Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Ferdi Story (11-15)

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Di rumah Anna. Hari sudah larut malam, hujan mulai turun di luar. Namun mata Anna belum juga terlelap. Fikirannya terus melayang-layang ke arah Ferdi. “Ya Allah, tenangkanlah fikiran hamba, yakinkanlah Hamba kalau Ferdi baik-baik saja di penjarah!” Anna pun akhirnya mulai tertidur. *** Di penjarah, udara sekitar cukup dingin dan menusuk tulang karena di luar penjarah, hujan turun sangat derasnya. Keadaan ini pun cukup menyiksa Ferdi, karena dia biasa tidur di kasur yang nyaman di kamarnya. Namun saat itu, Ferdi harus terbaring dilantai dingin dan tanpa selimut sedikit pun. Dia pun nggak bisa tidur karena hal tersebut. Sementara, napi yang lain asyik mendengkur dan bahkan sering terdengar igauan dari mereka. “Woy…, ada selimut nggak sech? Gue dingin banget!” Ferdi berteriak membahana. Sebagian napi yang berada dekat dengan Ferdi pun terbangun. “Woy…, lo nggak nyadar apa lo di mana, Emang ini rumah nenek moyang lo apa? Kalau nggak punya selimut, yaitu DL, makanya minta sama bonyok lo buat bawain selimut!” Gerutu salah seorang napi yang merasa tidurnya terganggu. “Siapa yang tadi teriak-teriak minta selimut?” Tanya seorang penjaga penjarah dengan nada tegas kearah para napi yang tertidur. “Saya Pak, saya dingin tau!” Jawab Ferdi dengan nada jengkel. “Oh…, berani yah kamu ngomong seperti itu sama saya. Pus ap kamu 200 kali!” Kata penjaga itu dengan nada tegas. Mau nggak mau, Ferdi pun menuruti perintah penjaga itu. “Kalau kamu masih teriak-teriak lagi, saya akan menambah hukumannya menjadi 5 kali lipat!” Kata penjaga itu dengan nada mengancam setelah Ferdi selesai menuruti perintahnya. Keringat Ferdi mulai bercucuran bak air sungai yang mengalir. Namun, hal positif yang dia dapat, dingin yang dia rasakan mulai menghilang. Namun, Ferdi tetap saja tidak bisa tidur, karena berisiknya para napi yang mendengkur. Sedangkan dirumah, dia tidur dalam keadaan sunyi senyap. “Woy…, berisik banget sech lo padaan! Gue nggak bisa tidur goblok!” Ferdi melupakan janjinya bahwa dia nggak akan teriak-teriak lagi. “Tadi saya bilang apa hah?” Penjaga itu kembali mendatangi Ferdi, “Kalau nggak mau berisik, sanah di hotel! Sekarang lakukan perintah saya!” Kata seorang penjaga yang berbicara dengan nada sangat jengkel. “Pak…, ampun pak…. Saya nggak lagi-lagi teriak-teriak. Tolong Pak, jangan suruh pus ap segitu banyak!” Kata Ferdi dengan nada memohon ampun. “Oke…, kamu nggak pus ap. Tapi…, sebagai penggantinya, kamu harus tidur di sel tikus sampai besok pagi!” Kata penjaga itu dengan nada mengancam. “Ja-jangan pak! Baiklah, sa-saya akan turuti.” Ferdi pun lebih memilih push up 1000 kali dibandingkan harus menginap di sel tikus. *** “Pak…, jangan pak…! Ampunin dia!” Tiba-tiba Anna berteriak dari kamar tidurnya karena dia telah bermimpi persis seperti yang dialami Ferdi. “Hasanah…, kamu kenapa sayang?” Teriak Ibunya Anna yang mendengar teriakan Anna. Beliau pun memasuki kamar Anna. “Ada apa?” Sang Ibu memeluk Anaknya. “Bu…, Anna abis mimpiin Ferdi, dia lagi tersiksa dipenjarah! Sementara Ibu tau sendirikan, kalau Ferdi itu belum tentu bersalah!” Kata Anna dengan nada sedih. “Nak…, itu Cuma mimpi. Dan mimpi itu hanya bunga tidur! Kamu yakinkan sama Allah? Pasti kalau Ferdi memang benar nggak bersalah, dia akan baik-baik saja dan cepat keluar dari penjarah itu.” Kata sang Ibu dengan nada keibuannya sambil terus memeluk Anaknya. “Tapi Bu…, Anna sayang banget sama dia! Anna nggak mau kalau Ferdi sampe kenapa-napa.”. Sang Ibu hanya tersenyum. “Nggak…, yakin sama Ibu dan Allah! Dia baik-baik saja di sana.” Jawab sang Ibu dengan nada menenangkan. “Sekarang…, kamu tidur yah sayang! Nanti kamu kesiangan datang ke sekolah!”. “Nggak Bu, Anna mau shalat malam, Anna mau bantu doa agar masalah Ferdi cepat selesai!” “Memang kamu itu top!” “Aduh Ibu…, Anna itu kurang suka Top, Anna lebih suka sama Bengbeng Bu!” Kata Anna dengan nada manja. “Kamu bisa aja.” Kata Ibu sambil tersenyum. *** Pagi pun tiba. Suara sirine mulai dibunyikan, tanda bahwa seluruh napi harus bangun. Bagi yang Muslim, diwajibkan shalat Subbhu berjama’ah. Tampaknya Ferdi merasa tidak terganggu oleh huru-hara para napi yang mulai terbangun. Karena, dia baru tidur setengah jam yang lalu setelah menjalani beberapa hukuman karena banyaknya pelanggaran yang dia buat. Terakhir, dia menyanyikan lagu rock dari grup zambrut sebagai penghilang stres karena dia nggak bisa tidur juga. Akhirnya dia harus berlari keliling lapangan seluas 200 x 100-m yang berada di halaman belakang penjarah itu sebanyak 10 putaran sambil menyanyikan lagu-lagu tersebut. Semua hukuman itu, telah menguras banyak tenaganya. Sehingga, ketika hukuman lari selesai, dia langsung tertidur lelap di sel tahananya. Melihat Ferdi belum bangun juga, petugas penjarah langsung menyiram Ferdi dengan air es. “Pak…, kira-kira dong kalau minum es, Basah nih! Dan ngapain Bapak ganggu mimpi saya yang indah ini?” Celetuk Ferdi yang tiba-tiba terbangun merasakan dinginnya Air es, sambil matanya melotot ke arah petugas itu “Lancang kamu, memang…, anak kayak kamu harus bener-bener dibina!” Bentak petugas itu sambil menampar Ferdi. “Aduh-aduh, Bapak ini, sebenarnya maunya apa sech? Kan bisa ngomong baik-baik.” “Kamu tau ini jam berapa?” Ferdi melihat jam dinding yang menempel di dinding penjarah. “Jam…, setengah lima. Emang kenapa Pak?” Kata Ferdi dengan santainya. “Tau nggak, kalau jam segini kamu harus ngapain?” “Ngapain yah, bangun tidur ku terus mandi, jangan lupa menggosok gigi. Abis mandi…,” Kata Ferdi dengan nada menyanyi, “ngapain lagi yah? Pak, saya ngapain lagi dong? Saya nggak bisa sekolah karena saya di penjarah sekarang.” Lanjut Ferdi dengan nada mengejek. “Orang kayak kamu seharusnya memang diceburin ke empang!” Kata petugas itu dengan sangat jengkel. “Terserah!” Bentak petugas itu. “Yang jelas, sekarang kamu bangun, mandi, terus shalat Subhuh berjama’ah. Kamu muslimkan?” Kata petugas itu sambil mengontrol emosinya. “Yaps benar sekali…, seratus buat Bapak, sejuta buat saya! Hehehe…”. Petugas itu langsung meninggalkan Ferdi karena emosinya nggak bisa terkontrol lagi. Petugas itu pun membanting pintu sel tahanan tersebut lalu melanjutkan pekerjaannya. *** “Saudara-saudaraku, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita, asalkan kita mau bertaubat dengan sungguh-sungguh. Pesan saya, setelah anda keluar nanti, jadilah orang yang lebih baik dari sebelum anda masuk ke tempat ini! Coba…, Untuk saudara…” Sejenak ustad pengisi acara kultum yang diselenggarakan seusai Shalat Subhuh, melihat daftar hadir para napi. “Oh yah, saudara Ferdi Setiadi, tolong kamu jelaskan kembali apa itu pengertian taubat nasuha!” Tanya Pak ustad kepada Ferdi. Ternyata yang ditanya sedang tidur, dan berada di barisan paling belakang. “Hai…, ditanya tuh!” Kata seorang napi yang berada di dekat Ferdi sambil mengguncangkan tubuh Ferdi yang asyik bersandar di tembok. “Oh yah Pak…, kata temen saya, pertandingan semalam dimenangkan oleh MU atas realmadrit 4-0!” Spontan seluruh napi yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak. “Ferdi…, kamu maju ke depan!” Perintah ustad itu ke Ferdi. Yang diperintah pun menuruti. “Tadi Bapak tanya apa ke kamu Nak?” Tanya ustad itu dengan lembut. “Tanya…, tanya hasil pertandingan yang tadi malamkan Pak?” Kata Ferdi dengan polosnya. Kembali seluruh napi tertawa lebih keras. “Dia tadi tidur Pak…!” Celetuk napi yang tadi mengguncangkan tubuh Ferdi. Kembali para napi ketawa lebih keras. “Diam semua! Ini bukan bahan lelucon!” Bentak Ustad itu kepada seluruh napi yang tertawa. “Nak…, tadi Bapak nggak tanya itu. Yang Bapak tanyain pengertian taubat nasuha. Kamu bisa menjelaskan apa artinya?” Kata Ustad dengan ramah. “Oh…, bilang dong Pak dari kemarin.” Napi kembali tertawa. “Diam semua!” Bentak Ustad itu. “Taubat Nasuha itu Pak, Taubat yang dilakukkan dengan sungguh-sungguh kepada Allah, dan berjanji tidak akan melakukkan kesalahan itu lagi selamanya.” Kata Ferdi penuh percaya diri. “Pinter…!” Sejenak Ustad itu mengelus kepaala Ferdi, dan dia pun kembali menjelaskan pengertian taubat Nasuha dengan sejelas-jelasnya. “Baiklah, sekian kultum dari Bapak, kurang lebihnya Bapak mohon maaf, Wasalamualaikum!” Kata Ustad mengakhiri ceramahnya. Seluruh Napi menjawab salam Pak Ustad lalu dilanjutkan dengan bersalaman dan tertib keluar dari masjid penjarah.   Di sel tahanan, Ferdi sedang asyik mengobrol antar sesama tahanan. Mereka sedang berbagi pengalamannya kepada Ferdi. Ada yang pernah membantai satu keluarga, ada yang berhasil merampok bank, ada yang menceritakkan asyiknya memperkosa seseorang dan masih banyak pengalaman keji lainnya. “Saudara Ferdi…, dipanggil Sersan Guntoro!” Kata penjaga penjarah kepada Ferdi. Yang dipanggil pun menurut. “Selamat pagi Pak, ada apa?” Tanya Ferdi kepada Sersan Guntoro. “Silahkan duduk!” Ferdi pun duduk di korsi yang disediakan. “Tujuan saya memanggil Anda kesini, ingin memberitahukan anda, bahwa…, kasus pencurian mobil yang anda lakukkan, telah dicabut oleh korban.” “Maksud Bapak, saya akan bebas?” “Yah…, bener sekali, korban mencabut tuntutannya dan membebaskan anda, karena mereka ingin menyelesaikannya secara kekeluargaan.” Alangkah gembiranya Ferdi saat itu sehingga dia melompat-lompat sambil berteriak “Aku bebas…!” Tanpa di duga, Ferdi menabrak meja Sersan guntoro dan menumpahkan segelas kopi susu yang berada di atas meja itu. “Apa-apaan ini?” Bentak Sersan kepada Ferdi. “Ma-maaf Pak, sa-saya sangat gembira mendengar ini semua!” Kata Ferdi dengan nada memohon maaf. “Menyesal saya memberitahu berita ini. Sekarang, hukuman terakhir dari saya, tolong bikinin saya kopi lagi! Dan ingat, kopi itu harus sama rasanya dari kopi yang sebelumnya. Kalau tidak sama atau kurang enak, dengan sangat menyesal anda harus menginap sehari lagi di penjarah ini!” Kata Sersan itu dengan nada mengancam. “Ba-baik Pak.” Ferdi mengangkat gelas kopi yang telah kosong itu. Dia pun berjalan ke arah dapur untuk membuat kopi yang sama. “Ya ampun…, gue lupa, gulanya berapa sendok yah?” Batin Ferdi. Tanpa fikir panjang lagi, dibuatlah rasa yang sama dengan seleranya. “Nih kopinya Pak!” Kata Ferdi kepada Sersan Guntoro sambil meletakkan kopi itu di atas mejanya. Sersan pun mencicipi kopi itu, “Kamu harus kembali ke sel!” Kata Sersan itu sambil mengebrak meja. “Hlo kenapa Pak? Saya udah buatkan kopi itu.” Kata Ferdi dengan perasaan bingung. “Soalnya…, kamu harus siap-siap pulang lalu pamitan sama para napi di sana!” Kata sersan itu dengan nada yang santai sambil tersenyum. “Oh…, dikirain saya suruh nginep lagi.” Kata Ferdi dengan perasaan lega. “Boleh sih kalau kamu mau nginep lagi. Biar kamu yang buatin kopi saya tiap pagi!” Kata Sersan itu dengan nada bercanda. “Jangan dong Pak, kasian pacar saya! Sayakan masuk kesini demi dia.” Kata Ferdi sambil tersenyum dan balas bercanda. “Ya sudah. Oh yah, makasi yah kopinya! Kopi ini enak… Sekali.” Kata Sersan Guntoro dengan nada terimakasi. “Ya Pak sama-sama, kalau gitu kita mempunyai selera yang sama.” “Nomong-ngomong apa resepnya?” Tanya Sersan itu kembali. “Resepnya Pak…, gula pasir tiga sendok makan, kopi dan susu dua sendok makan, dan harus diaduk 10 kali searah jarum jam, dan 5 kali berlawanan arah jarum jam. Dan ingat, itu harus berurutan cara memasukannya dan cara meangaduknya!” Sersan itu percaya saja sehingga dia mencatat seluruh metode yang Ferdi katakan. Di sel tahanan, Ferdi pun berpamitan kepada para napi. Suasana haru sempat terjadi antara Aryanto dan Ferdi sehingga mereka saling berpelukan. “Yaudah, pasti secepatnya kamu juga akan keluar.” Kata Ferdi sambil meyakinkan aryanto. Namun, tangisan Aryanto  semakin keras. “Udah dong diem…!” Ferdi terus berusaha menenangkan Aryanto. “Gimana gue mau diem…! Bisul di kaki gue lo injek!” Kata Aryanto masih menangis tersedu-sedu. “Ya maaf, nggak sengaja.” Kata Ferdi dengan nada meminta maaf. Setelah berpamitan, Ferdi keluar dari sel tahanan. Ternyata, Bapak dan Ibunya Ferdi sudah menunggunya dengan wajah berseri-seri. “Makasih yah Pak…!” Kata Ibu Ferdi kepada seorang pengawal yang membawa Ferdi dari sel. “Sama-sama Bu! Oh yah, sepertinya Anak ini harus lebih dibina lagi agar menjadi anak yang bener-bener baik.” Kata Pengawal itu yang sudah merasa sangat jengkel dengan tingkah laku Ferdi. “Maafkan anak kami Pak!” Kata Bapaknya Ferdi dengan nada memohon maaf. “Dadah Pak kumis…, inget lo jangan lupa entar kumisnya di rebonding yah!” Ejek Ferdi kepada pengawal itu. “Awas kamu…! Sayang sekali, kamu cepat keluar. Kalau tidak, saya akan bikin kamu menjadi prekedel!” Gerutu penjaga itu yang langsung pergi.    “Nak…, Papah punya kabar gembira.” Kata sang Bapak ketika mereka semua telah berada di rumah. “Kabar apa Pah?” Kata Ferdi yang langsung duduk di sofa dan diikuti oleh Ibu dan Bapaknya. “Abis makan siang ini, kita akan pergi kebandung. Semalam sepupumu Rina, ngundang kita semua buat menghadiri acara tunangannya.” Lanjut Ibunya Ferdi sambil membelai rambut anaknya. “Terus Kak Susan?” Tanya Ferdi yang menyadari Kakanya tidak hadir ditengah-tengah mereka. “Susan akan menyusul nanti malam, bersama Toni. Karena, sekarang dia masih sibuk dengan jam kuliahnya.” Kata Bapaknya Ferdi. “Sebaiknya kamu persiapin segalanya, nanti selepas makan siang, kita bisa langsung berangkat.” Kata Ibunya Ferdi kepada Anaknya. Ferdi pun menyiapkan segalanya. *** Di sekolah Ferdi, huru-hara besar-besaran sedang terjadi, seluruh siswa/siswi kelas satu sedang berdemonstrasi, menuntut pembatalan pengeluaran Ferdi. Spanduk yang berisikan hampir seluruh tanda-tangan siswa/ siswi kelas satu, telah terbentang di lapangan. Sepanduk itu berisi tulisan, “Kami mohon kepada pihak sekolah, agar anda mengembalikan teman kami Ferdi setiadi ke sekolah ini! Kami berani bersumpah, bahwa Ferdi tidak bersalah atas pencurian mobil itu!” Melihat kondisi yang kacau ini, kepala sekolah langsung turun kelapangan, dan melakukkan pidato dadakan kepada ratusan siswa kelas satu yang mengucapkan Yel-yel “Kembalikan Ferdi!”. “Anak-anakku yang baik dan budiman. Terimakasih, kalian semua telah setia kawan dengan Ferdi. Kami mengerti seberapa besar manfaatnya Ferdi dimata kalian. Tapi Bapak mohon…, harap bersabar! Kami masih merundingkan tentang dia! Saya, guru-guru, bahkan kalian sendiri, mungkin sangat sayang dengannya. Maka dari itu, saya bersama guru-guru kalian masih merapatkan Hal ini.” Kepala sekolah menghentikan pidatonya. Beberapa perwakilan, menyampaikan bagai mana pentingnya Ferdi di tengah-tengah mereka. Namun untuk hal ini, Anna nggak bisa berkata apa-apa karena takut di cakin sama anak-anak satu angkatan. “Pokoknya Pak, biar bagai mana pun…, dia harus kembali Pak! Karena dia adalah gitaris yang handal di grup kami.” Kata seorang ketua Band sekolah sambil berteriak-teriak. “Iya-iya…, Bapak mengerti, sekarang kalian tenang…, dan mohon kembali ke kelas kalian masing-masing! Karena kalau kalian begini terus, kami juga tidak bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya!” Lanjut Pak kepala sekolah kepada seluruh pendemo. Akhirnya, seluruh siswa/siswi yang melakukkan demonstrasi, membubarkan diri dengan tertib untuk masuk ke kelasnya masing-masing. Spanduk pun di lepas dan diamankan oleh petugas kebersihan sekolah. “Jadi bagai mana keputusan kita, apakah Ferdi tetap kita keluarkan, atau kembali kita terima di sekolah ini?” Tanya Pak kepala sekolah kepada seluruh anggota rapat. Perdebatan pun berlangsung dengan seru, para guru saling memberikan pendapatnya tentang Ferdi. Ada yang pro, dan ada pula yang kontra tentang keputusan bahwa Ferdi harus diterima disekolah itu lagi. Sebagai jalan tengah, tiba-tiba Bapaknya Aldo muncul ditengah-tengah serunya perdebatan. “Saya selaku orang yang terlibat langsung dengan kasus ini, telah memaafkan Ferdi sepenuhnya. Jadi saya mohon, kepada Bapak kepala sekolah agar menerima kembali Ferdi ditengah-tengah kita. Setidaknya Bapak memberikan kesempatan sekali lagi kepada dia, untuk memperbaiki diri di sekolah ini! Saya yakin, Ferdi sebenarnya baik Pak. Hanya karena perasaan persahabatan yang tinggi dengan seorang siswi, dia menjadi gelap mata.” Kata Bapaknya Aldo dengan penuh semangat. Para guru pun berbisik-bisik dan Bu Siska pun mulai bergosip kepada teman-teman di sampingnya. “Memangnya siapa Bu orang yang secara tidak langsung menyebabkan ini semua?” Kata Bu Hanifah kepada Bu Siska sambil berbisik. “Itu…, Siti Nurhasanah.” “Kenapa memangnya?” Tanya guru yang lainnya yang mendekatkan telinganya ke arah Bu Siska. Bu Siska mulai bergosip menceritakan bahwa Ferdi sudah menjalin hubungan dengan Anna, dan ketika peristiwa itu terjadi, Anna sedang salah faham dengan Ferdi karena Anna melihat Ferdi berpelukan dengan Indri. Ferdi pun dikerjain oleh teman dekatnya Anna untuk datang kerumahnya Anna dan meminta maaf. Padahal, Anna waktu itu tidak izin pulang. “Oh…!” Kata seluruh guru yang mendengar ucapan Bu siska. “Siska, sedang membacarakan apa kamu?” Kata Pak kepala sekolah sambil matanya memandang tajam ke arah Bu Siska. “Nggak kok Pak…, gini…, anak saya lagi cacingan, saya lagi minta pendapat para guru disebelah saya, apa obat yang paling manjur untuk penyakit tersebut. Cuma itu Kok Pak!” Kata Bu Siska dengan muka memerah. “Tolong pembahasan itu ditunda dulu, kita masih konsentrasi sama kasus Ferdi!” Kata Kepala sekolah dengan tegas. “Baik Pak!” Jawab Bu Siska. “Setelah kita mendengarkan keterangan  dari Bapaknya Aldo, apa keputusan yang kita bisa ambil untuk kasus Ferdi?” Jelas Kepala Sekolah dengan tegas. “Bagai mana, kalau Anda semua mengangkat tangan sebagai pernyataan setuju atau tidak kalau Ferdi kembali diterima di sini.” Lanjut kepala sekolah itu. Mereka pun mengangguk. Keputusan terakhir, Ferdi tidak jadi dikeluarkan dan diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Sesaat setelah forum dibubarkan, Kepala Sekolah pun mengumumkan kepada seluruh Siswa kelas satu, bahwa Ferdi tidak jadi dikeluarkan, yang diumumkan melalui speaker room. Seluruh orang yang mendengarnya pun ikut gembira. “Gue harus cepat-cepat memberi tau berita ini kepada Ferdi!” Batin Anna yang berkata seusai bel pulang sekolah berbunyi. Secara sepakat, Alia, Tania, Gustina, Aditia, mau pun Anna akan langsung ke penjarah untuk menjenguk Ferdi dan memberi tahu kabar baik ini. Pak kepala sekolah pun tidak ketinggalan, beliau ingin meminta maaf kepada kedua orang tua Ferdi. Namun, alangkah terkejutnya mereka. Ketika seorang polisi mengatakan bahwa Ferdi sudah keluar dari penjarah itu beberapa jam yang lalu. Mereka pun ke rumah Ferdi, tapi di rumahnya juga sudah tertutup rapat dan gerbangnya terlihat di rante. “Kemana yah Ferdi?” Anna membatin ketika melihat keadaan rumah Ferdi. Tiba-tiba, HP Gustina berbunyi. “Halo…!” Gustina mengangkat telpon itu. “Halo…, ini gustina?” Tanya penelepon. “Yah ini Kak Susan yah?” Kata Gustina yang melihat tulisan “Susan” di layar HP-nya. “Yah betul sekali. Kira-kira nanti malam, ada acara nggak?” Tanya Susan. “Hmmm…, nggak tuh. Emangnya ada apa yah Kak?” “Gini…, kami sekeluarga ingin ngerayain ultahnya Ferdi yang ke 17 di bandung, niat Kakak sih Alia, Tania, Anna dan kamu ingin diajak juga. Sukur-sukur ada yang mau ikut lagi.” “Oh…, kenapa nggak disini aja Kak?” “Karena Ferdi akan menetap di Bandung dan mungkin akan bersekolah di sanah.” Ketika Gustina ingin membalas, tiba-tiba nada peringatan bahwa batrai HP-nya low, berbunyi tiga kali dan komunikasih pun terputus. “Yah… Low bat. Padahal tadi pagi baru di-charge.” Gerutu Gustina dalam hati. “Siapa memang yang telpon Gust?” Tanya Pak kepala sekolah ketika mereka akan meninggalkan rumah Ferdi. “Itu…, kakaknya Ferdi telpon saya…” Gustina menceritakan seluruh percakapan yang terjadi antara Susan dan dia. “Oh…, jadi Ferdi pindah ke bandung?” Tanya Pak kepala sekolah. “Yah…,” Jawab Gustina. “Pak…, lakukkan sesuatu agar Ferdi mau sekolah sama kita lagi!” Rengek Anna kepada Pak kepala sekolah. “Baiklah…, solusi Bapak, sepulangnya dari sini, kalian bisa meminta izin kepada orang tua kalian…, untuk pergi ke Bandung. Nanti Bapak yang mengurus semuanya. Dan kalian jangan bilang apa-apa ke Susan mau pun Ferdi, biarkan Bapak yang mengurusnya!” Kata kepala sekolah sambil berjalan menuju mobilnya. “Tolong, Bapak minta nomor telepon Susan!” Gustina pun menyebutkan nomor telepon Susan. *** Beberapa Jam kemudian, Ferdi telah sampai di Bandung, tepatnya di daerah lembang. Suasananya masih asri. Di kiri dan kanannya masih terhampar perkebunan yang cukup luas. Tampaknya pemerintah daerah Bandung sedikitnya masih memperhatikan kelestarian lingkungan sekitar. Akhirnya, tibalah Ferdi dan keluarganya di rumah Rina. Pihak tuan rumah menyambut mereka dengan gembira dan Rina pun terlihat senang bisa melihat Ferdi datang ke rumahnya. Rumah mereka tidak kalah besarnya dengan rumah Ferdi, bahkan mungkin lebih besar. Di sekitar pekarangan, tumbuh pohon-pohonan yang rindang, dan kolam ikan yang mengelilingi rumah dan terdapat air mancur di setiap sudut kolam tersebut. Ikan-ikan yang berada di dalam kolam itu, merupakan salah satu aset pendapatan keluarga mereka selain perkebunan. Di dalam rumah, tersedia 10 kamar tamu yang terkadang berfungsi sebagai kost-kostan anak kuliahan, tapi saat ini kamar-kamar tersebut sementara terlihat kosong. Robi, Adik Rina yang sepantar dengan Ferdi, meminta Ferdi untuk tidur sekamar dengannya. Karena, di kamarnya, Ferdi bisa menemukan bermacam-macam kaset game playstation. Sepertinya Robi telah banyak sekali mengoleksi game-game terkenal di kamarnya. Walau pun cowok, Robi mampuh menata kamarnya dengan rapih, tidak seperti Ferdi. Waktu itu, hari sudah mulai sore, sekitar jam 4. Robi terus memperlihatkan kelihaian dia dalam bermain game-game tersebut kepada Ferdi. Sementara Ferdi, sudah mulai tertidur lelap di kasur Robi karena dia kurang tidur ketika di penjarah. Tapi Robi tetap nggak perduli, dia terus memainkan game-game itu. *** Sekitar pukul delapan malam, seluruh siswa/siswi, terutama temen sekelas Ferdi telah berkumpul di halaman sekolah. Ternyata, Pak kepala sekolah telah merencanakan menyewa bus untuk berangkat kebandung. Tampaknya hanya satu bus, karena yang ikut hanya sekitar 40-50-an orang itu pun didominasi oleh temen sekelasnya Ferdi. Otomatis, Ibu wali kelas Ferdi pun ikut kesanah. “Sekarang, Anda kami tunggu disekolah!” Kata Pak kepala sekolah yang berbicara kepada Susan melalui telepon. “Baik Pak, kami akan segera meluncur ke sana!” Alia, Gustina, Anna, serta Aditia, turut hadir di sekolah itu. Mereka tampak berbeda malam itu, Anna terlihat cukup cantik. Sedangkan Aditia, ternyata dia mengajak Indri untuk kebandung. Selidik punya selidik, Indri telah jadian sama Aditia. Aditia pun cukup senang, karena malam itu Indri juga terlihat tidak kalah cantik dari Anna. Indri merupakan first love-nya Aditia. Karena sebelumnya, Aditia belum pernah mempunyai cewek. Jadi, dia masih terlihat kaku untuk pacaran. Setelah Pak kepala sekolah memberikan pengarahan kepada seluruh siswa/siswi yang ikut, mereka pun bersiap-siap untuk berangkat ke Bandung sekitar pukul 9.00 malam. Agar cepat, mereka pun melewati tol padalarang. Namun entah kenapah, Pak kepala sekolah melarang Susan untuk memberi tau seluruh keluarganya di bandung. Beliau hanya bilang ke Susan, bahwa beliau ingin memberikan sebuah kejutan kepada mereka. Akhirnya tiga jam kemudian, sampailah mereka di kota bandung. Sesampainya di tempat tujuan, Bus sengaja diparkirkan jauh dari lokasih agar tidak terlihat. Susan dan kepala sekolah memberikan intruksi kepada seluruh siswa/siswi agar jangan turun sebelum diperintahkan. Mereka pun menurut. Alia, Tania, Gustina, Anna, Aditia, serta Susan dan Pacarnya turun terlebih dahulu dari bus tersebut. Mereka mengadakan rapat kecil di sebuah saung dekat rumah Rina. Entah rencana apa, penulis belum tau pasti. Yang jelas, Susan dan Toni datang terlebih dahulu kerumah itu. Mereka di sambut oleh Bapaknya Ferdi, yang kebetulan waktu itu masih ngobrol-ngobrol dengan orang tuanya Rina di halaman depan. “Ferdi mana Pah?” Kata Susan dengan nada berbisik. “Dia udah tidur. Emang kenapa?” Tanya Bapaknya Ferdi dengan nada pelan. “Kalau mamah?” Tanya Susan lagi dengan nada masih berbisik. “Ada di ruang tengah lagi nonton TV sama Rina.” Jelas Bapaknya Ferdi. Susan pun langsung keruang tengah. “Sus…” “Psst…!” Susan memotong pembicaraan Rina yang nadanya hampir berteriak. “Jangan berisik, Nanti Ferdi bangun! Tolong matiin TV-nya dong!” Perintah Susan dengan berbisik. “Emang…” Susan kembali memberikan isyarat untuk diam kepada Ibunya yang juga ingin berbicara agak keras. Entah kenapa, mereka semua disuruh keluar. Di luar, Susan mengatakan maksudnya untuk menjalankan rencananya ke mereka. Mereka pun mengerti apa yang Susan maksud. Anna telah menangkap signal dari Susan dan dia pun mulai menjalankan aksinya. Di kamar Robi. Tiba-tiba HP Ferdi berdering, membangungkan Ferdi dari alam bawa sadarnya. “Halo…” Ferdi mengangkat telpon itu dengan nada lemas. “Jadi gitu caranya, pergi ke Bandung nggak bilang-bilang sama aku. Sebenarnya kamu sayang nggak sih sama aku?” Terdengar suara Anna dari telepon dengan nada emosi. “Iya-iya, aku minta maaf. Soalnya acaranya mendadak Say!” Jawab Ferdi masih dengan nada mengantuk. “Seenggaknya kamu telpon ke aku…, masak sih nggak ada waktu sama sekalih buat telpon.” Kata Anna dengan nada yang sedih. Ferdi mencoba untuk memberikan alasan kenapa dia nggak sempat telpon. “Aku kecewa sama kamu Fer…, aku ngerasa, aku nggak dihargain sama kamu. Buat apa kita pacaran, kalau kita harus jalan sendiri-sendiri. Kamu memang bener-benar egois yah Fer…, Aku nggak nyangka!” Kata Anna yang sekarang nadanya dibuat menangis. Telpon pun terputus dan tiba-tiba saja, lampu menjadi padam. “Berengsek, kenapa ini, Padahal bukannya daya listrik di sini kuat?” Ferdi membatin ketika keadaan sekelilingnya terlihat sangat gelap. Sementara Robi masih tetap mendengkur di sampingnya. Ferdi tidak bisa melihat apa-apa, dan dia pun berjalan sambil meraba-raba. “Woy…, nyalain lampunya!” Ferdi berteriak dari kamar robi yang membuat Robi terbangun. “Fer… Ada apa? Kok lo teriak-teriak, ganggu gue tidur aja lo.” Kata Robi menggerutu. “Hlo…, kenapa semuanya gelap Fer…?” “Nggak tau Rob…, tiba-tiba lampunya padem gitu aja.” Robi pun mencari-cari sesuatu di dalam laci mejanya. Dan dia pun menemukan sebuah tongkat yang sering digunakan tunanetra untuk berjalan. Samar-samar Ferdi melihat benda itu. “Apa itu Rob…?” “Ini…, punya pacar gue, kebetulan dia buta. Dan dia minjemin gue tongkat ini. Katanya sih, ini akan bermanfaat suatu saat buat gue. Dan betulkan, tongkat ini berguna saat mati lampu. Yuk, kita keluar!” Robi pun menggandeng Ferdi untuk keluar dari kamarnya. Tampaknya dia nggak terlalu susah untuk menemukan pintu keluar. Pacarnya telah banyak melatihnya untuk masalah tersebut. “Hebat yah pacarmu!” Kata Ferdi dengan kagum ketika mereka telah berhasil keluar dari kamar Robi. “Yah…, al-hamdulillah, walau pun dia buta, tapi dia telah mengajarkan banyak hal ke gue yang tentu saja sangat bermanfaat bagi gue. Makanya, gue sama sekalih nggak nyesel punya pacar kayak dia…, walau pun temen-temen nganggap bahwa gue cowok yang nggak laku sama cewek normal. Persetan dengan mereka semua, toh, gue udah ngerasa bahagia kok sama dia.” Jelas Robi sambil berjalan menelusuri lorong menuju depan rumah. Ternyata seluruh keadaan rumah gelap. Tiba-tiba, tongkat Robi menyentuh sesuatu. “Apa ini, seperti meja.” Batin Robi ketika mereka mulai meraba benda itu. “Ngapain…, meja diletakan di tengah jalan? “ Gerutu Robi setelah mengetahui benar-benar wujud benda itu. Ferdi pun ikut merabahnya dan mencium sesuatu. “Kayaknya bau kueh ultah deh. Tapi, siapa yang ultah yah?” Kata Ferdi membatin. Dia pun meraba ke atas meja dan menemukan kueh ulang tahun yang tertata rapi dan dikelilingi lilin di pinggirnya kurang lebih 17 buah. Namun ketika mereka sedang asyik merabah kueh itu dan mencicipi coklatnya, lampu kembali menyalah dan terdengarlah suara musik ucapan selamat ulang tahun dari sebuah radio tape yang sepertinya tombol play-nya sudah aktif ketika masih mati lampu. “Rob…, lo ulang tahun yah? Selamat yah!” Kata Ferdi sambil menyalami tangan Robi. Robi tampak bingung, karena seingatnya, dia akan berulang tahun sekitar satu bulan lagi. “Hai…, yang ultah itu lo tau! Robi mah masih lama!” Kata Rina yang tiba-tiba muncul dari pintu depan rumah dan diikuti oleh Susan, Toni, Gustina, Alia, Anna, serta Aditia yang semuanya ikut menyalami tangan Ferdi sebagai ucapan selamat. “Maafin aku yah Fer…, tadi aku udah marah-marah sama kamu.” Kata Anna yang berbisik ke Ferdi. Anna pun memberikan bunga yang bertulisan “Selamat ulang tahun” ke Ferdi. “Yampun…, aku nggak ngerti deh maksud kalian apa. Tapi makasih yah, udah ngingetin ultahku.” Kata Ferdi yang benar-benar terkejut. Padahal, dia sendiri tidak tau kalau hari itu dia ulang tahun. Makin lama, suasana semakin ramai. Karena rombongan yang masih berada di bus, sudah diperbolehkan turun dan menuju lokasih. Mereka pun menyalami Ferdi sebagai ucapan selamat. Hati Ferdi cukup terharu, dia nggak menyangka, sepulangnya dia dari penjarah, nama baiknya masih tetap harum. “Makasih…, temen-temen udah mau dateng ke sini. Gu-gue…, nggak bisa bilang apa-apa…” Terlihat Ferdi sangat sedih dan menangis karena saking terharunya. “Saya, sebagai Ibunya Ferdi…, juga merasa sangat-sangat terharu…, atas kesedian kalian semua mau datang ke acara ini. Maafkan Ferdi, jika selama ini dia sudah membuat banyak kesalahan sama kalian. Ibu minta doa-nya, agar Ferdi betah disekolah barunya.” Kata Ibunya Ferdi juga ikut mencucurkan air matanya dan memeluk erat anak kesayanganya. “Tunggu…! Semua itu tidak benar…!” Kata Pak Kepala Sekolah yang tiba-tiba muncul ditengah keharuan. “Maksud anda apa, apanya yang tidak benar?” Bapaknya Ferdi mulai angkat bicara dengan sedikit emosi. “Ferdi tidak boleh pindah dari Jakarta! Karna kami…,” “Maksud Anda apa hah? Dan, ngapain Anda datang ke sini, bukannya semua udah selesai? Kita sudah nggak punya hubungan!” Emosi Pak Tanto hampir meledak karena menyimpan kebencian yang dalam kepada Pak Kepala Sekolah yang tidak mempunyai rasa toleransi. Seluruh hadirin tampak tegang dengan suasana yang seperti itu. “Pak…, tenang dulu!” Kata Pak kepala Sekolah dengan nada menenangkan. “Sebaiknya anda keluar dari sini! Anda hanya merusak suasana!” Bentak Pak Tanto. Istri Pak Tanto memeluk suaminya agar Suaminya bisa mengatur emosinya. “Oke-oke, saya akan keluar dari sini, setelah saya menyampaikan apa yang seharusnya saya sampaikan. Kami…, tidak jadi mengeluarkan anak anda dari sekolah kami. Karena, orang tua dari Aldo memohon kepada kami untuk menerima kembali Ferdi di sekolah kami.” “Yah…, semua yang dibicarakan Pak kepala sekolah benar adanya. Kami telah memaafkan Ferdi sepenuhnya.” Tiba-tiba Bapak dan Ibunya Aldo muncul begitu saja tanpa diduga oleh siapa pun. Mereka menyalami Ferdi serta kedua orang tuanya sambil mengucapkan kata maaf yang sebesar-besarnya. “Terimakasih atas berita baik ini. Tetapi…, semua keputusan ada ditangan Ferdi. Silahkan kalian tanyakan kepada Ferdi!” Kata Pak Tanto yang emosinya mulai meredah. Kegaduhan pun terjadi, antar teman-temannya Ferdi yang tidak menerima kepindahan Ferdi ke Bandung. Mereka berebut untuk meluncurkan permohonannya ke Ferdi. “Boss…, jangan pindah dong! Kalau lo pindah entar siapa yang traktir gue di kantin?” “Ferdi…, nasip band kita berada di tangan lo! Bulan-bulan ini kita kehujanan konser, gimana jadinya kalau band kita tanpa lo! Please, balik yah!” Itulah sebagian kecil pernyataan ketidak setujuan mereka tentang kepindahan Ferdi. “Gue mohon tenang semua…!” Kata Ferdi mengatasi bisingnya permohonan teman-temannya. “Kasih gue  waktu buat berfikir!” Lanjut Ferdi ketika mereka mulai tenang. ”Bagai mana Nak, sudah diputuskan?” Kata Ibunya Ferdi yang memecah keheningan.  “Fer…, ku mohon…, kembalilah ke sekolah kita! Jangan tinggalin aku dan temen-temen! Buktikan, bahwa kamu memang masih sayang aku dan semua teman-temanmu!” Kata Anna dengan nada memohon sambil berbisik di telinga Ferdi. “Baiklah…,” Ferdi mulai bicara, dan tiba-tiba suasana menjadi tegang, “Demi kalian dan juga Anna, gue akan kembali!” Mereka langsung menubruk Ferdi dan menciumi Ferdi sebagai ucapan terimakasih sehingga dia nggak bisa bernafas. Melihat suasana yang kembali kacau, Pak kepala sekolah pun bertindak. “Sudah-sudah…! Kasian Ferdi! Sebaiknya, kita rayakan kebahagiaan ini!” Kata Pak kepala sekolah sambil menjauhkan anak-anak yang hendak mengerubungi Ferdi. Ferdi tampak lemas, sambil nafasnya terengah-engah. “Maafkan saya Pak, saya sudah kasar sama Anda.” Kata Pak Tanto kepada kepala sekolah dengan nada menyesal. “Nggak apa-apa, justru saya yang meminta maaf sama Anda.” Mereka pun bersalaman. Acara tiup lilin pun dilakukkan. Dengan diiringan nyanyian “selamat ulang tahun”, Ferdi pun mulai memotong kueh ultahnya. Potongan pertama diberikan ke Ibunya, kedua, ke Bapaknya, terus ke Pak kepala sekolah, ke Susan, Rina, Anna, Aditia, Gustina, Alia, Tania, lalu ke teman-temenya secara berturut-turut yang dimana tiap-tiap pembagian memiliki makna tersendiri bagi Ferdi. Ferdi sangat senang menerima ini semua. Dia tak menyangka, bahwa disekitar dia, masih banyak orang-orang yang sayang sama dia selain orang tua dan keluarganya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *