Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Kakman dan Penjual Sekuteng

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Kawan, kau pernah minum sekuteng? Terus terang, minuman yang terbuat dari air jahe dan dicampur rempah-rempah itu lebih ku sukai ketimbang minuman import yang selama ini digemari masyarakat. Ah, tapi tak usah kau pikirkan itu, kawan. Yang terpenting bagi kita adalah mari kita mulai menghargai hasil pangan bangsa sendiri.


Sejak aku tinggal di kompleks mewah ini, jarang sekali ku jumpai penjual sekuteng. Aku merindukan hangatnya jahe dari minuman itu, aku merindukan gurihnya kacang tanah campuran minuman itu. Aku merindukan pacar cina, roti, dan rempah-rempah.


”Emmmm … pasti nikmat sekali kalau malam-malam kayak gini, minum sekuteng sambil makan ubi rebus!” pikirku ketika aku duduk santai di halaman rumah paman.


Terdengar suara dentingan nyaring dari kejauhan. Ku perhatikan dengan seksama suara itu.


”Tukang sekuteng!” teriakku.


Buru-buru aku berlari ke dalam, kurasakan lututku menabrak sesuatu. Ternyata aku menabrak meja.


”Pelan-pelan kalau jalan Dul”


”Maaf Paman, saya teh buru-buru, lupa kalau ada meja di dekat-dekat sini.”


Aku segera menuju kamarku. Sebuah kliningan kecil menjadi tanda pintu kamarku. Aku membuka lemari dan meraba-raba panik mencari dompetku. Suara dentingan itu makin lama semakin mendekati rumah. Akhirnya ku temukan dompetku. Segera ku ambil selembar uang dari dalamnya.


“Kamu mau beli apa Dul?” tanya Paman ketika aku keluar dari kamar.


”Mau beli sekuteng, ini berapa ya paman?” tanyaku seraya melambaikan uang di tanganku.


”Dua puluh ribu!”


Aku segera melangkah ke halaman. Tukang sekuteng tepat melewati depan rumahku.


”Bang beli!” ujarku


Ku dengar decit halus menandakan gerobak sekuteng berhenti. Aku membuka gerbang, aroma khas minuman itu segera menyeruak hidungku.


”Beli berapa, Mas?” tanya suara lelaki agak tua.


”Lima ribu, bang!” jawabku


Terdengar penjual itu mulai meracik. Sendokan air jahe, kemudian pacar cina, roti yang sudah di iris kecil-kecil, kolang-kaling. Wah !!! tak sabar aku untuk menikmati minuman itu.


Akhirnya sekuteng pesananku jadi. Ku berikan uang dua puluh ribu padanya, ku rasakan ada yang menepuk bahuku.


”Beli sekuteng Dul?” itu suara Bang Kakman, petugas keamanan kompleks ini yang seperti biasa, Bang Kakman berkeliling kompleks diatas jam sepuluh malam.


”Iya bang.”


Lalu ku rasakan beberapa lembar uang menyentuh tanganku. Aku menerimanya, tumpukan kembalian uang tak karuan. Sebagian malah banyak yang lecek.


”Ini berapa bang?”


”Lima belas ribu!” jawab tukang sekuteng, nada suaranya sedikit keras.


”Maksud saya, hmmmm …”


Waduh, bingung juga. Bagaimana caranya memberi tahu penjual ini maksudku.


“Saya pesan satu bungkus bang!” kata Bang Kakman.


“oh iya bang, lain kali kalau Abang bertemu dengan pembeli seperti Mas Abdul, Abang harus menjelaskan, berapa nominal uang yang abang kasih sebagai kembalian.” tambah Bang Kakman


”Kan saya udah ngasih tahu, kembaliannya lima belas ribu!”


”Bukan begitu bang, maksudnya abang jelaskan dong yang mana lima ribu, yang mana sepuluh ribu, atau abang jelasin susunan uang yang abang kasih. Supaya tidak membingungkan tunanetra seperti Mas Abdul.”


Bang Abdul meminta uangku. Aku segera faham apa yang di maksudkannya.


”Dul, nih ada empat lembar uang. Yang paling bawah, sepuluh ribu. Nah, diatasnya, dua ribu selembar. And, paling atas seribuan tiga lembar.” Bang Kakman menyerahkan kembali uangku dengan tersusun rapih.


Sepuluh ribu, dua ribu, dan seribuan tiga lembar.


”Oh … maaf Mas, saya baru tahu kalau ada cara penyampaiannya kayak gitu!” ujar penjual sekuteng.


“Lain kali, kalau abang ketemu lagi sama orang seperti Mas Abdul ini, itulah cara yang kira-kira bisa dimengerti oleh mereka.” ujar Bang Kakman.


Ku rasa, penjual sekuteng itu mengangguk-angguk, karena sempat ku dengar dehem faham. Setelah menyelesaikan pesanan Bang Kakman, penjual itu mendorong gerobaknya kearah kanan rumah Paman.


Kawan, sejak tiga bulan lalu aku tinggal disini. Sebagian jalan sekitar kompleks ini sudah ku hapal arahnya. Jika kearah kanan rumah Paman, kau akan menemukan pertigaan yang ditandai oleh pos satpam. Nah, jika kau belok kearah kanan maka di sanalah jalan raya yang menghubungkan antara Jagakarsa dan Cilandak. Sebagian info ini, aku peroleh dari cerita Paman.


“Paman ada Dul?” kata Bang Kakmun sambil menepuk bahuku.


Isyarat yang sering dilakukannya, agar aku tahu kalau dia masih berada disekitarku.


”Ada Bang, kebetulan hari ini paman masuk siang.”


Kami memasuki halaman rumah. Tanganku memegang siku tangannya.


”Saya dengar abang mau ke Bandung?”


Terdengar disebelah kananku suara air mancur. Dulu, di pinggir kolam ikan itulah Bang Kakman duduk menanti keputusan Paman.


”Ya, ada urusan penting disana. Mumpung abang bisa ketemu pamanmu, abang sempatkan datang kemari.”


Kami masuk ke ruang tamu. Televisi yang sedang menayangkan film laga masih menyala. Berarti paman belum tidur.


“Assalamualaikum Pak Sodik!” ujar Bang Kakman sambil mengetuk pintu.


Ku dengar paman bergeser dari tempat duduknya.


”Eh, Eh, ada tamu toh, monggo, Kakmun.”


Kami melangkah menuju kursi terdekat. Ku letakkan sekuteng terbungkus plastik diatas meja.


”Bentaran bang, saya mau ngambil gelas dulu!”


Kawan, entah harus ku sebut apa namanya situasi ini. Arsitektur, atau desain? Ah, pokoknya tata ruang dapur ini cukup unik. Paman sendiri yang merancangnya, ini di lakukan untuk memudahkanku mengenali ruang ini. Kau tahu? (Dapur)


Paman pernah menjelaskan, jika aku memasuki pintu dapur. Posisiku tepat berada di jam dua belas. Maka paman menjelaskan berikutnya letak rak, wastafel, kamar mandi, meja kompor, dan lainnya. Ide ini di dapatkannya ketika melihat seorang temanku makan.


”Coba Dul, nanti paman tata ruangan-ruangan rumah seperti cara makan temanmu itu.” katanya ketika kami tiba di rumah.


Aku berbelok kearah kiri, persis di arah jam tiga rak piring berada. Ku ambil dua gelas kaca dan kembali ke ruang tamu.


Tepat saat itu ku dengar Bang Kakmun mengutarakan keinginannya untuk pulang ke Bandung.


”Saya tidak bisa melarangmu, Man. Kamu memang harus mengunjungi orang tuamu. kapan kamu mau berangkat?”


”Besok, pak. Makanya saya buru-buru menemui Bapak, karena saya bertanggung jawab pada amanat bapak sebagai RT di sini.”


”Ya, berangkatlah. Semoga kamu selamat di perjalanan!”


”Terima kasih, pak.”


Ku letakan gelas diatas meja. Aku masih ingat dimana sekuteng tadi. Tak jauh di sebelah kiri dari tempat ku berdiri sekarang. Kawan, jarak penting bagi orang sepertiku untuk mengetahui letak sesuatu.


“Salam pada orang tuamu, Man! dari dulu kepingin sekali saya bertemu mereka.” Ku tuang sekutengku kedalam gelas.


”Sekalian bang?” tanyaku pada Bang Kakman.


”Boleh, sory nih ngerepotin jadinya!”


”Slow!”


”Insya Allah Pak, lain kali saya ajak mereka kemari. Saya akan memperkenalkan, orang yang telah memberikan saya pekerjaan.”


”Hehe! Saya jadi ingat, waktu itu kamu saya wawancara di pinggir kolam ikan itu, ya!” kami tertawa bersama. (Senna)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *