Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Bulan di Mendung

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Surakarta.

Dilaporkan dari Jl. Mendung IV, Jebres, Kentingan.

Senin, 23 April 2012. Seorang laki-laki berusia kurang lebih 40 tahun ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Kondisi korban mengenaskan dengan kepalanya remuk. Diduga laki-laki tersebut adalah korban tabrak lari.

Menurut seorang warga setempat, laki-laki tersebut adalah seorang preman yang sering membuat onar dan menyusahkan warga-warga setempat. Oleh karena itu, ketika pagi tadi seorang warga menemukan korban tidak ada yang mau repot-repot untuk mengurusnya bahkan melaporkan kejadian tersebut kepada polisi.

Tidak jauh dari lokasi kecelakaan, pada sebuah rumah kardus ditemukan seorang anak perempuan kurang lebih berusia 10 tahun dan seorang remaja perempuan berusia kurang lebih 19 tahun dalam kondisi tak bernyawa. Anak tersebut ditemukan dengan pakaian setengah terbuka. Diduga anak tersebut adalah korban pemerkosaan. Sedangkan remaja tersebut meninggal dalam kondisi mengenaskan. Pisau tertancap di perutnya. Diduga dia adalah korban pembunuhan. Satu kejadian yang menakjubkan adalah walaupun kondisi tubuh remaja tersebut mengenaskan, tetapi senyum tersungging di wajahnya.

Dua kejadian ini menarik Suyoto (seorang warga setempat) yang kemudian membuat rangkaian cerita. “Semalam remaja itu berlari ke arah rumah kardus. Preman tersebut pastinya sedang memerkosa Mei, anak perempuan itu. Remaja tersebut berusaha melindungi Mei, namun malah dirinya yang kena tusuk dan mati, lantas preman yang menusuk remaja tersebut merasa ketakutan dan berlari. Pastinya juga dia tak melihat kanan-kiri saat menyeberang hingga akhirnya tertabrak. Setidaknya preman tersebut mendapatkan balasan atas perbuatannya,” tutur Suyoto.

….

Bulan tersentak terbangun. “Astaghfirullah.” Lirih dia berucap. Jam menunjukkan pukul lima. Dia mengusap wajah dengan kedua tangannya.Berdoa. Lantas bangun dari tempat tidurnya. Bergegas mengambil air wudhu. Menghadap Sang Pemberi Kehidupan.

***

Peluhnya menetes. Wajahnya berminyak. Sudah hampir pukul sembilan. Jajanan pasar yang dia jual masih sepuluh. Sedang dia harus segera berangkat ke kampus. Ada ujian nanti.

Bulan menghela nafas.Berfikir. Kalau jajanan pasar tersebut tak segera dimakan akan basi. Dia tak mungkin menghabiskan itu sendirian. Dan…. Bulan ingat. Dia berdiri. Berjalan cepat nyaris berlari. Arahnya ke bawah jembatan gantung.

Mobil-mobil sudah berbaris rapi, bergerak pelan dengan keanggunan. Sedang manusia-manusia didalamnya bergerak gelisah. Beberapa berulang kali mengangkat tangannya. Melihat angka yang ditunjuk jarum jam. Beberapa yang lain mengumpat, mengutuk marah. Tak sabar. Sedikit diantaranya tetap tenang dan sabar. Ini sudah menjadi konsumsi setiap hari. Maka apa pulalah gunanya merasa gelisah? Inilah kemajuan zaman.

Bulan sudah berlari sekarang. Di depannya seorang anak sepuluh tahunan tersenyum lebar. Melambaikan tangan padanya. Bulan balas melambaikan tangan. Senyum sempurna melengkung dari bibirnya.

“Mbak Bulan!”

“Pagi, Bumi,” sapa Bulan riang. “Mana yang lain?” tanyanya sambil mengedarkan pandangan.

“Budi masih ngamen, Joko jualan koran, Mei di rumah, jagain Siti. Siti sakit,” ujar Bumi sedih. Kemudian dia melihat keranjang makanan di tangan Bulan. Matanya menatap penuh harap ke keranjang tersebut. Perutnya juga perut teman-teman yang lainnya sudah tak terisi sejak kemarin.

Wajah Bulan terlihat cemas. “Bumi, ayo! Mbak mau lihat Siti,” ajaknya. Dia berjalan. Tapi disadarinya Bumi tak beranjak dari tempatnya berdiri. Bulan menoleh. Mengikuti arah pandang anak itu.

Bulan membuka keranjangnya. Mengeluarkan sepotong kue. “Makanlah,” ucapnya sambil menyerahkan kue itu pada Bumi.

Bumi tersenyum. Segera menghabiskannya dalam sekejap. Sesak dada Bulan melihat betapa lahap anak itu memakannya.

“Makasih, Mbak,” ucap Bumi. “Sudah sejak kemarin pagi kami tidak makan,” lanjutnya sambil tersenyum.

Bulan mengontrol diri. Nyaris jatuh air matanya. Hatinya terasa sakit. Betapa mereka, Bumi dan teman-temannya berjuang begitu keras untuk bertahan hidup. Anak-anak terbuang dari orang tua yang tak bertanggung jawab. Anak-anak malang yang begitu rindu akan peluk kasih sayang. Betapa kehidupan terasa begitu beratnya.

“Ayo, Mbak!” ajak Bumi bersemangat.

Bulan tersenyum. Lantas bergegas mengikuti Bumi yang berlari-lari kecil.

***

“Ah, perutku kenyang sekali,” ujar Rani sambil memasukkan makanannya yang masih banyak ke dalam kantong plastik.

“Mau kau buang, Ran?” tanya Bulan tak percaya.

“Ya. Aku tak sanggup memakannya lagi,” jawab Rani.

“Buat aku saja,” pinta Bulan.

Rani memandang Bulan bingung. “Ini sudah sisa, nanti aku belikan lagi saja,” ucap Rani kemudian. Rani melempar kantong plastik tersebut ke tong sampah.

Betapa kehidupan ini kadang terasa begitu tak adil. Di satu sisi ada orang yang begitu berkecukupan hingga membuang-buang makanan. Di sisi lain begitu banyak orang di luar sana yang berjuang begitu keras hanya untuk sesuap nasi. Begitu banyak orang yang berhari-hari tak makan karena tak mempunyai uang untuk membeli makanan.

***

“Mbak Bulan, Mbak Bulan!”

Bulan menoleh. Dilihatnya Bumi berlari ke arahnya. Perasaan Bulan tiba-tiba saja tak enak. “Kenapa? Ada apa, Bumi?”

“Badan Siti semakin panas Mbak, wajahnya pucat pasi, bibirnya menggumam gak jelas,” ujar Bumi panik.

“Ayo, bawa Siti ke rumah sakit!”

***

Bulan menghela nafas berat. Menatap langit biru dengan awan seputih kapas. Angin berhembus semilir memberikan irama untuk tarian ilalang. Burung-burung berkejar-kejaran di angkasa. Betapa indah sebenarnya dunia ini. Namun, Bulan tak bisa menikmati itu sekarang. Kata-kata Dokter tadi terus menggema dalam otaknya.

“Anda keluarganya?” tanya Dokter. Bulan mengganguk.“Mari ke ruangan saya, ada yang ingin saya bicarakan.”

Bulan mengikuti Dokter ke ruangannya. “Dok, apakah penyakitnya berat?” tanya Bulan was-was.

“Mbak benar keluarganya?”

“Bukan Dok, dia tak punya keluarga,” jawab Bulan. Dan Bulan merasa kata-katanya begitu sinis. “Maaf Dok,entahlah. Mungkin dia memiliki keluarga. Tapi saya tak tahu di mana orang tuanya. Anak itu dan teman-temannya hidup di jalanan. Tapi saya sudah menganggap mereka seperti adik saya sendiri.”

Dokter menghela nafas panjang. Pelan kemudian Dokter berkata “Saya rasa ada seorang yang tidak bermoral telah memperkosa anak malang tersebut, secara biologis anak itu masih terlalu muda hingga terjadi kerusakan pada vaginanya. Kami masih harus memeriksanya lebih lanjut untuk memastikan adanya infeksi atau tidak….”

Bulan tak lagi mendengar apa yang dikatakan Dokter tersebut. Air matanya mengalir. Dadanya sesak. Dia tak bisa bernafas. Betapa kejam hidup ini? Bagaimana ada orang yang bisa berbuat sekeji itu? Siti masih sembilan tahun. Sembilan tahun! Dan dia telah mengalami kejadian seberat ini.

Bulan menghela nafas sekali lagi. Biaya di rumah sakit ini tak murah. Siti harus dirawat inap karena kondisinya masih begitu lemah, selain itu juga masih harus diadakan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tidak terjadi infeksi. Bulan sudah mengecek tabungannya. Dan saldonya tak cukup.

***

“Mbak, malam ini biar Bumi dan Joko yang menunggu Siti. Mbak Bulan pulang saja. Istirahat. Kalau tidak, nanti Mbak Bulan juga ikut-ikutan sakit,” ujar Bumi.

Bulan mengangguk. Dia bergegas memasukkan buku-buku kuliahnya. “Mbak pulang dulu ya, nanti kalau ada apa-apa bilang suster, suruh telepon Mbak. Ok?”

“Ok.”

Langit kelabu kelam. Tak satupun bintang terlihat. Mendung. Dan sepertinya hujan akan turun. Bulan merapatkan jaket. Angin yang berhembus merasuk menusuk kulitnya. Dia menggigil kedinginan. Badannya begitu letih. Matanya berat. Sudah tiga hari sejak Siti dibawa ke rumah sakit.

Bulan bekerja apapun siang malam. Pagi hari dia menjual jajanan pasar dan koran. Selepas kuliah dia menjadi pelayan di sebuah warung makan. Setelahnya, dia mengajar di sebuah Lembaga Bimbingan Belajar. Dia harus mencari uang untuk tambahan biaya perawatan Siti. Dan malamnya dia menunggui Siti di rumah sakit.

“Budi?” ucap Bulan tak yakin. “BUDI!” panggil Bulan.

Budi menoleh. “Mbak Bulan.”

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini?”

“Aku…. Aku jualan, Mbak.Biar bisa bantu Mbak Bulan bayar rumah sakit Siti,” jawab Budi sambil menunduk.

Hati Bulan terenyuh. Anak sekecil ini punya hati sedemikian baiknya. Lantas Bulan bertanya, di mana hati orang-orang di sana? Di mana hati orang-orang yang melahirkan mereka? Ah, kenapa harus dipertanyakan? Merekalah orang-orang yang tak punya hati. Tak berperikemanusiaan.

Bulan tersenyum. “Pulanglah, sudah malam. Nanti kau sakit juga.”

“Tidak. Aku kan kuat!” yakin Budi sambil mengangkat lengannya seperti artis iklan susu di televisi. “Mbak Bulan, sudah dulu ya, aku harus jualan lagi,” pamit Budi. Lantas berlari meninggalkan Bulan yang mematung.

Bulan seperti tersambar petir. Budi jualan. Bumi dan Joko di rumah sakit. Lantas Mei? Tubuh Bulan merinding. Dia sendirian. Bayangan-bayangan buruk melintas dalam pikiran Bulan.

Bulan berbalik arah. Berlari secepat mungkin. Tubuhnya makin menggigil. Bukan karena dingin. Melainkan rasa takut yang begitu nyata. Bagaimana kalau hal yang sama dengan Siti terjadi juga pada Mei? Mei lebih cantik daripada Siti. Tubuhnya tinggi bongsor dan montok. Layaklah jika dibilang seksi.

Bulan hampir sampai. Rumah yang dibilang mereka sebenarnya tak layak disebut rumah. Itu hanya sebuah susunan kardus yang cukup untuk tempat berteduh kala letih melanda dan malam tiba. Tak lebih dari itu.

Bulan semakin dekat. Tubuhnya menegang. Terdengar jeritan dari rumah kardus tersebut. “MEI!” teriak Bulan.

Bulan mengambil apapun yang dapat diraihnya. Dengan membabi buta dia masuk ke dalam. Dilihatnya Mei duduk memeluk lutut di pojok. Tubuhnya bergetar. Air matanya mengalir. Wajahnya ketakutan. Rambutnya berantakan. Bajunya terkoyak di sana-sini.

Seorang lelaki berdiri tak jauh dari Mei. Dia menoleh ke arah Bulan. Bulan menatap laki-laki itu murka. Tanpa berpikir lagi Bulan maju mengayunkan kayu yang tadi diraihnya ke laki-laki itu. Terkejut dengan serangan yang tiba-tiba, laki-laki itu terjatuh. Bulan terus memukuli laki-laki itu. Puas melihat laki-laki itu tak bergerak lagi, Bulan menghampiri Mei.

Mei menatapnya. Tangisnya pecah. Dipeluknya gadis kecil itu. Bulan juga menangis. Apa yang terjadi? Kenapa dunia seperti ini? Bulan erat memeluk Mei. Tubuh mereka sama-sama menggigil.

Bulan merasa ada gerakan di belakangnya. Dia segera berbalik. Tetap waspada dengan kayu di tangannya. Di baliknya laki-laki itu sudah berdiri dengan pisau siap menghunus di tangannya.

Bulan mengayunkan kayu tersebut. Laki-laki itu menghindar dengan cepat. Tubuh Bulan oleng, gerakan ayunannya yang terlalu kuat namun tak kena sasaran membuat tubuhnya tak seimbang. Dia terjatuh. Kayu terlepas dari tangannya. Tubuh Bulan bergetar. Allah, lindungi hamba, doanya.

Tangan Bulan dengan cepat meraih kayu tersebut. Sekali lagi diayunkannya. Terlambat. Laki-laki itu lebih cepat.

Waktu berjalan melambat rasanya. Bulan melihat ada ketakutan di wajah laki-laki tersebut. Tangis Mei terdengar semakin keras tapi juga semakin jauh. Bulan merasa bajunya basah. Tangannya bergerak menyentuh perutnya. Pisau itu tertancap di sana. Tapi anehnya, Bulan tak merasa sakit.

Bulan melihat laki-laki itu mundur perlahan. Wajahnya memucat. Peluhnya menetes. Dia berbalik. Lantas berlari keluar. Bulan mendengar langkah-langkah larinya yang lebar dan semakin jauh. Tangis Mei masih terdengar. Lirih.

Allah. Panggil Bulan dalam hatinya. Diulang-ulangnya panggilan itu. Dan Bulan tersenyum.

 

Allah punya cerita. Allah punya rencana. Kehidupan ini bagian dari ceritanya. Sepotong episode ini juga telah direncanakannya. Maka, apa daya manusia? Manusialah pemeran dalam cerita tersebut. Akan jadi aktor protagonis atau antagonis? Itu pilihan.

Lantas apa jawaban ketika kau bertanya ‘Kenapa ini terjadi? Kenapa dunia seperti ini?’. Inilah skenario kehidupan yang dibuat-Nya. Maka, jalanilah dengan sebaik-baiknya. Allah bersama-sama dengan orang yang selalu mengingat-Nya. Dan jalan kehidupan, tak pernah ada yang benar-benar mengetahuinya.

Tags:
2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *