Kami segenap keluarga besar Kartunet Community mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1438H, ”Taqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum. Ja’alanallaahu Minal Aidin wal Faizin”, mohon maaf lahir dan bathin.
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Kenangan yang Indah

Pukul satu dini hari. Waktu di mana semua insan mengistirahatkan dirinya dari aktifitas yang menuntutnya harus berperan aktif. Para bintang yang biasanya menerangi sang malam kini tak satu pun menampakan dirinya, bahkan sang sabit yang bisanya tersenyum pada penghuni bumi kini tak memunculkan senyumannya seperti biasanya. Yang ada hanyalah awan kelabu yang berarak menemani sang gelapnya malam.

Aku tengah duduk di tepian ranjangku seraya memandangi foto-foto yang bertengger anggun di dinding kamarku. Foro-foto yang mengingatkanku pada sosok yang telah mengandunku selama Sembilan hari sepuluh bulan, melahirkanku dengan bertaruh nyawa, dan mendidikku dengan nakalnya diriku. Foto-foto itu mengingatkanku pada sosok ibuku yang telah meninggalkanku selamanya.

Tak terasa air mataku telah berkumpul menggenangi pelupuk mataku yang akan siap meluncur menganak sungai di pipiku. Aku merindukan sosoknya. Aku merindukan belayannya. Aku merindukan tatapan matanya. Aku merindukan kasih sayangnya. Aku sangat merindukan kehadirannya.

Tanpa ku sadari, kaki-kaki jenjangku kini melangkah, menelusuri stapak demi stapak melenggang menerobos pintu kamarku yang ku biarkan terbuka begituh saja, menelusuri dunia luar kamarku menuju ruang keluarga yang letaknya di tengah-tengah istanaku ini.

Ku parkirkan tubuhku di sofa ruang keluarga yang nyaman. Ku buka laci kecil di bawah meja kecil di depanku. Ku ambil album foto berwarna biru tua yang mulai berdebu. KU perhatikan isi dalam album tersebut. Di dalamnya menyimpan banyak kenangan aku, ibu, beserta semua keluargaku. Kini air mataku telah meluncur dengan bebasnya dari pelupuk mataku, membanjiri pipiku.

Ku buka satu demi satu lembar yang ada di dalam album foto tersebut. Dalam hati ku berdoa, semoga iya baik-baik saja di sisih-Nya.

Ku perhatikan lembar demi lembaran yang tertera di dalam album foto tersebut. Tersimpan banyak kenangan yang tersirat di dalamnya. Oh ibu, apakah kau tau disini aku merindukanmu? Oh bahkan sangat amat merindukanmu?

Pandanganku terfokus pada satu objek di album tersebut. Foto ibuku dengan aku semasa kecil yang sedang direngkuhannya. Aku jadi teringat, akan belaian kasih sayangnya, kecupan hangatnya. Aku jadi malu sendiri sesaat aku ingat akulah yang menyebabkan ia tak tidur semalaman karena menjagaku yang tengah demam tinggi.

Di dalam tangisanku, aku tersenyum. Kenangan itu terkuak kembali seiring jari-jariku membuka lembar demi lembar yang tertera di dalam album foto tersebut. Dimana aku dengan nakalnya mengobrak-abrik tas kerjanya saat aku masih balita, dan pernah hamper semalam suntuk ia mendekapku karena pada saat itu aku takut jika tak ada orang di sisihku. Hahaha, sungguh bodoh ya aku ini?

Kini, mataku terfokus pada satu bahkan lebih, mataku terfokus pada empat objek foto. Foto pertama diriku yang sedang menunjukan kebolehanku dalam modern dance. Foto kedua, ibuku dengan aku yang masih mengenakan baju dance-ku, foto ketiga aku yang tengah membawa piala juara favorite, dan foto ke empat ibuku yang memelukku sedangkan aku memeluknya seraya mendekap pialaku sendiri.

Sejak saat itu, ibu tak henti-hentinya membanggakanku di depan semua orang. Saat orang-orang bercerita bahwa kau sangat beruntung mempunyai ibu seperti beliau, ada yang mengatakan bahwa aku adalah anak yang beruntung karena mempunyai bentuk fisik yang menawan serta cerdas, dan lain-lain.

Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih, dan satu yang harus membuat diriku sedikit menyombongkan diri, aku bangga mempunyai ibu seperti dia, walau pun aku kesal karena dirinya yang selalu menceramahiku ini itu tampa aku persis mengerti apa yang ia bahas saat itu, namun ia lakukan itu semua hanya untuk membuatku maju di kemudian hari.

Mengingat itu semua, aku hanya bisa tersenyum, dan menangis. Dadaku sesak, nafasku tersengal-sengal, suaraku terisak menahan perasaanku yang menggebu-gebu.

Dengan satu gerakan, ku tutup album foto tersebut. Rasa-rasanya nafaskku makin terasa berat dan sesak jika terus menguak kenangan indah bersama malaikat penjagaku tersebut.

Ku langkahkan kaki-kaki jenjangku ke kamar mendiang ibuku. Di sana banyak sekali kenangan yang tersirat di dalamnya. Ku jatuhkan tubuhku di bibir ranjang yang berada di tengah ruangan berukuran sedang tersebut. Ku putarkan pandanganku ke seluruh sudut. Pandanganku berhenti mana kala menemukan sebuah box bayi berukuran sedang yang berada di sudut ruangan. Haha, ternyata, ibu masih menyimpannya di sana, ya? Seketika memori otakku memutar kejadian waktu lampau, di mana aku terbangun di malam hari dengan aku menangis sekencang-kencangnya. Ibu yang terlelap pun mau tak mau bangun dari tidur lelapnya karena tangisanku itu. Ibu menggendongku, dan merengkuhku dengan hangatnya kasih sayang. Ia menyendandungkan lagu terindah bagiku, dan aku pun terlelap di buatnya. Saat itulah aku merasa bahwa penyanyi terindahku adalah almarhumah ibuku, tak perduli seberapa hancurkah suaranya, yang terpenting ialah penyanyi terhebatku kala itu hingga sekarang.

Memori otakku kembali memutar adegan di mana aku membuatnya malu, tapi ibu berkata, “Kaulah kebanggaanku, ibu salut padamu, dan ibu bangga mempunyai anak sepertimu”. Oh ibu apakah kau tak sadar aku membuatmu malu saat itu? Dengan bangganya aku maju ke barisan terdepan saat pembagian rapot. Ternyata, hasil yang aku dapatkan tak sesuai dengan harapan orangtua yang selayaknya. Tapi, kau tetap berkata sedemikian rupa dan membelaiku dengan sayangnya. Yaa, ternyata, benar apa yang di katakan orang banyak, bahwa ibulah malaikat nyata yang di utus Tuhan untuk menjaga setiap insan di dunia ini. Dan ketika orang-orang mencemoohku di belakang, kau masih bisa tersenyum dan berkata, “Dia sudah berani menunjukan apa yang ia dapatkan pada ibunya, dan itu merupakan nilai plus tersendiri untuk anak-anak seumurannya, toh kemampuan orang tak sama, bukan? Yang penting ia luar biasa bagiku.”

Oh ibu, aku sangat merindukanmu. Kini, aku harus berjuang tampamu, menghidupi diri sendiri, tampamu lagi di sisihku. Ibu, maafkan aku yang tak pernah merasa di sayang, maafkan aku yang pembangkang ini. Ternyata benar apa kata pepatah, “Cinta anak sepanjang galah, cinta ibu sepanjang masa.” Ya, cintamu akan selalu abadi untuk selamanya. Cintamu akan tetap tersimpan rapi di hatiku, dan tak akan aku biarkan satu orang pun mengobrak-abrik cintamu di hatiku walau itu adalah suamiku kelak. Kau akan selalu menjadi yang pertama, dan terakhir yang pernah aku miliki, dan mencintaiku. Ibu, maafkan aku yang tak pernah membahagiakanmu, maafkan aku yang tak pernah membalas ketulusanmu. Terimakasih telah melahirkanku ke dunia fanah ini, terimakasih telah mengasuhku dengan kasih sayangmu, terimakasih telah membimbingku dan merawatku hingga akhir hayatmu.

“Oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku.

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *