Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Ceritaku (4-4)

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Begitulah yang kualami di rumah sakit mata tersebut. Berdasarkan anjuran dokter seminggu kemudian aku datang ke ruang Low Vision WG dan bertemu dengan Bu Desi yang baik hati. Beliau lalu mengajariku membaca braille. Sebelum mulai mengajari beliau memberiku selembar kertas tebal berisi alfabet braille yang harus kuhafalkan. Huruf-huruf itu berupa titik-titik timbul yang membentuk pola tertentu berdasarkan formasi enam buah titik. Tentu saja letak titik-titik itu berbeda-beda untuk setiap hurufnya kendati pun tetap mengacu pada formasi dasar. Dan untuk memudahkan dalam proses menghafal masing-masing titik disebutkan dengan angka berdasarkan letaknya dalam formasi enam titik yang menjadi dasarnya.

Pada awalnya agak sulit juga sih, karena aku harus meraba titik-titik timbul itu sambil mengingat-ingat susunan huruf yang sudah kuhafalkan. Wajarlah, namanya juga baru belajar. Kendala lain yang kuhadapi adalah masalah kepekaan. Seringkali konsentrasiku buyar ketika selama setengah jam aku berkutat dengan sebuah huruf sambil berusaha keras mengenali huruf tersebut. Hehehe, agak malu juga aku menceritakan ini. Nggak apa deh, toh ini kan buat sharing saja. Untunglah Bu Desi dengan sabar terus mengajariku hingga aku bisa membacanya.

Akhirnya aku berhasil tahu bahwa akan lebih mudah bagiku mendeteksi huruf tersebut bila aku merabanya dengan tangan kiri. Soalnya bila menggunakan tangan kanan atau keduanya sekaligus seringkali aku kesulitan membagi konsentrasiku pada kedua tangan. “Pandangan” kedua tangan itu akan mengabur sementara aku yang kebingungan menelusurkan jariku di atas kalimat-kalimat braille tanpa hasil karena konsentrasiku sudah terbang. Jujur, sebenarnya ini cara yang salah karena semestinya aku menggunakan kedua tangan. Satu tangan bertugas memastikan bahwa kita masih membaca di baris yang sama sedangkan yang satunya lagi mendeteksi huruf-huruf yang ditelusuri.

Kendala lain yang kuhadapi dalam belajar huruf braille adalah titik yang tidak lagi timbul. Hehehe, semuanya pasti sudah tahu kan bagaimana bila sebuah kertas yang penuh tonjolan tertumpuk dengan benda lain atau lebih parah lagi yaitu terinjak atau terduduki? Wah, tentu saja tonjolan itu akan menjadi rata dan otomatis tidak teraba lagi. Kalau yang begitu itu terjadi maka tamatlah riwayat tulisan braille tersebut karena tidak bisa lagi dibaca baik oleh tunanetra ataupun orang berpenglihatan sempurna sekalipun.

Maka jujur saja aku lebih sering menggunakan komputer daripada huruf braille. Komputer kami para tunanetra sama saja dengan komputer pada umumnya. Yang membedakan adalah aplikasi pembaca layar yang kami pakai. Tentu saja tanpa itu komputer bagi kami hanya seperti sebuah batu yang bisu.

Ada sebuah pengalaman yang tidak terlupakan pada saat awal aku mengenal kembali komputer sebagai seorang tunanetra. Waktu itu aku datang ke WG bersama ibu, paman dan dua orang sepupuku yang masing-masing duduk di kelas tiga dan empat sekolah dasar. Mereka adalah putra-putri pamanku yang kebetulan ikut karena sekolah sedang libur.

Sementara aku duduk di depan komputer bersama pengajarku kedua sepupuku itu bermain di luar sedangkan ibu dan pamanku duduk di ruang Low Vision sambil berbincang dengan Pak Husni dan Bu Desi yang ada di sana. Tiba-tiba terdengar suara-suara kesibukan dan langkah-langkah kaki. Lalu pamanku datang dan mengajakku keluar dengan tergesa-gesa. Aku lalu merasakan bumi di sekitarku berguncang. Rasanya seperti di dalam kapal yang diterpa ombak.

Beberapa saat setelah kami berada di luar getaran gempa pun berhenti. Alhamdulillah, untung gempa yang merambat ke wilayah Pajajaran itu tidak menimbulkan kerusakan yang parah. Segeralah kami masuk lagi. Kudapati komputer yang tadi kami tinggalkan dalam keadaan menyala masih tetap siaga di tempat semula. Dipikir-pikir kasihan juga ya dia ditinggal sendirian dalam keadaan tidak sempat dimatikan. Yang lebih konyol lagi tentu saja aku yang tidak menyadari bahwa getaran yang kurasakan itu gempa, hehehe. Kukira itu hanya getaran CPU komputer.

Tidak lama setelah itu aku sudah mulai terbiasa dengan komputer. Cara mengetik sepuluh jari pun sudah kuhafal. Ini sangat penting untuk dikuasai karena untuk bisa mengoperasikan komputer dengan baik para tunanetra harus menghafalkan semua tombol di keyboard komputer. Pada saat itulah aku mulai berpikir untuk mencoba menulis. Bukankah aku dulu telah mulai menulis kendati hanya di buku tulis? Kebetulan ingatan tentang apa yang kutulis waktu itu masih fresh di otakku kendati waktu telah berjalan selama dua tahun.

Itulah awal dari kegemaranku menulis. Sekali mencoba entah mengapa aku tidak bisa melepaskan diri dari kegiatan menulis. Bisa dikatakan aku jatuh cinta pada kegiatan ini. Apalagi aku yang anak tunggal ini tidak punya teman di rumah sehingga jalan keluarnya hanya lewat menulis. Bagiku menulis itu seperti berbicara. Aku bisa curhat apa saja pada tulisanku karena dialah yang paling setia dan tidak pernah menghakimi. Namun tentu saja manusia adalah makhluk sosial. Kehadiran sahabat bagiku sangat penting. Tidak bisa kukatakan mana yang lebih penting karena kedua hal tersebut sangat pokok bagiku.

Kemudian ada lagi pengalaman yang tidak terlupakan. Sebenarnya keseluruhan pengalamanku di WG itu tidak mungkin kulupakan karena itulah awal dari sebuah periode baru dalam hidupku. Sebuah rangkaian waktu yang benar-benar sebuah jalan terang bagiku yang sebelumnya merasa seolah-olah terpuruk di sudut dunia paling jauh. Begini ceritanya. Saat itu aku sedang berlatih orientasi mobilitas dengan Bu Desi di sebuah lapangan. Setelah menuntunku selama beberapa keliling beliau lalu melepasku berjalan sendiri dengan menggunakan tongkat. Aku lalu mulai berjalan pelan-pelan sambil menggerakkan tongkatku dengan cara yang telah diajarkan.

Mendadak dari arah berlawanan ada seseorang yang sedang berlari. Tak terhindarkan lagi si pelari yang tunanetra itu menabrakku. Untung ada Bu Desi yang cepat-cepat memegangiku. Kalau tidak ada beliau pasti aku sudah terpelanting jatuh. Sekedar catatan, keseimbangan tubuhku yang kurang stabil gara-gara tumor yang bercokol di otakku itu membuatku mudah sekali jatuh.

Setelah kejadian itu aku sering tertawa sendiri. Saat itu aku mengumpat di dalam hati kepada si pelari yang tidak lihat-lihat jalan itu. Dasar tunet! Hehehe, bukankah aku sendiri sekarang adalah seorang tunet juga? Seorang tunet yang mungkin saja jika berlari di lapangan akan melakukan hal yang sama.

Hehehe, sepertinya cukup sekian dulu cerita q buat hari ini ya. Kepada Pak Husni, Bu Desi, dan pihak-pihak lain yang muncul dalam catatan ini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika apa yang sudah tertulis ini tidak berkenan di hati. Juga bagi teman-teman lainnya jangan sungkan-sungkan kasih komentar ya? Komentar kalian akan sangat bermanfaat bagi metamorfosisku menjadi lebih baik. Salam, I love you all.

editor: Putri I Priyatna

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *