-kata angin itu. Seketika laut semakin mengganas, Sementara hutan entah berapa kali membuat retakan pada tanahnya, dahan-dahan semakin deras berjatuhan menghujam bumi. Hanya gunung yang masih tampak tenang. leleran belerang nampak menjalar jaatuh ke sungai. Tapi yang pasti, tak ada satupun kata yang terdengar diantara mereka.

“Mengapa kalian hanya membisu seperti batu? Apakah penglihatan kalian telah menjadi buta, atau telah tuli kah pendengaran kalian semua? Kemana kekuatan yang Tuhan berikan kepada kalian. Ataukah kalian takut dengan makhluk-makhluk tak beradab itu?”

“Tidak!!!

Seketika semua tersentak mendengar teriakan itu. Laut rupanya sudah tak dapat menahan dirinya. Ombak pasang semakin besar dan meninggi. Gemuruhnya menggelegar ditengah deru angin yang berputar. Kilat pun menyambar beberapa pohon besar yang langsung hangus terbakar.

“Jangan katakan itu padaku. Aku diam bukan tak dapat berbuat apa-apa. Tapi aku berharap suatu saat mereka akan insyaf dan menyadari kesalahan yang mereka lakukan itu.” .

 “Ha ha ha. Apa yang kau harapkan dari mereka? Suatu saat mereka akan bertaubat? Mustahil! Telah ada penghalang pada mata dan ada pula sumbat pada telinga yang membuat mereka tak dapat lagi mengetahui kebenaran. Hati mereka pun telah dikunci mati karena mereka dengan terang-terangan telah melanggar segala ketetapan Tuhan. Jika kau masih terus menaruh harap, tunggulah sampai seluruh air yang kau punya menjadi darah.” Angin malah mengejek melihat reaksi laut yang demikian itu.

“Hentikan omong kosong itu. Sekarang pun aku sanggup melahap mereka semua hingga tak ada satu pun yang tersisa.”

“Buktikan kata-katamu itu!”

“Tunggu!!”

Serentak angin dan laut terlonjak. Mereka berpaling mencari sumber teriakan itu. Namun rupanya mereka tak perlu bersusah payah. Gunung yang menjulang itulah penyebabnya, dan kini ia telah memerah berlumuran lahar panas yang keluar dari retakan-retakan pada tubuhnya.

“Biar kubantu kau laut. Biar kubakar wajah-wajah sombong itu hingga hangus dak berbentuk, Biar mereka rasakan akibat perbuatan mereka itu. Biar mereka tak dapat berbuat sewenang-wenang lagi.”

“Tapi mengapa…” Laut rupanya takjub sekaligus heran menyaksikan reaksi gunung yang sama sekali tak terduga itu. Tapi sebelum kata-kata itu selesai, gunung malah memotongnya

“Aku muak melihat ini semua. Aku jemu menunggu dan menjaga mereka sementara mereka dengan seenaknya malah berusaha menghancurkanku.” Hanya itu yang bisa dikatakan oleh gunung. Dan kata-katanya itu segera berubah menjadi hujan abu. Angin bergerak semakin cepat dan kini ia berputar-putar diatas hutan.

“Bagaimana denganmu hutan? Masihkan kau memberikan maaf pada mereka yang telah membakar dan membabat tubuhmu tanpa ampun? Masihkah kau memberi iba pada mereka yang dengan terang-terangan hendak memusnahkanmu?”

Hutan tak berkomentar. Hanya tanah-tanah terbelah yang menjadi jawaban atas pertanyaan itu. Sesaat kemudian longsor pun menjalar membawa ranting-ranting hangus.
“Akan kubuat mereka bernasib seperti ini.” Serunya seraya menghempaskan ranting hangus itu ke dalam lubang dan menimbunnya dengan tanah.

“Baiklah teman-teman. Mari kita beri pelajaran pada makhluk-makhluk tak tahu terima kasih itu. Biar mereka tahu akibat dari yang telah mereka lakukan selama ini.”

Angin tiba-tiba merubah hembusannya menjadi topan yang menyebar ke segala arah. Sementara laut menggulung pasir dan daratan dengan badai ganas. Hutan pun tak tinggal diam. Di tenggelamkannya rumah-rumah yang berada di sekitarnya dengan longsoran tanah. Sementara gunung meledak dengan kekuatan dahsyat yang tak disangka-sangka. Api menjalar di mana-mana. Menghanguskan apa saja yang dilaluinya. Gelegar ledakan dan halilintar menyatu dengan jerit tangis dan teriakan.

Jutaan manusia berhamburan tak tentu arah. Berusaha menyelamatkan diri dari kejaran api dan badai tsunami yang datang dengan tiba-tiba. Tapi air bah dan lahar itu bukanlah lawan yang sebanding dengan mereka. Segera saja tubuh-tubuh yang ketakutan itu dilahap dengan buasnya. Tak peduli lelaki, wanita, anak-anak, ataupun orang tua. Bumi rata dengan tanah. Tak ada rumah, Tak ada gedung mewah, yang ada kini hanyalah mayat-mayat bergelempangan. Sementara yang masih hidup, berusaha menyelamatkan nyawanya.

Diantaranya adalah seorang ibu yang pontang-panting menyelamatkan diri dari kejaran air laut di belakangnya. Sementara kedua tangannya mendekap sesosok bayi merah yang tak henti-hentinya menangis. Ibu itu berlari jatuh bangun diantara mayat-mayat yang berserakan. Sementara badai terus mengejar. Tak kenal ampun ingin merenggut nyawanya. Hingga sampailah ibu itu pada batas kemampuannya. Ia tak sanggup berlari lagi. Si bayi terlepas dari gendongannya dan jatuh ke tanah. Sementara laut semakin dekat ke arahnya. Melihat itu si ibu berusaha bangkit kembali. Tapi rupanya ia telah kehabisan tenaga. Ia pun hanya bisa mengangkat tangan dan berdoa.

“Ya Tuhan. Apa pun kahendak-Mu akan kuterima dengan rela. Tapi kumohon, jangan ambil nyawa anakku sementara aku masih hidup di sisinya.”

Setelah memanjatkan doa itu si ibu rebah ke tanah. Sementara si bayi masih bertahan dengan tangisannya. Laut segera bersiap melahap mereka ketika tiba-tiba terdengar suara menyerunya.

“Hentikan! Jangan kalian teruskan!”

 Laut menghentikan laju badainya. Gunung pun tak beraksi lagi. Sementara hutan menghentikan longsoran tanahnya.

“Siapa kau?” Seru mereka serempak. Sumber suara itu kembali berujar dari atas langit.

“Aku membawa pesan dari Tuhan untuk kalian. Apa yang kalian lakukan itu belum waktunya.”

“Apa katamu? Kami rasa sudah waktunya untuk memberi pelajaran pada mereka.” Angin membela diri mewakili sahabat-sahabatnya.

“Tuhan telah menentukan kapan mereka akan binasa. Tuhan pula yang menentukan kapan kehidupan ini akan berakhir. Tak ada hak bagi kalian untuk mendahului ketetapan itu? Lagipula apakah kalian sudah lupa. Bahwa Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang? Tidakkah kalian lihat betapa lemah bayi yang masih menyusu pada ibunya? Juga betapa khusyu’nya mereka yang berdo`a sambil menyebut nama-Nya? Tuhan tak akan menurunkan azab-Nya, selama masih ada itu semua. Lalu mengapa kalian mengambil alih posisi seolah kalian menjadi Tuhan? Padahal kalian adalah juga hamba ciptaan-Nya yang juga haarus tunduk pada ketetapannya?”

Mereka semua diam. Tak ada yang berani membantah. Kini tahulah mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah semata-mata karana kekesalan mereka pada ulah sebagian manusia. Mereka juga menyadari, bahwa Tuhan tak merestui perbuatan mereka itu. Kini mereka hanya bisa tunduk, pasrah pada apa yang akan Tuhan lakukan terhadap mereka.

Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *