Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Kisah di Masa Lalu

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Aku panik. Keringat dingin perlahan membasahi tanganku. Teman-temanku banyak yang saling mengucapkan selamat karena telah lulus UAN, sementara aku tegang menanti siapa yang akan bersedia membacakan pengumuman itu di mading sekolah. Beberapa kawan telah berusaha mencari namaku tapi ..


“Gak ada, Dit, padahal gw cari nama loe dari abjad pertama. Tapi kok gak ada ya?” terang Marlina kawan sekelasku.


“Coba loe tanya Bu Intan! Kan dia yang masang pengumuman ini.” Usul Dika teman sesama pengurus OSIS.


Aku berpikir sejenak, menduga-duga kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan ku alami tentang lulus atau tidaknya UAN-ku kemarin.


Aku melangkah perlahan menggerakkan tongkatku menuju ruang guru. Ketika melintasi taman sekolah ku dengar celotehan suka cita teman-teman seangkatan yang duduk di tepi kolam air mancur samping taman. Dulu aku pernah merasakan hal yang sama, tegang, penasaran, berdebar juga takut ketika menunggu keputusan iya atau tidak aku diterima di SMAN ini. Aku duduk terpaku di bangku batu tak jauh dari kolam sambil mendengarkan gemerisik air mancur yang sepertinya mencoba menghibur kekhawatiranku.


Nasib dan harga diriku dipertaruhkan pada keputusan kepala sekolah di ruangannya sana. Gemerisik air mancur bagai detik yang menghitung mundur ketika ibu keluar dan terdengar langkahnya menghampiriku. Wajahku mulai terasa panas, tak tentu, karena gejolak emosi saling berkejaran dalam nuraniku. Apa yang akan dikatakan ibu? Apa mungkin ibu gembira? Kenapa ibu belum berkata apapun? Sekarang ibu sudah duduk disampingku. Ia menepuk bahuku sekilas. Apa keputusan kepala sekolah? Ayolah, Bu! Jangan membuatku semakin cemas.


“Selamat ya nak, nilai UAN SMP kemarin !!!” ibu menahan kalimatnya di udara. Sementara aku menahan kecemasan dalam jiwa.


“Aku ???” aku dapat menangkap isyarat diamnya ibu, desah senyuman ibu dan tepukkan sekilas di pundakku tadi cukup sebagai jawabannya.


Ingin rasanya duduk kembali di bangku batu itu. Menanti kabar kelulusanku yang … ternyata tak ada atau tertinggal, atau bahkan kemungkinan terburuk yaitu,
Gak, itu gak mungkin terjadi! Aku tidak mau memalukan disabilitas dan keluargaku. Aku pasti lulus! Tapi mana pengumuman itu? Apa mungkin ini kekhususan yang diberikan padaku? Maksudku aku akan diberitahukan secara pribadi oleh Diknas melalui guruku tentang kelulusan itu. Kalaupun iya, ini sungguh kejutan namun mengecewakan bagiku.


Betapa tidak, sudah cukup kekhususan bagi siswa berkebutuhan khusus sepertiku yang mengenyam pendidikkan di sekolah regular. Cara belajar khusus, alat khusus, bahkan guru khusus. Tidak semua sarana prasarana untuk anak-anak sepertiku diberikan harus khusus sebagai penunjang belajar. Selama kreatifitas bisa berkembang,  alat-alat penunjang lainpun dapat berfungsi baik untukku selama bisa dimodifikasi agar akses bagi kami. Ya, apapun itu baik gambar segitiga, lingkaran, materi pelajaran, dan lain-lain apalagi modernisasi telah maju pesat. Braille, adalah sarana prasarana yang tak mungkin dipisahkan sebagai komunikasi tunanetra dengan jendela dunia “Buku!”


Lalu apakah pengumuman kelulusanku perlu kekhususan juga? Seperti tahun lalu aku dan Abdul harus melewati psikotes hanya karena terlalu banyak soal tes berupa gambar. Aku memasuki ruang guru dengan harap-harap cemas, aku bertanya pada seorang guru yang duduk di meja dekat pintu arah meja Bu Intan. Beliau mengarahkan aku.


“Dari sini kamu jalan lurus, tiga meja dari meja ibu nah itu meja Bu Intan.”


Aku menelusuri meja-meja itu. Ku dengar Bu Intan sedang ngobrol dengan seseorang ketika aku tiba di mejanya, kemudian beliau berhenti dan menyapaku. Beliau mengatakan pada orang itu agar menunda pembicaraan kemudian Bu Intan menarik kursi lalu menyuruhku duduk. Aku langsung menanyakan perihal pengumuman UAN yang dipasang di mading.


“Maaf Bu. Tapi pengumuman kelulusan saya gak ada di madding.”


Beliau terdiam sesaat kemudian berkata perlahan. Aku terhenyak mendengar penjelasan Bu Intan.


“Kamu harus banyak belajar, Dit.” Bayangan-bayangan jahat mulai mengepungku.


“Kamu harus ingat tantangan-tantangan kamu ke depannya masih banyak. Terus kamu harus sabar, terus berusaha walaupun sekarang, besok, atau kapanpun kamu gagal.”


Aku mengangguk takzim mendengar nasihat-nasihat itu. Ingin rasanya aku berkata “Saya gak lulus, Bu?” Tapi kerongkonganku rasanya tercekat.


“Sabar ya, Dit!”


Airmataku mulai menetes. Kilasan-kilasan masa lalu kembali menghakimiku. Apa yang harus ku katakan pada orang tuaku nanti? Mereka telah banting tulang berjualan bakso demi membiayai pendidikanku. Bagaimana menutupi rasa maluku pada teman-temanku ketika aku keluar dari ruang guru nanti? Mereka tak hentinya ikhlas mendorong semangat dan membantu belajarku. Jemariku mencengkram meja menahan gemetar tubuhku.


“Ya Allah haruskah aku mengulang kembali kelas duabelas!?” keluhku dalam hati.


“Jadi saya gak lulus bu?” tanyaku sekadar meyakinkan.


“Ibu hanya bisa mendorongmu untuk terus belajar, Dit. Semoga ke depannya kamu mampu berbuat yang lebih baik lagi, dan kamu harus sabar nungguin wisuda ketika perpisahan kelas duabelas nanti!”


Glek! Jantungku terasa melompat ke perut. Dengan perasaan yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat aku memastikan kembali kalimat yang tadi terlontar dari Bu Intan.


“Bu, tolong jangan bikin saya bingung!” tiba-tiba.
“Happy birthday Radit! Happy birthday Radit! Happy birthday happy birthday … happy birthday Ra … diit!”


Detik berikutnya aku merasakan pelukan dan tepukan dari banyak teman-teman juga seluruh guru di ruangan ini. Tawa dan penghiburan terus keluar menghujani perasaanku yang kacau.


“Maaf Dit, ini rancangan Abdul juga wali kelas kita!” kata Marlina sambil menyalamiku.


“Sorry bos, gue gak bilang-bilang kan surprise gitu loh!”


Kemudian Abdul menyerahkan bungkusan padaku.


“Sial loe, bikin gue panik tahu! Kirain gw kagak lulus beneran.” Aku menjitak jidatnya.


“Ampuuuun!”


Aku, Marlina, Dika dan Abdul meninggalkan ruang guru setelah beberapa teman keluar lebih dulu. Aku berbincang dengan Bu Intan yang sempat memberiku nasihat agar aku terus berusaha untuk maju meniti karier. Beliau juga meminta maaf karena mengulur kabar kelulusanku.


“Sebenarnya nama loe ada Dit di mading. Cuman kita semua seangkatan sepakat kalau loe nanya jangan dikasih tahu, sempat ada yang protes sih katanya ini masalah sensitif takutnya loe marah. Tapi syukurnya loe gak marah sama kita!” tutur Dika.


“Kebetulan ibu yang memasang pengumuman itu, ibu dipintai tolong sama Abdul biar gak ngasih tahu kamu kalau kamu nanya sama ibu. Nah pas kamu mulai sedih dan pesta udah siap, akhirnya ibu bilang deh sama kamu.”


Aku tertawa namun agak kesal juga di kasih surprise model begini. Kami pamit pada Bu Intan dan meninggalkan ruang guru yang masih sibuk dengan aktivitas menjelang persiapan wisuda.


“Gue mau makan dulu di kantin, itung-itung perpisahan sama makanan di sekolahan!” kata Dika.


Kami berempat berpisah di koridor TU. Aku ingin menemui Pak Ali kepala sekolah sementara Marlina di panggil cowoknya, Abdul memilih pulang lebih dulu.


Aku menggerakkan tongkatku ke arah ruang kepala sekolah. Ketika melintasi taman, banyak seruan ucapan selamat dari teman-teman seangkatan dan adik kelas. Bahkan ada yang memelukku sambil meminta dorongan semangat setelah perpisahan nanti. Aku tiba di depan ruang kepala sekolah dengan perasaan bangga. Beliau menyambutku girang ketika membuka pintu.


“Selamat ya Dit, katanya ada kejutan kecil, bawa kue gak buat bapak? Hehe!”


“Nyusul pak!” kataku seraya mengikuti langkahnya memasuki ruangan.


Aku baru saja duduk di depan Pak Ali, mendadak pintu terbuka dan terdengar suara panik Bu Fatmah, salah satu staf kesiswaan sekolah.


“Maaf Pak Ali!”


“Ada apa bu? Kenapa pucat begitu!?” Pak Ali bangkit lalu membawa Bu Fatmah duduk di kursi sebelahku.


Bu Fatmah menepuk-nepuk bahuku.


“Temanmu Dit! Abdul.” Perasaan cemas kembali menghinggapi nuraniku.


“Abdul kenapa Bu?”


“Tenang Bu Fatmah, coba jangan panik dulu, coba minum dulu.” Pak Ali terdengar menuang air.


Bu Fatmah meneguknya sekali lalu mulai berbicara lagi.


“Abdul ketabrak mobil di depan jalan raya!”


“Masya Allah, jalan raya mana bu?” Tanya Pak Ali.


“Depan gang sekolah ini pak. Saya dapat kabar tadi dari Nurul anak dua belas Ipa tiga.”


Kepanikkan memenuhi sekolah. Sebagian siswa tumpah ke jalan raya depan gang menuju sekolah, benar saja Abdul telah diangkat oleh penjaga sekolah dalam keadaan cukup memprihatinkan. Kata Dika hidungnya terus mengalirkan darah, Abdul segera di bawa ke UKS.


“Pak Jarwo, cepat hubungi Pak Sodik saya akan menelepon ambulans!” ujar Pak Ali sambil membantu menggotong Abdul. Isak tangis terdengar memenuhi koridor sekolah ketika tubuh bersimbah darah itu dibawa menuju UKS.


“Yang nabrak ketangkep?” tanyaku bergetar.


“Lari, sempat di kejar sama Pak Jarwo cuman keburu ilang di tikungan dekat halte bus. Akhirnya Pak Jarwo balik lagi takut Abdul keburu gak ketolong. Untung dia ditanganin sama Mas Aji penjaga yang lain.”


Tak lama kemudian Abdul dilarikan ke rumah sakit terdekat.


“Ini semua gara-gara gue, coba gue gak bikin dia kesal!” isak Nurul ketika kami duduk di depan UGD.


“Udahlah Nur, penyesalan loe gak bakal bikin Abdul sembuh. Mending kita tenang, semoga dokter bisa nyembuhin sobat kita!” hibur Dika.


Kami berempat masih duduk disini menunggu kabar dokter. Teman-teman yang lain pamit ketika Abdul memasuki UGD beberapa jam lalu.


“Bentar ya, gue pingin ke toilet dulu!” kata Marlina, sementara Dika masih menghibur Nurul.


“Kita akan ngebuktiin pak! Kalau kita bisa belajar di sekolah ini walaupun kita berdua tunanetra!” argumen itu terlontar dari mulut Abdul tiga tahun lalu saat kami hampir ditolak sekolah.


“Apa jaminan dan bukti agar pihak sekolah terutama guru-guru yakin kalian bisa belajar di sekolah ini?” Kata Pak Ali ragu.


Aku dan Abdul segera mengeluarkan laptop yang telah di install screanreader.


“Alat ini pak, salah satu sarana yang nantinya Insya Allah akan menunjang belajar kami.”


Detik berikutnya kami hampir tak percaya sekolah itu akan menerima kami sebagai pelajar disabilitas yang boleh mengenyam pendidikkan disana.


“Untung Bang Akbar sama Bang Tio mau minjemin nih laptop ya!” ujar Abdul terdengar lega ketika kami melewati gerbang sekolah.


“Hoho, mudah-mudahan tahun ini kita bisa punya laptop sendiri ya! Gak minjam mulu ke mereka.”


Kami tertawa girang mengingat-ingat perdebatan dengan kepala sekolah beberapa saat lalu.


Ketika asyik mengenang saat aku dan Abdul pertama kali masuk ke SMA sebuah suara lelaki menghampiri telingaku.


“Apa keluarga Abdul sudah ada yang datang?” itu suara dokter yang tadi menangani Abdul.


“Sepertinya belum, dok, mungkin sedang di perjalanan. Tadi pihak sekolah sudah menghubungi pamannya.” Dokter itu terdiam kemudian kurasakan ia duduk disampingku.


“Saya harap beliau segera datang, saya ingin menjelaskan kondisi Abdul.”


“Gimana keadaannya dok?” tanyaku panik. Dika dan Nurul segera menghampiri kami.


“Apa teman kami baik-baik saja dok?” Tanya Dika.


“Saya belum bisa mengatakannya, kita harus menunggu kedatangan salah satu keluarga Abdul dulu. Untuk sementara Abdul sedang menjalani perawatan intensif.”


Tak lama Pak Sodik datang dengan suara berat. Beliau datang bersama Bibi Elma dan dua orang yang ku kira orang tua Abdul.


“Gimana keponakkan saya Dok!?  


“Ikut saya sebentar pak.”


“Biar aku saja Mas Sodik, saya ayahnya Abdul dok.” Kata suara laki-laki agak kasar. Entah warna suara itu yang membuatku bertanya-tanya apakah itu ayah Abdul.


“Silahkan, Man.” Kedua orang itu melangkah entah kemana. Kemudian keluarga Abdul merubung kami memintai keterangan atas musibah yang menimpanya.


Dika yang bercerita. Usai bercerita Pak Sodik terdengar terpukul dan suaranya agak serak.


Tak lama kemudian dokter dan ayah Abdul telah kembali. Ayah Abdul terdengar cemas. Nada suaranya tertekan ketika menjelaskan tentang kondisi puteranya.


“Kata dokter benturan di kepalanya tidak terlalu merusak syaraf otaknya. Tetapi …” beliau menahan kalimatnya sebentar.


“Kenapa Rahman, apa yang terjadi?” Tanya Pak Sodik panik.


Mereka berbicara pelan sehingga aku dan kedua temanku tidak bisa mendengarnya. Tiba-tiba saja Pak Sodik terisak, ketika keadaan sudah tenang Dika bertanya pada Pak Sodik tentang kondisi Abdul.


“Saya rasa kalian berhak tahu. Abdul mempunyai kelainan pada jantungnya.!”


Kami menarik napas tertahan.


“Jantungnya merespon cepat karena Abdul kaget waktu tubuhnya keserempet mobil. Jadi, sekarang ini Abdul sedang menjalani perawatan serius bahkan kemungkinan terburuk akan terjadi!”


Aku mulai menduga-duga kemungkinan-kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi pada Abdul.


“Ada dua kemungkinan menurut gue yang bakal dialamin Abdul.” Kata Dika akhirnya.


“Abdul akan menjalani operasi donor jantung, kalau memang kelainan itu berdampak kurang baik buat kondisinya setelah kecelakaan itu. Atau kemungkinan terburuk …”


Aku tak bisa membayangkan kalau hal yang kedua benar-benar terjadi pada Abdul. Gak mungkin! Abdul pasti bisa bertahan hidup!


**Radit
            Aku panik. Keringat dingin perlahan membasahi tanganku. Teman-temanku banyak yang saling mengucapkan selamat karena telah lulus UAN, sementara aku tegang menanti siapa yang akan bersedia membacakan pengumuman itu di mading sekolah. Beberapa kawan telah berusaha mencari namaku tapi ..


“Gak ada, Dit, padahal gw cari nama loe dari abjad pertama. Tapi kok gak ada ya?” terang Marlina kawan sekelasku.


“Coba loe tanya Bu Intan! Kan dia yang masang pengumuman ini.” Usul Dika teman sesama pengurus OSIS.


Aku berpikir sejenak, menduga-duga kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan ku alami tentang lulus atau tidaknya UAN-ku kemarin.


Aku melangkah perlahan menggerakkan tongkatku menuju ruang guru. Ketika melintasi taman sekolah ku dengar celotehan suka cita teman-teman seangkatan yang duduk di tepi kolam air mancur samping taman. Dulu aku pernah merasakan hal yang sama, tegang, penasaran, berdebar juga takut ketika menunggu keputusan iya atau tidak aku diterima di SMAN ini. Aku duduk terpaku di bangku batu tak jauh dari kolam sambil mendengarkan gemerisik air mancur yang sepertinya mencoba menghibur kekhawatiranku.


Nasib dan harga diriku dipertaruhkan pada keputusan kepala sekolah di ruangannya sana. Gemerisik air mancur bagai detik yang menghitung mundur ketika ibu keluar dan terdengar langkahnya menghampiriku. Wajahku mulai terasa panas, tak tentu, karena gejolak emosi saling berkejaran dalam nuraniku. Apa yang akan dikatakan ibu? Apa mungkin ibu gembira? Kenapa ibu belum berkata apapun? Sekarang ibu sudah duduk disampingku. Ia menepuk bahuku sekilas. Apa keputusan kepala sekolah? Ayolah, Bu! Jangan membuatku semakin cemas.


“Selamat ya nak, nilai UAN SMP kemarin !!!” ibu menahan kalimatnya di udara. Sementara aku menahan kecemasan dalam jiwa.


“Aku ???” aku dapat menangkap isyarat diamnya ibu, desah senyuman ibu dan tepukkan sekilas di pundakku tadi cukup sebagai jawabannya.


Ingin rasanya duduk kembali di bangku batu itu. Menanti kabar kelulusanku yang … ternyata tak ada atau tertinggal, atau bahkan kemungkinan terburuk yaitu,
Gak, itu gak mungkin terjadi! Aku tidak mau memalukan disabilitas dan keluargaku. Aku pasti lulus! Tapi mana pengumuman itu? Apa mungkin ini kekhususan yang diberikan padaku? Maksudku aku akan diberitahukan secara pribadi oleh Diknas melalui guruku tentang kelulusan itu. Kalaupun iya, ini sungguh kejutan namun mengecewakan bagiku.


Betapa tidak, sudah cukup kekhususan bagi siswa berkebutuhan khusus sepertiku yang mengenyam pendidikkan di sekolah regular. Cara belajar khusus, alat khusus, bahkan guru khusus. Tidak semua sarana prasarana untuk anak-anak sepertiku diberikan harus khusus sebagai penunjang belajar. Selama kreatifitas bisa berkembang,  alat-alat penunjang lainpun dapat berfungsi baik untukku selama bisa dimodifikasi agar akses bagi kami. Ya, apapun itu baik gambar segitiga, lingkaran, materi pelajaran, dan lain-lain apalagi modernisasi telah maju pesat. Braille, adalah sarana prasarana yang tak mungkin dipisahkan sebagai komunikasi tunanetra dengan jendela dunia “Buku!”


Lalu apakah pengumuman kelulusanku perlu kekhususan juga? Seperti tahun lalu aku dan Abdul harus melewati psikotes hanya karena terlalu banyak soal tes berupa gambar. Aku memasuki ruang guru dengan harap-harap cemas, aku bertanya pada seorang guru yang duduk di meja dekat pintu arah meja Bu Intan. Beliau mengarahkan aku.


“Dari sini kamu jalan lurus, tiga meja dari meja ibu nah itu meja Bu Intan.”


Aku menelusuri meja-meja itu. Ku dengar Bu Intan sedang ngobrol dengan seseorang ketika aku tiba di mejanya, kemudian beliau berhenti dan menyapaku. Beliau mengatakan pada orang itu agar menunda pembicaraan kemudian Bu Intan menarik kursi lalu menyuruhku duduk. Aku langsung menanyakan perihal pengumuman UAN yang dipasang di mading.


“Maaf Bu. Tapi pengumuman kelulusan saya gak ada di madding.”


Beliau terdiam sesaat kemudian berkata perlahan. Aku terhenyak mendengar penjelasan Bu Intan.


“Kamu harus banyak belajar, Dit.” Bayangan-bayangan jahat mulai mengepungku.


“Kamu harus ingat tantangan-tantangan kamu ke depannya masih banyak. Terus kamu harus sabar, terus berusaha walaupun sekarang, besok, atau kapanpun kamu gagal.”


Aku mengangguk takzim mendengar nasihat-nasihat itu. Ingin rasanya aku berkata “Saya gak lulus, Bu?” Tapi kerongkonganku rasanya tercekat.


“Sabar ya, Dit!”


Airmataku mulai menetes. Kilasan-kilasan masa lalu kembali menghakimiku. Apa yang harus ku katakan pada orang tuaku nanti? Mereka telah banting tulang berjualan bakso demi membiayai pendidikanku. Bagaimana menutupi rasa maluku pada teman-temanku ketika aku keluar dari ruang guru nanti? Mereka tak hentinya ikhlas mendorong semangat dan membantu belajarku. Jemariku mencengkram meja menahan gemetar tubuhku.


“Ya Allah haruskah aku mengulang kembali kelas duabelas!?” keluhku dalam hati.


“Jadi saya gak lulus bu?” tanyaku sekadar meyakinkan.


“Ibu hanya bisa mendorongmu untuk terus belajar, Dit. Semoga ke depannya kamu mampu berbuat yang lebih baik lagi, dan kamu harus sabar nungguin wisuda ketika perpisahan kelas duabelas nanti!”


Glek! Jantungku terasa melompat ke perut. Dengan perasaan yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat aku memastikan kembali kalimat yang tadi terlontar dari Bu Intan.


“Bu, tolong jangan bikin saya bingung!” tiba-tiba.
“Happy birthday Radit! Happy birthday Radit! Happy birthday happy birthday … happy birthday Ra … diit!”


Detik berikutnya aku merasakan pelukan dan tepukan dari banyak teman-teman juga seluruh guru di ruangan ini. Tawa dan penghiburan terus keluar menghujani perasaanku yang kacau.


“Maaf Dit, ini rancangan Abdul juga wali kelas kita!” kata Marlina sambil menyalamiku.


“Sorry bos, gue gak bilang-bilang kan surprise gitu loh!”


Kemudian Abdul menyerahkan bungkusan padaku.


“Sial loe, bikin gue panik tahu! Kirain gw kagak lulus beneran.” Aku menjitak jidatnya.


“Ampuuuun!”


Aku, Marlina, Dika dan Abdul meninggalkan ruang guru setelah beberapa teman keluar lebih dulu. Aku berbincang dengan Bu Intan yang sempat memberiku nasihat agar aku terus berusaha untuk maju meniti karier. Beliau juga meminta maaf karena mengulur kabar kelulusanku.


“Sebenarnya nama loe ada Dit di mading. Cuman kita semua seangkatan sepakat kalau loe nanya jangan dikasih tahu, sempat ada yang protes sih katanya ini masalah sensitif takutnya loe marah. Tapi syukurnya loe gak marah sama kita!” tutur Dika.


“Kebetulan ibu yang memasang pengumuman itu, ibu dipintai tolong sama Abdul biar gak ngasih tahu kamu kalau kamu nanya sama ibu. Nah pas kamu mulai sedih dan pesta udah siap, akhirnya ibu bilang deh sama kamu.”


Aku tertawa namun agak kesal juga di kasih surprise model begini. Kami pamit pada Bu Intan dan meninggalkan ruang guru yang masih sibuk dengan aktivitas menjelang persiapan wisuda.


“Gue mau makan dulu di kantin, itung-itung perpisahan sama makanan di sekolahan!” kata Dika.


Kami berempat berpisah di koridor TU. Aku ingin menemui Pak Ali kepala sekolah sementara Marlina di panggil cowoknya, Abdul memilih pulang lebih dulu.


Aku menggerakkan tongkatku ke arah ruang kepala sekolah. Ketika melintasi taman, banyak seruan ucapan selamat dari teman-teman seangkatan dan adik kelas. Bahkan ada yang memelukku sambil meminta dorongan semangat setelah perpisahan nanti. Aku tiba di depan ruang kepala sekolah dengan perasaan bangga. Beliau menyambutku girang ketika membuka pintu.


“Selamat ya Dit, katanya ada kejutan kecil, bawa kue gak buat bapak? Hehe!”


“Nyusul pak!” kataku seraya mengikuti langkahnya memasuki ruangan.


Aku baru saja duduk di depan Pak Ali, mendadak pintu terbuka dan terdengar suara panik Bu Fatmah, salah satu staf kesiswaan sekolah.


“Maaf Pak Ali!”


“Ada apa bu? Kenapa pucat begitu!?” Pak Ali bangkit lalu membawa Bu Fatmah duduk di kursi sebelahku.


Bu Fatmah menepuk-nepuk bahuku.


“Temanmu Dit! Abdul.” Perasaan cemas kembali menghinggapi nuraniku.


“Abdul kenapa Bu?”


“Tenang Bu Fatmah, coba jangan panik dulu, coba minum dulu.” Pak Ali terdengar menuang air.


Bu Fatmah meneguknya sekali lalu mulai berbicara lagi.


“Abdul ketabrak mobil di depan jalan raya!”


“Masya Allah, jalan raya mana bu?” Tanya Pak Ali.


“Depan gang sekolah ini pak. Saya dapat kabar tadi dari Nurul anak dua belas Ipa tiga.”


Kepanikkan memenuhi sekolah. Sebagian siswa tumpah ke jalan raya depan gang menuju sekolah, benar saja Abdul telah diangkat oleh penjaga sekolah dalam keadaan cukup memprihatinkan. Kata Dika hidungnya terus mengalirkan darah, Abdul segera di bawa ke UKS.


“Pak Jarwo, cepat hubungi Pak Sodik saya akan menelepon ambulans!” ujar Pak Ali sambil membantu menggotong Abdul. Isak tangis terdengar memenuhi koridor sekolah ketika tubuh bersimbah darah itu dibawa menuju UKS.


“Yang nabrak ketangkep?” tanyaku bergetar.


“Lari, sempat di kejar sama Pak Jarwo cuman keburu ilang di tikungan dekat halte bus. Akhirnya Pak Jarwo balik lagi takut Abdul keburu gak ketolong. Untung dia ditanganin sama Mas Aji penjaga yang lain.”


Tak lama kemudian Abdul dilarikan ke rumah sakit terdekat.


“Ini semua gara-gara gue, coba gue gak bikin dia kesal!” isak Nurul ketika kami duduk di depan UGD.


“Udahlah Nur, penyesalan loe gak bakal bikin Abdul sembuh. Mending kita tenang, semoga dokter bisa nyembuhin sobat kita!” hibur Dika.


Kami berempat masih duduk disini menunggu kabar dokter. Teman-teman yang lain pamit ketika Abdul memasuki UGD beberapa jam lalu.


“Bentar ya, gue pingin ke toilet dulu!” kata Marlina, sementara Dika masih menghibur Nurul.


“Kita akan ngebuktiin pak! Kalau kita bisa belajar di sekolah ini walaupun kita berdua tunanetra!” argumen itu terlontar dari mulut Abdul tiga tahun lalu saat kami hampir ditolak sekolah.


“Apa jaminan dan bukti agar pihak sekolah terutama guru-guru yakin kalian bisa belajar di sekolah ini?” Kata Pak Ali ragu.


Aku dan Abdul segera mengeluarkan laptop yang telah di install screanreader.


“Alat ini pak, salah satu sarana yang nantinya Insya Allah akan menunjang belajar kami.”


Detik berikutnya kami hampir tak percaya sekolah itu akan menerima kami sebagai pelajar disabilitas yang boleh mengenyam pendidikkan disana.


“Untung Bang Akbar sama Bang Tio mau minjemin nih laptop ya!” ujar Abdul terdengar lega ketika kami melewati gerbang sekolah.


“Hoho, mudah-mudahan tahun ini kita bisa punya laptop sendiri ya! Gak minjam mulu ke mereka.”


Kami tertawa girang mengingat-ingat perdebatan dengan kepala sekolah beberapa saat lalu.


Ketika asyik mengenang saat aku dan Abdul pertama kali masuk ke SMA sebuah suara lelaki menghampiri telingaku.


“Apa keluarga Abdul sudah ada yang datang?” itu suara dokter yang tadi menangani Abdul.


“Sepertinya belum, dok, mungkin sedang di perjalanan. Tadi pihak sekolah sudah menghubungi pamannya.” Dokter itu terdiam kemudian kurasakan ia duduk disampingku.


“Saya harap beliau segera datang, saya ingin menjelaskan kondisi Abdul.”


“Gimana keadaannya dok?” tanyaku panik. Dika dan Nurul segera menghampiri kami.


“Apa teman kami baik-baik saja dok?” Tanya Dika.


“Saya belum bisa mengatakannya, kita harus menunggu kedatangan salah satu keluarga Abdul dulu. Untuk sementara Abdul sedang menjalani perawatan intensif.”


Tak lama Pak Sodik datang dengan suara berat. Beliau datang bersama Bibi Elma dan dua orang yang ku kira orang tua Abdul.


“Gimana keponakkan saya Dok!?  


“Ikut saya sebentar pak.”


“Biar aku saja Mas Sodik, saya ayahnya Abdul dok.” Kata suara laki-laki agak kasar. Entah warna suara itu yang membuatku bertanya-tanya apakah itu ayah Abdul.


“Silahkan, Man.” Kedua orang itu melangkah entah kemana. Kemudian keluarga Abdul merubung kami memintai keterangan atas musibah yang menimpanya.


Dika yang bercerita. Usai bercerita Pak Sodik terdengar terpukul dan suaranya agak serak.


Tak lama kemudian dokter dan ayah Abdul telah kembali. Ayah Abdul terdengar cemas. Nada suaranya tertekan ketika menjelaskan tentang kondisi puteranya.


“Kata dokter benturan di kepalanya tidak terlalu merusak syaraf otaknya. Tetapi …” beliau menahan kalimatnya sebentar.


“Kenapa Rahman, apa yang terjadi?” Tanya Pak Sodik panik.


Mereka berbicara pelan sehingga aku dan kedua temanku tidak bisa mendengarnya. Tiba-tiba saja Pak Sodik terisak, ketika keadaan sudah tenang Dika bertanya pada Pak Sodik tentang kondisi Abdul.


“Saya rasa kalian berhak tahu. Abdul mempunyai kelainan pada jantungnya.!”


Kami menarik napas tertahan.


“Jantungnya merespon cepat karena Abdul kaget waktu tubuhnya keserempet mobil. Jadi, sekarang ini Abdul sedang menjalani perawatan serius bahkan kemungkinan terburuk akan terjadi!”


Aku mulai menduga-duga kemungkinan-kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi pada Abdul.


“Ada dua kemungkinan menurut gue yang bakal dialamin Abdul.” Kata Dika akhirnya.


“Abdul akan menjalani operasi donor jantung, kalau memang kelainan itu berdampak kurang baik buat kondisinya setelah kecelakaan itu. Atau kemungkinan terburuk …”


Aku tak bisa membayangkan kalau hal yang kedua benar-benar terjadi pada Abdul. Gak mungkin! Abdul pasti bisa bertahan hidup! (Senna)

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *