MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

NALENDRA

“Mutiara! Jangan! Mas mohon! Jangan!.” Teriak kakak ku, Krisna, dari kejauhan. Aku tidak bisa apa-apa lagi selain mencoba untuk tidak menangis. “Mutiara! Jangan! Jangan! Biar aku saja! Jangan!.” Teriaknya lagi, suara nya pecah, menandakan kalau dia sedang menangis. Aku mencoba untuk mengatakan sesuatu namun aku tidak bisa karena aku takut, disaat aku buka mulutku adalah saat ku menunjukan kelemahanku. Aku harus bisa buktikan kepadanya kalau aku bisa dan aku melakukan ini demi kebaikan kita semua. Aku tutup mataku dan kutarik nafas panjang-panjang untuk menenangkan diriku sendiri, tenang…aku pasti bisa…

“Jangan! Jangan! Tidak! Jangan! Turun Mutia! Jangan! Biar aku saja!.” Tangis kakak ku sambil mencoba untuk mengejar kapal yang sedang ku naiki. “Mutia! Mas rela mati demi kamu! Mas rela! Kamu pulang saja! Mutia!.” Raungnya, ia sudah berhenti berlari mengejarku karena ia sudah mencapai ujung pelabuhan, dan tak ada yang bisa ia lakukan untuk menghentikan ku. Aku rela berkorban deminya, aku rela mati deminya, sama halnya seperti yang ia lakukan pada aku dan ibuku. Ia rela terjun ke medan perang demi mempersembahkan kebanggan keluarga kami dan membela negara ini dari para penjajah yang sudah menguasai negara ini seumur hidupku. Tapi tidak mungkin aku biarkan ia untuk kembali berperang.

Seminggu yang lalu Mas Krisna pulang dari perang hanya dengan 1 tangan, tangan kirinya hilang begitu saja akibat perang ini. Aku tidak mungkin membiarkan nya berjuang hanya dengan 1 tangan, itu sama saja dengan membunuhnya. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri karena telah membiarkan nya pergi, tekadnya untuk menggantikan ayah terlalu kuat sampai-sampai ia rela mati dengan alasan yang sama dengan beliau.

Ayahku meninggal sekitar 7 tahun yang lalu saat aku berusia 13 tahun di tangan Belanda, aku masih ingat jelas kejadian pada malam itu, seorang lelaki yang tidak kami kenal datang kerumah kami untuk memberitahu kami kalau ayah sudah tidak ada. Aku hanya bisa menangis sambil memeluk kakak ku yang saat itu berusia 15 tahun dengan mendengarkan teriakan histeris ibuku. Dia baru mengetahui kekasihnya yang sudah ia nikahi selama 17 tahun saat itu telah pergi begitu saja dan tak akan pernah kembali lagi…dan aku tidak mau kakak ku menyusul ayah sekarang.

“Mutia! Jangan lakukan ini! Pulanglah! Mas mohon! Mutia!.” Raungnya lagi sambil mengulurkan tangan nya kedepan dengan harapan ia bisa meraih ku dan menarik ku kembali ke darat. “Maafkan aku mas…aku sayang mas Krisna…selamat tinggal…” ucapku dengan pelan sambil melambaikan tanganku, walau aku tau ia tidak bisa mendengarku.

Setetes air mata jatuh ke pipiku, dengan cepat aku langsung mengelap nya. Tidak, aku tidak boleh menangis…, lagi pula,aku yang memilih untuk melakukan ini dan tidak ada yang memaksaku untuk berjuang. Tapi aku muak, aku muak dengan para penjajah yang telah merampas negara ini, merampas nyawa ayahku dan bahkan merampas tangan kakak ku. Apa yang mereka mau?.

“Mutia? Mutia! Mas sayang kamu Mutia! Pulanglah! Kamu aman disana! Mutia!.” Teriaknya lagi, suaranya terdengar semakin menjauh setiap detiknya. Aku tidak bisa melihat kakak ku seperti ini, maka dari itu, aku memilih untuk membalikan tubuhku dan berjalan ke dalam kapal untuk sembunyi dari Mas Krisna.
Ya, tuhan…semoga saja semua akan baik-baik saja…
Indonesia telah meresmikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, namun entah mengapa masih banyak perang yang terjadi. Mereka hampir seperti tidak terima kemerdekaan ini. karena itu aku akan berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, akan ku lakukan apapun untuk membela negara ini.

Aku tidak tau sudah jam berapa sekarang, yang aku lakukan semenjak aku sampai disini hanyalah menatap ke langit-langit sambil mencoba untuk menghilangkan teriakan Mas Krisna dari benatku. Aku tidak tau bagaimana perasaan nya saat ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibu saat mengetahui kalau aku sudah pergi, tanpa sepengetahuan nya. Aku tidak akan tinggal diam, aku sudah lelah dengan semua ini, dan aku akan berusaha untuk membuat perubahan.
Ku tutup mataku dan ku hembuskan nafas yang tak ku sadari sedang ku tahan, apakah aku tidak akan pernah bertemu keluargaku lagi? Apakah aku akan langsung terbunuh sesaat aku menginjakan kaki ku di luar sana?. Aku gelengkan kepalaku dan aku beranjak untuk duduk, semua orang sudah tertidur, entah mengapa aku merasa iri dengan mereka yang bisa tertidur dengan lelap, aku harap aku juga bisa melakukan hal yang sama, aku harap aku bisa tenang dan melupakan realitaku walau untuk sementara.

Aku berdiri dan berjalan keluar untuk menghirup udara segar. Sesampainya aku di luar, aku langsung menarik nafas dalam-dalam. Aku dongak kan kepalaku ke atas untuk mengagumi indahnya langit malam. Bulan nya terlihat sangat terang ditengah langit yang gelap, entah mengapa, bulan ini menenangkan ku walaupun hanya sedikit, memang aku beribu-ribu kilometer dari rumah, tapi setidaknya aku tau kalau ibu dan Mas Krisna mungkin sedang melihat bulan yang sama.

“Tidak bisa tidur?.” Terdengar suara berat yang tak ku kenali. Ku balikan tubuhku dan aku mendapatkan diriku berhadapan dengan seorang pemuda yang terlihat sepantaran denganku, ia cukup tinggi dan aku bisa melihat mengapa ia ada di kapal menuju ke medan perang untuk berjuang, tangan berototnya terlihat dengan jelas dari baju hitam yang ia kenakan, dipasangkan dengan celana hitam panjang yang menutupi seluruh kakinya. Mengangkat alis kirinya, ia berkata, “Assalamualaikum? Kamu tidak apa-apa?.” Tanya nya sambil menyilangkan tangan nya di depan dadanya. Mendengar ini, aku langsung kembali ke realita, “wa, wa waalaikum salam ? I-iya, ma-maaf, tadi a-aku-.”
“Nalendra, panggil saja Lendra, salam kenal ya.” Ucapnya sambil tersenyum. “Mutiara, panggil saja Mutia, salam kenal.” Jawabku sambil mengembalikan senyuman nya.

Ia menganggukan kepalanya “Apa yang membawa mu ke sini? Cukup jarang ada perempuan yang lebih memilih untuk bertarung dari pada menjadi perawat.” Ucapnya sambil memiringkan kepalanya sedikit ke samping.
“Aku mau ikut berjuang, aku sudah muak dengan semua ini.” Jawabku sambil menundukan kepalaku.
“Mengapa semuak itu?.” Tanya nya.
Aku langsung menolehkan kepalaku ke arahnya, kebingungan jelas diwajahku. “Kau mau seperti ini terus?.” Tanyaku dengan nada menantang. Ia terlihat terkejut dengan nada bicaraku, ia pun mengangkat kedua tangan nya di udara sambil mengangkat kedua alisnya, bahkan aku tidak menyadari kalau nada bicaraku sekasar itu. “Wow, tenanglah, aku hanya heran saja, mengapa kamu semuak itu sampai kamu rela ikut berjuang dari pada membiarkan kepala keluargamu berjuang.” Jawabnya sambil mengembalikan tangan nya di sisi tubuhnya.
Aku hela nafas sambil menggelengkan kepalaku. “Ayahku sudah meninggal dan kakak laki-laki ku kehilangan tangan kirinya karena perang ini, tidak mungkin aku membiarkan nya perang.” Jawabku sambil menghadapkan tubuhku kedepan untuk kembali mengagumi langit malam.

Baca:  SUNYI

Lendra langsung menolehkan kepalanya ke arahku, kesedihan jelas di wajahnya. “Maaf, aku tidak tau.” Ujarnya dengan nada bersalah.
“Sudahlah, tidak apa apa.” Jawabku dengan nada lembut.
“Jasadnya tidak pernah ditemukan, ia menghilang begitu saja.” Ucapku, mengingat kejadian itu.
Lendra pun menghadapkan tubuhnya ke arah depan, memimik posisiku, ia menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya. “Kamu benar benar kuat, hebat.” Terdengar suaranya dengan pelan. Aku hanya mengangkat bahuku. “Terima kasih.” Ujarku.
Kita terdiam untuk beberapa saat, menikmati suara ombak dan sejuknya angin malam.

“Namamu mirip dengan ayahku.” Ucapku sambil menghadap kearahnya.
“Oh ya? Siapa namanya?.” Tanya nya.
“Hendra.” Jawabku dengan singkat. Lendra lalu menanggukan kepalanya dan berkata, “cukup mirip, hanya saja namanya tidak terdengar seperti nama orang cadel.”
Menurutku ini lucu dan aku tertawa pelan sambil menggelengkan kepalaku.
“Apa maksudmu? Apakah orang cadel biasa diberi nama Lendra? Seharusnya Lendla lah.” Ujarku, masih tertawa pelan.
“Benar juga, bagaimana aku ini.” Jawabnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan nya. Kemampuan nya untuk merubah atmosfer dengan cepat cukup mengagumkan.
“Jadi kamu pergi sendiri saja?.” Tanya nya. Aku hanya menganggukan kepalaku saja.
“Apa respon keluargamu kalau aku boleh tau?.” Tanya nya lagi.
“Mereka tidak tau, aku pergi diam diam subuh tadi, mereka tidak mungkin membiarkan ku pergi.” Jawabku. Aku bisa menceritakan dengan detail kejadian tadi subuh, aku bisa menceritakan dengan detail tentang bagaimana kakak ku menyusulku ke pelabuhan, tapi, aku baru mengenalnya, tidak mungkin aku menceritakan cerita sedihku sekarang.

“Tanda lahir mu keren.” Ujarnya tiba tiba, aku yang terkejut hanya bisa tertawa dan mengangkat tanganku kedepan kita. “Terima kasih, tanda lahir ini persis seperti milik ayahku, ia juga memiliki tanda di pergelangan tangan nya.” Jawabku sambil sedikit tertawa.
Lendra hanya menganggukan kepalanya, tanpa mempertanyakan apapun.
“Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga sendiri?.” Tanyaku. Ia menganggukan kepalanya lagi dan berkata, “Aku selalu hidup sendiri, ayahku pergi meninggalkanku dan ibuku sudah meninggal semenjak aku berumur 16 tahun, dan aku adalah anak tunggal.” Jawabnya dengan nada santai, hampir seperti hal ini tidak mempengaruhinya lagi.
“Wow, maaf, ak-.”
“Alah, sudahlah, tidak apa apa.” Ucapnya sambil melambaikan tangan nya. Kami kembali menghadap depan dan kembali terdiam, aku tidak percaya, aku baru menemui orang ini dalam waktu singkat tapi aku sudah merasa kalau kita akan berteman baik.

Setelah beberapa saat, aku memutuskan untuk menghancurkan keheningan ini. “Baiklah, sudah malam, aku sudah mengantuk.” Ucapku sambil menghadap kearahnya. Ia hanya menganggukan kepalanya dan berkata, “Tidurlah, aku masih perlu melakukan sesuatu.” Jawabnya. Aku kebingungan dengan pernyataan nya, apa yang harus di lakukan pada jam ini?, tapi aku tetap diam dan menganggukan kepalaku. “Sampai jumpa lain kali Lendra.” Ucapku sambil tersenyum padanya.
Sampai jumpa Mutia.”

Semenjak malam itu, aku dan Lendra menjadi sangat dekat, kami selalu bersama dan bahkan kami juga mencoba untuk tetap bersama saat Agresi militer belanda yang didukung sekutu terjadi. Kami sampai di Surabaya sekitar 3 hari yang lalu. Sesampainya disini, kami langsung diperintahkan untuk berkumpul di satu tempat dan disitu kami langsung bergabung dalam pasukan yang berperang. Aku yang masih baru dan tidak tau harus apa hanya bisa terus menghindar dari musuh dan mencoba untuk menggunakan senjataku sebaik mungkin. Disana, aku lihat banyak sekali orang orang yang gugur, dan aku sudah menerima kalau aku akan menjadi yang selanjutnya. Tapi, untung nya aku selamat dan hanya ditinggalkan dengan beberapa bekas luka.
Aku cukup bingung dengan perilaku Lendra, setiap malam ia selalu menghilang, dan aku sering melihatnya menyelinap atau memerhatikan salahsatu musuh dengan sangat teliti. Seperti malam pertama kita bertemu, aku melihatnya berbicara dengan Jendral Sulaiman untuk berjam-jam, dan aku tidak tau apa yang mereka bicarakan karena mereka bisa dibilang sedang berbisik-bisik.

“Kamu tidak makan apa-apa?.” Tanya Lendra sesudah ia menelan makanan nya. Saat ini, kita sedang berada di tengah lapangan untuk makan siang, dan karena panas, aku dan Lendra memutuskan untuk berteduh di bawah salah satu pohon yang ada di sini.
“Tidak, aku tidak lapar.” Jawabku sambil menggelengkan kepala.
Lendra tidak puas dengan jawabanku, ia menggelengkan kepalanya dan mengerutkan alisnya.
“Kamu harus makan, Mutia, aku ambilkan ya?.” Ia langsung beranjak berdiri. Aku baru membuka mulutku untuk menyuruhnya untuk tetap disini langsung menutupnya kembali. “Ah…aduh…” bisik Lendra kesakitan. Aku langsung merasa cemas tentangnya dan menyuruhnya untuk kembali duduk.
“Duduk Len, sudah ku bilang jangan buru-buru kalau bergerak.” Ucapku dengan nada khawatir. Ia menganggukan kepalanya dan duduk kembali, lalu menaruh tangan nya ke samping perutnya.

Lendra benar-benar telah menyelamatkan hidupku…, ia lah alasan mengapa aku masih ada di sini.
Waktu itu, di tengah medan perang, aku sedang mencari jalan untuk menjauh dan sembunyi dari musuh, karena mereka sudah mulai menggunakan senjata api. Dengan panik, aku menolehkan kepala ku ke kanan dan ke kiri setelah aku mendengar ledakan pertama, mencoba mencari tau dari mana asal suara itu. Ratusan orang tumbang disekelilingku dan aku sudah tidak tau harus bagaimana lagi, aku pasrah, aku rela kalau ini alasan aku tidak akan pernah pulang lagi.

“Mutia! Awas!.” Terdengar teriakan Lendra dari belakangku. Dengan frantik, aku langsung membalik tubuhku kearahnya. Semua terjadi sangat cepat, satu saat aku melihat Lendra berlari ke arahku, dan hal selanjutnya yang ku tau, Lendra dengan cepat melompat kedepanku sambil merentangkan tangan nya untuk melindungiku dari peluru yang ditembak ke arahku. Ia langsung terjatuh ke tanah dan aku terlalu terkejut untuk melakukan apapun, mengapa ia rela melakukan ini untuk ku? Apa maksudnya melakukan ini untuk ku? Apakah ia akan baik-baik saja?.
Teriakan Lendra mengembalikan ku ke realita dan aku segera mencoba untuk membantunya, aku berjongkok di samping nya, tidak terlalu memperdulikan situasi di sekitarku saat ini, kalau memang kita berdua akan mati di sini, aku terima, setidaknya aku sudah mencoba.

Baca:  Satu dan Seribu

Lendra menyuruhku untuk lari, tapi apakah aku se egois itu untuk membiarkan nya mati di sini? Setidaknya aku akan ikut bersamanya, aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri kalau ia tewas karena diriku yang tidak bisa melindungi diri sendiri.

Untung nya, ada tim paramedis yang melihat ku berlutut sambil menangis di samping tubuh Lendra dan bergegas untuk membantu kami.
Mereka dengan berani berlari ke arah kami di tengah perang dan sgera mengangkat tubuh Lendra ke atas tandu. Mereka mengobati luka Lendra dan untungnya ia baik -baik saja. Lendra ditembak 2 kali di bagian kiri perutnya dan ia termasuk beruntung karena telah di bantu secepat itu.
Semenjak itu, aku tidak pernah meninggalkan samping nya dantak pernah berhenti berterima kasih.

“Mutia? Kenapa kamu melihatku seperti itu? Tampan ya?.” Tanya Lendra sambil tersenyum lebar.
Ku akui, Lendra memang tampan, mungkin salah satu orang tertampan yang pernah ku temui. Setiap ia tersenyum, aku selalu merasa jantungku berdebar, di tambah lagi dengan hatinya yang sebesar bumi.
“Terima kasih.” Ucapku untuk yang ke sekian jutanya, aku tidak akan bisa membalas apa yang telah ia lakukan untuk ku.
Lendra hanya menghela nafas, “Sudahlah, sudah ku bilang, aku akan memastikan kalau kamu akan pulang dengan selamat, kamu tidak sejauh ini berjuang untuk mati kan?.” Jawabnya sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Tapi kau yang akan mati.” Ujarku sambil menundukan kepalaku.
“Aku baik-baik saja Mutia, aku masih di sini.” Katanya dengan nada lembut. Aku angkat kepalaku untuk melihat wajahnya. “Sudahlah, tidak apa apa, ya? Aku akan memastikan kita pulang dengan selamat, bersama.” Volume suaranya turun drastis saat ia mengatakan kata terakhir itu, hampir seperti ia tidak ingin aku mendengarnya. Aku tetap diam dan pura-pura tidak mendengar, jadi aku tidak mempertanyakan apa maksudnya.

Lendra menyipitkan matanya dan pandangan nya lurus ke depan, aku yang bingung pun ikut merubah pandanganku ke arah yang ia lihat.
Di sana, berdiri seorang pria tua, bajunya begitu lusuh, dan membelekangi kami. Tak lama, pria itu pun berlari ke arah berlawanan dari kami, dan menghilang.
“Aku harus pergi, tunggu di sini.” Ucap Lendra dan langsung berlari secepat cita ke arah pria itu pergi.
“Lendra! Jangan!.” Teriak ku sambil beranjak untuk mengejarnya, namun, aku di hentikan oleh salah satu asisten Jendral.
“Jangan ke sana, di sini saja.” Ucapnya dengan nada tegas. “Tapi, dia-.”
“Saya bilang tetap di sini! Itu wilayah terlarang!.” Raungnya, mengintimidasi ku. Karena takut, aku hanya tinggal diam dan kembali duduk. Mengapa Lendra boleh ke sana tapi aku tidak? Aku tidak mau ia terluka lagi, aku yakin ia pasti sedang menahan rasa sakit sambil berlari. Tetapi, ini selalu terjadi, ia selalu pergi begitu saja tanpa berpamitan, mau seberapa keras apa pun aku telah melarangnya untuk banyak bergerak, tapi, ia tak pernah mendengarku.

“Mutia!.” Terdengar suara orang yang sudah ku nantikan, sekarang sudah malam hari, dan aku sangat khawatir tentangnya, aku pun membalikan tubuhku ke arah suaranya. Di sana terdapat Lendra yang terlihat kehabisan nafas namun tetap berlari sambil memeluk bekas lukanya. Ia pun berhenti tepat di depanku dan langsung menjatuhkan dirinya sendiri ke tanah. Di posisinya yang berlutut, ia mencoba untuk bernafas dengan normal kembali.
“Mutia…ka…kamu harus…percaya pa…padaku…, mung…mungkin aku a…akan ter-.” “Tarik nafas dulu Len…kamu dari mana?.” Tanyaku memotongnya. Lendra lalu menutup matanya dan memarik nafas dalam-dalam. Setelah beberapa saat, ia mulai bicara.
“Kamu harus percaya padaku, mungkin aku akan terdengar gila, tapi dengarkan lah.” Ujarnya dan ekspresinya terlihat cemas. Aku hanya menganggukan kepalaku, menandakan kalau aku sedang mendengarkan nya.

“Aku bertemu dengan ayah mu…, tunggu! Dengar aku! Aku tadi melihatnya di tenpat para tawanan yang belum dilepaskan hingga sekarang la-.”
“Apa ini Lendra? Ayahku sudah meninggal! Sudah mati! Kamu tidak tau apa-apa tentang ayahku! Tidak usah bertingkah seakan kamu tau segalanya!.” Teriak ku tepat di depan wajahnya. Aku tidak mengerti semua ini, mengapa ia selalu pergi begitu saja dan kembali berjam-jam kemudian? Dan mengapa ia bisa mengenali ayahku? Apakah ada sesuatu yang tidak ku ketahui?.
“Dengarkan aku Mutia, aku mengatakan yang sejujurnya, ayah mu-.” Aku angkat tangan ku untuk menghentikan nya, aku tidak punya waktu untuk omong kosong nya.
“Mengapa kamu selalu pergi begitu saja?.” Tanya ku dengan nada serius. Ka langsung terdiam dan hanya mengedipkan matanya.
“Tidak ada hubungan-.”
“Jawab pertanyaanku!.” Teriak ku lagi, aku sangat frustasi dengan semua ini. Lendra hanya menundukan kepalanya sambil menggelengkan nya.
“Maaf, tapi aku tidak bisa menjawab itu.” Jawabnya dengan nada pasrah. Aku pun mengeluarkan tawa non humoris sambil menggelengkan kepala ku. “Mengapa aku harus percaya padamu kalau kau tidak bisa menjawab pertanyaan se sederhana itu?.” Ujarku dengan ekspresi kecewa jelas di wajahku.

“Mutia, dengarkan-.” Aku mengangkat tanganku lagi.
“Cukup, aku tidak punya waktu untuk halusinasimu.”
“Tapi-.”
“Aku mengantuk, sampai jumpa besok.”
Dengan itu, aku membalikan tubuhku dan berlari ke arah markas kami, aku mendengarnya memanggil namaku, tapi, tak ku hiraukan, kan ku urus ini esok hari.

Seharian ini, aku tidak melihat Lendra sama sekali, aku sangat khawatir tentangnya, aku sudah mencoba mencarinya kemana-mana namun ia tidak ada, aku sudah bertanya kepada Jendral tetapi ia hanya memberiku ekspresi sedih, apakah dia baik-baik saja? Apa yang terjadi? Semarah itukah ia padaku?. Semua pertanyaan ini mengelilingi kepalaku.Hari ini, adalah hari terakhir kami di sini, malam ini kami akan kembali ke rumah dan aku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan keluargaku, aku sangat merindukan mereka.

Baca:  Harga sebuah Pengabdian

“Mutia!.” Terdengar suara salah satu asisten Jendral dari sebelah kananku. Aku langsung memutarkan tubuhku ke arahnya dan tersenyum padanya.
“Ikut saya, ini darurat.” Ujarnya dengan nada serius dan langsung mengarahkanku ke tempat Jendral. Aku yang kebingungan hanya menurut dan ikut arahan nya.
Sesampainya di sana, aku ditemukan dengan Jendral Sulaiman, dan ia tak terlihat bahagia, ekspresinya terlihat sangat serius dan ini membuatku gugup. Apakah aku melakukan sesuatu? Apakah ini berhubungan dengan Lendra? Aku sangat takut.
“Terima kasih Umar, silahkan keluar.” Ucap Jendral Sulaiman kepada asisten nya yang tadi menjemputku. Ia hanya menganggukan kepalanya lalu langsung pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan ku sendiri bersama dengan Jendral.

Jendral Sulaiman pun menutup matanya sambil menghela nafas dalam, entah mengapa, ia terlihat cemas.

“Pasti kamu bertanya-tanya mengapa kamu berada di sini, benar?.” Tanya nya sambil mengangkat sebelah alisnya. Aku hanya menganggukan kepalaku lagi, karena aku sudah sangat penasaran dengan apa yang membawaku kesini.
Ia menghela nafas lagi dan membuka mulutnya untuk berbicara. “Saya akan membuat ini sesingkat dan sesederhana mungkin.” Ia mulai, aku hanya menganggukan kepalaku lagi untuk meyakinkan nya kalau aku memerhatikan nya.
“Apakah kamu mengenali orang ini?.” Tanyanya sambil memggesturkan tangan nya kebelakangku. Sesaat aku membalikan tubuhku…, aku tidak percaya siapa yang berdiri di sana. Aku hanya bisa terdiam sambil mencoba untuk tidak pingsan saat aku melihatnya.
Di sana, berdirilah, seorang pria tua dengan mata basah dan baju lusuh…, tubuh yang dulunya gagah, sekarang sudah menjadi sangat kurus, seperti ia sudah tidak pernah makan untuk bertahun-tahun. Aku menggerakan mataku ke pergelangan tangan nya, dan benar saja, tanda lahirnya ada di sana, mengonfirmasi kalau ia benar-benar ayahku.
Saking terkejutnya, aku merasakan diriku kehilangan keseimbangan dan aku merasakan diriku terjatuh, dan semuanya menjadi hitam.

“Mutia? Mutia, buka matamu nak.” Terdengar suara lelaki memanggil namaku. Aku coba membuka mataku dengan perlahan dan ku lihat siapa yang ada di depanku. Disana terdapat Jendral Sulaiman dengan ekspresi cemas jelas di wajahnya, dan ayahku disamping nya dengan ekspresi yang sama. Aku tidak mampu untuk bicara, apa ini? Apa aku sedang bermimpi? Apa aku gila?.
“Ayah?.” Tanyaku dengan pelan. Sesaat kata itu meninggalkan mulutku, ia langsung menangis dan menarik ku ke pelukan nya, aku juga mulai menangis dan memeluknya kembali. Aku tidak percaya ini, ayahku masih hidup, dan ia baik-baik saja, aku benar-benar mengira ia sudah tidak ada.
Kami tetap menangis sambil berpelukan untuk beberapa saat.
Setelah aku kuat untuk bicara aku bertanya. “Bagaimana?.” Sesingkat itu pertanyaan ku, walaupun hanya satu kata, tapi kata itulah yang sempurna untuk menjelaskan perasaanku saat ini.
Jendral Sulaiman pun memberikan ku secarik kertas yang sudah terlipat dengan rapi. “Apa ini?.” Tanyaku.
“Bacalah.” Jawabnya. Aku langsung membuka lipatan nya dengan perlahan dan mulai membaca.

‘Untuk, Mutiara.’

‘Mungkin kamu sedang menangis saat membaca ini, dan banyak sekali pertanyaan yang ingin kau tanyakan pada ayahmu, tapi aku yakin, ia tidak mampu untuk mengatakan apapun saat ini, jadi aku akan menjawab semuanya. Untuk menjawab pertanyaanmu pada malam itu…mengapa aku sering pergi begitu saja? Jawaban nya sederhana, aku adalah mata-mmata, dan tugasku adalah mencari informasi tentang musuh kita, aku harus bergerak cepat untuk memata-matai orang yang menurutku mencurigakan, jadi aku tau banyak tentang musuh kita. Setelah ku kumpulkan semua informasi dan rahasia baru, akan langsung ku sampaikan kepada Jendral Sulaiman untuk menentukan strategi yang tepat untuk nanti. Dan itulah mengapa aku lari begitu saja pada siang itu, karena aku melihat orang yang bukan bagian dari kita dan ia terlihat mencurigakan. Lalu aku mengikuti nya dan ternyata ia adalah salah satu tawanan yang sampai sekarang belum dilepaskan walaupun Indonesia sudah merdeka, dan aku mengetahui ini karena aku mengikuti orang itu dan aku sampai di penjara para tawanan yang terletak tidak terlalu jauh dari tempat kita. Dan di sana, aku bertemu seorang pria bernama Hendra Prasetyo, saat aku mendengar namanya, aku langsung teringat kamu, dan betapa miripnya pria ini denganmu. Aku tanya ribuan pertanyaan padanya, dan ia bercerita kalau ia sudah berada disini selama 7 tahun, dan ia memiliki 2 anak, Krisna, dan Mutiara, dan bagaimana mereka pasti sudah yakin kalau ia sudah meninggal. Aku perhatikan pergelangan tangan nya, dan disitu aku tau, kalau ia memang ayahmu. Aku coba untuk kabur bersamanya tapi salah satu tentara melihatku mencoba untuk pergi bersama salah satu tawanan nya, dan ia tidak membolehkan kami untuk pergi dari sana. Aku lalu mengancamnya untuk menyebar rahasia mereka kalau para tawanan tidak dilepaskan, aku tau, bodoh sekali aku karena sudah mengatakan itu. Sekarang mereka juga menginginkan ku untuk dikurung disana, dan aku setuju, dengan syarat ayahmu akan dilepaskan. Tapi, sebelum aku dikurung, aku minta kesempatan terakhir untuk bertemu denganmu, mereka setuju dengan syarat aku di awasi oleh salah satu dari mereka, dan kamu tau selanjutnya.
Sudah…jangan menangis cantik, aku baik-baik saja, aku akan kembali pada suatu hari nanti dan aku akan mencarimu, jangan khawatirkan aku, karena kamu berhak untuk bahagia dengan keluarga yang lengkap, dan aku yakin, kita akan berjumpa lagi. Dan kalau kau bertanya apa alasanku untuk melakukan ini? Kamu sudah tau, aku harus pegang ucapanku dan memastikan kamu pulang dengan selamat, ditambah ayahmu. Perempuan sepertimu pantas diperjuangkan, ku harap kamu tau itu, kamu kuat, hebat, dan pemberani.

Sudah ya, aku sudah menggunakan kertasnya depan belakang dan ku harap tulisan kecilku terbaca karena aku tau, pasti surat ini akan panjang. Aku sayang padamu, Mutiara.’

Dari, Nalendra.’

Kartunet.com adalah media warga, seluruh konten berupa tulisan, foto, audio, atau video yang diterbikan melalui situs ini menjadi tanggung jawab penuh dari kontributor.

Ingin juga tulisanmu diterbitkan di Kartunet? Siapkan karyamu dan klik di Kirim Karya
66 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Developer