Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Harga sebuah Pengabdian

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Sebuah gedung suatu bank berarsitektur megah menyambut kedatanganku. Ketika kaki baru selangkah masuk, kurasakan aroma yang tidak hangat seperti biasanya. Kenangan hangat bersama anak-anak di sekolah menyeruak. Padahal baru sehari ini aku mencoba meninggalkan mereka.

 

“Anda memenuhi kualifikasi yang sedang kami cari. Jadi mulai lusa Anda sudah bisa bergabung dengan kami,” Manager Bank yang kutahu bernama Pak Angga Radian dari pin nama di atas kemeja sakunya, menatapku mantap.

 

Aku merapatkan bibir. Tak ada kata-kata yang mampu kuproduksi. Bahkan tanganku ini belum bisa menyambut ajakan berjabat tangan Pak Angga. Beberapa lama terdiam. Hingga Pak Angga menurunkan kembali tangannya.

 

“Maaf, Pak. Sepertinya saya belum bisa menerima kesempatan untuk bergabung menjadi karyawan di Bank ini. Berat memang. Namun ada sebuah kewajiban hati yang sangat sulit saya tinggalkan. Sekali lagi, saya mohon maaf. Terima kasih.” Kulangkahkan kaki keluar dari ruang manager bank tersebut. Ada sesak yang menyeruak. Sebenarnya aku merasa bersalah kepada pamanku karena dia yang telah memperjuangkanku untuk masuk bank ini.

 

“Buat apa kamu bercengkrama dengan anak-anak itu? Kamu cantik dan pintar. Masa depanmu sangat cerah. Kamu bisa bekerja di bank daripada di sekolah itu.”

 

Kata-kata temanku itu terus menghantui kepalaku hingga jejak langkah tiba di halaman bank. Ah, tak ada jiwaku di sini. Biasanya banyak tawa renyah yang melambung di alam bebas seperti ini. Suara-suara itu…

 

***

 

“Ba… Ma…” Anton memperlihatkan lukisan alamnya.

 

Kuacungkan dua jempol ke arahnya diiringi senyum simpul manis. Decak kagumku tidak akan pernah berhenti ketika melihat lukisan Anton. Seperti ada kekuatan maha dashyat yang membuat jiwaku seperti ada di dalam lukisan tersebut. Seperti lukisan yang barusan diselesaikannya, tergambar hamparan sawah luas yang di sudutnya ada sebuah rumah kayu sederhana. Aku serasa berubah menjadi gadis desa berselendang sarung memanggul karung-karung beras.

 

“Sekarang berdoa ya, biar lombanya lancar.” Ku alih bahasakan kedalam bahasa isyarat kata-kata ini.

 

Lomba melukis untuk umum usia delapan sampai sebelas tahun tersebut, banyak di ikuti oleh anak-anak pada umumnya. Kulihat hanya anton saja yang berbeda. Tak ada patah kata yang bisa dia produksi. Gelombang suara pun tak ada yang bisa ditangkap telinganya. Arahan pembawa acara sukar dimengerti olehnya. Tatapan matanya mengarah kepadaku. Ketika dia melihat jempolku terangkat, barulah dia mulai menaklukkan lukisannya.

 

“Anton sekolah di mana?” pembawa acara setelah mengumumkan pemenang bertanya kepada Anton.

 

Tak ada suara sempurna yang keluar dari lidahnya. Semua kata-kata Anton tak ada yang dimengerti. Namun, semua terbantah dengan rasa kagum dari semua mata yang berkaca-kaca karena ternyata juara lomba melukis ini dimenangkan oleh seorang anak spesial yang secara fisik jauh dari sempurna. Mataku lebih berkaca-kaca lagi. Sejak saat itu, aku percaya kalau dibalik ketidaksempurnaan fisik masih banyak terkandung potensi besar yang sangat memukau.

 

Suara biola yang digesek Adilla mampu menembus dinding sanubari. Merdunya tidak hanya hinggap di telinga, tetapi mampu mengetuk hati. Seluruh bulu yang tumbuh di permukaan kulit terutama bulu kuduk selalu berdiri merinding ketika Adilla mempersembahkan sebuah senandung.

 

“Dan juaranya… Adilla…” tepuk tangan bergemuruh mengiringi Adilla yang naik ke panggung lomba talent memainkan alat musik.

 

Sama seperti Anton. Ketika ditanya Adilla sekolah dimana, dia hanya memberikan bahasa isyarat dengan jemarinya. Senyum simpul tanda tak percaya menyeruak di sudut bibirnya. Tatapan terharu membanjiri tiap mata yang melihat adegan ini. Aku sendiri semakin terharu dan yakin kalau aku tidak boleh meninggalkan mereka, siswa-siswaku di sebuah SLB.

 

Bersama mereka aku belajar arti bersyukur yang sesungguhnya. Lihat saja, ditengah ketidaksempurnaan yang membungkus raga, mereka masih tetap tertawa ketika belajar melukis di alam bebas. Hingga lahir lah sang pelukis masa depan bernama Anton dari sekolah ini.

 

Pelajaran berupa perjuangan yang tak kenal lelah aku dapatkan ketika mereka belajar alat musik. Mereka tidak langsung patah arang ketika nada-nada merdu harus mereka produksi. Bagaimana mereka bisa menaklukkan alat-alat musik tersebut kalau gendang mereka saja tidak bisa menangkap arus suara. Namun, mereka justru ingin menaklukkan itu dengan kesungguhan luar biasa. Hingga lahirlah Adilla dengan kawan karibnya, biola, yang selalu menyihir setiap telinga yang mendengar gesekannya.

 

***

 

Pamanku marah besar ketika tahu kalau aku menolak karir yang akan menuju masa gemilang. Wajah merahnya bisa lumayan redam setelah kukatakan alasan yang kuat mengapa aku menolak rezeki pekerjaan tersebut.

 

Anak-anak berbeda, namun luar biasa itu, tidak mungkin kutinggalkan begitu saja. Mereka harus mendapat tempat yang sama seperti anak-anak kebanyakan lainnya. Mereka tidak boleh mendapat perlakuan berbeda sehingga mereka merasa tersisihkan. Jangan sampai mereka berputus asa atas garis nasib yang telah diberikan Tuhan kepada mereka.

 

“Ibu Anggun, maukah kamu menikah denganku?” nama itu masih kuingat ketika tangannya yang mengajakku berjabat tangan di ruang Manager Bank itu kutolak.

 

“Apa Pak Angga tidak salah orang? Saya ini siapa, Pak? Hanya gadis sederhana yang tidak memiliki mimpi berlebih,” kutundukan kepala karena terlalu malu dan merasa tidak pantas bahkan menatap matanya pun aku tak sanggup.

 

“Lihat, Anton itu adik terkecilku. Aku selama ini mencari calon istri yang sayang juga kepada Anton tanpa dibuat-buat hanya karena aku mempunyai jabatan. Sekarang calon istri itu sudah ada dihadapanku. Aku sudah memperhatikanmu cukup lama.” Tatapan mata lelaki tampan dan berwibawa ini menatapku lamat dan serius.

 

“Yakinkah Pak Angga mau menjadikanku seorang istri?” tanda tanya ragu masih bergelanyut di pikiranku karena ini bagaikan sebuah kemustahilan.

 

“Ya,” anggukan mantap lelaki itu membuatku terharu.

 

Ini adalah harga dari sebuah pengabdian. Kalau saja dulu aku mengiyakan ketika diterima bekerja di bank itu, mungkin aku hanya menjadi penggila dunia. Bekerja hampir seharian. Sekarang, masa depanku terjamin setelah setahun yang lalu menikah dengan Pak Angga dengan tetap menjadi guru SLB.

 

***

Editor: Putri Istiqomah Priyatna

Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *