Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Ferdi Story (14-15)

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Jam weaker dirumah Anna mulai menjerit keras dan membangunkan siapa sajah yang mendengarnya. “Hlo…, kok gue ada di sini?” Anna terkejut ketika mendapatkan dirinya telah terbaring di kamarnya. Seingatnya, dia berada di kamar Ferdi dan baru menghapus file yang berada di komputer Ferdi. Ketika beker itu berbunyi, dia telah meng-klik tombol “Turn off”.
“eh…, anak ayah udah bangun!” Sapa Sang Ayah yang menghampiri Anna di kamarnya.
“Ternyata gendong kamu berat juga yah Nak! Ayah nggak nyangka, tubuh kamu padat berisi.” Kata Sang Ayah dengan muka tersenyum. “Kok Anna bisa di sini yah?” Tanya Anna kepada Ayahnya dengan nada bingung.
“Gini hlo Nak…, pas Ayah jemput kamu, ternyata kamu tertidur di pos jaga Putra Medikal. Tidurnya pulas…, banget. Yaudah, karna Ayah nggak tega banguninnya, Ayah gendong ajah ke mobil.” Cerita Sang Ayah sambil meng-ekspresikan rasa lelahnya karena menggendong Anna.
“Jadi semua yang gue lakuin semalam Cuma mimpi?” Batin Anna.
“Yaudah, kamu shalat subuh dulu deh, terus sarapan!” Kata Sang Ayah dengan nada kebapakkannya.
“Anu Yah…” Anna terdiam sejenak, “Anna lagi dapet!” Kata Anna yang nadanya berbisik. Sang Ayah hanya tertawa mendengar itu. “Hehehe…, yaudah kalau gitu kamu langsung mandi aja, terus siap-siap kesekolah!” Kata Sang Ayah sambil bergegas meninggalkan kamar Anna.
Anna mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Tapi hari itu kepalanya terasa sakit sekalih. Badanya pun terasa pegal-pegal. Dia berjalan sempoyongan keluar kamarnya. “Kamu kenapa Ann?” Tanya Sang Ibu yang sedang membawa nampan berisi sarapan pagi ke arah meja makan.
“Nggak tahu Bu, tiba-tiba jadi begini.” Kata Anna dengan nada seperti orang yang lagi sakit kepala.
“Kamu kenapa Nak?” Sang Ayah kembali menghampiri Anna.
“Astagfirullah, badan kamu panas!” Sang Ayah cukup terkejut setelah merasakan suhu tubuh Anaknya yang mulai meninggi.
“Sebaiknya kamu nggak sekolah dulu! Mungkin kamu kecapean kemarin.” Kata Sang Ibu kepada anaknya.
“Tapi…” Anna tidak melanjutkan perkataannya. “Sebaiknya turuti saran Ibumu Nak! Dan sepertinya kamu harus ke dokter.” Lanjut sang Ayah.
Anna pun menuruti saran mereka. Dia kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya karena sudah tidak kuat lagi.
***
Bel masuk telah berbunyi. Tampak Indri sedang menyalin PR teman sebangkunya. “Gue nggak habis fikir Mel, kalau waktu itu gue dan teman-teman diboncengin sama hantu yang berwujud Kak Iskandar hiiiii….” Kata Indri yang berkata dengan perasaan ngeri kepada Amelia, orang yang duduk sebangku dengannya.
“Yee…, belum tentu juga lagi kalau itu hantu. Di dunia ini bisa aja Tuhan menciptakan orang yang berwajah sama, nama yang sama, tingkah laku yang sama, pokoknya serba sama deh.” Kata Amelia dengan tersenyum.
“Mel…, masalahnya Kak Iskandar itu tidak memiliki saudara kembar. Dan kalau apa yang lo omongin itu benar, kenapa orang itu bisa langsung mengenal kita semua dengan akrab, seolah-olah kita sudah kenalan lama banget.” Kata Indri yang menolak argumen Amelia.
“Yah…, Yah…” Amelia tampak bingung memilih kata-kata yang harus dia ucapkan untuk membalas argumen Indri.
“Asalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.” Pak Marzuki, seorang guru agama Islam, memasuki kelas.
“Marilah kita segera mengambil langkah-langkah positif. Silahkan Damar untuk maju memimpin doa kali ini.” Kata Pak Marzuki sambil meletakkan buku-bukunya di atas meja guru.
Damar segera maju kedepan, “Marilah teman-teman, sebelum memulai pelajaran kali ini, ada baiknya kita berdoa. Agar apa yang kita pelajari kali ini, dapat berguna bagi dirikita, bangsa, dan agama. Berdoa mulai!” Seluruh siswa/siswi pun berdoa dengan hikmat.
“Selesai.” Damar kembali ke tempat duduknya.
“Marilah, kita melanjutkan pelajaran kita, dengan membuka pembahasan baru, yaitu iman kepada mahluk-mahluk ghaib.” Anak-anak membuka halaman buku mereka masing-masing.
“Seperti kita ketahui, bahwa Allah SWT, telah menciptakan bermacam-macam mahluk. Dari yang nyata, mau pun yang ghaib. Ada pun mahluk-mahluk ghaib yang dijelaskan dalam al-qur’an yaitu dibagi dalam dua golongan. Yaitu malaikat, mahluk yang selalu patuh kepada Allah SWT. Serta Jin yang sifatnya hampir sama dengan manusia.” Pak Marzuki berjalan-jalan sambil menebarkan pandangan ke seluruh kelas, mencari kalau-kalau ada siswa/siswi yang tidak memperhatikan penjelasannya. Tapi tampaknya, kali ini seluruh siswa/siswi memperhatikan dengan seksama.
“Ada pun jin itu, ada yang taat kepada Allah, dan ada yang kafir. Nah, jin yang kafir itu merupakan penjelmaan dari iblis musuh besar kita. Hati manusia pun begitu, sebagai mahluk yang paling sempurna, manusia pun dipengaruhi oleh dua unsur itu. Ada yang hatinya lebih cendrung ke unsur malaikat, dan juga ada yang lebih cendrung kepada unsur iblis. Tapi yang jelas Allah telah berfirman, ‘sesungguhnya aku ciptakan jin dan manusia, semata-mata agar mereka beribadah kepadaku.’, ada yang mau bertanya?”
Indri langsung mengangkat tangannya. Dia menanyakan hal yang selalu menjadi tanda tanya besar dalam dirinya. Tentang jin yang dia percayai mennyamar menjadi Iskandar dan memboncengi dia dan teman-temannya.
“Indri, Bapak nggak tahu pasti mengapa itu semua bisa terjadi pada kalian. Tapi yang jelas, kita semua harus lebih meningkatkan iman kita kepada Allah SWT, mempercayai semua mahluk yang Dia ciptakan. Saran Bapak kepada kamu, jadikan semua ini adalah pengalaman yang unik buatmu dan teman-temanmu. Karena jin itu, juga memiliki perasaan seperti kita walau pun kita lebih sempurna dari dia.” Pak Marzuki menyudahi penjelasannya dan duduk di mejanya.
***
Sorenya di rumah Anna. Di kamarnya, perasaan Anna masih sangat gundah. Dia masih nggak habis fikir, kenapa dia harus mengalami impian yang begitu nyata. Memang, dia sangat benci sama koleksi-koleksi di kamar Ferdi, tapi dia merasa tidak berhak untuk memusnahkan barang-barang itu. Dia merasa, jika semuanya benar-benar nyata, maka apa yang telah dilakukkannya akan menyebabkan fatalnya  hubungan dengan Ferdi dan keluarganya. Waktu itu, dia sedang menulis diarinya tentang semua yang sedang dia fikirkan.
“Ann, Anna, buka pintunya!” Kata Sang Ibu sambil mengetuk pintu kamar Anna. Dia pun membukanya.
“Ada apa Bu?”
“Nak Ferdi, nunggu kamu di ruang tamu.” Kata Ibu sambil memandang anaknya. Anna pun segera menghampiri Ferdi.
“Ada apa Fer?” Kata Anna sambil duduk di bangku sopa.
“Apa-apaan sih kamu? Kamu tuh bener-bener keteraluan yah! Maksud kamu tuh apa bentak-bentak orang tuaku. Terus, kenapa kamu ngancurin semua koleksiku hah?” Kata Ferdi yang waktu itu emosinya benar-benar memuncak. Sang Ibu menghidangkan dua gelas air dingin kepada Anna dan Ferdi. “Silahkan diminum dulu, biar kepala kalian bisa berfikir rasional.” Kata Sang Ibu dengan ramah. Sang Ibu meninggalkan mereka berdua. Anna meminum air itu sementara Ferdi tidak. Wajah Anna menjadi sangat ketakutan. “Benarkah semua itu terjadi?” Batin Anna.
“Jawab Ann, kenapa kamu bisa selancang itu?” Nada Ferdi meninggi.
“Karena…, aku nggak suka sama semua yang kamu koleksi. Dan, aku ngerasa kecewa dengan orang tuamu, karena tidak bisa mendidik kamu dengan membiarkan mengoleksi barang begituan.” Kata Anna dengan perasaan tenang yang menyembunyikan kejadian aslinya agar tidak lebih rumit.
“Memang kamu benar-benar kurang ajar!” Sejenak Ferdi berdiri, dan memegang gelas yang masih berisi air es yang belum terminum.
“Itu semua bukan salah orang tuaku jika aku mengkoleksi barang seperti itu. Itu semua karena kemaunku sendiri!” Kata Ferdi dengan emosi.
“dulu kamu bertengkar dengan Aryanto, dan berkata bahwa apa yang telah dia lakukkan adalah suatu perbuatan bejad. Tapi sekarang apa, aku fikir kamu sama bejadnya dengan dia. Dasar munafik!” Kata-kata Anna mampuh menyulut api amarah yang berkobar hebat di dada Ferdi.
“Kamu memang bener-bener kurang ajar! Semua yang telahku lakukkan kepada Aryanto itu sudah merupakan sebuah keharusan untuk menciptakan  moral yang beradab di sekolah kita. Dan memang dia tidak sepantasnya melakukkan hal itu di sekolah kita. Mungkin aku juga tak akan perduli, jika dia melakukkannya di luar sekolah. Sudahlah, jangan kait-kaitkan masalah ini dengan Aryanto, hari ini juga kita putus! Silahkan cari cowok yang mau diatur-atur sama kamu!” Kata Ferdi sambil membanting gelas itu kelantai hingga pecah lalu pergi meninggalkan Anna begitu aja. Ferdi memasuki mobilnya lalu menjalankan mobil itu sekencang-kencangnya meninggalkan rumah Anna. Anna Cuma bisa menangis sambil memunguti pecahan beling yang berserakan di lantai. “Kenapa Nak…?” Tanya Sang Ibu yang datang menghampiri anaknya. “Biar Ibu aja yang membersihkan, sebaiknya kamu kekamar untuk menenangkan diri.” Lanjut Sang Ibu. Anna pun menuruti Ibunya. Dia menuju kekamarnya dan menangis sejadi-jadinya di atas bantal. Sang Ibu pun selesai membersihkan serpihan-serpihan beling yang berserakan. Dia segera menuju kamar Anna dan duduk di sisi ranjangnya. “Sabar yah Nak! Memang, untuk menyampaikan sebuah kebenaran itu cukup sulit dan penuh tantangan. Ibu percaya, kamu adalah anak yang cerdas, kamu pasti bisa mengatasi masalah ini secepatnya.” Ibu pun membelai rambut anaknya lalu pergi meninggalkan kamar Anna.
“Tapi BU…, semua yang terjadi di luar kendali Anna!”
“Memang…, apa yang sebenarnya terjadi Nak?” Tanya sang Ibu penasaran. Anna pun bingung, harus mulai bercerita dari mana. Akhirnya, dia pun mencoba menceritakan kejadian itu. Sang Ibu menyembunyikan rasa keterkejutannya setelah selesai mendengarkan cerita Anna dan menggantinya dengan senyuman.
“Nak…, kita nggak tau rencana Allah, semoga kejadian itu menjadikan hikmah tersendiri bagi kita.” Nasehat Sang Ibu.
“Anna takut Bu…, apa yang harus Anna lakukkan ketika bertemu orang tuanya Ferdi?” Kata Anna dengan nada menangis.
Sang Ibu mengusap kepala Anna dengan penuh kelembutan. “Insya Allah, semuanya akan berjalan baik-baik saja.” Kata Sang Ibu menasehati.
Sesampainya di rumah, Ferdi merasa semakin jengkel di kamarnya. Karena, dinding-dinding kamarnya terlihat sangat kosong tanpa hiasan. Dia berniat untuk mencetak ulang gambar-gambar itu. Tapi, ketika dia membuka komputernya, gambar-gambar itu telah raib, dan tidak ditemukan di folder mana pun. “Pasti si berengsek itu yang udah menghapusnya. Heran…, maunya apa sih tuh orang.” Gerutu Ferdi sambil membanting mouse-nya. “Tapi nggak mungkin, komputer guekan terprotek password. Hebat banget dia bisa membuka password gue.” Kata Ferdi dengan nada heran. “Ah…, biar bagai mana pun, dia bener-bener cewek terkurang ajar dari cewek-cewek yang pernah jadi pacar gue.” Gerutu Ferdi sambil meng-klik “Turn off” Pada layar komputer. Dia pun merebahkan diri di kasur dan memandangi dinding kosong yang dulunya tertempel foto-foto yang mampu memompa adrenalinnya hingga mengantarkan Ferdi ke puncak kepuasanya. Dia meraih HP-nya dan menghubungi seseorang.
“Halo…” Kata seseorang yang menjawab telpon Ferdi.
“Yah halo, ini bondan?”
“Yah bener boss, ada apa yah?”
“Hai…, lo masih nyimpen foto-foto begituan nggak?”
“Emang kenapa boss?”
“Mantan gue, ngebuangin foto-foto yang pernah lo kasih dulu ke gue.”
“Kenapa boss kok bisa dibuang-buang?”
“Nggak tahu tuh, gue benci banget sama dia, sok ngatur kehidupan gue banget. Yaudah, akhirnya gue putusin aja dia.” Bondan hanya tertawa.
“Tapi sorry boss, gue udah nggak nyimpen lagi. Gue ketahuan sama bonyok dan terpaksa gue buangin semua koleksi yang gue punya. Gue diancam kalau tetep nyimpen itu semua, gue bisa nggak dikasih uang jajan dan gue akan dikirim ke kampung di tempat nmbah gue yang super galak.” Kata Bondan dengan nada kengeriannya.
“Yaudah, kalau gitu makasih.” Kata Ferdi sambil menutup telponnya dengan jengkel.
***
Malam harinya, Anna masih tetap menangis di kamarnya. “Sudahlah nak…, kalau kamu begini terus, nanti kamu bisa sakit. Kamu harus yakin, bahwa apa yang telah kamu lakukkan itu adalah benar.” Kata Sang Ibu membesarkan hati anaknya. Kemudian, terdengar suara bel pintu. “Bentar, ibu buka pintu dulu. Siapa tahu Ayah kamu sudah pulang.” Sang Ibu beranjak dari kamar Anna dan berjalan ke ruang tamu. Beliau membuka pintu rumahnya.
“Selamat malam Bu!” Kata Pak Tanto kepada Ibunya Anna. “Yah…, malam, Anda siapa?” Tanya Ibunya Anna.
“Kami…, orang tuanya Ferdi. Kami kesini, ingin bertemu Siti Nurhasanah.” Lanjut Ibunya Ferdi.
“Maaf, anak saya tidak bisa diganggu. Hatinya sangat tergoncang akibat ulah anak Ibu.” Kata Ibu Anna dengan tegas.
“Saya mengerti, Adik saya Ferdi, memang wataknya keras. Tapi percayalah Tante, sebenarnya Ferdi itu sangat baik. Dia jadi begitu, karena kami memang terlalu memanjakannya.” Kata Susan.
“Tolong…, jangan sakiti anak saya! Saya tahu, anak saya telah menyakiti hati anda. Maka dari itu, saya sebagai Ibunya benar-benar meminta maaf kepada anda semua, atas semua kesalahan anak saya.” Kata Ibunya Anna dengan nada memohon.
“Percayalah tante, kami nggak akan menyakitinya, kami hanya bicara sebentar saja dengannya.” Kata Susan dengan nada meyakinkan. Sang Ibu pun pergi memanggil Anna.
Beberapa saat kemudian, Anna datang. Dia telah pasrah kalau keluarga Pak Tanto akan memarahinya habis-habisan, dan akan mengeluarkan perkataan yang akan terkenang sepanjang hidupnya. Anna hanya tertunduk, dan berdoa agar Allah SWT tetap memberinya kekuatan untuk menghadapi semua ini. Sang Ibu Pun, kali ini mendampingi anaknya. “Apa yang akan anda katakan?” Tanya Sang Ibu.
“Nak, tatap lah kami!” Perintah Pak Tanto. Anna masih menunduk. Suasana hening sejenak, yang terdengar Cuma tarikkan nafas dari hidung Anna seperti orang sedang flu. “Ayolah Ann, nggak usah takut!” Kata Susan. Perlahan, Anna mengangkat kepalanya dan mulai menatap mereka satu per satu. Tak ada rasa kebencian di wajah mereka, yang ada hanyalah sebuah raut wajah yang Anna sendiri tidak tahu maksudnya apa.
“Perhatikanlah wajih kami Nak, wajah yang penuh dengan rasa malu yang teramat dalam. Kami sendiri pun nggak tahu, apa yang seharusnya kami lakukkan untuk menghilangkan rasa malu ini.” Kata Pak Tanto dengan suara parau.
“Kami minta maaf, ternyata kami lebih bodoh dari kamu dalam mendidik anak kami sendiri.” Bu Tanto menjelaskan.
Pak Tanto mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ternyata, sebuah kotak mungil. Dia menyodorkan kotak itu ke Anna. “Apa ini om?” Kata Anna dengan nada cukup lemah. “Buka Nak!” Perintah Bu Tanto. Anna segera membuka kotak itu, dan melihat isinya. Ternyata isinya adalah sebuah cincin berlian yang cukup indah, dengan dilapisi emas 24 karat yang harganya mungkin cukup mahal. “Cincin itu, kami persembahkan untukmu. Dengan harapan, jika waktunya telah tiba, kamu mau bersedia membimbing Ferdi agar tetap berada di jalan yang benar.” Kata Bu Tanto dengan nada penuh keyakinan. Tangan Anna pun bergetar, lalu cincin berikut kotaknya terlepas dari tangan Anna dan jatuh ke lantai.
“Maksud anda, anda mau menjodohkan anak saya dengan Ferdi? Keterlaluan sekalih. Permainan apa yang sedang anda jalankan hah? Baru saja anak saya dibuat patah hati sama anak anda, sekarang anda malah mau menjodohkan anak saya.” Sang Ibu memungut kotak perhiasan itu.
“Bu-bukan itu maksud kami …!” Kata Susan dengan guguk.
“Maaf, silahkan tinggalkan tempat ini!” Lanjut sang ibu dengan emosi sambil melemparkan cincin itu tepat ke pangkuan Pak Tanto.
“Ka-kami minta maaf, kami nggak mengerti, kenapa semuanya menjadi tambah buruk.” Kata Pak Tanto sambil bangkit dari sofa dengan muka memerah. Segera keluarga itu pun pamit kepada Anna serta Ibunya sambil bersalaman. Sang Ibu, menatap mereka dengan penuh kebencian. Akhirnya, Pak Tanto berikut keluarganya meninggalkan rumah Anna.
“Bu…, kenapa Ibu lakukkan ini kepada mereka semua? Cukuplah Anna yang begini Bu!” Kata Anna dengan nada sedih.
“Nak, Ibu sayang kamu, Ibu nggak mau kamu terus sedih gara-gara Ferdi atau yang lainnya. Maafkan Ibu Nak, Ibu terpaksa melakukkan itu semua hanya demi kamu.” Sang Ibu memeluk Anaknya. Jika digambarkan, adegan itu cukup mengiris hati. Dimana Sang Anak memeluk erat tubuh Ibunya dan saling bertangisan.
“Bu, Anna tahu apa yang harus Anna lakukkan. Ibu nggak usah hawatir dengan kesedihan Anna. Karena, Anna telah mempunyai seribu obat untuk mengobati ini semua.” Anna melepaskan pelukkannya.
“Yah…, Ibu percaya kok, kamu adalah anak yang mampuh menata hatimu sendiri. Ibu bangga mempunyai Anak seperti kamu.” “Makasih Bu. Anna juga bangga memiliki Ibu yang sangat sayang kepada Anna.”
Di mobil, keluarga Pak Tanto terlihat sangat resah. “Kenapa Mamah bilang begitu sih…?” Tanya Pak Tanto yang serius menyetir mobil. “Ma-mamah, kelepasan Pah.” Kata istrinya Pak Tanto dengan nada gugup. “Kita tuh hanya menghadiahkan cincin itu untuk Anna, bukan menjodohkannya!” Kata Pak Tanto dengan nada menyesal.
“Udah-udah…, jangan ribut! Nanti takutnya jadi semakin kacau. Sekarang itu yang kita lakukkan, bagai mana cara mengatasi kesalah fahaman ini.” Kata Susan yang menenangkan perdebatan mereka.
HP  Susan pun berdering.
“Halo…!”
“Kak Susan, ini Anna. Ibu mau ngomong sama Kak Susan dan keluarga!”
“Oh iya Ann, silahkan!” Susan mengaktifkan load speaker di HP-nya agar dapat didengar oleh Pak Tanto dan Bu Tanto.
“Halo…,” Kata Ibunya Anna.
“Yah…” Jawab mereka serentak.
“Saya minta maaf atas kekasaran saya tadi kepada anda semua. Saya melakukkan itu kepada anda karena saya sangat sayang kepada anak saya. Saya nggak relah kalau anak saya dibuat sedih oleh siapa pun.” Jelas Sang Ibu dengan nada sedih.
“Yah…, kami maklum kok Bu…, itu sudah hal yang wajar buat kami. Sekarang, izinkan kami untuk meluruskan masalah cincin yang tadinya ingin kami berikan untuk Anna. Bukan maksud kami untuk menjodohkan Anna kepada Ferdi, cuma kami hanya ingin memberikan cincin itu sebagai hadiah untuk Anna, karena dia telah menyadarkan kami sebagai orang tua Ferdi yang nggak becus mendidik dia.” Kata Pak Tanto dengan ramah.
“Oh…, gitu toh. Nggak usah repot-repot kok, biar saya jelaskan! Sebenarnya bukan Anna yang melaku…”
“Sudah-sudah-sudah, kami sudah tau semuanya. Semua ini adalah kelalaian kami juga.” Potong Pak Tanto kepada Ibu Anna.
“Jadi, Bapak sekeluarga tahu kejadian yang sebenarnya?” Tanya Ibunya Anna dengan terkejut.
“Yah…, biarlah ini menjadi rahasia diantara orang-orang yang mengetahui kejadian ini.” Kata Bu Tanto dengan tenang.
“Baiklah Bu…, kita ambil saja hikmah dari kejadian itu.” Lanjut Pak Tanto.
“Yah…, ngomong-ngomong anda semua di mana sekarang?” Tanya Ibunya Anna.
“Sebentar lagi kami sampai ke rumah kami kok. Kapan-kapan main yah kerumah kami!” Kata Susan.
“Oh yah makasih, insya Allah kami akan main keruma kalian. Yaudah gitu aja yah, Wasalammualaikum.” Ibu Anna langsung menutup telponnya.
“Waalaikumsalam.” Jawab mereka serentak.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di rumah mereka.
“Yuk Mah, kita beresin kamar Ferdi!” Kata Susan sambil membuka bungkusan yang berisikan pernak-pernik kamar yang masih tergeletak di sofa ruang tengah. Pernak-pernik itu mereka beli di perjalanan dari Bandung menuju Jakarta. “Bi Ijah, Ferdinya mana?” Tanya Susan kepada Bi Ijah yang sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka semua.
“Tadi, ketika kalian pergi, Ferdi juga ikut pergi non.” Jelas Bi Ijah kepada Susan.
“Bibi nggak tahu Ferdi pergi kemana?”  Tanya Bu Tanto.
“Nggak Nyonyah…, Saya takut nanya-nanya ke Dhen Ferdi pergi kemana. Tadi sempat saya liat, dia memakai kostum band-nya.” Jelas Bi Ijah sambil menata makan malam di atas meja makan.
Susan dan Ibunya pun menuju kamar Ferdi dan mereka pun mulai beraksi.
***
Di studio band milik Bram. Anak-anak band sedang mengetes alat musik yang mereka akan mainkan.
“Woy…, kapan mulainya nih?” Teriak Bombom seorang drummer.
“Bentar lagi, boss kita masih ada di jalan.” Jawab Bondan seorang basis dari band itu.
Tampak seorang anak muda berlari tergopo-gopo menuju studio. “Sorry gue telat. Udah lama yah nungguinnya?”
“Nggak kok. Yaudah, any way, sebelum kita latihan, ada baiknya kita melakukan pemanasan terlebih dahulu. Gue udah menyiapkan sesuatu yang sangat spesial buat lo semua.” Bram langsung mengambil sekeping CD dari tempatnya, dan memasukkannya ke cdplayer. Screen yang berukuran 60 inchi telah terpampang di depan mereka. Lalu, muncullah di layar beberapa tulisan, “Welcome to satu jam yang tak akan pernah terlupakan! Film ini asli buatan Indonesia.”. Kemudian terdengar opening sound yang cukup mengejutkan mereka semua. Pembawa acara mulai berbicara, “Selamat datang di film satu jam yang tak akan pernah terlupakan. Film ini khusus buat lo yang mencintai dunia sex bebas, atau pun baru saja mengenal budaya ini. Kami sangat senang menyuguhkan semua ini, karena penampilan ini, akan memanjakan lo semua. Gue Aldo Rikardo, akan menemani anda sepanjang pemutaran film ini.” Tampak penonton cukup serius menyaksikannya. “Film ini telah tersusun rapi oleh film aranger kita Dadang Sunarwan. Dan objeknya pun telah disaring secara ketat oleh tim kami dari yang bersifat realita, hingga yang sebelumnya lo semua belum pernah untuk melihatnya. Film ini juga dilengkapi dengan full narasi dengan bahasa tanpa sensor, serta sound efek, yang semua ini bertujuan agar lo semua benar-benar menikmati film ini. Selamat menyaksikan!”. Adegan film diawali dengan cewek-cewek seksi yang berdiri di sebuah kolam berenang. Cewek-cewek itu masih setingkat SMU. “Film ini, memang khusus menayangkan cewek-cewek yang masih usia ABG dan masih duduk di bangku SMU.” Jelas pembawa acara itu.
Tiga puluh menit telah berlalu, tampak kepuasan penonton yang melihat adegan-adegan yang cukup memukau bagi mereka. Dari adegan kolam berenang, ruang ganti, hingga adegan kamar mandi tak ada yang mengecewakan mereka sama sekalih. Begitu pun Ferdi, walau pun kepalanya mulai pusing tapi dia juga cukup puas.
“Puas? Itu belum seberapa jo, itu Cuma pemanasan. Tim kami telah berhasil mencari patner untuk melakukkan adegan yang cukup berat. Mereka kami bayr mahal, untuk adegan ini. Semua ini kami lakukkan hanya untuk memuaskan lo semua. Selamat menyaksikan.” Tidak tanggung-tanggung, adegan ini memang sangat berat. Lebih berat dari adegan langsung yang pernah dilakukkan Aryanto dan pasangannya. Lebih menarik dari semua gambar, majalah, bahkan film yang dulu pernah Ferdi miliki sebelum Anna menghancurkannya. Film itu menampilkan gaya-gaya yang membuat penonton seolah-olah ikut berperan serta di dalamnya. Mereka semua bener-bener menikmatinya. Tapi entah mengapa, kepala Ferdi tambah semakin pusing. Dia tidak bisa menikmati film itu sepenuhnya. Sehingga, dia memilih keluar ruangan untuk mencari angin segar. “Anjrit, gue nggak tahan lagi. Rasanya gue mau muntah hix…!” Tiba-tiba Ferdi pun muntah di depan halaman rumah Bram. “Badan gue bener-bener nggak enak rasanya, mungkin gue masuk angin kali yah.” Ferdi langsung menuju mobilnya. Dia memutuskan untuk pulang saja dan nggak latihan band malam itu.
***
Di dalam studio band, penonton tetap serius menonton film tersebut dan pada saat itu adalah adegan puncak yang disertakan sound pendukung, merupakan puncak kepuasan yang di sediakan oleh film itu. Dan akhirnya film itu pun selesai.
“Bener-bener puuuuuaaaaas banget gue. Gue seperti habis melepaskan beban yang besar di dalam diri gue.” Kata Bondan yang benar-benar menikmati film itu. Bram segera mencabut kaset itu dari cdplayernya. “Gimana, puas?” Kata Bram. “Puas…,” Kata mereka dengan suara lemah karena saking lelahnya.
“Hlo, si boss mana?” Tanya Bombom ketika melihat tempat gitar yang kosong.
“Kayaknya pulang deh, tadi dia kayaknya udah nggak kuat lagi.” Kata Bondan menjelaskan.
“Bukannya dia seorang sex master?” Tanya Bram heran.
“Nggak tahu deh, Anak itu emang aneh, mungkin dosisnya terlalu tinggi Bram.” Kata Bondan menjelaskan.
“Jadi, kita latihan nggak?” Kata Bombom. “Emangnya lo masih kuat gebuk drum lo? Yaudahlah, latihannya kapan-kapan aja. Lo semua pasti udah kelelahan nonton film yang berdosis tinggi dengan durasi yang cukup lama.”. Mereka pun setuju, akhirnya mereka pun meninggalkan studio.
***
Beberapa jam kemudian, Susan dan Mamahnya pun selesai membereskan kamar Ferdi.
“Cantik yah Mah!” Kata Susan sambil berdecak kagum dengan penampilan kamar Ferdi.
“Wah…, indah sekalih mah Kamarnya! Siapa yang menatanya ?” Seru Pak Tanto yang sedari tadi menyaksikan kerja keras Susan dan Mamahnya.
“Siapa dong…” Kata Bu Tanto. “Ki…taa…” Jawab Bu Tanto dan Susan serentak sambil tertawa.
“Maaf, makan malemnya sudah siap!” Kata Bi Ijah kepada mereka semua yang sedang mengagumi keindahan kamar Ferdi. Mereka pun segera menyantap makan malam itu.
“Papah sama Mamah kok ninggalin Ferdi. Ih… Curang!” Kata Ferdi dengan manja yang sampai dari latian band rutinnya. “Abis…, kami udah laper. Kalau nungguin kamu…, perut kami bisa dangdutan bahkan khasidahan.” Canda Sang Bapak sambil mengunyah makanan yang baru disendok dari piringnya. “Nih dhen makannya!” Bi ijah menghidangkan makanan yang sangat spesial untuk Ferdi. Tampak wajah Ferdi yang cukup gembira, karena baru kali ini Ferdi memakan makanan yang paling dia suka. “Ferdi duluan yah Pah, udah cape banget. Nggak tahu kenapa, padahal baru tadi keluar rumah.” Kata Ferdi seusai makan malam. “Oh yah silahkan, dan selamat menikmati kamar barumu!” Ferdi cukup terkejut ketika Mamahnya mengatakan “kamar baru”. Dia segera mengecek kamarnya. Dan benar saja, kondisi kamarnya sudah jauh berubah. Penampilannya menjadi ceriah, dengan lukisan burung yang seolah-olah sedang beterbangan, serta lukisan pemandangan alam dengan tumbuhan-tumbuhan hijau. Tulisan kali grapi menghiasi dinding-dinding kamarnya. “Siapa yang merubah kamar Ferdi?” Tiba-tiba Ferdi menjadi emosi dan kembali keruang makan menemui kedua orang tuanya yang masih duduk-duduk di meja itu menikmati makanan penutup. “Ada apa nak, ada apa?” Kata Sang Bapak dengan wajah tenang. “Siapa yang telah ngerubah kamar Ferdi?” Kata Ferdi dengan nada keras dan penuh emosi.
“Mamah dan Kakakmu yang merubahnya.” Kata Pak Tanto dengan lembut. “Pasti kalian mendapat pengaruh dari Anna. Ferdi benci dia Mah, Ferdi benci dia! Dia itu selalu mengatur Ferdi. Ferdi bukan Anak kecil lagi! Lagian kenapa Papah sama Mamah masih berhubungan sama dia, setelah Mamah dan Papah dimaki-maki. Ferdi sayang Mamah, Ferdi sayang Papah, Ferdi nggak mau kalau Mamah dan Papah diperlakukkan seperti itu.” Kata Ferdi yang nadanya mulai parau.
“Kami mengerti perasaanmu. Kami minta maaf kalau udah lancang merubah keadaan kamarmu seperti itu. Ini semua kami lakukkan karena kami sayang kamu Nak. Kami mau suasana kamarnya nggak terlalu statis, dengan gambar-gambar yang mungkin sudah lama sekali terpajang di dindingmu. Siapa tahu saja, dengan suasana baru yang kami berikan, kamu bisa menjadi lebih nyaman.” Kata Mamah dengan lembut.
“Sekarang kamu kekamarmu, mencoba suasananya dulu. Nah, kalau ampe besok suasananya bikin kamu risih, kamu boleh merubahnya lagi seperti yang kau mau. OK?” Sang Papah mencium pipi Anaknya.
Ferdi pun akhirnya luluh, dan pergi menuju kamarnya. “Anggap aja itu sebagai cooling down setelah lo nonton filem begituan sama Bondan dan temen-temen lo!” Celetuk Susan dengan keras dari ruang makan.
“Nonton Filem apaan Nak?” Tanya Sang Mamah dengan polos.
“Itu…, filem Mak Lampir. Maksud Susan biar rasa takut Ferdi jadi hilang setelah melihat kamar itu.” Jawab Susan.
“oh…, dikirain apaan.” Kata Sang Mamah juga dengan perasaan polos.
Ferdi merebahkan dirinya di kasur kamarnya, dan menebarkan pandang keseluruh arah. Ternyata efeknya mulai dirasakan. Fikirannya merasa menjadi lebih tenang dan rileks. Jauh dari hal-hal yang berbau maksiat. Dia pun hanya termenung di kamarnya, mencoba membayangkan kembali saat-saat indahnya bersama Anna. Dia tidak bisa tidur hingga pagi tiba.
Begitu pun Anna, dia hanya tertidur selama 1 jam malam itu, karena selama malam itu fikirannya tidak tenang.
***
Keesokan harinya, seluruh siswa/siswi di kelas Ferdi cukup ribut. Mereka hilir mudik mencari contekkan PR kimia. Tapi, ada yang lain dengan Ferdi dan Anna. Mereka saling diam, dan saling tak acuh. Mereka duduk dengan jarak yang sangat jauh. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka. “SSST…, kenapa dia?” Kata Farah yang berbisik ke temann sebangkunya. “Dari berita yang beredar Katanya sih…, Ferdi mutusin Anna gara-gara Anna ngamuk-ngamuk dan ngancurin seluruh koleksinya Ferdi.”
“Maksud lo, koleksi-koleksi begituan?”
“Maybe, udalah, Pak Ratmanto udah dateng Tuh.” Kata temen sebangkunya Farah.
Pak Ratmanto adalah seorang guru sejarah yang cukup tegas. Walau pun tegas, tapi kalau nerangan suka bikin anak-anak menjadi bete abis.
“Baiklah Anak-anak, kita akan melanjutkan pembahasan kita minggu lalu.” Pak Ratmanto duduk di korsinya sambil membuka buku materi sejarah miliknya. Anak-anak pun mengikutinya. Tapi Ferdi dan Anna tidak, buku mereka tetap tertutup. Mereka hanya tertunduk di atas meja.
“Jadi Anak-anak, kerajaan Maja Pahit itu…,” Tiba-tiba, Pak Ratmanto melihat Ferdi dan Anna yang tertunduk di atas meja mereka masing-masing dan kepalanya dialasi buku materi Sejarah yang tertutup. “Hai…, bangun!” Kata Pak Ratmanto sambil menggebrak meja Anna. Anna pun kaget dan menyadari kalau dia telah tertidur. “Udah siang! Tidur mulu.” Sekarang Pak Ratmanto menggebrak meja Ferdi. Ferdi pun sama terkejutnya, dia juga terbangun.
“Kalian semua ikut saya dan bawalah buku kalian!” Kata Pak Ratmanto kepada Ferdi dan Anna. Seluruh murid memandang mereka dengan pandangan mengejek. Pak Ratmanto membawa mereka semua ke ruang perpustakaan. “Silahkan kalian rangkum materi dari halaman 20 sampai halaman 42!” Kata Pak Ratmanto dengan tegas setelah mereka semua tiba di perpustakaan. “Tapi Pak…,” Bantah Ferdi. “Nggak ada kata tapi-tapi! Pokoknya tugas ini harus dikumpulkan hari ini juga. Saya tunggu!” Kata Pak Ratmanto yang menolak bantahan Ferdi sambil berjalan meninggalkan mereka. Mereka pun mengambil tempat yang berjauhan dan Ferdi melemparkan pandangan kebencian kepada Anna. “Berengsek nih guru…, gila aja gue harus ngerangkum materi setebal ini. Lagi pula, ngapain sih tuch cewek ada di sini, bikin gue tambah bete aja!” Batin Ferdi sambil membaca buku materi dan mulai merangkumnya. “Mana yang harus gue rangkum? Gue rasa semua penting. Apa gue catet aja semua?” Ferdi merasa bingung, karena dia nggak tahu mana yang harus dicatat dan mana yang harusnya tidak dicatat.
Tiga jam telah berlalu, tapi mereka belum menyelesaikan rangkuman materi itu. Ferdi mulai lelah, karena rangkumannya baru setengah jalan. Kepalanya pusing karena membaca materi yang terlalu banyak secara terus menerus. Sedangkan Anna hampir menyelesaikan rangkumannya. Tinggal satu halaman lagi. Diam-diam, Ferdi melirik Anna dan melihat rangkuman Anna dari kursinya. “Gila tuch cewek, dia punya ilmu apa bisa ngerangkum secepat itu.” Batin Ferdi dengan heran. “Gue nggak mau kalah, gue harus sanggup nyelesain rangkuman ini!” Ferdi mulai semangat.
Beberapa menit kemudian, Anna telah menyelesaikan rangkumannya. Dia segera merapihkan alat tulisnya. Dia berjalan ke meja tempat Ferdi sedang merangkum. Dia menjadi simpatik ketika Ferdi sedang menyalin materi yang menurut dia kurang penting untuk disalin. “Apa liat-liat!” Kata Ferdi ketika mengetahui Anna sedang memperhatikannya. “Bagian sini nggak perlu ditulis!” Kata Anna dengan simpatik sambil menunjuk kbaris yang diawali dengan kalimat “Bagai mana menurut Anda, aktifitas perdagangan pada zaman kerajaan hindu/budha di Indonesia?” Yang ketika itu Ferdi sedang menulis bagian itu. Anna pun langsung meninggalkan Ferdi. Ferdi cukup jengkel, karena lagi-lagi rangkumannya di kritik.
“Gila, badan gue pegel banget!” Kata Ferdi sambil menarik tangannya ke atas untuk merenggangkan otot. “Heran, rangkuman gue kok nggak selesai-selesai juga.” Kata Ferdi sambil kembali menulis. “Sial…, kenapa lagi nih pulpen?” Kata Ferdi ketika goresan tinta di pulpennya tidak nyata. Dia memukul-mukulkan pulpennya ke meja, dengan berharap pulpennya bisa kembali nyata. Tapi usahanya sia-sia saja, karena memang tintanya sudah habis. “Duh, malah nih pulpen satu-satunya lagi.” Kata Ferdi dengan jengkelnya. “Mau pinjem pulpenku?” Tiba-tiba Anna menawarkan pulpennya. Ternyata, dari tadi Anna masih di depan pintu perpustakaan. “Makasih, aku masih bisa beli di koprasi.” Kata Ferdi jutek. “Koprasi belum buka Fer.” Kata Anna dengan lembut. “Gampanglah, bisa minjem sama siapa kek entar, asalkan bukan sama lo.” Kata Ferdi emosi.
Akhirnya, Anna pun benar-benar meninggalkan Ferdi. “Heran gue sama tuch cewek, udah gue kasarin, udah gue bentak-bentak, masih aja dia mau ngomong baik-baik sama gue.” Batin Ferdi tambah heran. Dia pun pindah ke meja yang lebih dekat dengan AC. “Yaudalah, nanti aja gue ngelanjutinnya, gue istirahat dulu.” Batin Ferdi. Waktu itu dia berniat, dia akan mencari pulpen pengganti pada bel istirahat. Namun sepertinya istirahat masih cukup lama. Dia pun kembali menundukkan kepalanya hingga tidak disadarinya dia kembali tertidur.
 
bersambung
 
penulis: Wijaya

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *